RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia. Upaya tersebut diwujudkan dengan penyelenggaraan Workshop Standar Akreditasi Rumah Sakit Angkatan II yang membahas penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), Bantuan Hidup Dasar (BHD), Hand Hygiene, dan Spill Kit. Kegiatan yang digelar pada Jumat (17/5) ini berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil.
 
Workshop tersebut menjadi bagian dari strategi rumah sakit dalam memperkuat implementasi standar akreditasi sekaligus membangun budaya keselamatan pasien dan keselamatan petugas di lingkungan pelayanan kesehatan. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti praktik langsung agar setiap kompetensi yang dipelajari dapat diterapkan secara optimal dalam aktivitas pelayanan sehari-hari.
 
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan.
 
"Workshop ini merupakan salah satu bentuk komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia sekaligus memperkuat implementasi standar akreditasi rumah sakit. Sebagaimana kita pahami bersama, akreditasi bukan sekadar proses penilaian untuk memperoleh sertifikat ataupun memenuhi persyaratan administratif. Akreditasi merupakan instrumen untuk memastikan bahwa seluruh pelayanan yang kita berikan benar-benar berorientasi pada mutu, keselamatan pasien, dan keselamatan petugas," ujarnya.
 
Menurutnya, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi maupun kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki rumah sakit. Faktor terpenting justru terletak pada kualitas sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, profesionalisme, serta budaya kerja yang menjadikan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
 
"Mutu pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau kelengkapan fasilitas yang dimiliki rumah sakit. Yang paling utama adalah bagaimana setiap tenaga kesehatan memiliki kompetensi, sikap profesional, serta budaya kerja yang menjadikan keselamatan pasien sebagai prioritas utama," katanya.
 
Ia menegaskan seluruh standar akreditasi harus benar-benar diterapkan dalam praktik pelayanan, bukan sekadar dipahami sebagai dokumen administratif. Implementasi tersebut mencakup kepatuhan terhadap prosedur kerja, komunikasi yang efektif, pengendalian infeksi, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, hingga kemampuan memberikan Bantuan Hidup Dasar kepada pasien dalam kondisi gawat darurat.
 
"Oleh karena itu, setiap standar akreditasi harus diimplementasikan dalam praktik sehari-hari, bukan hanya dipahami sebagai dokumen. Mulai dari kepatuhan terhadap prosedur, komunikasi yang efektif, pengendalian infeksi, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, hingga kemampuan memberikan Bantuan Hidup Dasar kepada pasien dalam kondisi gawat darurat," jelasnya.
 
Dalam pelaksanaannya, workshop dirancang secara komprehensif melalui kombinasi penyampaian teori dan praktik langsung. Materi yang diberikan meliputi Bantuan Hidup Dasar (BHD), penggunaan APAR, Hand Hygiene, Spill Kit, Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), serta Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Seluruh materi tersebut merupakan kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh setiap insan rumah sakit guna mendukung pelayanan yang aman, bermutu, dan sesuai dengan standar akreditasi.
 
Sebagai rumah sakit rujukan nasional di wilayah Sumatera Barat sekaligus Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab besar untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia secara berkelanjutan.
 
"Kami meyakini bahwa investasi terbaik bagi rumah sakit adalah investasi pada manusia. SDM yang kompeten, disiplin, dan memiliki budaya keselamatan yang kuat akan menjadi fondasi utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang unggul," tutur dr. Maliana.
 
Ia juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan workshop sebagai kesempatan untuk memperdalam pengetahuan, meningkatkan keterampilan, sekaligus bertukar pengalaman yang dapat diterapkan di unit kerja masing-masing.
 
"Karena itu saya berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh. Jangan hanya mengejar sertifikat pelatihan, tetapi manfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi, bertanya, berbagi pengalaman, dan meningkatkan keterampilan praktis yang nantinya dapat langsung diterapkan di unit kerja masing-masing," katanya.
 
dr. Maliana berharap seluruh peserta mampu menjadi agen perubahan yang membawa budaya keselamatan pasien semakin kuat di lingkungan rumah sakit. Budaya keselamatan harus itu dimulai dari setiap individu sebelum kemudian berkembang menjadi budaya organisasi yang kokoh.
 
"Yang lebih penting lagi, setelah pelatihan ini selesai, saya berharap setiap peserta dapat menjadi role model dan agen perubahan di unitnya masing-masing. Budaya keselamatan pasien harus dimulai dari diri kita sendiri, kemudian ditularkan kepada rekan kerja sehingga menjadi budaya organisasi yang kuat," pungkasnya.(*)