RSUP Dr. M. Djamil Edukasi Kelainan Pigmentasi Kulit Masyarakat

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif yang menyentuh langsung kebutuhan pasien dan pengunjung rumah sakit. Sebagai rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif, tetapi juga aktif melakukan promosi kesehatan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai penyakit dan upaya pencegahannya.

Memperingati International Skin Pigmentation Day, Selasa (26/5), RSUP Dr. M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Bagian Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil menggelar kegiatan edukasi kesehatan di Poliklinik Kulit dan Kelamin. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Guru Besar Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. Dr. dr. Satya Widya Yenny, Sp.D.V.E., Subsp. D.K.E., M.Ag., FINSDV, FAADV didampingi peserta PPDS, dr. Suri Emilia Annisa.

Dalam pemaparannya, Prof. Widya menjelaskan pigmentasi kulit berkaitan dengan melanin, yaitu zat pewarna alami yang memberikan warna pada kulit, rambut, dan mata. Gangguan pigmentasi dapat terjadi ketika produksi melanin berkurang atau justru meningkat sehingga menyebabkan perubahan warna kulit yang tampak berbeda dari warna kulit normal.

“Kelainan pigmentasi kulit secara umum dapat berupa hipomelanosis atau bercak putih akibat berkurangnya melanin, serta hipermelanosis atau bercak hitam yang terjadi akibat peningkatan melanin pada kulit. Kondisi tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor risiko yang perlu dipahami masyarakat,” katanya.

Salah satu bentuk hipermelanosis yang cukup sering ditemukan adalah lentigo solaris. Kelainan ini ditandai dengan munculnya bercak coklat hingga hitam yang umumnya terdapat pada area tubuh yang sering terpapar sinar matahari seperti wajah, bahu, lengan, dan tangan. Lentigo solaris dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, namun lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut.

Menurut Prof. Widya, beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya lentigo solaris. Antara lain memiliki kulit berwarna lebih terang, sering melakukan aktivitas di luar ruangan sehingga terpapar sinar matahari dalam jangka panjang, usia lanjut, serta riwayat menjalani terapi radiasi atau fototerapi.

Selain lentigo solaris, masyarakat juga perlu mengenal melasma yang ditandai dengan munculnya bercak coklat atau hitam pada wajah, terutama di daerah dahi, hidung, kedua pipi, area atas bibir, dan dagu. Melasma lebih sering terjadi pada perempuan, khususnya yang tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari yang tinggi serta memiliki warna kulit sawo matang hingga gelap.

“Melasma merupakan salah satu kelainan pigmentasi yang cukup sering ditemukan. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti paparan sinar matahari, polusi lingkungan, penggunaan obat-obatan dan kosmetik tertentu, faktor genetik, hingga beberapa penyakit tertentu yang memengaruhi kondisi kulit,” ujar Prof. Widya.

Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap kulit dari paparan sinar ultraviolet yang berlebihan. Langkah-langkah sederhana dapat memberikan manfaat besar dalam mencegah berbagai gangguan pigmentasi maupun penuaan dini pada kulit. “Upaya perlindungan diri yang dapat dilakukan antara lain menghindari paparan sinar matahari pada jam puncak antara pukul 09.00 hingga 15.00, menggunakan payung saat beraktivitas di luar ruangan, memakai kacamata hitam, menggunakan topi bertepi lebar, serta mengaplikasikan sunscreen secara rutin sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Kegiatan edukasi tersebut mendapat perhatian dari pasien dan pengunjung yang hadir di Poliklinik Kulit dan Kelamin. Selain memberikan informasi tentang jenis-jenis kelainan pigmentasi kulit, sesi edukasi juga membuka ruang diskusi sehingga masyarakat dapat memahami tanda-tanda awal gangguan kulit dan pentingnya pemeriksaan sejak dini.

Prof. Widya mengingatkan perubahan warna kulit yang menetap atau semakin meluas tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan oleh tenaga medis yang kompeten sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat dan menentukan penanganan yang sesuai.

