RS M. Djamil Audiensi dengan Dinas BMCKTR Sumbar Perkuat Proyek TRUST
RS M. Djamil terus mematangkan rencana pengembangan rumah sakit melalui proyek Teaching Hospital Referral Upgrading and System Transformation (TRUST). Proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas layanan kesehatan sekaligus meningkatkan fungsi RS M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional dan pusat pendidikan kedokteran spesialis.
Sebagai bagian dari tahapan persiapan pengembangan tersebut, jajaran direksi dan manajemen RS M. Djamil melakukan audiensi dengan Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat, Senin (10/8). Pertemuan berlangsung di Kantor Dinas BMCKTR Sumatera Barat dan menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi serta sinergi lintas sektor dalam mendukung rencana pengembangan RS M. Djamil melalui proyek TRUST.
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, hadir dalam audiensi tersebut didampingi Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS serta Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo. Rombongan manajemen RS M. Djamil disambut langsung oleh Kepala Dinas BMCKTR Sumatera Barat Armizoprades, ST., MT.
Audiensi tersebut menjadi bagian penting dalam proses koordinasi lintas sektor, mengingat rencana pengembangan rumah sakit melalui proyek TRUST tidak hanya menyangkut peningkatan layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesiapan pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, mengatakan RS M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit rujukan nasional memiliki posisi strategis dalam mendukung peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat Sumatera Barat dan wilayah lain yang menjadikan rumah sakit tersebut sebagai pusat rujukan.
"Pengembangan rumah sakit melalui proyek TRUST diharapkan mampu memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pelayanan, ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, serta penguatan kapasitas pendidikan kedokteran spesialis," tuturnya.
Ia menjelaskan, proyek TRUST diharapkan tidak hanya menghasilkan pembangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi sistem pelayanan rumah sakit. Dengan pengembangan tersebut, RS M. Djamil diharapkan mampu memberikan pelayanan yang semakin terintegrasi, efisien dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui proyek tersebut diharapkan kualitas pelayanan, sarana prasarana, serta kapasitas pendidikan di rumah sakit dapat semakin meningkat sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” sebutnya.
Dovy menjelaskan, pada tahap awal pengembangan akan difokuskan pada pembangunan Central Medical Unit atau CMU setinggi delapan lantai. Gedung tersebut dirancang menjadi salah satu pusat utama pelayanan rumah sakit pada masa mendatang.
Keberadaan CMU diharapkan dapat mengintegrasikan berbagai layanan penting dalam satu kawasan dan sistem pelayanan yang lebih modern. Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat alur pelayanan bagi pasien.
“CMU ini dirancang sebagai jantung pelayanan rumah sakit ke depan. Di dalamnya akan terintegrasi berbagai layanan penting dalam satu sistem yang lebih efisien dan modern, sehingga pelayanan menjadi lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” paparnya.
Pembangunan CMU juga akan diarahkan untuk menjawab kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang semakin kompleks. Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RS M. Djamil menerima pasien dengan berbagai kondisi dan tingkat keparahan penyakit, termasuk kasus-kasus yang membutuhkan penanganan multidisiplin serta fasilitas medis dengan dukungan teknologi yang memadai.
Salah satu fasilitas penting yang direncanakan berada dalam pengembangan tersebut adalah Instalasi Gawat Darurat atau IGD terpadu. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi bagian penting dalam memperkuat kemampuan rumah sakit memberikan respons cepat terhadap pasien yang datang dalam kondisi kegawatdaruratan.,“IGD terpadu ini akan mampu menangani berbagai kasus kritis dengan respons yang lebih cepat dan sistem yang terintegrasi,” jelasnya.
Selain penguatan layanan kegawatdaruratan, pengembangan CMU juga mencakup pembangunan ruang operasi modern. RS M. Djamil merencanakan sebanyak 30 kamar operasi yang dilengkapi dengan teknologi terkini.
