Dirut RS M. Djamil Nahkodai PERSI Sumbar Periode 2026-2030
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dipercaya memimpin Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Sumatera Barat periode 2026-2030. Ia terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) PERSI Sumatera Barat yang berlangsung di Hotel Truntum Padang, Sabtu (5/9).
Terpilihnya Dr. dr. Dovy Djanas menandai dimulainya kepemimpinan baru PERSI Sumatera Barat untuk periode empat tahun ke depan. Ia menggantikan Dr. dr. Yusirwan Yusuf, Sp.B, Sp.BA, Subsp. D.A(K), MARS, FISQua yang memimpin PERSI Wilayah Sumatera Barat periode 2022-2026.
Kepemimpinan baru tersebut diperkuat oleh Direktur Utama RS Universitas Andalas, Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp.BTKV, Subsp.VE (K), FIATCVS sebagai Wakil Ketua dan Direktur RSU Bunda Padang, dr. Helgawati, MM sebagai Sekretaris Jenderal.
Muswil PERSI Sumatera Barat juga menetapkan kepengurusan Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) Wilayah Sumatera Barat periode 2026-2030. Dr. dr. Yusirwan Yusuf, Sp.B, Sp.BA, Subsp. D.A(K), MARS, FISQua dipercaya sebagai Ketua MAKERSI menggantikan dr. Azwir Dahlan, Sp.PD, M.Kes yang memimpin organisasi tersebut pada periode 2022-2026.
Usai ditetapkan sebagai Ketua PERSI Wilayah Sumatera Barat, Dr. dr. Dovy Djanas menyampaikan terima kasih atas amanah dan kepercayaan yang diberikan. Kepercayaan tersebut bukan sekadar tanggung jawab personal, melainkan amanah untuk membangun kekuatan kolektif seluruh rumah sakit di Sumatera Barat.
“Terima kasih atas amanah yang diberikan. Ini bukan hanya amanah kepada saya secara pribadi, tetapi merupakan amanah yang harus kita jalankan bersama-sama. PERSI Sumatera Barat harus menjadi rumah bersama bagi seluruh rumah sakit untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang kita hadapi secara kolektif,” ujar Dr. dr. Dovy.
Menurutnya, tantangan dunia perumahsakitan ke depan semakin kompleks. Rumah sakit harus mampu beradaptasi dengan perubahan regulasi, perkembangan teknologi, tekanan pembiayaan, ketimpangan akses pelayanan hingga kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompeten dan kepemimpinan yang berkelanjutan.
Untuk itu, ia menyebut terdapat lima tantangan utama yang harus menjadi perhatian bersama PERSI Sumatera Barat selama periode kepengurusannya. “Kalau kita melihat kondisi perumahsakitan saat ini, ada lima tantangan utama yang harus menjadi perhatian kita bersama. Pertama adalah dinamika regulasi dan kepatuhan. Kedua transformasi digital dan berkembangnya pemanfaatan AI. Ketiga tekanan pembiayaan yang harus kita hadapi tanpa menurunkan mutu. Keempat fragmentasi sistem dan kesenjangan akses antarwilayah. Dan yang kelima adalah pemerataan kapasitas SDM serta regenerasi kepemimpinan rumah sakit,” katanya.
Dr. dr. Dovy menegaskan kelima tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial karena satu persoalan memiliki keterkaitan dengan persoalan lainnya. Transformasi digital, misalnya, tidak hanya membutuhkan kesiapan teknologi, tetapi juga berkaitan erat dengan pembiayaan, kompetensi sumber daya manusia, keamanan data, kepatuhan serta tata kelola rumah sakit.
“Kelima tantangan ini saling berkaitan. Masalah digitalisasi, misalnya, bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga menyangkut pembiayaan, kompetensi SDM, kepatuhan, keamanan data, dan tata kelola. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menyelesaikannya dengan pendekatan yang terpisah-pisah. Kita membutuhkan PERSI yang mampu menyatukan kekuatan dan mengorkestrasi solusi bersama,” ujarnya.
Salah satu perhatian utama adalah dinamika regulasi dan kepatuhan. Ia menilai kepatuhan tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemenuhan kewajiban administratif, tetapi harus menjadi bagian dari budaya penyelenggaraan rumah sakit. ”Regulasi tidak boleh dipahami hanya sebagai kewajiban administratif. Kepatuhan harus hadir dalam proses pelayanan, keselamatan pasien, tata kelola klinis, perizinan, pembiayaan, dan bukti implementasi akreditasi,” tutur Dr. dr. Dovy.
Di tengah perkembangan teknologi kesehatan yang begitu cepat, transformasi digital juga menjadi agenda penting yang harus dikawal bersama. Penerapan Rekam Medis Elektronik dan integrasi SATUSEHAT, menurutnya, telah menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pelayanan rumah sakit.
