RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Komitmen Disiplin Pelayanan melalui Pemantauan Absensi Online DPJP

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui penguatan disiplin dan akuntabilitas tenaga medis. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memastikan implementasi absensi online bagi Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) berjalan secara optimal di seluruh unit pelayanan rumah sakit.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan oleh Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, saat melakukan kegiatan telusur ke Instalasi Bedah Sentral pada Kamis (11/6). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan serta kepatuhan terhadap berbagai kebijakan rumah sakit, termasuk penerapan absensi online DPJP.

Dalam kunjungannya, dr. Maliana meninjau langsung pelaksanaan layanan di Instalasi Bedah Sentral serta berdialog dengan jajaran manajemen dan tenaga kesehatan yang bertugas. Ia menekankan absensi online bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen penting untuk memastikan kehadiran dokter dalam memberikan pelayanan kepada pasien sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Absensi online DPJP merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam membangun budaya kerja yang disiplin, transparan, dan akuntabel. Kehadiran dokter penanggung jawab pelayanan harus dapat dipantau dengan baik karena berkaitan langsung dengan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien,” ujar dr. Maliana.

Menurutnya, transformasi digital yang sedang dijalankan RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya menyasar aspek pelayanan kepada pasien, tetapi juga tata kelola sumber daya manusia. “Sistem absensi online menjadi salah satu instrumen yang mendukung pengawasan secara real time sehingga proses monitoring dapat dilakukan lebih efektif dan objektif,” sebutnya.

Ia menjelaskan setiap dokter yang bertugas sebagai DPJP memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan pasien memperoleh pelayanan yang optimal sejak proses diagnosis, tindakan medis, hingga evaluasi perawatan. Karena itu, kepatuhan terhadap mekanisme absensi menjadi salah satu indikator penting dalam mendukung pelaksanaan tugas tersebut.

“Melalui sistem yang terintegrasi, rumah sakit dapat memastikan bahwa pelayanan diberikan oleh tenaga medis yang hadir dan menjalankan tugasnya sesuai jadwal. Ini bukan hanya soal kedisiplinan, tetapi juga bentuk tanggung jawab profesional kepada pasien dan institusi,” katanya.

dr. Maliana menegaskan manajemen rumah sakit akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap implementasi absensi online di seluruh instalasi. “Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan serta mendorong terciptanya budaya kerja yang berorientasi pada mutu pelayanan,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi jajaran Instalasi Bedah Sentral yang terus berupaya menjaga kualitas layanan di tengah tingginya aktivitas pelayanan dan tindakan operasi yang dilaksanakan setiap hari. Keberhasilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan terbaik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas dan teknologi, tetapi juga oleh komitmen seluruh sumber daya manusia dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh proses pelayanan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. Kehadiran tenaga medis yang tepat waktu dan terdokumentasi dengan baik melalui sistem absensi online merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan RSUP Dr. M. Djamil,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Sosialisasikan Kebijakan Standar Pelayanan Pasien Kanker

Sebagai rumah sakit rujukan nasional dan pusat layanan kesehatan terdepan di Sumatera Barat, RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas pelayanan kanker di Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan edukasi dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, salah satunya dengan berpartisipasi dalam Pelatihan Penatalaksanaan Pasien Kanker dengan Kemoterapi bagi Perawat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dilaksanakan secara virtual pada Rabu (10/6).

Dalam kegiatan tersebut, Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk Kebijakan Standar Pelayanan Pasien Kanker. Pelatihan ini diikuti oleh para perawat dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berkesinambungan bagi pasien kanker.

Dalam pemaparannya, Dr. dr. Bestari menjelaskan kanker masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi mulai dari upaya pencegahan hingga pelayanan paliatif. “Keberhasilan pengendalian kanker tidak hanya bergantung pada layanan pengobatan, tetapi juga pada sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan strategi nasional yang telah ditetapkan,” katanya.

Menurutnya, terdapat enam strategi utama dalam pencegahan dan pengendalian kanker yang menjadi landasan penguatan layanan di Indonesia. Strategi pertama adalah promotif dan preventif yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko kanker melalui edukasi dan perubahan perilaku hidup sehat. Strategi kedua adalah skrining dan deteksi dini untuk menemukan kasus kanker sedini mungkin sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar.

Selanjutnya, strategi ketiga adalah peningkatan akses layanan dan tatalaksana kanker secara menyeluruh, mulai dari proses diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, hingga pelayanan paliatif. Strategi keempat adalah penguatan registrasi kanker dan penelitian kanker sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan serta pengembangan layanan berbasis bukti ilmiah.