“Bila ada keluhan pada kulit, jangan menunda untuk memeriksakan diri. Segera konsultasikan ke dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika agar dapat dilakukan evaluasi dan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing pasien,” katanya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Peran Caregiver Bagi Pasien Kemoterapi

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang berbagai layanan kesehatan, termasuk pendampingan bagi pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Sebagai rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil secara rutin menghadirkan kegiatan edukasi kesehatan guna memberikan informasi yang tepat kepada pasien dan keluarga.

Pada Selasa (26/5), melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil menggelar kegiatan edukasi kesehatan di Unit Kemoterapi. Kegiatan tersebut diikuti oleh pasien dan keluarga yang tengah mendampingi proses pengobatan, dengan tujuan meningkatkan pemahaman tentang kemoterapi serta pentingnya peran caregiver dalam mendukung keberhasilan terapi.

Dalam kesempatan tersebut, Perawat Kemoterapi RSUP Dr. M. Djamil, Cristia Pamela, S.Kep, menjadi narasumber dengan materi bertajuk “Mengenal Kemoterapi dan Peran Caregiver bagi Pasien Kemoterapi.” Ia menjelaskan kemoterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang memerlukan kepatuhan tinggi, baik dari pasien maupun keluarga yang mendampingi.

Menurut Cristia, keberhasilan pengobatan kemoterapi dan keberlangsungan hidup pasien tidak hanya ditentukan oleh tindakan medis yang diberikan tenaga kesehatan. Tetapi juga bergantung pada kehadiran seorang caregiver atau pendamping utama yang mendukung pasien selama menjalani pengobatan.

“Keberhasilan terapi kemoterapi sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan caregiver. Mereka menjadi orang yang paling dekat dengan pasien dalam menjalani proses pengobatan yang sering kali berlangsung dalam jangka waktu panjang. Kehadiran caregiver membantu pasien tetap patuh menjalani terapi sekaligus memberikan kekuatan secara emosional,” ujar Cristia.

Ia menjelaskan caregiver umumnya merupakan anggota keluarga terdekat seperti pasangan, anak, atau orang tua. Dalam praktiknya, peran yang dijalankan sangat kompleks dan tidak terbatas pada pendampingan saat pasien datang ke rumah sakit.

Caregiver bertanggung jawab untuk memastikan jadwal terapi berjalan sesuai rencana, membantu mengelola pemberian obat-obatan di rumah, menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal pasien. Kemudian menyiapkan kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, hingga memberikan dukungan psikologis agar pasien tetap memiliki motivasi dan semangat dalam menghadapi proses pengobatan.

“Caregiver adalah individu yang memberikan bantuan fisik, emosional, sosial, serta pendampingan kepada pasien yang mengalami gangguan kesehatan atau keterbatasan selama menjalani pengobatan. Dukungan yang diberikan tidak hanya membantu pasien secara fisik, tetapi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup pasien selama menjalani terapi,” jelasnya.

Cristia mengingatkan proses kemoterapi sering kali menimbulkan berbagai tantangan, baik dari sisi fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, keluarga diharapkan mampu menjadi sistem pendukung yang kuat bagi pasien agar dapat melewati setiap tahapan pengobatan dengan lebih baik.

Kegiatan edukasi ini berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber. Berbagai pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan efek samping kemoterapi, pola makan yang dianjurkan, hingga cara memberikan dukungan yang tepat kepada anggota keluarga yang sedang berjuang melawan kanker.

 “Kami berharap edukasi ini dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai kemoterapi serta memperkuat peran caregiver sebagai pendamping utama. Dengan dukungan keluarga yang baik, pasien akan lebih termotivasi menjalani pengobatan, sehingga kualitas hidup dan peluang keberhasilan terapi dapat semakin meningkat,” harap Cristia.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Bersama POGI dan HKFM Kampanyekan Deteksi Dini Preeklampsia saat CFD

RSUP Dr. M. Djamil menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya preeklampsia melalui peringatan World Preeclampsia Day 2026 yang digelar saat Car Free Day di pelataran parkir Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Barat pada Minggu (24/5). Kegiatan ini dilaksanakan bersama POGI Sumbar dan HKFM Padang sebagai bentuk kolaborasi dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi akibat komplikasi kehamilan.

