RS M. Djamil terus berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RS M. Djamil kepada pasien dan keluarga pasien di lingkungan rumah sakit.

Pada Jumat (10/7), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini mengadakan penyuluhan kesehatan di Poliklinik Penyakit Dalam Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan dengan menghadirkan narasumber dokter spesialis penyakit dalam RS M. Djamil, dr. Yulistia Asmi, Sp.PD. Dalam kegiatan tersebut, dr. Yulistia memberikan edukasi tentang pengenalan Sindroma Kardiovaskular Renal Metabolik (Cardiovascular-Kidney-Metabolic Syndrome/CKM), sebuah kondisi kesehatan yang melibatkan keterkaitan antara sistem jantung, ginjal, dan metabolik.

Yulistia Asmi, Sp.PD menjelaskan sindroma kardiovaskular renal metabolik merupakan gangguan yang saling berhubungan pada tiga sistem utama tubuh. Yaitu sistem kardiovaskular yang meliputi jantung dan pembuluh darah, sistem renal atau ginjal, serta sistem metabolik yang berkaitan dengan gula darah, kadar lemak, dan tekanan darah.

“Sindroma kardiovaskular renal metabolik adalah kondisi ketika gangguan pada satu sistem tubuh dapat memengaruhi dan memperburuk sistem lainnya. Misalnya, gula darah yang tinggi tidak hanya berdampak pada metabolisme, tetapi juga dapat membebani kerja ginjal serta meningkatkan risiko kerusakan pada jantung dan pembuluh darah,” jelas dr. Yulistia.

Ia menerangkan, hubungan antarorgan dalam sindroma ini terjadi melalui proses yang saling memengaruhi. Gangguan metabolik seperti obesitas, peningkatan gula darah, dan kadar lemak darah dapat menyebabkan peradangan di seluruh tubuh serta membuat kondisi darah menjadi lebih rentan mengalami gangguan. Pada penderita diabetes, kondisi tersebut dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko komplikasi.

Ketika ginjal mengalami gangguan, tubuh dapat mengalami penumpukan cairan dan garam akibat menurunnya kemampuan ginjal dalam mengatur keseimbangan tubuh. Kondisi tersebut kemudian dapat memperberat kerja jantung. Penumpukan cairan serta perubahan pada pembuluh darah membuat jantung harus bekerja lebih keras sehingga meningkatkan risiko terjadinya gagal jantung.

“Jantung, ginjal, dan metabolik bukanlah organ yang bekerja sendiri-sendiri. Ketika salah satu mengalami gangguan, maka organ lainnya dapat ikut terdampak. Karena itu, pencegahan dan pengendalian faktor risiko menjadi sangat penting,” ujar dr. Yulistia.

Dalam penyuluhan tersebut, dr. Yulistia juga menjelaskan lima tahapan sindroma kardiovaskular renal metabolik yang menggambarkan perjalanan kondisi kesehatan seseorang. Tahap pertama merupakan kondisi sehat tanpa faktor risiko, dengan fokus utama mempertahankan gaya hidup sehat. Tahap kedua ditandai dengan adanya berat badan berlebih atau lingkar perut meningkat, sehingga diperlukan pengaturan pola makan seimbang dan aktivitas fisik.

Tahap berikutnya adalah kondisi ketika seseorang mulai mengalami hipertensi, diabetes, atau gangguan ginjal awal yang membutuhkan pengendalian dan pengobatan secara lebih optimal. Pada tahap keempat, mulai muncul kerusakan jantung yang terkadang belum menimbulkan gejala, sehingga pencegahan terhadap serangan jantung dan gagal jantung menjadi perhatian utama. Sementara itu, tahap kelima merupakan kondisi ketika telah terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, gagal jantung, serangan jantung, atau stroke yang membutuhkan pengawasan dan kontrol ketat.

Yulistia mengingatkan masyarakat untuk segera mendapatkan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami tanda bahaya. Seperti sesak napas terutama saat melakukan aktivitas ringan maupun saat beristirahat, serta pembengkakan pada kedua pergelangan kaki. Gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada jantung maupun ginjal yang perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Untuk mengendalikan sindroma kardiovaskular renal metabolik, pasien dianjurkan menerapkan manajemen pola makan yang baik, disiplin dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, serta melakukan pemantauan kondisi kesehatan secara mandiri. Selain itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit.

“Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan menggunakan sabun, mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih sekitar delapan gelas per hari, serta melakukan olahraga secara teratur minimal 30 menit setiap hari,” tambahnya.

Melalui kegiatan edukasi kesehatan ini, RS M. Djamil berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan jantung, ginjal, dan metabolisme secara terpadu. Sindroma kardiovaskular renal metabolik memang merupakan kondisi yang kompleks, namun dapat dikendalikan melalui deteksi dini, perubahan gaya hidup, serta kepatuhan terhadap pengobatan.(*)