“Strategi kelima adalah memperkuat kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, fasilitas kesehatan, organisasi profesi, maupun masyarakat. Sementara strategi keenam adalah penguatan tata kelola dan akuntabilitas pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian kanker agar seluruh program berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan,” tutur Dr. dr. Bestari.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Bestari juga menegaskan pentingnya standardisasi pelayanan kanker di seluruh fasilitas kesehatan agar setiap pasien memperoleh kualitas layanan yang setara tanpa memandang lokasi tempat mendapatkan perawatan.

“Standar pelayanan rumah sakit harus sama standarnya. Baik rumah sakit pusat maupun rumah sakit di daerah harus memiliki orientasi yang sama dalam memberikan pelayanan kanker yang aman, bermutu, dan berfokus pada keselamatan pasien. Karena itu, prinsip kendali mutu dan kendali biaya harus berjalan beriringan tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang diterima pasien,” ujarnya.

Ia menambahkan keselamatan pasien atau patient safety harus menjadi budaya dalam setiap proses pelayanan kesehatan. Termasuk dalam penatalaksanaan kemoterapi yang memiliki risiko tinggi dan memerlukan ketelitian serta kompetensi khusus dari tenaga kesehatan.

“Setiap tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan pasien. Dalam pelayanan kanker, terutama kemoterapi, diperlukan kepatuhan terhadap standar operasional, komunikasi yang efektif, serta koordinasi yang baik antarprofesi agar pelayanan yang diberikan benar-benar aman dan berkualitas,” tukas Dr. dr. Bestari.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Olah Limbah Organik dengan Biokonversi Maggot

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya tidak hanya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, tetapi juga dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Sebagai rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berbagai upaya inovatif terus dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas pelayanan kesehatan, salah satunya melalui pemanfaatan limbah organik yang dihasilkan oleh Instalasi Gizi.

Melalui Instalasi Kesehatan Lingkungan, RSUP Dr. M. Djamil mengembangkan pengolahan limbah organik menggunakan metode biokonversi dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang dikenal sebagai maggot. Inovasi ini menjadi salah satu langkah nyata rumah sakit dalam mendukung pengelolaan sampah yang ramah lingkungan sekaligus mendorong penerapan prinsip keberlanjutan di lingkungan rumah sakit.

Biokonversi merupakan proses perombakan sampah organik yang melibatkan makhluk hidup untuk mengubah bahan organik menjadi produk yang lebih bermanfaat. Dalam metode ini, larva BSF berperan sebagai agen pengurai yang mampu mengonsumsi dan mengolah limbah organik dalam jumlah besar. Limbah sisa makanan dan bahan organik dari Instalasi Gizi dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi larva tersebut sehingga dapat mengurangi volume sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan RSUP Dr. M. Djamil, Esa Surya Praja, AMdKL, menjelaskan pemanfaatan larva BSF menjadi salah satu solusi yang efektif dalam pengelolaan limbah organik rumah sakit. Pada fase larva, BSF memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai bahan organik berkat enzim dan bakteri yang terdapat di dalam saluran pencernaannya.

“Pada saat berbentuk larva, Black Soldier Fly mampu mengonversi limbah organik menjadi biomassa yang bermanfaat. Larva ini memiliki enzim dan bakteri dalam ususnya yang membantu memecah bahan organik menjadi nutrisi yang dapat mereka konsumsi, sehingga proses penguraian berlangsung lebih cepat dan efektif,” ujar Esa Surya Praja, AMdKL.

Ia menambahkan metode biokonversi menggunakan maggot BSF memiliki sejumlah keunggulan disbanding pengolahan sampah organik secara konvensional, seperti pembuatan kompos. Selain membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat, larva BSF juga membutuhkan asupan makanan setiap hari sehingga keberadaannya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengelola limbah organik yang dihasilkan secara rutin.

“Budidaya maggot BSF menjadi alternatif yang sangat baik karena prosesnya lebih cepat dibandingkan pengomposan. Setiap hari maggot membutuhkan makanan dari sampah organik, sehingga limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran dapat dimanfaatkan kembali dan dikelola dengan lebih efektif,” jelasnya.

Melalui program ini, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berupaya mengurangi volume limbah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan rumah sakit yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi sederhana berbasis alam ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam menerapkan prinsip kesehatan lingkungan yang sejalan dengan transformasi layanan kesehatan nasional.