Peringatan World Preeclampsia Day 2026 yang dilaksanakan secara nasional ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang preeklampsia, yakni kondisi tekanan darah tinggi pada ibu hamil yang dapat membahayakan keselamatan ibu maupun janin apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan berbagai layanan kesehatan secara gratis mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan USG gratis, edukasi tentang preeklampsia, hingga berbagai games dan doorprize yang disambut antusias oleh pengunjung Car Free Day.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil yang diwakili Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kesehatan ibu dan anak.

“RSUP Dr. M. Djamil mengapresiasi kegiatan ini karena menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk lebih memahami bahaya preeklampsia sejak dini. Kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, dan komunitas menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil,” ujarnya.

Ia mengatakan, preeklampsia tidak hanya menjadi persoalan medis semata, tetapi juga tantangan bersama yang membutuhkan perhatian seluruh pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga hingga masyarakat luas. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat tentang tanda dan gejala preeklampsia perlu terus ditingkatkan agar ibu hamil mendapatkan penanganan sedini mungkin.

“Sering kali preeklampsia datang tanpa gejala yang disadari. Karena itu pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting untuk mendeteksi faktor risiko lebih awal. Kami ingin masyarakat memahami bahwa keselamatan ibu dan bayi dapat dijaga melalui deteksi dini dan penanganan yang tepat,” katanya.

Ia menegaskan, RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional di Sumatera Barat akan terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk meningkatkan kualitas layanan obstetri dan neonatal. Hal tersebut dilakukan melalui penguatan sumber daya manusia, fasilitas kesehatan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

“Komitmen kami adalah menghadirkan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi ibu dan anak. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif agar angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan,” tambahnya.

Ia juga berharap kegiatan yang dilaksanakan saat Car Free Day tersebut mampu menjangkau lebih banyak masyarakat karena dilakukan di ruang publik yang ramai dikunjungi warga. Dengan pendekatan yang santai dan edukatif, pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan kehamilan dinilai lebih mudah diterima masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil. Semakin banyak masyarakat yang paham, maka semakin besar peluang kita mencegah komplikasi kehamilan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua POGI Sumbar, Dr. dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG, Subsp.Urogin.RE mengatakan kegiatan ini sejalan dengan program POGI yakni SPRIN atau Selamatkan Perempuan Indonesia yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan perempuan, khususnya ibu hamil.

“Melalui program SPRIN, kami ingin memastikan masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin dan deteksi dini preeklampsia. Edukasi seperti ini sangat penting karena preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia,” katanya.

Ia berharap melalui kegiatan tersebut masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan. “Bahkan tidak ragu melakukan pemeriksaan secara rutin di fasilitas kesehatan,” ucapnya.

Sementara itu, Mewakili Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Padang, Dr. dr. Roza Sriyanti, Sp.OG, KFM mengatakan preeklampsia masih menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang membutuhkan perhatian serius karena dapat berkembang dengan cepat dan membahayakan kondisi ibu maupun janin apabila tidak terdeteksi sejak dini. Edukasi kepada masyarakat ini menjadi langkah penting agar ibu hamil memahami faktor risiko serta tanda bahaya selama kehamilan.

“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa preeklampsia dapat dicegah dan dikendalikan melalui pemeriksaan kehamilan rutin serta pola hidup sehat selama masa kehamilan. Dengan deteksi dini, risiko komplikasi yang lebih berat dapat diminimalkan sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, dan komunitas kesehatan menjadi kekuatan penting dalam memperluas edukasi kepada masyarakat. Pendekatan langsung kepada masyarakat melalui kegiatan Car Free Day tersebut menjadi sarana efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami.

“Kami berharap semakin banyak ibu hamil yang sadar untuk rutin memeriksakan kehamilannya dan tidak mengabaikan keluhan sekecil apa pun selama masa kehamilan. Penanganan yang cepat dan tepat akan sangat menentukan kesehatan ibu maupun bayi yang dikandung,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Komit Tingkatkan Kesadaran Masyarakat tentang Bahaya Preeklampsia

Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, RSUP Dr. M. Djamil terus menghadirkan edukasi kesehatan yang informatif dan mudah dipahami bagi masyarakat. Pada Jumat (22/5), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan RI ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Ibu dan Anak memperingati Hari Preeklampsia Sedunia melalui kegiatan edukasi kesehatan di Poliklinik Kebidanan Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan edukasi tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal, Dr. dr. Roza Sriyanti, Sp.OG, Subsp K.Fm, didampingi PPDS Obstetri dan Ginekologi dr. Ghina Harisa Amalia. Dalam pemaparannya bertajuk “Preeklampsia: Kenali Tanda Bahaya, Lindungi Ibu dan Bayi”, keduanya mengajak masyarakat, khususnya ibu hamil, untuk lebih memahami bahaya preeklampsia serta pentingnya deteksi dini selama kehamilan.

