RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif. Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan, RS M. Djamil tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga aktif memberikan edukasi kepada pasien, keluarga pasien, dan masyarakat sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif.

Pada Kamis (6/8), melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, RS M. Djamil menggelar penyuluhan kesehatan bertajuk “Menyusui untuk Awal Kehidupan Berkelanjutan” di Poliklinik Anak Lantai 2 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Pekan Menyusui Sedunia 2026 dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) sebagai fondasi kesehatan anak sejak awal kehidupan.

Penyuluhan menghadirkan dokter spesialis anak RS M. Djamil, dr. Tiara Ella Sari, Sp.A, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, dr. Tiara menjelaskan ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi selama enam bulan pertama kehidupan. Setiap 100 mililiter ASI mengandung berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal.

"ASI merupakan makanan pertama dan terbaik bagi bayi. Di dalamnya terdapat kandungan nutrisi yang lengkap, faktor pelindung anti-infeksi, serta berbagai faktor bioaktif yang berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang bayi sekaligus memperkuat sistem kekebalan tubuhnya," jelas dr. Tiara.

Ia menerangkan ASI mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan bayi. Pada hari-hari pertama setelah persalinan, ibu akan menghasilkan kolostrum yang berwarna kekuningan dan kaya akan antibodi. “Selanjutnya akan terbentuk ASI transisi sebelum akhirnya menjadi ASI matur yang mengandung komposisi gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan bayi hingga usia enam bulan,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Tiara juga mengingatkan pentingnya menyusui segera setelah bayi lahir melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Pemberian ASI sejak satu jam pertama kehidupan menjadi langkah awal yang sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan menyusui.

"Target pemberian ASI dimulai segera setelah bayi lahir melalui Inisiasi Menyusu Dini, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama usia nol hingga enam bulan. Setelah bayi berusia enam bulan, ASI tetap diberikan dengan didampingi makanan pendamping ASI yang sesuai, dan dianjurkan dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih," ungkapnya.

Tiara menjelaskan manfaat ASI sangat besar bagi tumbuh kembang anak. Selain menjadi sumber nutrisi terbaik, ASI juga berperan dalam mendukung perkembangan kecerdasan anak, membuat anak tidak mudah sakit karena sistem imunnya lebih baik, serta menurunkan risiko berbagai penyakit di kemudian hari.

"Anak yang mendapatkan ASI memiliki banyak keuntungan. Selain memperoleh nutrisi terbaik, mereka juga memiliki risiko yang lebih rendah terhadap berbagai penyakit infeksi maupun penyakit kronis di masa mendatang. ASI merupakan investasi kesehatan yang manfaatnya dirasakan hingga anak tumbuh dewasa," katanya.

Tak hanya memberikan manfaat bagi bayi, pemberian ASI juga memberikan keuntungan bagi keluarga. Menurut dr. Tiara, ASI merupakan sumber nutrisi yang ekonomis karena tidak memerlukan biaya tambahan, selalu tersedia, praktis, higienis, serta siap diberikan kapan saja. Selain itu, proses menyusui juga mampu mempererat ikatan emosional antara ibu dan bayi.

"Memberikan ASI bukan hanya bermanfaat bagi bayi, tetapi juga bagi keluarga. ASI lebih hemat, praktis, selalu siap diberikan tanpa proses tambahan, sekaligus memperkuat bonding atau ikatan kasih sayang antara ibu dan bayinya," ujarnya.

Tiara juga mengedukasi para orang tua tentang tanda-tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup. Ia menyebutkan bayi yang memperoleh ASI dalam jumlah memadai umumnya tampak aktif dan ceria, buang air kecil sekitar enam hingga delapan kali dalam sehari, mengalami kenaikan berat badan sesuai usianya, serta dapat tidur dengan nyenyak setelah menyusu.

"Banyak ibu yang khawatir bayinya kurang ASI. Padahal, indikator kecukupan ASI dapat dilihat dari kondisi bayi. Jika bayi aktif, tampak puas setelah menyusu, buang air kecil enam sampai delapan kali sehari, berat badannya bertambah sesuai usia, dan tidur dengan nyaman, maka itu merupakan tanda bahwa kebutuhan ASI telah terpenuhi," jelasnya.

Selain menekankan pentingnya peran ibu, dr. Tiara juga mengajak para ayah dan keluarga besar untuk ikut mendukung keberhasilan pemberian ASI. Menurutnya, keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan lingkungan keluarga.

"Peran ayah dan keluarga sangat besar dalam mendukung ibu menyusui. Dukungan emosional, membantu pekerjaan rumah, memberikan semangat, hingga menciptakan suasana yang nyaman akan membuat ibu lebih percaya diri dan sukses memberikan ASI kepada bayinya," tukasnya. (*)