RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ibu dan janin. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Selasa (2/9).

Kegiatan yang diselenggarakan melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan tersebut mengangkat tema tentang deteksi kelainan kongenital pada bayi. Penyuluhan menghadirkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS M. Djamil, dr. Eko Apriandhi, Sp.OG, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, dr. Eko Apriandhi menjelaskan kelainan kongenital merupakan kondisi kelainan yang sudah ada sejak bayi lahir dan dapat memengaruhi organ maupun fungsi tubuh bayi. Kondisi tersebut memiliki tingkat keparahan yang beragam, mulai dari kelainan yang ringan hingga kondisi yang dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.

"Kelainan kongenital adalah kelainan yang sudah ada sejak bayi lahir yang dapat memengaruhi organ maupun fungsi tubuh bayi. Kelainannya bisa bersifat ringan sampai berat," jelas dr. Eko.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua kelainan kongenital terjadi akibat kesalahan atau kelalaian ibu selama kehamilan. Pada sebagian kasus, penyebab kelainan dapat berkaitan dengan faktor kromosom atau genetik. Selain itu, kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, infeksi tertentu, paparan obat atau zat tertentu, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol, merokok, maupun paparan zat berbahaya juga dapat menjadi faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan kongenital.

Namun demikian, dr. Eko menegaskan pada banyak kasus, penyebab pasti kelainan kongenital tidak selalu dapat diketahui. Karena itu, orang tua tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri ketika ditemukan adanya kelainan pada janin atau bayi "Yang perlu dipahami, tidak semua kelainan kongenital disebabkan oleh kesalahan ibu. Ada berbagai faktor yang dapat berperan dan pada banyak kasus penyebab pastinya memang tidak dapat diketahui," ujarnya.

Ia menjelaskan sebagian kelainan kongenital dapat diketahui sebelum bayi lahir melalui pemeriksaan kehamilan, termasuk pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Deteksi prenatal menjadi penting karena dapat membantu tenaga kesehatan menilai kondisi janin sejak dini dan menentukan langkah selanjutnya apabila ditemukan adanya kecurigaan kelainan.

“Deteksi prenatal bertujuan untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan janin, mengetahui kemungkinan adanya kelainan sejak dini, serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Informasi yang diperoleh dari pemeriksaan juga dapat membantu tenaga kesehatan menentukan tempat dan cara persalinan yang paling sesuai dengan kondisi ibu dan janin,” sebutnya.

Selain itu, deteksi sejak masa kehamilan memberikan kesempatan bagi orang tua untuk mendapatkan informasi dan konseling sehingga dapat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kondisi bayi setelah lahir. Dengan persiapan yang lebih baik, kebutuhan perawatan bayi dapat direncanakan bersama tim medis sejak sebelum persalinan.

"Deteksi prenatal bukan semata-mata untuk mencari apakah ada kelainan atau tidak, tetapi juga untuk mengetahui kondisi janin dan mempersiapkan langkah yang paling tepat apabila ditemukan suatu kondisi tertentu," kata dr. Eko.

Meski demikian, ia mengingatkan tidak semua kelainan dapat dideteksi selama kehamilan. Pemeriksaan USG yang menunjukkan hasil normal tidak dapat menjadi jaminan bahwa bayi seratus persen bebas dari seluruh jenis kelainan.

Beberapa kondisi dapat sulit terlihat melalui pemeriksaan karena ukuran kelainannya sangat kecil, sementara sejumlah penyakit atau gangguan tertentu baru dapat diketahui setelah bayi lahir. Kemampuan deteksi juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia kehamilan, posisi janin, kondisi ibu, jenis kelainan yang dicari, serta kualitas pemeriksaan.

"Apakah semua kelainan bisa dideteksi? Tidak. Ada kelainan yang memang dapat terlihat sejak dalam kandungan, tetapi ada juga yang baru diketahui setelah bayi lahir. Karena itu, hasil pemeriksaan yang normal tidak berarti menjamin seratus persen bayi bebas dari seluruh kelainan," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Eko juga menekankan upaya menjaga kesehatan kehamilan idealnya dimulai bahkan sebelum kehamilan terjadi. Persiapan sebelum hamil menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan kehamilan yang sehat sekaligus menurunkan risiko berbagai masalah kesehatan selama masa kehamilan.

Pasangan yang merencanakan kehamilan dianjurkan melakukan konsultasi prakonsepsi agar kondisi kesehatan dapat dievaluasi terlebih dahulu. Penyakit yang telah dimiliki ibu, penggunaan obat-obatan, status imunisasi, hingga kondisi gizi perlu diperhatikan sebelum kehamilan.

Asupan asam folat juga menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan kehamilan. Selain itu, calon ibu perlu menerapkan pola makan bergizi seimbang dan gaya hidup sehat. Berbagai faktor risiko yang dapat dicegah juga perlu dihindari, termasuk rokok, alkohol, serta penggunaan obat atau suplemen tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan.

"Kehamilan yang sehat sebenarnya dimulai sebelum terjadi kehamilan. Karena itu, bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, sebaiknya mempersiapkan kondisi kesehatan sejak awal, melakukan konsultasi, mengevaluasi penyakit yang dimiliki, meninjau obat yang digunakan, serta mulai memenuhi kebutuhan asam folat sesuai anjuran," tutur dr. Eko.

Selama masa kehamilan, pemeriksaan secara rutin juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan ibu dan janin. Ibu hamil perlu mengikuti jadwal pemeriksaan yang dianjurkan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengontrol penyakit seperti diabetes dan hipertensi, serta menghindari rokok dan alkohol.

Penggunaan obat maupun suplemen juga perlu dilakukan secara bijak. Ibu hamil dianjurkan tidak mengonsumsi obat atau suplemen secara sembarangan dan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan, terutama apabila memiliki kondisi medis tertentu atau sedang menjalani pengobatan.

Menurut dr. Eko, pemeriksaan dan deteksi dini bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk menakut-nakuti calon orang tua. Sebaliknya, pemeriksaan dilakukan untuk memberikan informasi dan kesempatan yang lebih besar bagi keluarga maupun tenaga kesehatan dalam mempersiapkan kehamilan, persalinan, serta perawatan bayi secara optimal.

"Deteksi dini bukan untuk menakut-nakuti orang tua. Justru dengan mengetahui kondisi lebih awal, kita memiliki kesempatan untuk mempersiapkan kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi dengan lebih baik," ungkapnya.(*)