PPDS Obstetri dan Ginekologi dr. Ghina Harisa Amalia menjelaskan preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan serius yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi dan sering kali disertai protein berlebih dalam urin atau proteinuria. Kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai organ vital ibu, seperti ginjal, hati, dan otak sehingga membutuhkan perhatian serta penanganan medis segera.

“Preeklampsia bukan kondisi yang boleh dianggap sepele. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan dapat menimbulkan komplikasi serius yang berpotensi fatal bagi ibu maupun bayi apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” ujar dr. Ghina.

Ia juga menjelaskan sejumlah tanda bahaya preeklampsia yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil. Antara lain sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, sesak napas, mual dan muntah yang muncul mendadak, serta nyeri pada perut bagian atas. Selain itu, terdapat tanda lain yang tidak boleh diabaikan seperti pembengkakan secara tiba-tiba, kenaikan berat badan drastis, serta tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.

Menurutnya, terdapat beberapa kelompok ibu hamil yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklampsia. Di antaranya kehamilan pertama, ibu hamil dengan usia terlalu muda atau terlalu tua, memiliki riwayat keluarga dengan preeklampsia, kehamilan kembar, hingga ibu dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Ghina menegaskan pemeriksaan kehamilan rutin menjadi kunci utama dalam mendeteksi preeklampsia sedini mungkin. Deteksi dini hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan kehamilan yang teratur bersama tenaga kesehatan terpercaya.

“Pemeriksaan rutin sangat penting karena preeklampsia kadang muncul tanpa gejala yang jelas di awal. Dengan kontrol kehamilan yang teratur, kondisi ibu dan bayi dapat dipantau sehingga risiko komplikasi dapat dicegah lebih dini,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana namun penting, seperti rutin memeriksakan kehamilan, mewaspadai gejala yang muncul, serta menjalani pola hidup sehat selama masa kehamilan. Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan juga menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.

“Jangan lewatkan satu pun jadwal kontrol ke dokter atau bidan. Lindungi diri Anda dan si kecil dengan melakukan pemeriksaan secara rutin dan segera periksakan diri apabila merasakan tanda bahaya selama kehamilan,” ajaknya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Edukasi Diet Ketogenik untuk Dukung Terapi Anak dengan Epilepsi

RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui edukasi yang informatif dan mudah dipahami. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan yang diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Gizi di Poliklinik Anak Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Jumat (22/5).

Kegiatan edukasi ini menghadirkan narasumber Wahyu Fitriani, SKM, RD yang memaparkan materi tentang diet ketogenik sebagai salah satu pendekatan terapi gizi untuk pasien tertentu, khususnya anak dengan epilepsi dan sindrom epilepsi. Edukasi ini mendapat perhatian dari pasien dan keluarga pasien yang hadir karena membahas pola makan yang kini semakin dikenal luas, namun masih membutuhkan pemahaman yang tepat dalam penerapannya.

Dalam pemaparannya, Wahyu Fitriani menjelaskan diet ketogenik merupakan pola makan dengan komposisi tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat. Pola ini dirancang agar tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama menggantikan karbohidrat. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah ketosis.

“Tujuan utama diet ketogenik adalah mendorong tubuh masuk ke kondisi ketosis, dimana tubuh membakar lemak sebagai sumber energi utama, bukan karbohidrat. Diet ini bukan sekadar pola makan biasa, tetapi terapi yang dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan,” jelas Wahyu Fitriani didampingi Farhinza Oktriani, S.Tr.Gz dan Rementi ButarButar, S.Gz.

