RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam memberikan pelayanan dan penanganan terbaik bagi pasien terlantar melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi informasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan dan sosialisasi aplikasi Sistem Informasi Pasien Terlantar (SiPITER) yang diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi, penanganan, serta pemenuhan kebutuhan pasien terlantar secara lebih terpadu.

Pada Kamis (27/8), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini menyosialisasikan aplikasi SiPITER di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit membangun sistem penanganan pasien terlantar yang lebih terintegrasi dengan melibatkan sejumlah instansi terkait.

Aplikasi SiPITER dirancang untuk mengintegrasikan informasi tentang pasien terlantar sehingga penanganannya dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi. Sistem tersebut terintegrasi dan bridging dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Dengan sistem ini, ketika data pasien terlantar masuk ke dalam aplikasi SiPITER, informasi tersebut dapat ternotifikasi kepada sejumlah pihak yang memiliki peran dalam penanganan pasien. Yakni Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), Dinas Sosial, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta BPJS Kesehatan.

Kehadiran sistem tersebut diharapkan mampu mengurangi hambatan dalam proses penanganan pasien terlantar, khususnya ketika pasien tidak memiliki identitas yang jelas, tidak memiliki keluarga yang dapat dihubungi, mengalami kendala administrasi kependudukan, maupun membutuhkan dukungan sosial dan pembiayaan pelayanan kesehatan.

Melalui SiPITER, proses koordinasi tidak lagi hanya bergantung pada komunikasi secara manual antarlembaga. Data yang tersedia dalam sistem dapat menjadi dasar bagi instansi terkait untuk segera mengambil langkah sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.

Langkah penguatan kolaborasi tersebut sebelumnya telah diawali dengan penandatanganan kerja sama yang dilakukan RS M. Djamil pada 20 Agustus lalu. Kerja sama tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Dinas Sosial Sumbar, Disdukcapil Sumbar, Dinas Sosial Kota Padang, Disdukcapil Kota Padang, serta BAZNAS Sumatera Barat dalam Penanganan Pasien Terlantar.

Kerja sama lintas sektor itu menjadi landasan penting dalam membangun pola penanganan pasien terlantar yang tidak hanya berfokus pada aspek medis. Tetapi juga mencakup persoalan administrasi kependudukan, jaminan kesehatan, kondisi sosial, serta kebutuhan dukungan lainnya setelah pasien mendapatkan pelayanan di rumah sakit.

Direktur Layanan Operasional RS M. Djamil, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, mengatakan aplikasi SiPITER merupakan bagian dari upaya rumah sakit untuk menghadirkan sistem penanganan pasien terlantar yang lebih terstruktur, cepat, dan terintegrasi. “SiPITER ini merupakan salah satu bentuk komitmen RS M. Djamil dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien terlantar. Dengan aplikasi ini, ketika ada data pasien terlantar yang masuk, informasi tersebut dapat terhubung dengan stakeholder terkait sehingga penanganannya dapat dilakukan secara bersama-sama,” ujar drg. Ade Palupi Muchtar.

Sosialisasi aplikasi SiPITER ini turut dihadiri manajemen RS M. Djamil, perwakilan Dinas Sosial Sumbar, Disdukcapil Sumbar, Dinas Sosial Kota Padang, Disdukcapil Kota Padang dan BAZNAS.

Menurutnya, keberadaan aplikasi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara rumah sakit dengan pemerintah daerah maupun lembaga lain yang memiliki kewenangan dalam menyelesaikan persoalan pasien terlantar.

“Pasien terlantar tidak bisa ditangani oleh rumah sakit sendiri. Ada berbagai persoalan yang harus diselesaikan, mulai dari identitas kependudukan, jaminan kesehatan, kondisi sosial, sampai dengan keberadaan keluarga atau pihak yang dapat bertanggung jawab terhadap pasien. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting,” katanya.

Ia menjelaskan, integrasi SiPITER dengan SIMRS menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan aplikasi tersebut. Data pasien yang telah tercatat dalam sistem rumah sakit dapat menjadi bagian dari proses identifikasi dan pelaporan pasien terlantar, sehingga informasi dapat diteruskan kepada instansi yang berkepentingan.

