RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi wanita. Pada Selasa (11/8), rumah sakit Kementerian Kesehatan melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar penyuluhan kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien di Poliklinik Kebidanan Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil.

Kegiatan penyuluhan ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit untuk menghadirkan edukasi kesehatan yang mudah dipahami sekaligus menjawab berbagai informasi yang berkembang di tengah masyarakat. Mengangkat tema “Mitos dan Fakta Kesehatan Reproduksi Wanita”, kegiatan tersebut menghadirkan narasumber PPDS Obgyn, dr. Prince Gusti Agung.

Dalam pemaparannya, dr. Prince Gusti Agung menjelaskan kesehatan reproduksi wanita merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh yang perlu mendapatkan perhatian sejak usia remaja hingga memasuki usia lanjut. Namun, dalam praktiknya masih banyak perempuan yang memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dari sumber yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, berbagai mitos tentang menstruasi, kehamilan, kontrasepsi, kanker serviks, hingga pemeriksaan kesehatan reproduksi masih kerap dipercaya oleh masyarakat. Padahal, tidak semua informasi yang beredar sesuai dengan fakta medis.

“Jangan langsung percaya dengan informasi yang kita dapatkan dari lingkungan sekitar, media sosial, atau cerita dari orang lain. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, sebaiknya kita tanyakan langsung kepada dokter atau tenaga kesehatan agar mendapatkan informasi yang benar,” ujar dr. Prince Gusti Agung.

Ia menuturkan, pemahaman yang keliru tentang kesehatan reproduksi dapat membuat perempuan terlambat mengambil keputusan ketika mengalami keluhan atau gejala tertentu. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang sebenarnya bisa diketahui dan ditangani lebih awal menjadi semakin berat.

Karena itu, ia mengajak kaum wanita untuk lebih peduli terhadap kondisi tubuhnya dan tidak menunggu munculnya keluhan berat untuk melakukan pemeriksaan. “Skrining rutin itu penting. Kita tidak harus menunggu sakit dulu baru datang ke fasilitas kesehatan. Dengan pemeriksaan secara berkala, berbagai masalah kesehatan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya juga bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Prince Gusti Agung juga mengingatkan pentingnya pencegahan penyakit melalui vaksinasi, salah satunya vaksin Human Papillomavirus atau HPV. Vaksin HPV merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap infeksi HPV yang berkaitan dengan sejumlah penyakit, termasuk kanker serviks.

Ia mengimbau perempuan dan keluarga untuk mencari informasi yang tepat tentang vaksin HPV serta berkonsultasi dengan dokter mengenai waktu dan kondisi yang sesuai untuk mendapatkan vaksinasi.

Selain vaksinasi, ia juga menekankan pentingnya melakukan konsultasi dengan tenaga medis ketika menemukan keluhan atau perubahan yang tidak biasa pada organ reproduksi. Menurutnya, kebiasaan mencari informasi dari sumber yang tidak terpercaya justru dapat membuat seseorang terlambat mendapatkan penanganan.

“Tanya dokter, bukan mitos. Kalau ada keluhan atau sesuatu yang membuat kita khawatir, jangan ragu untuk berkonsultasi. Lebih baik datang dan bertanya lebih awal daripada menunggu kondisi menjadi lebih berat,” ungkapnya.

Ia juga mengajak perempuan untuk tidak merasa malu membicarakan persoalan kesehatan reproduksi. Komunikasi yang terbuka dengan tenaga kesehatan dapat membantu dokter memahami kondisi pasien secara lebih baik sehingga pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Konsultasi lebih awal, lanjutnya, juga penting bagi pasangan. Kesehatan reproduksi bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan, tetapi merupakan bagian dari kesehatan keluarga yang perlu diperhatikan bersama. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan dan konsultasi bersama pasangan dapat membantu menemukan faktor risiko maupun masalah kesehatan yang mungkin memengaruhi kondisi reproduksi.

“Kalau ada masalah kesehatan reproduksi, jangan merasa bahwa perempuan harus menghadapi sendiri. Periksa dan konsultasikan bersama pasangan. Dengan begitu, upaya menjaga kesehatan reproduksi menjadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Melalui penyuluhan tersebut, RS M. Djamil berharap pasien dan keluarga pasien dapat semakin memahami pentingnya memperoleh informasi kesehatan dari sumber yang kredibel. Edukasi juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif melakukan upaya pencegahan, tidak mudah mempercayai mitos, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika memiliki pertanyaan atau keluhan.(*)