Ia menerangkan diet ketogenik telah banyak digunakan sebagai terapi tambahan pada pasien epilepsi, terutama anak-anak yang mengalami kejang berulang dan tidak sepenuhnya merespons pengobatan antikejang. Kejang yang terjadi akibat gangguan interaksi antar sel saraf otak yang menggunakan impuls listrik untuk berkomunikasi.

“Gejala kejang merupakan kelainan pada interaksi antar sel saraf otak. Sel saraf berinteraksi menggunakan impuls listrik, dan gangguan pada impuls listrik inilah yang mengakibatkan kejang. Ketika obat antikejang belum memberikan hasil optimal pada beberapa pasien, maka pemberian diet ketogenik dapat menjadi salah satu terapi pendukung yang dioptimalkan,” ujarnya.

Wahyu Fitriani menyampaikan diet ketogenik memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan kebutuhan terapi. Jenis tersebut meliputi diet ketogenik klasik, diet ketogenik MCT (Medium Chain Triglyceride), diet modifikasi Atkins, serta diet rendah indeks glikemik. “Gambaran menu yang dapat diterapkan dalam diet ketogenik, seperti ikan lele goreng, sup ayam, daging ungkep, orak-arik telur dengan labu siam, hingga tumis kangkung. Meski terlihat sederhana, seluruh menu tersebut tetap harus dihitung dan disusun sesuai kebutuhan gizi pasien,” tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan diet ketogenik tidak hanya bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Tetapi juga disiplin keluarga dalam menjalankan pola makan yang telah direncanakan bersama tenaga kesehatan. “Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya terapi gizi dalam mendukung pengobatan pasien, khususnya pada anak dengan epilepsi. Edukasi kesehatan seperti ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola diet tertentu, sehingga manfaat yang diperoleh dapat optimal dan aman bagi pasien,” tukas Wahyu Fitriani. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Wisuda Kemoterapi untuk Rayakan Perjuangan Pasien Kanker

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan psikologis pasien. Sebagai rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berbagai inovasi pelayanan terus dihadirkan guna memberikan pengalaman perawatan yang lebih bermakna bagi setiap pasien dan keluarga. Salah satu inovasi terbaru diwujudkan oleh Unit Kemoterapi pada Instalasi Diagnostik Terpadu, yang menggelar prosesi wisuda bagi pasien pasca-menyelesaikan seluruh rangkaian terapi kemoterapi.

Kegiatan yang berlangsung penuh haru tersebut menjadi simbol apresiasi atas perjuangan panjang para pasien dalam menghadapi proses pengobatan kanker yang tidak mudah. Dalam suasana hangat dan emosional, dua pasien yang telah dinyatakan menyelesaikan program kemoterapi mengikuti prosesi wisuda sederhana. Mereka menerima penghormatan dari para tenaga kesehatan yang selama ini mendampingi perjalanan terapi, sekaligus menerima setangkai bunga sebagai simbol harapan, kekuatan, dan awal baru menuju kehidupan yang lebih sehat.

Momen tersebut tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi para wisudawan, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi pasien lain yang masih berjuang menjalani proses terapi. Suasana haru begitu terasa ketika pasien, keluarga, serta tenaga kesehatan saling memberikan pelukan, doa, dan ucapan selamat. Bagi sebagian pasien, perjalanan kemoterapi bukan hanya perjuangan fisik, melainkan juga perjuangan mental, emosional, hingga sosial yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Melalui program wisuda ini, pihak rumah sakit ingin memastikan bahwa setiap perjuangan pasien dihargai dan dirayakan sebagai sebuah pencapaian besar.

Kepala Instalasi Diagnostik Terpadu, dr. Vesri Yoga, Sp.PD, K-GEH, MARS, FINASIM, mengatakan bahwa inovasi ini merupakan bentuk pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care). Dalam prinsip ini, proses penyembuhan tidak hanya diukur dari keberhasilan terapi secara klinis, melainkan juga dari bagaimana pasien merasa dihargai, didukung, dan dimanusiakan selama menjalani pengobatan.

“Setiap pasien yang menyelesaikan kemoterapi telah melalui perjuangan yang luar biasa. Mereka bukan hanya menjalani terapi medis, tetapi juga melawan rasa takut, rasa lelah, dan berbagai tantangan selama proses pengobatan. Karena itu, kami ingin menghadirkan sebuah momen spesial sebagai bentuk penghargaan atas keteguhan dan semangat mereka. Setangkai bunga yang kami berikan adalah simbol bahwa harapan selalu tumbuh setelah perjuangan,” ujar dr. Vesri Yoga.

