RS M. Djamil Bekali Pasien Pengetahuan Perawatan Gagal Jantung di Rumah
RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan jantung, khususnya bagi pasien dan keluarga yang sedang menjalani perawatan gagal jantung. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan di Poliklinik Jantung Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil pada Senin (31/8).
Kegiatan penyuluhan menghadirkan narasumber Ns. Helmi Hayaty, S.Kep dan Ns. Rosi Setia Aska, S.Kep yang memberikan edukasi tentang gagal jantung, mulai dari pengertian, penyebab dan faktor risiko, tanda serta gejala yang perlu diwaspadai, hingga langkah-langkah perawatan yang dapat dilakukan pasien dan keluarga di rumah. Edukasi ini menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan pengelolaan penyakit jantung secara berkelanjutan, tidak hanya selama pasien mendapatkan pelayanan di rumah sakit tetapi juga ketika menjalani perawatan di rumah.
Dalam pemaparannya, Ns. Helmi Hayaty menjelaskan gagal jantung merupakan kondisi ketika jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme tubuh. Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan jantung dalam memompa darah berkurang sehingga aliran darah ke seluruh tubuh menjadi tidak optimal. Akibatnya, pasokan oksigen dan zat makanan yang dibutuhkan tubuh juga dapat terganggu.
“Gagal jantung dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi dan kebiasaan yang berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain tekanan darah tinggi atau hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok, obesitas serta kurangnya aktivitas fisik,” tuturnya.
Ia menjelaskan faktor risiko gagal jantung dapat dibedakan menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi merupakan faktor yang dapat dikendalikan atau diperbaiki melalui perubahan gaya hidup maupun pengobatan, seperti kadar kolesterol, hipertensi, diabetes, kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan merokok.
Sementara itu, terdapat pula faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit jantung dalam keluarga. “Meskipun tidak dapat dimodifikasi, keberadaan faktor tersebut penting untuk diketahui agar seseorang dapat lebih waspada dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diberikan pemahaman tentang sejumlah tanda dan gejala yang sering muncul pada gagal jantung. Salah satunya adalah sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas maupun ketika berbaring. Selain itu, pasien dapat mengalami tubuh yang mudah lelah dan cepat lemas, pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki atau perut, serta detak jantung yang terasa cepat atau berdebar-debar.
Pemahaman terhadap tanda dan gejala tersebut dinilai penting karena perubahan kondisi pasien dapat terjadi secara bertahap. “Dengan mengenali gejala sejak awal, pasien maupun keluarga diharapkan dapat segera mengambil langkah yang tepat dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila terjadi perubahan kondisi yang mengkhawatirkan,” ucapnya.
Perawatan gagal jantung, tutur Ns. Helmi Hayaty tidak hanya bergantung pada pengobatan yang diberikan oleh dokter. Peran pasien dan keluarga dalam menjalankan perawatan di rumah juga sangat penting. Karena itu, peserta penyuluhan diberikan sejumlah informasi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal utama yang ditekankan adalah kepatuhan dalam mengonsumsi obat. “Pasien perlu meminum obat secara teratur sesuai dengan anjuran dokter dan tidak menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan bagian penting dalam membantu mengendalikan kondisi gagal jantung,” ungkapnya.
Selain kepatuhan obat, pengelolaan cairan juga menjadi perhatian dalam perawatan pasien gagal jantung. Pasien perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan tentang pembatasan asupan garam dan cairan, terutama apabila memang direkomendasikan sesuai kondisi masing-masing. Asupan garam dan cairan yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap penumpukan cairan pada tubuh.
“Pemantauan berat badan setiap hari juga dianjurkan sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu memantau kemungkinan terjadinya penumpukan cairan. Perubahan berat badan yang terjadi secara cepat perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan, terutama apabila disertai dengan memburuknya gejala seperti sesak napas atau pembengkakan,” ucap Ns. Helmi Hayaty.
Perawatan di rumah juga perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup serta pengelolaan stres. Pasien dianjurkan menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh dan mengikuti arahan tenaga kesehatan terkait aktivitas fisik yang aman. Dengan pengelolaan yang tepat, pasien diharapkan dapat mempertahankan kondisi kesehatan dan kualitas hidupnya.
Dalam penyuluhan tersebut, Ns. Rosi Setia Aska menambahkan perawatan gagal jantung di rumah pada dasarnya berfokus pada tiga hal utama, yaitu manajemen cairan, kepatuhan terhadap obat dan pemantauan gejala harian. Ketiga hal tersebut perlu dilakukan secara konsisten oleh pasien dengan dukungan keluarga.
“Perawatan gagal jantung di rumah berfokus pada manajemen cairan, kepatuhan obat dan pemantauan gejala harian. Tujuannya adalah untuk mencegah kondisi memburuk dan mengurangi frekuensi rawat inap,” ujar Ns. Rosi dalam kegiatan penyuluhan.
Selain membahas perawatan, kegiatan edukasi juga memberikan penekanan pada pentingnya pencegahan gagal jantung melalui penerapan pola hidup sehat. Masyarakat diimbau untuk menghentikan kebiasaan merokok, melakukan olahraga ringan sesuai kemampuan, menjaga pola makan sehat dan bergizi seimbang, serta melakukan pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala.(*)