RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan kedokteran, peningkatan kompetensi sumber daya manusia kesehatan, serta penguatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya di bidang obstetri dan ginekologi (Obgyn). Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui dukungan terhadap pelaksanaan Rapat Kerja Departemen Obgyn Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand)/RS M. Djamil yang digelar pada Kamis (3/9).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil tersebut turut dihadiri dan dibuka secara virtual oleh Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Dalam sambutannya, Dovy menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Rapat Kerja Departemen Obgyn FK Unand/RS M. Djamil. Rapat kerja ini menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun langkah strategis dalam pengembangan departemen, baik dari sisi pendidikan, pelayanan, maupun pengembangan sumber daya manusia.

“Selamat melaksanakan rapat kerja. Mudah-mudahan rapat kerja ini dapat menghasilkan berbagai rumusan dan program yang semakin memperkuat Departemen Obgyn, baik dalam pendidikan, pelayanan, maupun pengembangan sumber daya manusia,” ujar Dovy.

Ia menjelaskan, penguatan bidang obstetri dan ginekologi memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan kesehatan. “Hal tersebut tidak terlepas dari masih adanya berbagai tantangan dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang membutuhkan perhatian serta kolaborasi dari berbagai pihak,” tuturnya.

Dalam konteks transformasi kesehatan nasional, Dovy menyebutkan Kementerian Kesehatan telah menetapkan enam pilar transformasi kesehatan sebagai arah besar dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia. Salah satu bagian penting dalam upaya tersebut adalah pemenuhan dan penguatan sumber daya manusia kesehatan, termasuk tenaga dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

“Dalam enam pilar transformasi kesehatan, salah satu yang menjadi perhatian adalah pemenuhan sumber daya manusia kesehatan. Termasuk di dalamnya bagaimana kita memenuhi kebutuhan dokter spesialis Obgyn. Ini menjadi penting karena kita masih menghadapi persoalan angka kematian ibu dan bayi yang harus terus kita turunkan,” jelasnya.

Dovy menambahkan, upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Diperlukan sinergi antara institusi pendidikan, rumah sakit, tenaga kesehatan, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dalam hal ini, Departemen Obgyn FK Unand/RS M. Djamil memiliki peran strategis karena tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan dan pengembangan tenaga medis. Sebagai rumah sakit pendidikan, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses pendidikan dan pelayanan dapat berjalan secara beriringan.

“Rumah sakit pendidikan mempunyai tanggung jawab yang besar. Kita tidak hanya memberikan pelayanan kepada pasien, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang nantinya akan memberikan pelayanan di berbagai daerah. Karena itu, penguatan pendidikan dan pelayanan harus berjalan bersama,” katanya.

Selain penguatan sumber daya manusia, Direktur Utama RS M. Djamil juga menyampaikan rencana pengembangan masterplan rumah sakit sebagai bagian dari upaya menghadirkan fasilitas pelayanan dan pendidikan yang semakin terintegrasi.

Salah satu bagian dari rencana pengembangan tersebut adalah pembangunan Central Medical Unit yang direncanakan memiliki area pusat pendidikan di lantai 8. Pengembangan fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung berbagai kegiatan pendidikan, pengembangan keilmuan, serta aktivitas akademik dan profesional di lingkungan RS M. Djamil.

Dovy menyampaikan fasilitas tersebut nantinya dapat dimanfaatkan secara bersama, termasuk oleh Departemen Obgyn, untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pengembangan keilmuan. “Ini tentunya bisa kita manfaatkan bersama, termasuk oleh Obgyn, untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pengembangan keilmuan,” ungkapnya.

Menurut Dovy, pengembangan infrastruktur rumah sakit harus dirancang tidak hanya untuk menjawab kebutuhan pelayanan saat ini, tetapi juga mengantisipasi kebutuhan pelayanan dan pendidikan di masa mendatang. Sebagai rumah sakit pendidikan sekaligus rumah sakit rujukan, RS M. Djamil memiliki kebutuhan yang kompleks karena harus mampu menjalankan fungsi pelayanan, pendidikan, penelitian, serta pengembangan ilmu kedokteran secara berkelanjutan.

“Harapannya, pengembangan rumah sakit ini bukan hanya berbicara tentang bangunan atau fasilitas, tetapi bagaimana seluruh pengembangan tersebut memberikan dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat,” lanjut Dovy.

Ia berharap Rapat Kerja Departemen Obgyn FK Unand/RS M. Djamil dapat menghasilkan berbagai gagasan dan program kerja yang mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan ibu dan anak ke depan. Rapat kerja juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara jajaran departemen, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dan manajemen RS M. Djamil.

“Saya berharap rapat kerja ini dapat menghasilkan program-program yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat. Mari kita bersama-sama memperkuat Obgyn, baik dari sisi pendidikan, pelayanan, maupun pengembangan sumber daya manusia,” tuturnya.

Ia menegaskan, RS M. Djamil akan terus membuka ruang kolaborasi dengan FK Unand dan Departemen Obgyn dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan. “Kolaborasi yang kuat antara rumah sakit dan institusi pendidikan menjadi modal penting dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten sekaligus mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat,” tukas Dirut.(*)