Ia menambahkan, inovasi pelayanan seperti ini sejalan dengan transformasi pelayanan kesehatan yang terus dikembangkan oleh RSUP Dr. M. Djamil, yakni menghadirkan layanan yang unggul secara klinis sekaligus humanis dalam pendekatan kepada pasien. “Keberhasilan pengobatan bukan hanya tentang selesainya tindakan medis, tetapi juga bagaimana pasien dapat kembali menjalani hidup dengan optimisme, kepercayaan diri, dan kualitas hidup yang lebih baik,” tuturnya.

Salah seorang pasien, Nurul Azani, turut membagikan kisahnya. Ia menceritakan rangkaian kemoterapinya dimulai sejak Januari 2026 hingga memasuki siklus keenam. “Menjalani kemoterapi pasti ada rasa sedihnya, tetapi kita harus tetap semangat. Perawat kemoterapi di sini baik-baik, kalau ada apa-apa langsung cepat ditangani. Terima kasih kepada perawat RSUP Dr. M. Djamil yang sudah merawat kami dengan sangat baik. Banyak sekali yang memberikan semangat di sini,” ungkap Nurul. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Jalani Site Visit Penelitian Terapi Asma

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan riset dan layanan kesehatan bertaraf internasional. Pada Rabu (20/5), rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut menjalani site selection visit yang dilakukan oleh IQVIA selaku Contract Research Organization (CRO) atas nama sponsor penelitian bertajuk “A Phase 3 Multicenter, Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled, Parallel-Group Study to Evaluate the Efficacy and Safety of GSK5784283 as an Add-On Therapy in Adults and Adolescents with Uncontrolled Asthma”.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses penilaian kesiapan rumah sakit sebagai lokasi penelitian klinis internasional untuk terapi tambahan pada pasien dewasa dan remaja dengan asma yang belum terkontrol. Site selection visit dilakukan untuk mengevaluasi berbagai aspek, mulai dari kesiapan fasilitas, sumber daya manusia, sistem penelitian, hingga dukungan layanan terhadap pelaksanaan uji klinis sesuai standar internasional.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada RSUP Dr. M. Djamil untuk mengikuti proses seleksi tersebut. “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada RSUP Dr. M. Djamil untuk mengikuti site selection visit ini. Kami berharap RSUP Dr. M. Djamil dapat terpilih sebagai salah satu site penelitian sehingga dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan asma yang belum terkontrol,” ujar dr. Maliana.

Turut hadir Wina Susana selaku Clinical Monitor dari IQVIA, PIC penelitian Dr. dr. Masrul Basyar, Sp.P(K), FISR, FAPSR bersama tim penelitian, Ketua Clinical Research Unit (CRU) dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, Subsp. H.L.E (K), FIAC, IFCAP beserta jajaran.

Menurutnya, keterlibatan dalam penelitian multicenter internasional tidak hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kapasitas rumah sakit. “Tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan kompetensi dalam bidang riset klinis,” sebutnya.

Ia menilai, kolaborasi dengan lembaga penelitian global akan memberikan pengalaman berharga dalam penerapan standar penelitian internasional di lingkungan rumah sakit. “RSUP Dr. M. Djamil terus berupaya memperkuat budaya riset dan inovasi di lingkungan pelayanan kesehatan. Kami ingin menghadirkan layanan berbasis evidence based medicine melalui dukungan penelitian yang berkualitas dan berkelanjutan,” katanya.

dr. Maliana juga menegaskan dukungan manajemen rumah sakit terhadap pengembangan penelitian akan terus diperkuat, baik dari sisi fasilitas, regulasi, maupun pengembangan sumber daya manusia. Penelitian klinis ini menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan mutu layanan sekaligus memberikan akses terhadap terapi-terapi terbaru bagi masyarakat. “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas di masa mendatang. Dengan keterlibatan dalam penelitian internasional, RSUP Dr. M. Djamil dapat semakin berkontribusi dalam pengembangan ilmu kedokteran dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia,” tambahnya.

