RS M. Djamil Matangkan Persiapan Akreditasi Lewat Workshop Standar Pelayanan
RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia. Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan, RS M. Djamil secara berkelanjutan mempersiapkan seluruh elemen rumah sakit agar mampu memenuhi standar pelayanan sesuai ketentuan akreditasi rumah sakit.
Pada Kamis (6/8), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini kembali melanjutkan Workshop Standar Akreditasi Rumah Sakit yang digelar di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Kegiatan tersebut diikuti oleh para pegawai dari berbagai unit pelayanan dengan tujuan memperkuat pemahaman sekaligus menyamakan persepsi terhadap implementasi standar akreditasi dalam pelayanan sehari-hari.
Pada sesi kali ini, workshop berfokus pada materi Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), serta praktik Bantuan Hidup Dasar (BHD), hand hygiene, penggunaan spill kit, dan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti simulasi dan praktik langsung agar mampu mengimplementasikan prosedur dengan benar saat bertugas di lingkungan rumah sakit.
Manajer Pendidikan dan Pelatihan RS M. Djamil, Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep mengatakan workshop ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan rumah sakit dalam meningkatkan kompetensi seluruh pegawai sekaligus memastikan setiap standar akreditasi dapat diterapkan secara konsisten. "Melalui workshop ini kami ingin memastikan seluruh pegawai tidak hanya memahami standar akreditasi secara teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik pelayanan sehari-hari. Materi yang diberikan pada hari ini sangat erat kaitannya dengan keselamatan pasien, keselamatan petugas, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kondisi di rumah sakit," ujarnya.
Ia menjelaskan aspek Manajemen Fasilitas dan Keselamatan serta Pencegahan dan Pengendalian Infeksi merupakan elemen penting dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan. Sementara itu, keterampilan Bantuan Hidup Dasar, penerapan hand hygiene, penggunaan spill kit, hingga pengoperasian APAR menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh petugas sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya masing-masing.
Menurutnya, keberhasilan akreditasi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen, tetapi juga budaya mutu dan keselamatan yang diterapkan secara nyata oleh seluruh insan rumah sakit. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan dan workshop akan terus dilakukan secara bertahap agar seluruh pegawai memiliki pemahaman yang sama terhadap standar pelayanan yang berlaku. "Kami berharap setiap peserta dapat menjadi agen perubahan di unit kerjanya masing-masing. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dan dibagikan kepada rekan kerja sehingga budaya keselamatan pasien dan peningkatan mutu dapat tumbuh secara berkesinambungan di RS M. Djamil," harap Venny. (*)