Tim Bedah Saraf RS M. Djamil berhasil menyelesaikan tindakan operasi bypass Superficial Temporal Artery–Middle Cerebral Artery (STA-MCA) terhadap seorang pasien anak laki-laki berusia 5 tahun yang didiagnosis mengalami Giant Aneurisma ICA Dextra atau aneurisma raksasa pada Arteri Karotis Interna (ICA), Kamis (13/8).
 
Tindakan tersebut merupakan operasi bypass STA-MCA pertama yang dilakukan di RS M. Djamil untuk kasus aneurisma kompleks tersebut. Operasi berlangsung sekitar lima hingga enam jam dan dilakukan melalui kolaborasi serta koordinasi antara tim RS M. Djamil dengan tim dari RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta selaku rumah sakit pengampu nasional.
 
Setelah operasi selesai, pasien selanjutnya akan menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk pemantauan kondisi pascaoperasi secara ketat oleh tim medis.
 
Operasi dipimpin oleh dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS, Subsp.N-Vas (K), selaku Ketua Tim RS M. Djamil, dengan pendampingan tim RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yang diketuai dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS.
 
Pelaksanaan tindakan ini merupakan bagian dari Proctoring Bypass STA-MCA bersama RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta sebagai Pengampu Nasional. Kehadiran tim pengampu nasional tidak hanya mendukung pelaksanaan tindakan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan kapasitas pelayanan bedah vaskular otak di RS M. Djamil.
 
Sebelum pelaksanaan operasi, Ketua Tim RS M. Djamil, dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS, Subsp.N-Vas (K), dalam laporan yang disampaikan secara virtual kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan perjalanan kondisi pasien hingga akhirnya diputuskan untuk menjalani tindakan bypass STA-MCA.
 
dr. Ade mengatakan, pasien dirujuk ke RS M. Djamil dalam kondisi mengalami penurunan kesadaran. Setelah tiba di rumah sakit, tim medis segera melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kondisi tersebut.
 
“Sewaktu dirujuk ke RS M. Djamil, kondisi anak mengalami penurunan kesadaran. Pasien sudah dilakukan MRI dan dari hasil MRI didapatkan Giant Aneurisma,” ujar dr. Ade.
 
Setelah ditemukan adanya Giant Aneurisma melalui pemeriksaan MRI, tim medis kemudian melakukan Digital Subtraction Angiography (DSA) cerebral untuk memperoleh gambaran yang lebih detail tentang kondisi pembuluh darah otak pasien.
 
“Kemudian pasien tersebut dilakukan DSA cerebral langsung. Ternyata benar terdapat aneurisma pada Arteri Karotis Interna kanan,” jelasnya.
 
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi tim RS M. Djamil untuk menentukan strategi penanganan selanjutnya. Mengingat aneurisma yang ditemukan merupakan aneurisma raksasa pada Arteri Karotis Interna kanan dan pasien masih berusia sangat muda, diperlukan perencanaan serta persiapan yang matang.
 
“Setelah itu saya langsung diskusi dengan tim RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Dari hasil diskusi, ini merupakan kandidat untuk dilakukan tindakan operasi bypass,” kata dr. Ade.
 
Komunikasi antara tim RS M. Djamil dan RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta kemudian berlanjut pada persiapan pelaksanaan proctoring. Tim dari rumah sakit pengampu nasional menyatakan kesediaannya untuk datang langsung ke Padang guna memberikan pendampingan dalam pelaksanaan tindakan bypass STA-MCA.
 
“dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS menyampaikan pihaknya akan ke Padang untuk melakukan proctoring Bypass STA-MCA,” ungkap dr. Ade.
 
Sebelum menjalani operasi, sebutnya, kondisi pasien telah membaik dan berada dalam keadaan sadar penuh. "Namun, pasien masih mengalami hemiparesis dextra atau kelemahan pada sisi tubuh sebelah kanan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan tim medis dalam menentukan strategi penanganan," tuturnya.
 
Tindakan bypass STA-MCA merupakan salah satu prosedur bedah vaskular otak yang dilakukan dengan membuat jalur aliran darah baru menuju pembuluh darah otak. Prosedur ini dilakukan dengan menyambungkan pembuluh darah Superficial Temporal Artery yang berada di bagian luar kepala dengan Middle Cerebral Artery di dalam otak.
 
Pada kasus pasien ini, tindakan bypass dilakukan sebagai bagian dari strategi penanganan terhadap kondisi aneurisma yang kompleks sekaligus untuk mempertahankan aliran darah ke jaringan otak. Karena dilakukan pada pasien anak berusia 5 tahun, tindakan membutuhkan ketelitian, perencanaan, serta koordinasi yang sangat tinggi dari seluruh tim yang terlibat.
 
Sementara itu, dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, dari RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, mengatakan kehadiran timnya di Padang merupakan bagian dari pelaksanaan pengampuan nasional sekaligus untuk memastikan prosedur bypass STA-MCA dapat dilaksanakan sesuai prinsip dan standar penanganan bedah vaskular otak.
 
“Kasus ini merupakan kasus yang kompleks dan membutuhkan penanganan yang terencana. Kami datang ke Padang dalam rangka proctoring Bypass STA-MCA sekaligus melakukan pendampingan kepada tim RS M. Djamil,” kata dr. Muhammad Kusdiansah.
 
Menurutnya, kolaborasi antara rumah sakit pengampu nasional dan rumah sakit rujukan daerah menjadi bagian penting dalam memperkuat kemampuan pelayanan kesehatan, khususnya untuk menangani kasus-kasus bedah vaskular otak yang membutuhkan keahlian khusus.
 
“Pengampuan ini bukan hanya tentang pelaksanaan satu tindakan, tetapi juga bagaimana terjadi transfer pengetahuan dan pengalaman kepada tim di rumah sakit yang kami dampingi. Harapannya, kemampuan pelayanan bedah vaskular di RS M. Djamil semakin kuat dan nantinya dapat menangani lebih banyak kasus kompleks,” ujarnya.
 
dr. Kusdiansah menjelaskan, penanganan aneurisma pada anak membutuhkan perhatian khusus karena kondisi pasien memiliki tantangan tersendiri dibandingkan pasien dewasa. Setiap tahapan, mulai dari pemeriksaan, penentuan strategi operasi hingga pelaksanaan tindakan dan perawatan pascaoperasi, harus dilakukan secara cermat.
 
“Pasien masih berusia lima tahun sehingga tentu ada tantangan tersendiri. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang baik antara seluruh tim dan persiapan yang matang sebelum tindakan dilakukan,” tukasnya.(*)