Proses site selection visit berlangsung dengan peninjauan berbagai fasilitas penunjang penelitian, diskusi teknis terkait pelaksanaan studi, serta evaluasi terhadap kesiapan tim peneliti dan infrastruktur rumah sakit. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperlihatkan kapasitas RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan dan penelitian yang terus berkembang dalam mendukung penelitian klinis berstandar internasional.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Upacara Harkitnas ke-118 Teguhkan Semangat Kebangsaan

Momentum Hari Kebangkitan Nasional ke-118 menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga semangat persatuan, kemandirian, dan gotong royong dalam membangun Indonesia yang lebih maju. Semangat tersebut turut digaungkan oleh RSUP Dr. M. Djamil melalui pelaksanaan upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang digelar di pelataran parkir Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Rabu (20/5).

Upacara berlangsung khidmat dan diikuti oleh jajaran manajemen serta civitas hospitalia rumah sakit milik Kementerian Kesehatan RI tersebut. Bertindak sebagai inspektur upacara yakni Direktur Medik dan Keperawatan, dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K). Turut hadir Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, beserta jajaran pegawai di lingkungan rumah sakit.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) membacakan amanat Menteri Komunikasi dan Digital RI yang menegaskan tema peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026 adalah “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema tersebut merepresentasikan semangat menjaga Ibu Pertiwi oleh seluruh elemen bangsa untuk bergerak maju bersama melalui perlindungan terhadap generasi penerus bangsa.

“Tema ini juga menegaskan pentingnya kemandirian sebagai negara yang berdaulat. Sebagaimana amanat para pendiri bangsa, kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh bantuan pihak lain, melainkan oleh keteguhan hati rakyatnya untuk bersatu dalam satu visi besar,” ujar Dr. dr. Bestari saat membacakan amanat Menteri Komunikasi dan Digital RI.

Ia menyampaikan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum untuk kembali meneguhkan arah perjalanan bangsa dengan menempatkan Asta Cita sebagai kompas utama pembangunan nasional. Delapan misi besar tersebut diharapkan mampu menghadirkan perubahan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pelayanan kesehatan.

Dalam amanat tersebut juga ditegaskan Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus menjadi panggilan bagi seluruh elemen masyarakat, mulai dari akademisi, praktisi, hingga generasi muda, untuk kembali menyalakan api perjuangan “Boedi Oetomo” dalam setiap lini kehidupan.

“Momentum ini harus menjadi penguat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital, dan memastikan setiap langkah pembangunan senantiasa berorientasi pada kemajuan bersama. Kebangkitan nasional adalah milik kita semua; bermula dari kesadaran individu yang terakumulasi secara kolektif, dan berujung pada kejayaan bangsa di kancah dunia,” lanjutnya.

Pelaksanaan upacara di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil ini juga menjadi bentuk komitmen rumah sakit dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme, integritas, dan semangat pengabdian kepada seluruh pegawai. “Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSUP Dr. M. Djamil terus mendorong transformasi layanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada mutu pelayanan, tetapi juga pada penguatan karakter dan semangat kebangsaan di lingkungan kerja,” tukas Dr. dr. Bestari.(*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Serahkan SK Wakil Kepala SIMRS untuk Perkuat Transformasi Digital

RSUP Dr. M. Djamil kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola pelayanan kesehatan berbasis digital melalui penguatan sistem informasi manajemen rumah sakit. Komitmen tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) Wakil Kepala Instalasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) kepada dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, MARS, FICS, FIATCVS oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, di ruang kerja direktur utama, Selasa (19/5).

Penyerahan SK tersebut menjadi bagian dari langkah strategis rumah sakit dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan layanan digital, integrasi data kesehatan, serta optimalisasi pelayanan kepada masyarakat. Dengan penguatan struktur di Instalasi SIMRS, rumah sakit diharapkan mampu menghadirkan sistem layanan yang lebih cepat, akurat, transparan, dan terintegrasi.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan transformasi digital di lingkungan rumah sakit menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern. “Penguatan Instalasi SIMRS merupakan bagian dari komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Kami ingin memastikan seluruh sistem pelayanan berjalan lebih efektif, efisien, dan terintegrasi sehingga mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya didampingi Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS dan Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes.