Namun demikian, ia mengingatkan kesiapan setiap rumah sakit belum berada pada level yang sama. Masih terdapat perbedaan dalam hal infrastruktur, kemampuan sumber daya manusia, interoperabilitas sistem, keamanan data hingga kemampuan melakukan investasi teknologi.
"Kita harus jujur bahwa kesiapan setiap rumah sakit belum sama. Masih terdapat kesenjangan infrastruktur, kompetensi digital, interoperabilitas, keamanan data, dan kemampuan investasi. Ini menjadi pekerjaan bersama yang harus kita carikan solusinya," katanya.
Perkembangan kecerdasan artifisial atau AI juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi tersebut. "Pemanfaatan AI juga harus dilakukan secara hati-hati. Teknologi harus membantu tenaga kesehatan dan meningkatkan mutu keputusan, bukan menciptakan risiko baru. Karena itu, PERSI perlu membantu anggotanya melalui pendampingan, berbagi pengalaman, dan penyusunan tata kelola yang aman serta beretika," jelasnya.
Selain teknologi dan regulasi, persoalan pembiayaan menjadi tantangan besar bagi rumah sakit. Peningkatan biaya operasional dan kebutuhan investasi berjalan beriringan dengan tuntutan peningkatan mutu pelayanan. Kondisi tersebut membuat rumah sakit dituntut semakin efisien dalam mengelola sumber daya.
Namun, menurut Dr. Dovy, efisiensi tidak boleh dimaknai sebagai pengurangan biaya dengan mengorbankan kualitas pelayanan. “Biaya operasional dan kebutuhan investasi terus meningkat. Sementara itu, efisiensi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keselamatan pasien atau menurunkan kualitas pelayanan. Rumah sakit kecil dan menengah memerlukan dukungan lebih besar agar mampu bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih adanya fragmentasi sistem dan kesenjangan akses pelayanan kesehatan antarwilayah. "Kita masih menghadapi fragmentasi sistem dan ketimpangan akses antarwilayah. Koordinasi rujukan belum sepenuhnya optimal, distribusi kapasitas pelayanan belum seimbang, dan data antar-rumah sakit belum sepenuhnya terintegrasi," katanya.
Persoalan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Menurutnya, perkembangan sistem kesehatan membutuhkan SDM yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi digital dan memiliki kemampuan manajerial yang kuat.
Pada saat yang sama, regenerasi kepemimpinan rumah sakit harus dipersiapkan sejak dini. Rumah sakit membutuhkan pemimpin masa depan yang mampu melanjutkan berbagai transformasi dan memastikan perubahan yang telah dibangun tidak berhenti ketika terjadi pergantian kepemimpinan.
"Pada saat yang sama, kompetensi SDM, khususnya kompetensi digital dan manajerial, belum merata. Kita juga harus mulai menyiapkan regenerasi kepemimpinan secara sistematis. Apabila kita tidak menyiapkan pemimpin rumah sakit masa depan mulai sekarang, transformasi yang kita bangun berisiko tidak berkelanjutan," tegasnya.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Dr. dr. Dovy menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi antar-rumah sakit. PERSI Sumatera Barat, menurutnya, harus menjadi ruang bersama bagi rumah sakit untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, inovasi dan solusi.
"Mari kita jadikan PERSI Sumatera Barat sebagai rumah bersama, tempat kita saling menguatkan, menyelesaikan persoalan secara kolektif, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin bermutu bagi masyarakat," ajaknya.
Ia berharap kepengurusan baru PERSI Sumatera Barat dapat membangun organisasi yang semakin solid sekaligus mampu menjadi mitra strategis dalam pembangunan kesehatan di daerah. “Bersama, kita bangun rumah sakit Sumatera Barat yang tangguh, adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PERSI Pusat yang diwakili Anggota Kompartemen Hukum, Advokasi, Mediasi dan Organisasi PERSI, Uud Cahyono, SH, MARS, CLA, menyampaikan harapan agar kepengurusan PERSI Wilayah Sumatera Barat periode 2026-2030 dapat menjalankan amanah organisasi dengan baik.
"PERSI Wilayah Sumatera Barat diharapkan dapat menjadi organisasi yang semakin solid, mampu menjawab tantangan perumahsakitan, serta memperkuat kolaborasi antar-rumah sakit dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Uud.
Dukungan terhadap kepengurusan baru juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Aklima, MPH. Ia berharap PERSI dapat terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang semakin kuat. "Mari kita bangun kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, rumah sakit, PERSI, organisasi profesi dan seluruh pemangku kepentingan," kata dr. Aklima.
Ia menilai kolaborasi menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan kesehatan. Pemerintah, rumah sakit, organisasi profesi dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak bersama agar peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
"Berharap Muswil PERSI ini dapat menghasilkan kepengurusan yang solid, program kerja yang adaptif, serta rekomendasi yang konkret dan dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan pelayanan mutu kesehatan di Sumbar," harap dr. Aklima.(*)