Esa Surya Praja berharap inovasi pengolahan limbah organik melalui biokonversi BSF dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah yang efektif di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan. Pengelolaan limbah yang baik bukan hanya mendukung kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan rumah sakit yang peduli terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian alam.

“Melalui pengelolaan limbah organik yang tepat, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan secara lebih luas. Ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tukas Esa Surya Praja, AMdKL. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Kompetensi Perawat dalam Penatalaksanaan Kemoterapi

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya pada layanan kanker. Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menjadi pengampu layanan kanker di wilayah Sumatera, RSUP Dr. M. Djamil secara konsisten menghadirkan berbagai program pengembangan kapasitas tenaga kesehatan guna memastikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Pada Selasa (9/6), RSUP Dr. M. Djamil menggelar Pelatihan Penatalaksanaan Pasien Kanker dengan Kemoterapi bagi Perawat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dilaksanakan secara virtual. Kegiatan ini diikuti oleh perawat dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan sebagai bagian dari upaya memperkuat kompetensi tenaga keperawatan dalam menangani pasien kanker yang menjalani kemoterapi.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, saat membuka kegiatan menegaskan pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, khususnya perawat, yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien kanker. “Pelatihan ini merupakan salah satu upaya nyata dalam meningkatkan kompetensi tenaga keperawatan dalam pelayanan kanker yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” ujar dr. Maliana, M.Kes.

Ia menjelaskan pelatihan tersebut sejalan dengan arah transformasi sistem kesehatan nasional yang tengah dijalankan pemerintah, sekaligus mendukung Program Pengampuan Layanan Kanker Kementerian Kesehatan. “Melalui program tersebut, pemerintah berupaya memperkuat jejaring layanan kanker di seluruh Indonesia sehingga masyarakat dapat memperoleh akses pelayanan yang berkualitas, merata, dan lebih dekat dengan tempat tinggal mereka,” ucapnya.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia kesehatan yang kompeten. “Dalam hal ini, perawat memiliki peran yang sangat vital karena menjadi garda terdepan yang mendampingi pasien selama proses pengobatan, termasuk saat menjalani kemoterapi,” tutur dr. Maliana, M.Kes.

dr. Maliana berharap pelatihan ini mampu menjadi wadah peningkatan kapasitas sekaligus memperkuat kolaborasi antar fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kanker yang lebih baik. Dengan adanya pertukaran pengalaman dan pengetahuan selama pelatihan, diharapkan peserta dapat membawa manfaat yang berkelanjutan bagi institusi masing-masing.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap tidak hanya terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam penatalaksanaan kemoterapi, tetapi juga terbangun transfer pengetahuan serta penguatan jejaring antar fasilitas pelayanan kesehatan. Ilmu yang diperoleh hendaknya dapat diterapkan dan disebarluaskan di institusi masing-masing sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi peningkatan mutu pelayanan kanker di Indonesia,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Lantik Pejabat Fungsional untuk Perkuat SDM Kesehatan

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil kembali menggelar pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat fungsional pada Selasa (9/6).

Pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam meningkatkan profesionalisme, kompetensi, dan kinerja aparatur kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sejumlah pejabat fungsional yang dilantik berasal dari unsur dokter pendidik klinis dan tenaga keperawatan.

Pejabat yang dilantik yakni dr. Ade Ricky Harahap, Sp.BS sebagai Dokter Pendidik Klinis Ahli Muda, dr. Aulia Rahman, Sp.BTKV, Subsp.JD (K) sebagai Dokter Pendidik Klinis Ahli Muda, Ns. Bagus Christiawan Jodhi, S.Kep sebagai Perawat Ahli Pertama, Ns. Rio Laksmana, S.Kep sebagai Perawat Ahli Pertama, Ns. Sri Putri Kurnia, S.Kep sebagai Perawat Ahli Muda, Ns. Twozenneva Destrizarty, S.Kep sebagai Perawat Ahli Pertama, serta Ns. Wendo Davris, S.Kep sebagai Perawat Ahli Pertama.

Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Dalam kegiatan tersebut, ia didampingi Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), serta Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes.

Usai melantik dan mengambil sumpah jabatan para pejabat fungsional, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan kepada seluruh pejabat yang baru dilantik agar mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan penuh integritas.

“Selamat kepada seluruh pejabat fungsional yang hari ini dilantik dan diambil sumpah jabatannya. Jabatan yang diemban saat ini merupakan sebuah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab, serta dedikasi untuk kemajuan organisasi dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Dovy Djanas.

