Setelah melewati masa perawatan dan menjalani operasi selama sekitar lima hingga enam jam, R, pasien berusia 5 tahun, akhirnya menjalani rawat jalan setelah mendapatkan perawatan di RS M. Djamil. Momen tersebut menjadi kebahagiaan bagi keluarga, terlebih setelah melihat perkembangan kondisi R yang mulai menunjukkan perubahan positif.

Sebelumnya, perjalanan kesehatan R bukanlah sesuatu yang mudah. Masbulan, 27 tahun, orang tua R, menceritakan kondisi sang anak mulai mengalami masalah ketika berusia sekitar 4 tahun 2 bulan. Sekitar delapan bulan sebelum menjalani operasi, seluruh tubuh R sempat mengalami kekakuan. Ia tidak mampu berjalan maupun duduk dan mengalami kejang-kejang, demam, serta campak.

Seiring berjalannya waktu, kondisi R semakin menurun. Tubuhnya semakin kurus dan kemampuan aktivitasnya semakin terbatas. Keluarga kemudian membawa R untuk mendapatkan penanganan hingga akhirnya dirujuk dari Pasaman Timur ke RS M. Djamil.

“Kondisinya lama-lama drop, badannya semakin kurus. Waktu itu seluruh tubuhnya kaku, tidak bisa jalan, tidak bisa duduk, dan mengalami kejang-kejang,” ujar Masbulan saat ditemui di ruang rawat bedah anak RS M. Djamil.

Setelah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan dari tim medis, R kemudian direncanakan menjalani operasi Kraniotomy Bypass STA-MCA double barrel. Bypass STA-MCA (Superficial Temporal Artery–Middle Cerebral Artery) adalah prosedur operasi untuk membantu meningkatkan aliran darah ke otak dengan menghubungkan arteri temporal superfisial atau Superficial Temporal Artery (STA), yaitu pembuluh darah yang berada di bagian luar kepala, dengan arteri serebral media atau Middle Cerebral Artery (MCA), yaitu pembuluh darah yang memasok darah ke bagian otak.

Melalui prosedur tersebut, dokter membuat jalur aliran darah tambahan menuju jaringan otak yang membutuhkan pasokan darah. Dalam tindakan ini, pembuluh darah STA digunakan sebagai pembuluh donor yang kemudian disambungkan dengan cabang MCA melalui teknik bedah mikrovaskular.

Sementara pada teknik double barrel, dua cabang STA digunakan untuk dibuatkan dua sambungan bypass ke pembuluh darah otak. Dengan teknik tersebut, aliran darah tambahan dapat diberikan ke area otak yang lebih luas sesuai dengan kondisi pasien.

Bagi keluarga R, keputusan menjalani operasi tersebut tentu tidak mudah. Di usia yang masih sangat muda, kekhawatiran sebagai orang tua tentu menyertai setiap proses yang harus dilalui. Namun, keluarga memilih untuk saling menguatkan dan meyakini bahwa tindakan tersebut merupakan jalan terbaik bagi R.

“Kami sebagai orang tua saling menguatkan. Bagi kami, kalau ini jalan terbaik untuk R, kami jalani. Bismillah,” ungkap Masbulan.

Keyakinan tersebut kemudian membawa R menjalani operasi pada Kamis (13/8). Tindakan Kraniotomy Bypass STA-MCA double barrel berlangsung sekitar lima hingga enam jam.

Operasi dilakukan oleh tim RS M. Djamil yang diketuai dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS, Subsp.N-Vas (K), dengan pendampingan tim RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yang diketuai dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS. Tindakan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Proctoring Bypass STA-MCA bersama RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta selaku Pengampu Nasional.

Setelah operasi, kondisi R terus dipantau oleh tim medis. Bagi keluarga, setiap perkembangan menjadi sesuatu yang sangat berarti. Perlahan, perubahan positif mulai terlihat. R mulai dapat menggerakkan tubuhnya dan melakukan aktivitas. “Alhamdulillah setelah operasi sudah ada perkembangan. Sekarang sudah bisa bergerak dan beraktivitas,” kata Masbulan.

Perubahan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Sebelumnya, mereka harus melihat R dalam kondisi tubuh yang kaku, tidak mampu berjalan maupun duduk, serta mengalami kejang-kejang. Kini, melihat R kembali dapat bergerak menjadi sebuah harapan baru.

R merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Bagi kedua orang tuanya, proses yang telah dilalui sang anak menjadi perjalanan yang penuh dengan kekhawatiran sekaligus harapan.

