RS M. Djamil terus mematangkan langkah pengembangan kawasan pelayanan kesehatan melalui implementasi masterplan yang telah disusun. Komitmen tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kunjungan silaturahmi Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, yang diterima oleh Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua di ruang kerja Direktur Utama pada Kamis (23/7).

Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi manajemen RS M. Djamil untuk memaparkan arah pengembangan rumah sakit yang diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas layanan kesehatan sekaligus menjawab kebutuhan pelayanan masyarakat di masa mendatang. Di hadapan Ketua Komisi XIII, Direktur Utama menjelaskan bahwa proses pengembangan masterplan telah menunjukkan kemajuan penting setelah masuk ke dalam Green Book yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan melalui skema pendanaan pinjaman dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Selain dukungan pendanaan, pengembangan kawasan rumah sakit juga akan memanfaatkan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). "Alhamdulillah, rencana pengembangan masterplan RS M. Djamil sudah masuk dalam Green Book dan difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan melalui loan AIIB. Dalam pengembangannya nanti, kita juga memanfaatkan lahan KAI dan telah mendapatkan izin untuk mengelola kawasan tersebut sesuai masterplan yang telah disusun," kata Dovy didampingi Manajer TURT Katherina Welong, SKM, MARS, FISQua.

Ia menjelaskan pada tahap awal pengembangan akan dibangun Gedung Central Medical Unit (CMU) setinggi delapan lantai serta gedung rawat inap Non JKN setinggi lima lantai. Kedua bangunan tersebut menjadi prioritas utama karena akan memperkuat kapasitas pelayanan medis sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat. Meski demikian, proses pembangunan harus dirancang secara matang agar aktivitas pelayanan rumah sakit tetap berjalan normal selama proyek berlangsung.

"Kita akan membangun gedung CMU delapan lantai dan gedung rawat inap Non JKN lima lantai sebagai tahap awal pengembangan. Yang menjadi tantangan adalah layanan rumah sakit tidak boleh terganggu selama proses pembangunan berlangsung," jelasnya.

Menurut Dovy, pembangunan kedua gedung tersebut juga membawa konsekuensi terhadap pembongkaran sejumlah ruang rawat inap yang saat ini masih digunakan untuk pelayanan pasien. Kondisi tersebut diperkirakan akan mengurangi sekitar 179 tempat tidur dari total sekitar 800 tempat tidur yang dimiliki RS M. Djamil. Oleh karena itu, rumah sakit perlu menyiapkan solusi agar kapasitas pelayanan kepada masyarakat tetap terjaga selama masa pembangunan.

"Dengan pembangunan tersebut akan ada ruang rawat inap yang harus didemolisi. Dampaknya sekitar 179 tempat tidur dari total kurang lebih 800 tempat tidur yang kita miliki saat ini. Kondisi ini mengharuskan kita menyediakan pengganti sementara agar kapasitas pelayanan tetap terjaga," ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, RS M. Djamil mengusulkan percepatan pembangunan gedung dormitory. Dalam masterplan awal, bangunan tersebut dirancang sebagai fasilitas pendukung rumah sakit yang diperuntukkan bagi kegiatan pendidikan dan pelatihan, pengembangan sumber daya manusia, serta akomodasi bagi keluarga pasien.

"Namun setelah dilakukan pembahasan bersama Kementerian Kesehatan, pembangunan gedung dormitory yang semula dijadwalkan pada tahap ketiga diusulkan untuk dipercepat agar dapat mendukung kelancaran pembangunan gedung-gedung utama," ucapnya.

Dovy menjelaskan selama pembangunan Gedung CMU dan gedung rawat inap Non JKN berlangsung, gedung dormitory akan dimanfaatkan sementara sebagai ruang rawat inap. Langkah tersebut diharapkan mampu menggantikan kapasitas tempat tidur yang terdampak akibat proses pembangunan sehingga pelayanan kepada pasien tetap berjalan optimal. "Setelah seluruh pembangunan gedung utama selesai, fungsi gedung dormitory akan dikembalikan sesuai rencana awal sebagai fasilitas pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan akomodasi keluarga pasien," paparnya.

Sementara itu, Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menyampaikan apresiasi atas langkah-langkah strategis yang dilakukan RS M. Djamil dalam menyiapkan pengembangan rumah sakit secara bertahap dan terencana. Pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan injimerupakan investasi penting untuk meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat, sehingga perlu didukung oleh seluruh pemangku kepentingan.

"Kami mengapresiasi langkah RS M. Djamil yang telah menyiapkan pengembangan melalui masterplan secara matang. Upaya ini menunjukkan komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan kesehatan. Harapannya seluruh proses pembangunan dapat berjalan lancar tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat," ujar Willy Aditya.

Ia berharap sinergi antara RS M. Djamil, Kementerian Kesehatan, serta berbagai pihak terkait dapat terus diperkuat sehingga seluruh tahapan pengembangan dapat terealisasi sesuai rencana. "Dengan hadirnya fasilitas-fasilitas baru tersebut, RS M. Djamil diharapkan semakin mampu menjalankan perannya sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat sekaligus memberikan pelayanan kesehatan yang lebih modern, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat," harapnya.(*)