Menurutnya, keberhasilan sebuah institusi pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya. “Karena itu, para pejabat yang dilantik diharapkan mampu menjadi teladan dalam menjalankan tugas profesi sekaligus memberikan pelayanan yang humanis kepada pasien,” ucapnya.

Dovy juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari. Sikap baik kepada sesama merupakan modal penting dalam membangun lingkungan kerja yang harmonis dan pelayanan yang berkualitas.

“Berbuat baiklah kepada setiap orang. Dalam menjalankan tugas, kita tidak hanya dituntut untuk profesional, tetapi juga memiliki kepedulian, empati, dan keikhlasan dalam melayani. Mudah-mudahan setiap langkah yang kita lakukan diberikan kemudahan oleh Allah SWT dan senantiasa mendapatkan keberkahan,” katanya.

Pelantikan pejabat fungsional ini sekaligus menjadi momentum bagi RSUP Dr. M. Djamil untuk terus memperkuat kapasitas organisasi dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Dengan dukungan tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional, rumah sakit diharapkan mampu memberikan pelayanan yang semakin optimal, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.(*)

RSUP Dr M Djamil Sosialisasikan Aplikasi Surveilans untuk Tingkatkan Keselamatan Pasien

Komitmen RSUP Dr. M. Djamil dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, dan berbasis teknologi terus diwujudkan melalui berbagai inovasi. Pada Senin (8/6), rumah sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Program Resistensi Antimikroba (PRA), dan Farmasi Terapi (FT) menyelenggarakan sosialisasi aplikasi surveilans yang akan digunakan untuk mendukung sistem pemantauan, pelaporan, serta pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung transformasi digital di RSUP Dr. M. Djamil. Kehadiran aplikasi surveilans diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengumpulan data, mempercepat proses pelaporan, serta menghasilkan informasi yang lebih akurat dan real time guna mendukung pengambilan keputusan dalam peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menyambut baik hadirnya aplikasi surveilans tersebut. Inovasi ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk terus memanfaatkan perkembangan teknologi dalam mendukung pelayanan kesehatan yang semakin efektif dan efisien.

“Transformasi digital merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam pelayanan kesehatan modern. Melalui aplikasi surveilans ini, kita dapat memperoleh data yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih mudah dianalisis. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar yang kuat dalam menentukan berbagai kebijakan dan langkah perbaikan mutu pelayanan di rumah sakit,” ujarnya.

Ia menambahkan sebagai rumah sakit rujukan nasional di wilayah Sumatera Barat, RSUP Dr. M. Djamil memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan seluruh proses pelayanan berjalan sesuai standar mutu dan keselamatan pasien. “Harapan kami, aplikasi ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh unit kerja. Dengan sistem yang terintegrasi dan real time, berbagai potensi risiko dapat terdeteksi lebih awal sehingga tindakan pencegahan maupun perbaikan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat,” kata Dr. Dovy.

Hal senada disampaikan Direktur Medik dan Keperawatan, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL. Ia menilai digitalisasi sistem surveilans menjadi langkah penting dalam memperkuat budaya keselamatan pasien dan pelayanan berbasis data.

“Kecepatan memperoleh informasi menjadi salah satu faktor penting dalam pelayanan kesehatan. Dengan adanya aplikasi surveilans ini, proses monitoring dan evaluasi dapat dilakukan secara lebih efektif karena data tersedia secara terintegrasi dan dapat diakses dalam waktu yang lebih singkat. Hal ini tentu akan membantu tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mendukung keselamatan pasien,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan implementasi aplikasi tersebut memerlukan dukungan dan komitmen seluruh pihak yang terlibat. “Oleh sebab itu, proses sosialisasi dan pendampingan menjadi bagian penting agar pengguna dapat memahami mekanisme penggunaan aplikasi secara optimal,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Komite PPI, PRA, dan FT, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, menjelaskan pengembangan aplikasi surveilans dilatarbelakangi oleh kebutuhan rumah sakit terhadap sistem pemantauan yang lebih cepat, terintegrasi, dan mampu menyajikan data secara real time.

“Selama ini proses pengumpulan data surveilans masih dilakukan melalui beberapa tahapan yang memerlukan waktu. Dengan aplikasi ini, data dapat dihimpun dan dianalisis secara lebih cepat sehingga memudahkan proses pemantauan serta tindak lanjut terhadap berbagai temuan yang muncul di lapangan,” jelasnya.