Penambahan kamar operasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kapasitas tindakan medis rumah sakit. Dengan jumlah ruang operasi yang lebih memadai dan dukungan teknologi modern, rumah sakit diharapkan dapat mengoptimalkan pelayanan operasi sekaligus menjawab tingginya kebutuhan masyarakat terhadap tindakan medis spesialistik dan subspesialistik.
“Selain itu, kami juga merencanakan pembangunan 30 kamar operasi modern yang dilengkapi teknologi terkini untuk meningkatkan kapasitas layanan tindakan medis secara signifikan,” jelas Dovy.
Pengembangan tidak berhenti pada layanan gawat darurat dan kamar operasi. Fasilitas perawatan intensif juga menjadi bagian yang mendapatkan perhatian dalam rencana pengembangan tersebut.
RS M. Djamil berencana memperkuat layanan Intensive Care Unit atau ICU, Neonatal Intensive Care Unit atau NICU, serta Pediatric Intensive Care Unit atau PICU. Ketiga layanan tersebut memiliki peran penting dalam menangani pasien yang membutuhkan pemantauan dan perawatan intensif, mulai dari pasien dewasa dalam kondisi kritis hingga bayi dan anak-anak.
Penguatan layanan intensif dinilai semakin penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan dengan tingkat kompleksitas tinggi. Sebagai rumah sakit rujukan, RS M. Djamil harus memiliki kapasitas yang memadai untuk menangani pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan dukungan tenaga kesehatan, peralatan medis, serta fasilitas perawatan intensif secara berkesinambungan.
“Kami akan memperkuat layanan ICU, NICU, dan PICU, mengingat kebutuhan terhadap layanan intensif terus meningkat, terutama bagi pasien dengan kondisi kritis, termasuk bayi dan anak,” ujarnya.
Menurut Dovy, peningkatan kapasitas layanan intensif tersebut pada akhirnya diarahkan untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medis dan standar pelayanan yang berlaku. “Dengan fasilitas ini, kami ingin memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik sesuai standar medis,” lanjutnya.
Di sisi lain, pengembangan melalui proyek TRUST juga memiliki dimensi penting dalam bidang pendidikan. Sebagai rumah sakit yang menjalankan fungsi pelayanan sekaligus pendidikan, RS M. Djamil memiliki peran dalam mendukung proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi tenaga medis, khususnya pendidikan kedokteran spesialis.
Karena itu, fasilitas pembelajaran juga direncanakan menjadi bagian dari gedung CMU. Keberadaan fasilitas pendidikan yang terintegrasi dengan pelayanan diharapkan dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih mendukung bagi peserta didik.
Konsep tersebut sekaligus memperkuat posisi RS M. Djamil sebagai Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama atau RSPPU. Integrasi antara pelayanan dan pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan rumah sakit modern, karena proses pendidikan tenaga medis dapat berjalan berdampingan dengan pelayanan kepada pasien.
“Kami ingin memastikan integrasi antara pelayanan dan pendidikan berjalan optimal, sehingga mampu mencetak tenaga medis yang unggul sekaligus memberikan layanan kesehatan berkualitas tinggi bagi masyarakat,” paparnya.
Ia menekankan, audiensi dengan Dinas BMCKTR Sumatera Barat menjadi bagian dari proses koordinasi untuk mempersiapkan pelaksanaan pengembangan proyek TRUST. Pertemuan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi dan dukungan lintas sektor dalam mewujudkan rencana pengembangan infrastruktur RS M. Djamil secara terarah dan berkelanjutan.
“Dengan koordinasi dan sinergi lintas sektor yang semakin kuat, kami berharap seluruh tahapan pengembangan dapat berjalan sesuai rencana. Proyek TRUST diharapkan membawa perubahan signifikan terhadap wajah pelayanan RS M. Djamil, sehingga rumah sakit tidak hanya semakin kuat sebagai pusat rujukan, tetapi juga semakin siap menjalankan fungsi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan,” tukasnya.(*)