RS M. Djamil terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian infeksi serta penggunaan antimikroba yang bijak di rumah sakit. Penguatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dan sinergi bersama pemerintah daerah serta rumah sakit jejaring di Sumbar.

Komitmen itu terlihat ketika Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Pencegahan Resistensi Antimikroba (PRA) dan Farmasi Terapi (FT), Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, dr. Aklima, MPH, di Ruang Kerja Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, pada Selasa (8/9).

Audiensi tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Simposium Pengendalian Infeksi dan Antimikroba di Rumah Sakit Jejaring RS M. Djamil yang direncanakan berlangsung pada 3 Oktober mendatang. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah strategis untuk memperkuat koordinasi, berbagi pengalaman, serta meningkatkan kapasitas rumah sakit dalam menghadapi berbagai tantangan pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba.

Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba merupakan isu yang membutuhkan perhatian serta kolaborasi dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu rumah sakit saja, melainkan membutuhkan kesamaan komitmen dan langkah bersama di antara rumah sakit yang berada dalam jejaring pelayanan.

“Pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba merupakan bagian penting dari upaya kita menjaga mutu dan keselamatan pasien. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara RS M. Djamil, rumah sakit jejaring, Dinas Kesehatan dan seluruh tenaga kesehatan agar berbagai program yang dijalankan dapat memberikan dampak yang lebih luas,” ujar Dovy.

Ia menjelaskan, pelaksanaan simposium nantinya tidak hanya menjadi forum untuk menyampaikan perkembangan ilmu dan kebijakan terbaru, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun jejaring dan menyamakan persepsi terkait implementasi program di masing-masing rumah sakit.

“Melalui simposium ini kita ingin membangun forum pembelajaran bersama. Rumah sakit dapat saling berbagi pengalaman tentang praktik yang sudah berjalan, tantangan yang dihadapi, serta solusi yang dapat diterapkan. Harapannya, penguatan PPI, PRA dan Farmasi Terapi tidak berhenti pada kegiatan simposium, tetapi dapat diterapkan secara konsisten di rumah sakit masing-masing,” katanya.

Dovy menambahkan, sebagai rumah sakit rujukan di Sumatera Barat, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab untuk turut mendorong peningkatan kapasitas rumah sakit jejaring. Penguatan jejaring tersebut dinilai penting karena kualitas pelayanan kesehatan di daerah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan satu fasilitas kesehatan, tetapi juga oleh keterhubungan dan koordinasi antarfasilitas pelayanan.

“RS M. Djamil tidak bisa berjalan sendiri. Kita memiliki rumah sakit jejaring yang merupakan bagian penting dalam sistem rujukan dan pelayanan kesehatan di Sumatera Barat. Karena itu, peningkatan mutu harus kita lakukan bersama-sama, termasuk dalam pengendalian infeksi dan penggunaan antimikroba yang rasional,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, dr. Aklima, MPH, menyambut baik rencana pelaksanaan Simposium Pengendalian Infeksi dan Antimikroba tersebut. Ia menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan penguatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya dalam menghadapi persoalan infeksi dan resistensi antimikroba yang membutuhkan perhatian lintas fasilitas pelayanan kesehatan.

 “Di Sumatera Barat terdapat 82 rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta. Jumlah ini tentu menjadi kekuatan yang besar apabila seluruh rumah sakit dapat bergerak bersama dan memiliki komitmen yang sama dalam meningkatkan mutu pelayanan, termasuk dalam pencegahan dan pengendalian infeksi serta pengendalian resistensi antimikroba,” kata Aklima.

Ia berharap simposium yang digagas RS M. Djamil dapat menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antarrumah sakit. Tidak hanya bagi rumah sakit besar, tetapi juga bagi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki peran dalam sistem pelayanan dan rujukan di Sumatera Barat.

“Kami mendukung pelaksanaan kegiatan ini karena pengendalian infeksi dan antimikroba merupakan tanggung jawab bersama. Kita berharap melalui forum seperti ini akan terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang kemudian dapat diterapkan di masing-masing rumah sakit,” ujarnya.

Aklima juga menekankan pentingnya membangun budaya mutu dan keselamatan pasien secara konsisten di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Pencegahan infeksi harus menjadi bagian dari budaya kerja tenaga kesehatan, sementara penggunaan antimikroba perlu dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab untuk mencegah semakin berkembangnya resistensi antimikroba.

“Penguatan sistem harus dilakukan secara berkelanjutan. Kita tidak hanya berbicara mengenai kebijakan, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut diterapkan dalam pelayanan sehari-hari. Karena itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan kolaborasi antar rumah sakit menjadi sangat penting,” tambahnya.(*)