Menurut Dr. Andani, aplikasi surveilans tersebut dirancang untuk bekerja secara real time selama 24 jam sehingga memungkinkan tim melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap berbagai indikator yang telah ditetapkan. “Keunggulan utama aplikasi ini adalah kemampuannya menyajikan data secara langsung dan berkesinambungan. Dengan demikian, berbagai potensi permasalahan dapat teridentifikasi lebih dini sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam dua minggu ke depan aplikasi tersebut akan memasuki tahap uji coba sebagai bagian dari proses penyempurnaan sebelum diterapkan secara penuh di seluruh unit pelayanan. “Pada tahap awal ini kami akan melakukan uji coba selama dua minggu. Seluruh masukan dari pengguna akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan sistem. Setelah proses uji coba selesai, kami menargetkan aplikasi ini dapat terimplementasi dengan baik dan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung sistem surveilans di RSUP Dr. M. Djamil,” tukas Dr. Andani.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Edukasi Ibu Hamil tentang Pencegahan Stunting Sejak Dalam Kandungan

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif. Pada Senin (8/6), rumah sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Departemen Ibu dan Anak menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga di Poliklinik Kandungan Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan yang berlangsung di ruang tunggu poliklinik tersebut mengangkat tema “Cegah Stunting sejak Dalam Kandungan: Nutrisi Tepat untuk Melahirkan Generasi Hebat”. Edukasi disampaikan oleh peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi, dr. Wendy, yang memberikan pemahaman tentang pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan.

Dalam pemaparannya, dr. Wendy menjelaskan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini tidak hanya ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dibanding teman seusianya, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak, daya tahan tubuh, serta kemampuan belajar anak di masa depan.

“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan otak, lebih mudah sakit, dan memiliki kemampuan belajar yang tidak optimal. Saat ini, sekitar satu dari lima anak di Indonesia masih mengalami stunting, sehingga pencegahannya harus menjadi perhatian bersama,” jelas dr. Wendy.

Ia menegaskan upaya pencegahan stunting harus dimulai sejak kehamilan, bahkan sejak awal pembentukan janin. Organ-organ vital tubuh mulai terbentuk sejak bulan pertama kehamilan dan sekitar 80 persen pertumbuhan otak anak terjadi sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Pencegahan stunting harus dimulai sejak ibu hamil. Apa yang dikonsumsi ibu akan menjadi sumber nutrisi bagi janin. Ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, kondisi tubuh yang lemah, dan lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan,” ujarnya.

dr. Wendy menyampaikan masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan masa depan anak. Masa tersebut dimulai sejak terjadinya kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan merupakan waktu yang tidak dapat diulang kembali.

“Seribu hari pertama kehidupan adalah masa emas yang menjadi fondasi kesehatan dan kecerdasan anak. Jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi pada periode ini, dampaknya bisa berlangsung hingga dewasa. Karena itu, mencegah sejak dini jauh lebih mudah dibanding memperbaiki kondisi setelah bayi lahir,” katanya.

Menurutnya, salah satu kunci utama pencegahan stunting adalah pemenuhan nutrisi ibu hamil yang optimal serta pemberian Air Susu Ibu (ASI) setelah bayi lahir. Ia juga mengingatkan para ibu untuk mengenali tanda-tanda kekurangan gizi selama kehamilan. Seperti kenaikan berat badan yang tidak sesuai anjuran tenaga kesehatan, tubuh yang sering terasa lemas, letih dan lesu, wajah, bibir serta telapak tangan yang tampak pucat, hingga sering mengalami pusing atau berkunang-kunang.

“Selain itu, ibu hamil juga perlu memperhatikan ukuran lingkar lengan atas. Jika ukurannya kurang dari 23,5 sentimeter, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi salah satu indikator risiko kekurangan energi kronis,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Wendy juga menjelaskan berbagai zat gizi yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Nutrisi penting tersebut meliputi protein hewani, zat besi, asam folat, yodium, dan kalsium. Selain itu, vitamin B, C, dan D juga diperlukan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh ibu selama menjalani kehamilan.

Ia menyarankan agar ibu hamil mengonsumsi berbagai sumber makanan bergizi seperti ikan, telur, daging, ayam, tempe, tahu, serta susu. Konsumsi protein hewani setiap hari dinilai memberikan hasil yang lebih optimal dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.

