RS M. Djamil terus memperkuat upaya peningkatan mutu pelayanan melalui telusur rutin yang dilakukan secara langsung oleh Direktur Utama, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Pada Kamis (27/8), telusur dilakukan di sejumlah area pelayanan, yakni Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Diagnosis Terpadu (IDT), Instalasi Rehabilitasi Medik, dan Instalasi Bedah Sentral (IBS).
 
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya manajemen rumah sakit untuk memastikan proses pelayanan berjalan sesuai standar sekaligus melihat secara langsung kondisi dan kebutuhan di lapangan. Selain meninjau fasilitas dan alur pelayanan, Direktur Utama bersama tim berdiskusi dengan unit terkait mengenai berbagai temuan selama telusur.
 
Sejumlah hal menjadi bahan evaluasi dan pembahasan. Setiap temuan dibahas secara langsung bersama tim terkait untuk mengidentifikasi akar persoalan dan merumuskan solusi yang dapat segera ditindaklanjuti. Diskusi juga mencakup progres perbaikan atas hasil telusur sebelumnya serta berbagai persoalan yang masih ditemukan dalam pelayanan sehari-hari.
 
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan telusur secara langsung penting dilakukan agar manajemen tidak hanya memperoleh gambaran pelayanan melalui laporan, tetapi juga dapat melihat kondisi yang terjadi di lapangan.
 
“Telusur ini penting karena kita ingin melihat secara langsung bagaimana pelayanan berjalan, apa yang sudah diperbaiki dari temuan sebelumnya, dan apa saja persoalan baru yang mungkin belum terdeteksi melalui laporan. Dengan turun langsung, kita bisa melihat kondisi sebenarnya sekaligus mendiskusikan solusinya bersama tim,” ujar Dovy.
 
Menurutnya, setiap temuan dalam telusur harus menjadi bahan perbaikan, bukan sekadar catatan evaluasi. Karena itu, pembahasan bersama unit pelayanan diarahkan untuk menghasilkan langkah konkret yang dapat segera ditindaklanjuti.
 
“Setiap temuan harus kita respons dengan solusi. Jangan sampai kita hanya menemukan masalah, mencatatnya, kemudian berhenti di situ. Kita harus tahu apa penyebabnya, siapa yang perlu bergerak, dan apa langkah perbaikannya. Kalau bisa diselesaikan saat itu juga, kita selesaikan bersama,” tegasnya.
 
Dalam telusur di sejumlah unit, Direktur Utama juga berdialog dengan tim pelayanan mengenai berbagai kebutuhan dan kendala yang dihadapi dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Dialog tersebut menjadi ruang bagi manajemen untuk memperoleh gambaran langsung dari petugas yang berada di garis depan pelayanan.
 
Tidak hanya berdiskusi dengan jajaran internal rumah sakit, Dovy juga mendengarkan masukan dari pasien. Saat meninjau Instalasi Rehabilitasi Medik, Direktur Utama berinteraksi dengan sejumlah pasien yang sedang menunggu pelayanan serta menerima berbagai saran dan pengalaman mereka selama mendapatkan layanan di rumah sakit.
 
Masukan dari pasien menjadi bagian penting dalam proses evaluasi karena pengalaman pasien dapat memberikan perspektif terhadap kualitas pelayanan. Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan bagi rumah sakit untuk menentukan aspek pelayanan yang masih perlu diperbaiki.
 
“Kita juga perlu mendengar langsung dari pasien. Mereka yang merasakan pelayanan dari awal sampai selesai. Apa yang mereka rasakan, apa yang membuat mereka nyaman, dan apa yang masih menjadi kendala, itu semua merupakan masukan penting bagi kita,” ungkap Dovy.
 
Ia menambahkan, peningkatan mutu pelayanan tidak dapat dilakukan hanya dari ruang rapat. Manajemen perlu hadir di area pelayanan, berinteraksi dengan petugas, melihat proses secara langsung, dan mendengarkan suara pasien.
 
“Mutu itu bukan hanya tentang dokumen atau indikator. Mutu harus terlihat dan dirasakan dalam proses pelayanan sehari-hari. Karena itu, kita harus hadir di lapangan, melihat prosesnya, mendengar petugas dan pasien, kemudian memastikan setiap temuan ditindaklanjuti,” katanya.
 
Kegiatan telusur rutin ini sekaligus menjadi sarana monitoring terhadap tindak lanjut berbagai perbaikan yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan melakukan kunjungan kembali ke area pelayanan, manajemen dapat melihat efektivitas perbaikan, mengidentifikasi kendala yang masih ada, maupun menemukan persoalan baru yang membutuhkan penanganan.
 
Melalui telusur yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, RS M. Djamil berupaya membangun budaya perbaikan mutu yang tidak berhenti pada evaluasi, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata. Setiap temuan, hasil diskusi, dan masukan pasien diharapkan menjadi dasar dalam menghadirkan pelayanan yang semakin aman, cepat, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
 
“Yang kita cari dalam telusur bukan siapa yang salah, tetapi apa yang harus kita perbaiki. Kita ingin membangun budaya bahwa ketika ada masalah, kita hadapi bersama dan cari solusinya bersama. Tujuan akhirnya satu, yaitu memberikan pelayanan terbaik dan memastikan pasien mendapatkan pengalaman pelayanan yang semakin baik di RS M. Djamil,” pungkas Dovy. (*)