Ia menambahkan, digitalisasi rumah sakit bukan hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan budaya kerja, peningkatan koordinasi antarunit, dan penguatan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya.

“Kami berharap amanah yang diberikan kepada dr. Ardiansyah dapat dijalankan dengan baik dan mampu membawa pengembangan SIMRS RSUP Dr. M. Djamil menjadi semakin maju. Sinergi seluruh pihak sangat diperlukan agar transformasi digital rumah sakit dapat berjalan optimal,” katanya.

Sementara itu, dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, MARS, FICS, FIATCVS menyampaikan kesiapan dirinya untuk mendukung pengembangan sistem informasi rumah sakit agar semakin adaptif terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masa kini. “Penguatan SIMRS menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan layanan kesehatan yang modern dan berorientasi pada keselamatan pasien. Dengan dukungan manajemen rumah sakit, kami optimistis pengembangan sistem informasi dapat berjalan lebih maksimal dan memberikan manfaat luas bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Hadirkan Aplikasi Monitoring HAI’s

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat upaya peningkatan mutu layanan kesehatan melalui inovasi digital di bidang pengendalian infeksi rumah sakit. Melalui Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Pengendalian Resistensi Antimikroba (PRA), dan Farmakologi dan Terapi (FT), rumah sakit rujukan nasional tersebut bakal menghadirkan aplikasi monitoring Healthcare Associated Infections (HAI’s).

Kehadiran aplikasi monitoring HAI’s ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengawasan infeksi di lingkungan rumah sakit sekaligus mempercepat pelaporan dan evaluasi data secara real time. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan di tengah tantangan penanganan infeksi nosokomial serta resistensi antimikroba yang terus berkembang.

Ketua Komite PPI-PRA-FT Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Si mengatakan, aplikasi monitoring HAI’s ini merupakan bentuk penguatan sistem pengawasan infeksi berbasis digital yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan SIMRS rumah sakit.

“Kehadiran aplikasi monitoring HAI’s ini menjadi langkah penting untuk memperkuat sistem pengawasan infeksi di rumah sakit. Melalui aplikasi ini nantinya pelaporan dan pemantauan data dapat dilakukan lebih cepat, terintegrasi, dan akurat,” ujarnya saat Rapat Laporan Bulanan Komite PPI-PRA-FT di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (18/5).

Ia menjelaskan, pada bulan ini pihaknya masih berada pada tahap sosialisasi kepada jajaran pimpinan rumah sakit serta para pengelola ruang rawatan. Setelah tahapan tersebut selesai, aplikasi akan memasuki fase uji coba sebelum diterapkan secara menyeluruh.

“Bulan ini kita melakukan tahap sosialisasi di tingkat pimpinan dan pengelola ruang rawatan. Setelah itu akan dilakukan uji coba di tingkat PPI. Kita menargetkan pada bulan Juni aplikasi ini sudah mulai berjalan,” katanya.

Menurut Andani, digitalisasi sistem monitoring infeksi akan memberikan banyak manfaat. Mulai dari mempercepat identifikasi kasus infeksi terkait pelayanan kesehatan hingga mempermudah proses evaluasi dalam pengambilan kebijakan medis di rumah sakit.

“Selain itu, aplikasi tersebut juga diharapkan dapat mendukung penguatan program pengendalian resistensi antimikroba melalui pengumpulan data yang lebih sistematis dan terukur. Dengan sistem yang terintegrasi, setiap unit pelayanan nantinya dapat melakukan pelaporan secara lebih efektif dan efisien,” tegas Dr. dr. Andani.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan transformasi digital di lingkungan rumah sakit menjadi salah satu fokus utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kami mendukung penuh pengembangan aplikasi monitoring HAI’s ini karena sejalan dengan upaya rumah sakit dalam meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien. Digitalisasi sistem pengawasan infeksi menjadi kebutuhan penting agar proses monitoring dapat berjalan lebih optimal dan terintegrasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, inovasi tersebut juga menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan dunia medis saat ini. “Dengan adanya aplikasi ini, kami berharap pengendalian infeksi rumah sakit dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan terukur sehingga kualitas pelayanan kepada pasien semakin meningkat,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45