RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya bagi pasien dan keluarga pasien yang mendapatkan pelayanan di rumah sakit. Pada Senin (10/8), rumah sakit Kementerian Kesehatan tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan kembali menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien.

Kali ini, edukasi menggandeng Divisi Ginjal Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam dengan mengangkat tema memahami faktor risiko penyakit ginjal kronik. Kegiatan berlangsung di Poliklinik Khusus Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil dengan menghadirkan dr. Garri Prima Decroli, Sp.PD sebagai narasumber.

Edukasi ini menjadi bagian dari upaya RS M. Djamil untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit ginjal kronik, terutama pentingnya mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan sejak dini. Pasien dan keluarga pasien diberikan pemahaman mengenai fungsi ginjal, faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronik, gejala yang perlu diwaspadai hingga berbagai pilihan penanganan.

Dalam pemaparannya, dr. Garri Prima Decroli, Sp.PD menjelaskan penyakit ginjal kronik merupakan gangguan struktur maupun fungsi ginjal yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah laju filtrasi glomerulus atau GFR.

“Penyakit ginjal kronik adalah gangguan struktur dan fungsi ginjal selama lebih atau sama dengan tiga bulan. Salah satu kriterianya adalah GFR kurang dari 60 mililiter per menit per 1,73 meter persegi selama lebih dari tiga bulan, dengan atau tanpa adanya kerusakan ginjal,” jelas dr. Garri.

Menurutnya, penyakit ginjal kronik merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Angka kejadian penyakit ginjal kronik diperkirakan berada pada kisaran 13 hingga 15 persen.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memahami bahwa kesehatan ginjal tidak hanya perlu diperhatikan ketika sudah muncul keluhan. Pemeriksaan dan pengendalian faktor risiko menjadi bagian penting untuk mencegah gangguan fungsi ginjal berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Dr. Garri menjelaskan penyakit ginjal kronik memiliki beberapa stadium. Pada stadium satu hingga stadium tiga, pasien umumnya belum mengalami gejala yang khas. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan karena seseorang dapat mengalami penurunan fungsi ginjal tanpa menyadarinya.

“Pada stadium awal, mulai dari stadium satu sampai stadium tiga, biasanya tidak ada gejala yang dirasakan secara jelas. Karena itu, seseorang yang memiliki faktor risiko perlu melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala,” terangnya.

Memasuki stadium empat, berbagai keluhan mulai dapat muncul. Di antaranya adalah sembab atau pembengkakan, pucat, mual serta tekanan darah yang meningkat. Sementara pada stadium lima, kondisi pasien dapat semakin berat dengan munculnya sembab, sesak napas, mual, muntah hingga nyeri tulang.

Pada tahap lanjut, penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan fungsi ginjal mengalami penurunan yang signifikan sehingga pasien membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal, salah satunya melalui tindakan cuci darah. Karena itu, mengenali penyakit sejak awal dan mengendalikan faktor risikonya menjadi langkah penting agar perjalanan penyakit dapat diperlambat.

Dalam edukasi tersebut, dr. Garri juga memaparkan berbagai kondisi yang dapat menjadi penyebab atau faktor risiko penyakit ginjal kronik. Diabetes melitus dan hipertensi menjadi dua kondisi yang perlu mendapatkan perhatian serius. Selain itu, penyakit seperti glomerulonefritis, batu ginjal, kista ginjal dan asam urat juga dapat berhubungan dengan gangguan fungsi ginjal.

Penggunaan obat-obatan tertentu serta konsumsi produk herbal tanpa pengawasan juga perlu diwaspadai. Selain itu, kondisi bayi dengan berat badan lahir rendah disebut sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal di kemudian hari.

“Diabetes melitus dan hipertensi merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu, ada glomerulonefritis, batu ginjal, kista ginjal, asam urat, penggunaan obat-obatan maupun herbal tertentu. Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menjaga kesehatan dan menggunakan obat,” ungkapnya.

Penyakit ginjal kronik tidak hanya berdampak pada ginjal. Ketika fungsi ginjal terus menurun, kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai organ dan sistem tubuh lainnya. Komplikasi dapat terjadi pada jantung, otak, paru-paru, saluran pencernaan, tulang hingga fungsi seksual.

Penyakit ginjal kronik juga memiliki hubungan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan ginjal pada dasarnya merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dalam hal penanganan, pasien dengan penyakit ginjal kronik akan mendapatkan terapi sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahan penyakit. Pada pasien dengan kondisi tertentu yang telah mengalami penurunan fungsi ginjal berat, terapi pengganti ginjal dapat dilakukan melalui dialisis.

Terapi dialisis dapat berupa hemodialisis maupun Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD. Selain itu, transplantasi ginjal juga menjadi salah satu pilihan terapi pengganti ginjal pada pasien yang memenuhi persyaratan medis.

Meski demikian, dr. Garri menekankan bahwa langkah terbaik tetaplah melakukan pencegahan dan mendeteksi gangguan fungsi ginjal sedini mungkin. Masyarakat dapat melakukan berbagai upaya sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kesehatan ginjal.

Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain menjaga tubuh tetap bugar dan aktif, memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, tidak merokok, serta memantau tekanan darah secara rutin. Bagi masyarakat yang memiliki diabetes, pengendalian kadar gula darah secara teratur juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan ginjal.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat yang dijual bebas, terutama jika digunakan dalam jangka panjang tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan. Pola makan sehat dan menjaga berat badan juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan penyakit ginjal kronik.

“Menjaga ginjal dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Tetap aktif, menjaga hidrasi, tidak merokok, memantau tekanan darah dan kadar gula darah, menjaga pola makan serta berat badan. Jangan sembarangan mengonsumsi obat, dan bagi mereka yang memiliki satu atau beberapa faktor risiko tinggi, sebaiknya melakukan pemeriksaan fungsi ginjal,” tukas dr. Garri.(*)