RS M. Djamil terus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jantung. Upaya tersebut kembali diwujudkan ketika rumah sakit Kementerian Kesehatan ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar penyuluhan kesehatan di Poliklinik Jantung Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil pada Jumat (14/8).

Kegiatan penyuluhan menghadirkan narasumber dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Khaula Luthfiyah. Dalam kesempatan tersebut, dr. Khaula menyampaikan materi bertema “Diet dan Aktivitas Fisik untuk Pencegahan Penyakit Jantung”. Edukasi ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus menekan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.

Dalam pemaparannya, dr. Khaula menjelaskan penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat terjadi akibat berbagai faktor dan tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas sejak awal. Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi sangat penting, terutama dengan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.

“Penyakit jantung dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, sehingga pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin. Kita perlu mengenali tanda-tandanya, mengendalikan faktor risiko, serta menerapkan pola makan dan aktivitas fisik yang baik,” ujar dr. Khaula.

Ia menjelaskan, beberapa ciri yang perlu diwaspadai antara lain rasa nyeri atau tidak nyaman di dada, sesak napas, mudah lelah, jantung berdebar, pusing, hingga keringat dingin. Keluhan tersebut dapat muncul dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap orang. Karena itu, masyarakat dianjurkan tidak mengabaikan keluhan yang mencurigakan dan segera mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan jantung.

dr. Khaula memaparkan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Di antaranya adalah pola makan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta berbagai kondisi kesehatan yang tidak terkontrol. Risiko juga dapat meningkat seiring pertambahan usia dan adanya faktor keturunan.

Menurutnya, menjaga kesehatan jantung tidak harus dilakukan dengan langkah yang rumit. Salah satu hal utama yang dapat dimulai dalam kehidupan sehari-hari adalah memperbaiki pola makan. Pengaturan diet untuk kesehatan jantung dapat dilakukan dengan mengontrol porsi makanan agar tidak berlebihan serta memperbanyak konsumsi sayur dan buah yang beragam.

“Pola makan sehat untuk jantung bukan berarti harus menghilangkan semua jenis makanan. Yang penting adalah mengatur porsi, memilih makanan yang lebih sehat, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi makanan yang tinggi garam dan lemak tidak sehat,” jelasnya.

Dalam edukasi tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya memilih sumber karbohidrat yang rendah proses, mengonsumsi lemak baik, serta memilih sumber protein yang rendah lemak. Selain itu, konsumsi garam perlu dikurangi karena asupan garam yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah, yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Masyarakat juga diingatkan untuk menghindari alkohol dan rokok. Kebiasaan merokok dapat memberikan dampak buruk terhadap pembuluh darah dan kesehatan jantung. Karena itu, berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting dalam menurunkan risiko penyakit jantung dan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit jantung. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran tubuh dan mendukung pengendalian berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular. “Masyarakat dianjurkan untuk tetap aktif sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi kesehatan tertentu,” ajaknya.

Tidak hanya memberikan pemahaman tentang pola makan dan aktivitas fisik, penyuluhan tersebut juga memberikan edukasi praktis kepada peserta melalui gerakan “MENARI” atau meraba nadi sendiri. Edukasi ini bertujuan agar masyarakat dapat mengenali denyut nadi dan lebih peka terhadap kemungkinan adanya gangguan irama jantung.

Dalam praktiknya, peserta diajarkan untuk menggenggam pergelangan tangan sendiri kemudian meraba bagian bawah pangkal ibu jari menggunakan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Setelah menemukan tonjolan tulang di bagian bawah pangkal ibu jari, jari digeser sedikit ke arah tengah pergelangan hingga terasa denyutan. Denyutan tersebut kemudian dihitung selama 30 detik.

“Dengan MENARI, masyarakat bisa belajar mengenali denyut nadinya sendiri. Apabila denyutan terasa tidak teratur atau jumlah denyutan berada di atas 50 atau di bawah 30 dalam waktu 30 detik, perlu diwaspadai adanya gangguan irama jantung dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” terang dr. Khaula.

Ia menambahkan, pemeriksaan nadi secara mandiri bukan merupakan pengganti pemeriksaan medis, tetapi dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi tubuh. “Apabila ditemukan denyutan yang tidak teratur atau terdapat keluhan seperti berdebar, pusing, sesak, maupun nyeri dada, masyarakat dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” imbaunya.(*)