Dirmed RS M. Djamil Uji Langsung Praktik Cuci Tangan Petugas
RS M. Djamil terus memperkuat budaya mutu dan keselamatan pasien melalui penerapan kebersihan tangan di seluruh lingkungan pelayanan. Komitmen tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan telusur ke unit-unit pelayanan untuk melihat secara langsung penerapan standar dan prosedur yang berjalan di lapangan.
Saat melakukan telusur di Ambun Pagi dan ruang rawat Gedung IPJT Lantai 3, Direktur Medik dan Keperawatan RS M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), memberikan arahan langsung kepada sejumlah petugas dan tenaga kesehatan untuk mempraktikkan enam langkah cuci tangan di hadapannya.
Satpam, perawat, residen, dan PPDS secara bergantian memperagakan enam langkah cuci tangan. Praktik tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengecekan langsung untuk memastikan setiap petugas tidak hanya mengetahui prosedurnya, tetapi juga mampu menerapkannya dengan benar dalam aktivitas pelayanan sehari-hari.
Momen tersebut berlangsung secara interaktif. Di tengah pelaksanaan telusur, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman memperhatikan praktik yang dilakukan petugas sekaligus memberikan penguatan apabila terdapat tahapan yang perlu diperbaiki. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya keselamatan pasien yang konsisten di lingkungan RS M. Djamil.
Dr. dr. Bestari Jaka Budiman mengatakan kebersihan tangan merupakan salah satu tindakan sederhana yang memiliki dampak besar terhadap keselamatan pasien. Karena itu, penerapannya harus menjadi kebiasaan seluruh petugas rumah sakit.
“Cuci tangan ini sederhana, tetapi sangat penting. Jangan sampai kita hanya memahami secara teori. Yang kita harapkan adalah setiap petugas terbiasa melakukannya dengan benar dalam setiap kesempatan yang membutuhkan kebersihan tangan,” katanya.
Ia menegaskan budaya keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama. Setiap unsur rumah sakit, baik tenaga medis, tenaga kesehatan maupun petugas pendukung, memiliki peran dalam menjaga keamanan lingkungan pelayanan.
“Semua memiliki peran. Satpam, perawat, residen, PPDS, dan seluruh petugas lainnya harus mempunyai kesadaran yang sama. Keselamatan pasien bukan hanya urusan satu profesi, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Praktik enam langkah cuci tangan yang dilakukan saat telusur juga menjadi kesempatan untuk mengingatkan kembali teknik yang benar. Petugas memperagakan setiap tahapan secara berurutan agar seluruh bagian tangan dapat dibersihkan secara optimal.
Dr. dr. Bestari Jaka Budiman juga mengingatkan agar kebersihan tangan tidak hanya dilakukan ketika ada pengawasan atau kegiatan penilaian. Menurutnya, standar keselamatan akan benar-benar menjadi budaya apabila diterapkan secara konsisten, baik saat ada maupun tidak ada pimpinan yang melakukan telusur.
“Yang kita bangun adalah budaya, bukan sekadar kepatuhan ketika ada yang melihat. Kita ingin setiap petugas tetap melakukan enam langkah cuci tangan dengan benar meskipun tidak sedang dilakukan telusur,” tukasnya.(*)