RS M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai pentingnya pemulihan setelah mengalami stroke. Rumah sakit Kementerian Kesehatan ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan secara rutin menghadirkan kegiatan edukasi kesehatan bagi pasien dan pengunjung dengan menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keilmuan.

Kegiatan edukasi kali ini membahas Tata Laksana Rehabilitasi Stroke yang dilaksanakan di Instalasi Rehabilitasi Medik pada Kamis (13/8). Materi disampaikan oleh dr. Rini Agustin, Sp.KFR, N.M (K), yang memberikan pemahaman tentang pentingnya rehabilitasi bagi pasien stroke serta tahapan penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu pasien mencapai kemampuan fungsional secara optimal.

Dalam pemaparannya, dr. Rini Agustin, SpKFR, N.M (K) menjelaskan stroke merupakan kondisi yang dapat menimbulkan berbagai gangguan fungsi tubuh, mulai dari gangguan gerak, keseimbangan, bicara, menelan, hingga kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Karena itu, penanganan stroke tidak berhenti setelah kondisi medis pasien stabil, tetapi perlu dilanjutkan dengan program rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

“Rehabilitasi stroke merupakan bagian penting dari proses pemulihan pasien. Tujuannya bukan hanya mengembalikan fungsi yang terganggu, tetapi juga membantu pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,” jelas dr. Rini.

dr. Rini menerangkan rehabilitasi stroke sebaiknya dilakukan sedini mungkin setelah kondisi pasien memungkinkan. Program rehabilitasi diberikan secara bertahap dan melibatkan berbagai pendekatan sesuai dengan gangguan yang dialami pasien. “Penanganan tersebut dapat mencakup latihan untuk meningkatkan kekuatan dan koordinasi gerak, latihan keseimbangan, pelatihan aktivitas sehari-hari, hingga terapi untuk gangguan komunikasi maupun menelan,” sebutnya.

Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh terapi yang diberikan di rumah sakit, tetapi juga oleh keterlibatan pasien dan keluarga dalam proses pemulihan. Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan, membantu pasien menjalankan latihan sesuai anjuran, serta menciptakan lingkungan yang aman selama pasien menjalani proses pemulihan.

“Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa pemulihan stroke membutuhkan proses. Setiap pasien memiliki kondisi dan perkembangan yang berbeda, sehingga program rehabilitasi juga harus disesuaikan. Konsistensi dalam menjalani latihan dan dukungan keluarga sangat penting untuk membantu mencapai hasil yang optimal,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, pasien juga diberikan pemahaman tentang pentingnya melakukan aktivitas secara bertahap dan aman. Pasien tidak dianjurkan memaksakan diri dalam melakukan aktivitas, namun tetap didorong untuk berlatih sesuai kemampuan dan program yang telah ditentukan oleh tenaga kesehatan. “Hal ini bertujuan agar pasien dapat meningkatkan kemampuan fungsional secara bertahap sekaligus mencegah risiko cedera maupun komplikasi,” tuturnya.

dr. Rini juga mengingatkan rehabilitasi stroke bukan hanya berfokus pada aspek fisik. Kondisi psikologis, kemampuan berkomunikasi, kemampuan menelan, serta kemampuan pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Pendekatan yang menyeluruh diperlukan agar proses pemulihan dapat berjalan secara optimal dan pasien memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Yang kita lihat bukan hanya apakah tangan dan kaki pasien sudah bisa bergerak, tetapi bagaimana pasien dapat kembali berfungsi dalam kehidupannya. Apakah sudah bisa melakukan aktivitas sehari-hari, berkomunikasi, makan dan minum dengan aman, serta beradaptasi dengan kondisi setelah stroke,” tambah dr. Rini.(*)