Kini, setelah menjalani operasi dan melewati masa perawatan, R memasuki tahap rawat jalan dan kembali bersama keluarganya ke Pasaman dengan membawa harapan agar proses pemulihan terus berjalan dengan baik.

Masbulan berharap kondisi R semakin sehat dan dapat kembali melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. “Harapan kami, R lebih sehat lagi dan bisa beraktivitas normal,” tuturnya.

Sementara itu, dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS, Subsp.N-Vas (K), yang memimpin tim operasi RS M. Djamil, mengatakan kondisi R saat ini menunjukkan perkembangan yang baik. Kekuatan lengan sebelah kanan sudah mulai membaik, meskipun kaki sebelah kanan masih mengalami kelemahan.

“Pasien saat ini sudah hari ketujuh pascaoperasi dan direncanakan menjalani rawat jalan hari ini. Lengan sebelah kanan sudah mulai kuat, namun kaki sebelah kanan masih lemah,” jelas dr. Ade.

Selama menjalani perawatan di rumah, menurut dr. Ade, tidak ada perawatan khusus yang perlu dilakukan. Namun, keluarga tetap perlu memperhatikan kondisi kelemahan pada sisi tubuh R, sementara luka operasi akan tetap dipantau. R juga direncanakan menjalani kontrol sekitar satu minggu kemudian untuk melihat perkembangan kondisi serta mengevaluasi hasil pemeriksaan CT Angiography otak.

“Untuk perawatan di rumah tidak ada yang khusus, yang perlu diperhatikan adalah kelemahan pada sisi tubuhnya. Luka operasi juga tetap akan kita pantau. Rencananya satu minggu kemudian pasien akan kontrol kembali untuk melihat kondisi selanjutnya dan hasil CT Angiography otaknya,” ujarnya.

Ade menjelaskan, tindakan bypass STA-MCA yang dijalani R merupakan operasi yang tergolong sulit. Prosedur tersebut dilakukan dengan membuat jalur aliran darah tambahan menuju jaringan otak yang membutuhkan pasokan darah. “Operasi bypass ini tergolong sulit. Tujuan operasi ini adalah untuk mencegah agar tidak terjadi stroke,” jelasnya.

Ia juga menekankan stroke pada usia dini merupakan kondisi yang jarang terjadi. Karena itu, gangguan pembuluh darah otak perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut sesuai indikasi medis. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui CT scan otak, MRI otak, maupun Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk mengetahui kemungkinan adanya aneurisma, AVM, atau kelainan pembuluh darah lainnya.

“Stroke pada usia dini ini sangat jarang. Karena itu, baik anak, dewasa maupun orang tua perlu memperhatikan kesehatan otak dan melakukan pemeriksaan sesuai indikasi, seperti CT scan, MRI, ataupun DSA untuk mengetahui ada atau tidaknya aneurisma, AVM, atau kelainan pembuluh darah lainnya,” ungkap dr. Ade.

Ia berharap perkembangan kondisi R terus menunjukkan hasil yang baik setelah menjalani operasi. Dengan pemantauan dan kontrol secara berkala, diharapkan fungsi tubuh R dapat semakin membaik dan ia dapat kembali menjalani aktivitas seperti anak-anak seusianya.

“Kami berharap pasien R terus mengalami perbaikan setelah operasi, kekuatan tubuhnya semakin baik, dan ke depannya bisa kembali beraktivitas seperti anak-anak seusianya,” harap dr. Ade.

Memasuki masa rawat jalan menjadi awal dari perjalanan pemulihan berikutnya. Masih ada proses pemantauan dan kontrol yang harus dijalani, tetapi perkembangan yang ditunjukkan setelah operasi telah memberikan optimisme bagi keluarga.

Dari Pasaman Timur, R datang ke RS M. Djamil dalam kondisi yang membuat keluarga cemas. Kini, ia melanjutkan pemulihan bersama keluarganya dengan kondisi yang mulai menunjukkan perkembangan.

Bagi keluarga R, kemampuan untuk kembali bergerak bukan sekadar sebuah perubahan kondisi. Itu adalah harapan yang perlahan menjadi nyata. Dan ketika R melanjutkan perawatan secara rawat jalan, kedua orang tuanya membawa satu doa yang sama: semoga R semakin sehat, terus berkembang, dan suatu hari dapat kembali menjalani aktivitas normal, bermain, belajar, serta menikmati masa kecilnya dengan penuh kebahagiaan. (*)