RS M. Djamil Hadirkan Tindakan Perdana Flow Diverter Aneurisma Otak
RS M. Djamil terus memperkuat layanan neurointervensi dengan melaksanakan tindakan perdana pemasangan flow diverter untuk penanganan aneurisma pembuluh darah otak pada Jumat (10/7). Tindakan ini menjadi bagian dari pengembangan layanan neurovaskular di rumah sakit Kementerian Kesehatan RI tersebut sekaligus meningkatkan kemampuan RS M. Djamil dalam menangani kasus-kasus aneurisma yang membutuhkan teknologi dan keahlian khusus.
Tindakan pemasangan flow diverter dilakukan terhadap seorang pasien perempuan berusia 56 tahun melalui prosedur minimal invasif menggunakan kateter dengan pendampingan dari tim Proctoring RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta sebagai Rumah Sakit Koordinator Pengampuan Stroke Nasional.
Pemasangan flow diverter merupakan teknologi dalam layanan neurointervensi yang dilakukan dengan memasukkan perangkat berupa stent khusus melalui pembuluh darah menuju area aneurisma otak. Perangkat ini berfungsi mengatur aliran darah, mengurangi tekanan pada dinding aneurisma, serta membantu proses penutupan aneurisma secara bertahap tanpa melalui tindakan operasi terbuka.
Keberhasilan tindakan ini menjadi salah satu capaian pengembangan layanan neurointervensi RS M. Djamil. Sebelumnya, tindakan coiling untuk penanganan aneurisma telah beberapa kali berhasil dilakukan, namun pemasangan flow diverter merupakan tindakan pertama yang dilaksanakan di RS M. Djamil.
Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan pelaksanaan tindakan tersebut merupakan langkah maju dalam pengembangan layanan neurointervensi di RS M. Djamil. “Tindakan coiling untuk penanganan aneurisma sudah beberapa kali berhasil dilakukan di RS M. Djamil. Namun, pemasangan flow diverter dalam tindakan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan. Tentunya ini menjadi sebuah pencapaian sekaligus langkah maju dalam pengembangan layanan neurointervensi di rumah sakit kami,” ujar Dr. Dovy.
Menurutnya, pengembangan layanan kesehatan tidak hanya membutuhkan dukungan teknologi, tetapi juga peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui kolaborasi dan pembelajaran bersama dengan rumah sakit yang memiliki pengalaman lebih luas. “Keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergi dalam program pengampuan. RS PON sebagai Rumah Sakit Koordinator Pengampuan Stroke telah memberikan dukungan yang luar biasa kepada RS M. Djamil sebagai Rumah Sakit Pengampu Regional Sumatera Bagian Tengah,” ungkapnya.
Dr. Dovy berharap kolaborasi dalam program pengampuan dapat terus berlanjut sehingga kompetensi SDM, kualitas layanan, serta akses masyarakat terhadap pelayanan stroke dan neurovaskular semakin meningkat. “Kami juga berharap kegiatan proctoring hari ini menjadi awal dari semakin berkembangnya layanan tindakan neurointervensi di RS M. Djamil, sehingga masyarakat di wilayah Sumatera Bagian Tengah dapat memperoleh pelayanan yang semakin komprehensif tanpa harus dirujuk ke luar daerah,” tambahnya.
Turut hadir dalam penyambutan tim Proctoring RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta ini, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Ketua Pengampuan Stroke RS M. Djamil dr. Dedi Sutia, Sp.N(K), FINA, MARS, dokter spesialis neurologi dr. Gunawan Septa Dinata, Sp.N, FINA, dokter spesialis bedah syaraf dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS, Subsp.N-Vas(K) serta Wakil Kepala Instalasi Bedah Sentral dr. Nadra Septiadi, Sp.An-TI., M.Sc.
Kemudian Tim Proctoring RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta dipimpin Ketua Tim dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N, Subsp.NIOO(K), FINS didampingi dr. Ricky Gusanto Kurniawan, Sp.N, Subsp.NIIO(K), FINR, dr. Dimas Rahmatisa, Sp.An-TI, Subsp.NA(K), serta perawat Nicko Yan Perdana, AMK dan Sandi Irvanta, S.Kep., Ners.
Sementara itu, Ketua Tim Proctoring RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N, Subsp.NIOO(K), FINS menyampaikan tindakan yang dilakukan merupakan kasus dengan karakteristik khusus sehingga membutuhkan pengalaman dan keahlian tertentu. “Hari ini kasusnya memang spesifik. Kami tetap membantu teman sejawat untuk mendapatkan pengalaman,” kata dr. Bambang.
Ia menjelaskan pendampingan serupa sebelumnya juga telah dilakukan pada beberapa rumah sakit lain, seperti RS Prof. Dr. dr. Kandou Manado dan RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dengan kasus serupa. Pemasangan flow diverter membutuhkan kesiapan tim karena perangkat yang digunakan memiliki karakteristik khusus dan memerlukan pengalaman dalam pelaksanaannya.
“Karena alat yang digunakan spesifik, benar-benar membutuhkan keilmuan dan pengalaman. Diharapkan nantinya tim neurointervensi RS M. Djamil sudah terbiasa memberikan pelayanan dengan kasus-kasus spesifik seperti ini,” jelasnya.
Dengan terlaksananya tindakan perdana pemasangan flow diverter ini, RS M. Djamil semakin memperkuat layanan neurointervensi sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan stroke dan neurovaskular yang lebih lengkap, modern, dan berkualitas bagi masyarakat di wilayah Sumatera Bagian Tengah.(*)