RS M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui edukasi yang berkelanjutan. Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan RI, RS M. Djamil tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan yang komprehensif, tetapi juga aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai prosedur medis agar pasien dan keluarga dapat mengambil keputusan kesehatan dengan lebih tepat berdasarkan informasi yang benar.

Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RS M. Djamil pada Rabu (5/8). Dalam kegiatan yang diikuti oleh pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit tersebut, hadir sebagai narasumber Ketua Clinical Research Unit (CRU) RS M. Djamil, dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, Subsp. H.L.E (K), FIAC, IFCAP, yang mengangkat tema "Mengenal Tujuan dan Fungsi Biopsi" di Unit Kemoterapi.

Dalam pemaparannya, dr. Zulda menjelaskan biopsi merupakan prosedur medis berupa pengambilan sampel jaringan atau sel tubuh pasien dalam jumlah yang sangat kecil. Sampel tersebut kemudian diperiksa secara teliti menggunakan mikroskop oleh dokter spesialis patologi anatomi untuk mengetahui karakteristik sel secara pasti.

Menurutnya, biopsi bukanlah tindakan yang bertujuan menakut-nakuti pasien, melainkan langkah penting untuk memastikan diagnosis sehingga terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi pasien.

"Biopsi adalah pengambilan sampel sangat kecil dari jaringan atau sel tubuh pasien. Sampel tersebut kemudian diteliti dengan seksama di bawah mikroskop oleh dokter spesialis patologi. Bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengenal karakteristik sel secara pasti agar pengobatan tidak salah sasaran. Biopsi adalah 'kompas' dokter untuk memberikan perawatan terbaik," jelas dr. Zulda.

Ia menambahkan, tujuan utama biopsi adalah memberikan kepastian diagnosis yang akurat sehingga dokter dapat menentukan rencana terapi yang tepat sasaran. “Dengan hasil biopsi, berbagai penyakit, termasuk kelainan jaringan hingga kanker, dapat diidentifikasi secara lebih akurat sehingga pengobatan dapat dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing pasien,” tuturnya.

Zulda juga menjelaskan beberapa jenis biopsi yang umum dilakukan sesuai indikasi medis, yakni biopsi jarum halus atau Fine Needle Aspiration (FNA), biopsi jarum inti (core biopsy), biopsi endoskopi, serta biopsi bedah. “Pemilihan metode dilakukan berdasarkan lokasi jaringan yang akan diperiksa dan pertimbangan klinis dari dokter yang menangani pasien,” ucapnya.

Selain mengenalkan jenis-jenis biopsi, peserta penyuluhan juga diberikan gambaran tentang tahapan pelaksanaan prosedur tersebut. Ia menerangkan biopsi dilakukan melalui empat langkah utama. Tahap pertama adalah persiapan pasien dan pemindaian untuk menentukan lokasi jaringan yang akan diambil. “Selanjutnya pasien diberikan obat bius agar merasa rileks dan nyaman selama tindakan berlangsung. Setelah itu dilakukan pengambilan sampel jaringan, kemudian sampel dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk dianalisis secara mendalam,” papar dr. Zulda.

Menurutnya, efek samping biopsi umumnya bersifat ringan dan sementara. Pasien mungkin merasakan nyeri ringan atau kesemutan pada area tindakan, sedikit pembengkakan atau memar, serta perdarahan ringan. Namun kondisi tersebut biasanya dapat diatasi dengan perawatan sederhana sesuai anjuran dokter.

"Dokter akan memberikan panduan perawatan luka dan meresepkan obat pereda nyeri jika diperlukan. Sebagian besar pasien dapat kembali beraktivitas sesuai kondisi masing-masing setelah menjalani prosedur biopsi," ujarnya.

Zulda kembali mengajak masyarakat untuk tidak merasa takut apabila dokter menyarankan tindakan biopsi. Prosedur tersebut justru menjadi langkah penting untuk memperoleh kepastian diagnosis sehingga penanganan dapat dilakukan secara optimal.

"Biopsi bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Ia adalah teman sekaligus pemandu jalan. Dengan prosedur yang aman, minim rasa sakit berkat bius, dan analisis laboratorium yang sangat teliti, biopsi adalah langkah emas menuju kepastian diagnosis dan kesembuhan yang optimal," tukasnya.(*)