Dengan adanya notifikasi kepada Disdukcapil, misalnya, persoalan terkait identitas dan administrasi kependudukan pasien dapat segera ditindaklanjuti. Begitu pula dengan Dinas Sosial yang dapat melakukan intervensi terhadap aspek sosial pasien, BAZNAS yang dapat berperan sesuai dengan kewenangannya dalam dukungan sosial, serta BPJS Kesehatan dalam kaitannya dengan kepesertaan dan jaminan pelayanan kesehatan.

“Harapannya, tidak ada lagi pasien terlantar yang penanganannya berjalan sendiri-sendiri. Semua pihak bisa mengetahui dan mengambil peran sesuai dengan tugas masing-masing. Ini yang ingin kita bangun melalui SiPITER,” ujar drg. Ade.

Pengembangan aplikasi tersebut, tuturnya, juga menunjukkan penanganan pasien terlantar membutuhkan pendekatan yang komprehensif. "Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan memiliki tanggung jawab utama dalam memberikan pelayanan medis, namun persoalan pasien terlantar kerap memiliki dimensi yang lebih luas dan membutuhkan keterlibatan banyak pihak," ucap drg. Ade.

Pasien yang datang tanpa identitas atau tanpa keluarga pendamping, misalnya, tidak hanya membutuhkan tindakan medis. Setelah kondisi kesehatannya membaik, tetap diperlukan kepastian tentang identitas, tempat tinggal, keluarga, jaminan kesehatan, serta dukungan sosial. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan pentingnya membangun sistem yang mampu menghubungkan rumah sakit dengan berbagai instansi terkait.

"Melalui kerja sama yang telah ditandatangani dan implementasi SiPITER, RS M. Djamil berharap mekanisme penanganan pasien terlantar dapat menjadi lebih efektif. Setiap pasien yang masuk dalam kategori terlantar dapat segera diidentifikasi dan diteruskan informasinya kepada pihak-pihak yang dapat membantu penyelesaian permasalahan pasien," harapnya.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan upaya RS M. Djamil untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dengan memanfaatkan transformasi digital. Digitalisasi tidak hanya diarahkan untuk mendukung pelayanan medis, tetapi juga untuk memperkuat koordinasi dan penyelesaian berbagai persoalan administratif serta sosial yang muncul dalam proses pelayanan pasien.

"Sosialisasi SiPITER ini sekaligus menjadi momentum untuk memastikan seluruh pihak yang terlibat memahami alur penggunaan aplikasi dan mekanisme koordinasi yang akan dijalankan. Dengan pemahaman yang sama, diharapkan setiap laporan pasien terlantar dapat segera ditindaklanjuti secara tepat dan terukur," tuturnya.

Ia kembali menegaskan keberhasilan penanganan pasien terlantar sangat ditentukan oleh kekuatan kolaborasi. Rumah sakit, pemerintah daerah, perangkat daerah, lembaga sosial, pengelola jaminan kesehatan, dan lembaga lainnya perlu bergerak dalam satu sistem agar kebutuhan pasien dapat ditangani secara menyeluruh.

“Yang paling penting adalah pasien tetap menjadi prioritas. Kita ingin memastikan pasien terlantar mendapatkan hak pelayanan dan penanganan yang semestinya. Dengan SiPITER dan kerja sama lintas sektor ini, kita berharap proses tersebut menjadi lebih cepat, jelas, dan terkoordinasi,” tutur drg. Ade.

Ke depan, RS M. Djamil berkomitmen untuk terus menyempurnakan implementasi SiPITER sekaligus memperkuat komunikasi dengan seluruh pihak yang telah terlibat dalam kerja sama Penanganan Pasien Terlantar. Sistem yang terintegrasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sarana pencatatan dan penyampaian informasi, tetapi juga menjadi instrumen kolaborasi untuk memastikan setiap pasien terlantar memperoleh penanganan yang berkelanjutan.

"Dengan hadirnya SiPITER, RS M. Djamil menunjukkan komitmennya bahwa pelayanan kepada pasien tidak berhenti pada tindakan medis semata. Rumah sakit berupaya memastikan persoalan yang menyertai kondisi pasien terlantar dapat ditangani secara bersama-sama melalui sinergi antarlembaga, sehingga pelayanan kesehatan dan perlindungan terhadap pasien dapat berjalan secara lebih optimal," tukasnya.(*)