RS M. Djamil Perkuat SDM dan Layanan Jantung Anak melalui Tripartite Fellowship Kardiologi Pediatrik
RS M. Djamil memperkuat komitmennya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dan peningkatan mutu pelayanan jantung anak melalui Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Tripartite Fellowship Kardiologi Pediatrik, Jumat (21/8).
Kerja sama tersebut melibatkan RS M. Djamil, Kolegium Ilmu Kesehatan Anak, dan Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pendidikan dan kompetensi dokter di bidang kardiologi pediatrik, khususnya dalam penanganan anak dengan penyakit jantung bawaan.
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama tersebut tidak sekadar menjadi penandatanganan administratif, tetapi merupakan komitmen bersama untuk membangun kompetensi dan pelayanan kardiologi pediatrik yang lebih kuat.
“Yang kita bangun hari ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan, kompetensi, dan pelayanan kardiologi pediatrik, khususnya dalam penanganan anak dengan penyakit jantung bawaan,” ujarnya.
Menurutnya, penyakit jantung bawaan membutuhkan pelayanan yang komprehensif, mulai dari deteksi dan diagnosis yang tepat, tata laksana, intervensi tepat waktu, hingga pelayanan berkelanjutan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dan jenjang pelayanan kesehatan.
Karena itu, penguatan layanan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas institusi, mulai dari Kementerian Kesehatan, kolegium, organisasi profesi, rumah sakit pendidikan, institusi pendidikan, hingga para tenaga kesehatan.
Sebagai rumah sakit rujukan sekaligus rumah sakit pendidikan, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi juga berperan dalam membangun dan mengembangkan kompetensi SDM kesehatan.
Melalui program fellowship ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga pengalaman klinis yang kuat, pembelajaran multidisiplin, budaya keselamatan pasien, serta pemahaman komprehensif mengenai tata kelola pelayanan kardiologi pediatrik.
“Fellowship ini diharapkan bukan hanya menghasilkan dokter yang semakin kompeten, tetapi juga memperkuat sistem pelayanan jantung anak secara keseluruhan,” ungkap dr. Maliana.
Ia menjelaskan, setidaknya terdapat tiga makna strategis dari kerja sama tersebut, yakni penguatan SDM, penguatan jejaring pelayanan, serta peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
Penguatan SDM menjadi penting untuk meningkatkan ketersediaan tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidang kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaan. Sementara itu, jejaring pelayanan yang semakin kuat diharapkan dapat mendukung akses pasien terhadap pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan berkesinambungan.
Di sisi lain, seluruh proses pendidikan dan pengembangan kompetensi harus bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. Dengan demikian, keberhasilan fellowship tidak hanya diukur dari jumlah dokter yang mengikuti pendidikan, tetapi juga dari dampaknya terhadap pelayanan kesehatan anak.
“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa banyak dokter yang mengikuti fellowship, tetapi sejauh mana kompetensi tersebut memberikan dampak terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan pasien anak,” tegasnya.
Kerja sama tripartite ini juga diharapkan mampu menciptakan sinergi antara pendidikan dan pelayanan. Kolegium berperan dalam pengembangan standar kompetensi dan pendidikan, rumah sakit menjadi tempat pembelajaran sekaligus pelayanan, sementara organisasi profesi turut memperkuat profesionalisme dan pelayanan keprofesian.
RS M. Djamil berkomitmen agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada dokumen, tetapi diwujudkan melalui program pendidikan, peningkatan kompetensi, penelitian, inovasi, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada pasien.
“Pendidikan harus memperkuat pelayanan, dan pelayanan harus menjadi sumber pembelajaran bagi pendidikan,” kata dr. Maliana.
Ia berharap pengembangan kardiologi pediatrik dapat memberikan akses pelayanan yang semakin luas dan berkualitas bagi anak-anak dengan penyakit jantung bawaan di Indonesia.
“Kita ingin agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan mendapatkan pelayanan hanya karena keterbatasan kompetensi atau akses. Karena setiap anak yang kita selamatkan bukan hanya menyelamatkan satu kehidupan, kita juga sedang menyelamatkan masa depan sebuah keluarga, masa depan generasi, dan masa depan bangsa,” pungkasnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan visitasi layanan jantung anak di RS M. Djamil. Visitasi tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung potensi dan capaian layanan sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperkuat dalam pengembangan pelayanan jantung anak di rumah sakit. (*)