Menkes: Bakti Sosial dan Proctorship Percepat Penguatan Bedah Jantung Anak di RS M. Djamil
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan program bakti sosial dan alih teknologi (proctorship) kolaborasi kemanusiaan antara RS M. Djamil bersama King Salman Humanitarian Aid and Relief Center (KSrelief) dan Muslim World League (MWL) menjadi langkah strategis untuk mempercepat penguatan layanan bedah jantung anak di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan tenaga medis internasional, pemerintah menargetkan semakin banyak rumah sakit di daerah mampu melakukan operasi jantung anak secara mandiri sehingga angka kematian akibat kelainan jantung bawaan dapat ditekan.
Hal itu disampaikan Menkes saat menutup rangkaian Bakti Sosial dan Alih Teknologi Kardiovaskuler di Rumah Sakit M. Djamil, Kamis (30/7). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat layanan bedah jantung anak melalui kolaborasi internasional, transfer pengetahuan, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di rumah sakit daerah.
Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan menegaskan penguatan layanan bedah jantung anak menjadi salah satu prioritas pemerintah mengingat masih tingginya angka bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan di Indonesia.
"Sekitar 1 persen dari kelahiran di Indonesia itu memiliki penyakit jantung bawaan. Kalau di Indonesia lahir 4,8 juta setahun, maka 1 persennya 48 ribu setahun bayi-bayi di Indonesia memiliki penyakit kelainan jantung bawaan. Dari 48 ribu ini, 25 persen memiliki penyakit kelainan jantung bawaan kritis. Istilah medisnya sianotik. Nah ini harus cepat dioperasi. Maka jika tidak dioperasi meninggal bayinya. Artinya 6 ribu bayi wafat setiap tahun, bukan karena kita tidak mampu tetapi karena tidak ada kapasitasnya," kata Budi.
Ia menjelaskan beberapa tahun lalu kemampuan layanan bedah jantung anak di Indonesia masih sangat terbatas. Saat itu hanya terdapat sembilan rumah sakit di enam provinsi yang mampu melakukan operasi jantung sehingga antrean pasien sangat panjang dan berdampak terhadap tingginya angka kematian bayi akibat keterbatasan akses pelayanan.
"Seingat saya waktu itu ada sembilan rumah sakit di enam provinsi yang bisa melakukan operasi jantung. Oleh karena itu antreannya sangat panjang sekali dan 6 ribu bayi meninggal setiap tahun. Itu sebabnya sejak tahun 2022 saya minta untuk diperbanyak jumlah rumah sakit di provinsi yang bisa melakukan operasi jantung bawaan. Dari sembilan rumah sakit di enam provinsi, data terakhir sekarang sudah naik menjadi 15 rumah sakit di 12 provinsi. Salah satu RS M. Djamil yang bisa melakukan operasi jantung bawaan ini," ujarnya.
Menurut Budi Gunadi Sadikin, pemerintah terus mendorong agar layanan operasi jantung bawaan pada anak tersedia minimal di seluruh provinsi sehingga masyarakat tidak lagi harus dirujuk ke daerah yang jauh untuk mendapatkan pelayanan medis. "Saya minta Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta untuk mengampu 38 rumah sakit provinsi agar bisa melakukan layanan operasi jantung terbuka ini," katanya.
Ia mengatakan percepatan peningkatan layanan tersebut tidak hanya dilakukan melalui penyediaan alat kesehatan, tetapi juga dengan meningkatkan kompetensi dokter dan tenaga medis melalui program alih teknologi atau proctorship yang melibatkan tenaga ahli internasional.
"Untuk mengakselerasi ini maka kita undang ahlinya. Makanya saya mengucapkan terima kasih kepada tim KSrelief dan Muslim World League. Tim medis KSrelief ini telah melakukan sembilan visit ke empat rumah sakit di Indonesia, yaitu RS Adam Malik, RSJPD Harapan Kita, RS Wahidin Sudirohusodo dan saat ini RS M. Djamil. Bukan hanya menyelamatkan nyawa tetapi yang paling penting mengajarkan atau proctorship agar tim RS M. Djamil bisa segera di-upgrade kemampuannya agar bisa melakukan operasi bedah jantung anak dengan baik," ucapnya.
Ia berharap seluruh ilmu dan pengalaman yang dibagikan oleh tim medis internasional dapat menjadi bekal bagi tenaga kesehatan Indonesia dalam meningkatkan kualitas pelayanan bedah jantung anak. "Agar bisa melakukan operasi dengan baik itu banyak resepnya. Saya mengharapkan resep menyelamatkan nyawa anak-anak ini bisa terealisasi," tuturnya.
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal bin Abdullah Al-Amudi yang mengikuti acara secara virtual menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Pemerintah Arab Saudi, Pemerintah Indonesia, serta seluruh tenaga kesehatan yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut. "Kami berharap kerja sama yang telah terbangun dapat terus berlanjut demi meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menyelamatkan lebih banyak pasien anak dengan kelainan jantung bawaan," harapnya.
Sementara itu, Direktur Utama RS M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui King Salman Humanitarian Aid and Relief Centre (KSrelief), Muslim World League, Kementerian Kesehatan, dan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita atas dukungan terhadap pelaksanaan bakti sosial dan alih teknologi tersebut.
Dovy mengungkapkan, dalam misi kemanusiaan kali ini RS M. Djamil menyiapkan 30 pasien untuk menjalani operasi. Hingga 29 Juli 2026, sebanyak 23 pasien telah berhasil menjalani operasi dengan tingkat kompleksitas kasus yang beragam. Salah satu capaian yang membanggakan adalah keberhasilan pelaksanaan Bentall Procedure dan Arterial Switch Operation (ASO). Kedua prosedur tersebut untuk pertama kalinya berhasil dilaksanakan dalam rangkaian misi kemanusiaan KSrelief di Indonesia.
“Ini menunjukkan penguatan jejaring pengampuan nasional, kolaborasi internasional, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia mampu mendorong rumah sakit regional menyelenggarakan bedah jantung pediatrik dan kongenital dengan tingkat kompleksitas tinggi. Kedua pasien yang menjalani prosedur tersebut kini telah diekstubasi dan berada dalam kondisi stabil," ucapnya.
Menurut Dovy, RS M. Djamil saat ini menjadi satu-satunya pusat layanan bedah jantung pediatrik dan kongenital di wilayah Sumatera Bagian Tengah. "Selama tiga tahun terakhir, rumah sakit tersebut telah melaksanakan sekitar 150 tindakan bedah jantung pediatrik dan kongenital sebagai bagian dari upaya memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat," tukasnya. (*)