Cegah Resistensi Antimikroba, RS M. Djamil Gelar Workshop PGA
RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui penguatan implementasi Program Penatagunaan Antimikroba (PGA) atau Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan, RS M. Djamil berupaya memastikan penggunaan antibiotik dilakukan secara rasional guna menekan laju resistensi antimikroba yang kini menjadi tantangan serius dalam pelayanan kesehatan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Penatagunaan Antimikroba (PGA) yang digelar pada Sabtu (25/7) di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil. Kegiatan ini diikuti tenaga kesehatan dari berbagai rumah sakit di Sumatera Barat dan provinsi sekitarnya sebagai upaya memperkuat implementasi PPRA secara regional.
Workshop dibuka langsung oleh Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Dalam sambutannya, ia menegaskan resistensi antimikroba telah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan berdampak luas terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan pasien.
"Saat ini resistensi antimikroba telah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan meningkatkan angka resistensi, memperpanjang lama perawatan pasien, meningkatkan biaya pelayanan, bahkan berdampak pada meningkatnya angka kesakitan dan kematian," ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan Penatagunaan Antimikroba tidak lagi menjadi tanggung jawab satu profesi saja, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur di rumah sakit. Kolaborasi yang baik antarprofesi menjadi fondasi utama dalam keberhasilan pelaksanaan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba.
"Penatagunaan Antimikroba bukan lagi menjadi tanggung jawab satu profesi semata, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur rumah sakit. Kolaborasi antara dokter, apoteker, perawat, tenaga laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, manajemen, serta seluruh tenaga kesehatan merupakan kunci keberhasilan implementasi PPRA," katanya.
Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber yakni Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, Dr. dr. Linosefa, Sp.MK, Dr. dr. Gestina Aliska, Sp.FK, dr. Fadrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM, serta Dr. dr. Hj. Liliriawati Ariantta Kahar, Sp.An, Subsp.IC (K). Para narasumber membahas berbagai aspek penatagunaan antimikroba, mulai dari konsep dasar resistensi antimikroba, kebijakan nasional, penyusunan standar operasional prosedur, hingga strategi monitoring dan evaluasi implementasi PPRA di rumah sakit.
Dr. Dovy berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak hanya berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam praktik pelayanan sehari-hari sehingga memberikan dampak terhadap peningkatan mutu layanan kesehatan.
"Melalui workshop ini, saya berharap seluruh peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep dasar resistensi antimikroba, kebijakan nasional, penyusunan SOP, monitoring dan evaluasi, tetapi juga mampu mengimplementasikan praktik penggunaan antibiotik yang rasional di unit kerja masing-masing. Dengan demikian, manfaat kegiatan ini tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi benar-benar berdampak terhadap peningkatan keselamatan pasien dan mutu pelayanan rumah sakit," ungkapnya.
Selain menjadi sarana peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, workshop ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring antar rumah sakit dalam mengimplementasikan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba. Kehadiran peserta dari berbagai rumah sakit di Sumatera Barat dan provinsi sekitar diharapkan dapat mendorong terbangunnya kolaborasi yang lebih kuat dalam menghadapi ancaman resistensi antimikroba di tingkat regional.
Dr. Dovy menegaskan tekad RS M. Djamil untuk terus menjadi rumah sakit rujukan yang tidak hanya unggul dalam pelayanan, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan praktik terbaik dalam penatagunaan antimikroba di lingkungan rumah sakit Kementerian Kesehatan.
"Kami bertekad menjadikan RS M. Djamil sebagai salah satu acuan dalam penatagunaan antimikroba di lingkungan rumah sakit Kementerian Kesehatan. Melalui komitmen bersama, inovasi, dan kolaborasi yang berkelanjutan, kami optimistis dapat memberikan kontribusi nyata dalam menekan resistensi antimikroba sekaligus meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien," tukasnya. (*)