Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, RS M. Djamil terus menghadirkan berbagai kegiatan edukatif yang dapat diakses langsung oleh pasien dan keluarga pasien. Pada Senin (22/6), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar edukasi kesehatan di ruang tunggu Poliklinik Anak Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.
Kegiatan yang diikuti oleh pasien dan keluarga pasien tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis anak, dr. Aldian Tri Wahyuda Putra, Sp.A, yang membawakan materi bertajuk “Bantuan Hidup Dasar: Panduan untuk Awam”. Materi ini dipilih karena kemampuan memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan sangat penting dimiliki oleh masyarakat umum sebelum bantuan medis tiba.
Dalam paparannya, dr. Aldian menjelaskan bantuan hidup dasar merupakan serangkaian tindakan awal yang dapat dilakukan oleh siapa saja untuk mempertahankan kehidupan seseorang yang mengalami henti napas, henti jantung, tersedak, maupun kondisi darurat lainnya. Pengetahuan dasar ini dinilai dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien apabila dilakukan dengan tepat dan cepat.
“Banyak kasus kegawatdaruratan yang terjadi di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik. Dalam situasi tersebut, orang yang berada di sekitar korban menjadi penolong pertama. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah-langkah dasar yang benar agar dapat memberikan pertolongan awal sebelum tenaga kesehatan datang,” ujar dr. Aldian.
Salah satu kondisi darurat yang sering menimbulkan kepanikan pada orang tua adalah ketika anak tersedak makanan atau benda asing. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sumbatan jalan napas yang berisiko mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.
“Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga sering memasukkan benda ke dalam mulut. Selain itu, saat makan mereka juga bisa tersedak karena makanan yang tidak dikunyah dengan baik. Orang tua perlu mengenali tanda-tanda tersedak dan mengetahui langkah pertolongan pertama yang tepat agar kondisi tidak semakin memburuk,” ujar dr. Aldian.
Ia menjelaskan tanda anak mengalami tersedak antara lain batuk terus-menerus, kesulitan bernapas, tidak mampu berbicara atau menangis, hingga perubahan warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen. Dalam kondisi tersebut, orang tua perlu tetap tenang dan segera melakukan tindakan pertolongan sesuai usia anak sambil meminta bantuan medis.
“Pada kasus tersedak, setiap detik sangat berharga. Pertolongan yang cepat dan tepat dapat membantu mengeluarkan sumbatan jalan napas dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius,” jelasnya.
Selain membahas penanganan anak tersedak, dr. Aldian juga menjelaskan prinsip-prinsip dasar bantuan hidup dasar, mulai dari mengenali kondisi kegawatdaruratan, memastikan keamanan lingkungan sekitar, menghubungi bantuan medis, hingga langkah awal pertolongan pada korban yang mengalami gangguan pernapasan maupun henti jantung.
“Banyak kasus kegawatdaruratan yang terjadi di rumah, sekolah, tempat bermain, maupun ruang publik. Orang yang berada paling dekat dengan korban merupakan penolong pertama yang memiliki peran penting dalam meningkatkan peluang keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan tenaga kesehatan,” katanya.
Selama sesi berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti penjelasan yang disampaikan. Berbagai pertanyaan diajukan, terutama tentang cara menangani anak yang tersedak makanan, langkah yang harus dilakukan ketika anak tidak sadar, serta upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.(*)