“Protein hewani memiliki kandungan asam amino yang lengkap dan sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan organ dan jaringan tubuh janin. Karena itu, usahakan untuk mengonsumsi sumber protein hewani setiap hari sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Selain memperhatikan pola makan, dr. Wendy juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin selama kehamilan. Tablet tambah darah membantu mencegah anemia sekaligus mendukung pertumbuhan janin secara optimal.

“Minumlah satu tablet tambah darah setiap hari. Waktu yang paling baik adalah pada malam hari sebelum tidur. Kebiasaan sederhana ini sangat membantu mencegah anemia dan mengoptimalkan pertumbuhan janin selama masa kehamilan,” katanya.

Pada sesi edukasi tersebut, peserta juga diberikan pemahaman tentang konsep ‘Isi Piringku’ bagi ibu hamil sebagai panduan mengatur pola makan seimbang. Selain memenuhi kebutuhan nutrisi harian, ibu hamil juga diimbau untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan, dengan setidaknya dua kali pemeriksaan dilakukan oleh dokter.

“Pemeriksaan kehamilan secara berkala sangat penting untuk memantau kenaikan berat badan ibu, memastikan pertumbuhan janin berlangsung baik, serta mendeteksi ukuran dan denyut jantung janin secara akurat,” ucapnya.

dr. Wendy membagikan sejumlah langkah praktis yang dapat dilakukan ibu hamil agar bayi tumbuh optimal, antara lain mengonsumsi makanan bergizi seimbang, disiplin menjalani pemeriksaan kehamilan, rutin minum tablet tambah darah, mencukupi waktu istirahat, menjaga kondisi psikologis tetap bahagia, serta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan.

“Nutrisi ibu yang baik dan cukup akan membantu menjaga kesehatan kehamilan. Dengan kehamilan yang sehat, peluang melahirkan bayi yang sehat, cerdas, dan kuat akan semakin besar. Bersama-sama kita dapat mencegah stunting dan mewujudkan generasi masa depan yang lebih berkualitas,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Kesadaran Deteksi Dini pada World Brain Tumor Day 2026

RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif. Pada Senin (8/6), rumah sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Departemen Neurologi memperingati World Brain Tumor Day 2026 di Poliklinik Neurologi RSUP Dr. M. Djamil.

Peringatan Hari Tumor Otak Sedunia ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengenali gejala tumor otak sejak dini serta mendorong pemerataan akses terhadap diagnosis dan penanganan yang tepat. Kegiatan edukasi ini diikuti oleh pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit yang antusias mendapatkan informasi langsung dari tenaga medis spesialis.

Dalam kesempatan tersebut, dokter spesialis neurologi RSUP Dr. M. Djamil, dr. Dhiang Mulia Syofiadi, Sp.N, hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Memahami Tumor Otak”. Melalui pemaparannya, Ia menjelaskan berbagai aspek penting terkait tumor otak, mulai dari pengertian, faktor risiko, gejala yang perlu diwaspadai, hingga pilihan terapi yang tersedia saat ini.

Menurut dr. Dhiang, tumor otak merupakan pertumbuhan sel abnormal di dalam otak yang dapat mengganggu sistem saraf dan berbagai fungsi tubuh. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, meskipun secara statistik lebih sering ditemukan pada usia dewasa hingga lanjut usia.

“Tumor otak adalah pertumbuhan sel yang tidak normal di dalam otak. Keberadaannya dapat menekan jaringan otak di sekitarnya sehingga mengganggu fungsi saraf, kemampuan bergerak, berbicara, melihat, hingga fungsi tubuh lainnya,” jelas dr. Dhiang.

Ia menegaskan masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua tumor otak bersifat kanker. Tumor otak dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor jinak umumnya tumbuh lebih lambat dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain, sedangkan tumor ganas memiliki pertumbuhan yang lebih agresif dan berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih luas.

Berdasar asalnya, tumor otak terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu tumor primer yang berasal dari jaringan otak itu sendiri dan tumor metastasis yang berasal dari penyebaran kanker dari organ lain ke otak.

“Tidak semua tumor otak adalah kanker. Ada yang bersifat jinak dan ada yang ganas. Namun keduanya tetap memerlukan perhatian medis karena sama-sama dapat menimbulkan gangguan akibat tekanan pada jaringan otak,” ujarnya.

Terkait faktor risiko, dr. Dhiang menyebutkan hingga saat ini terdapat beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami tumor otak. “Di antaranya paparan radiasi, riwayat kanker, faktor genetik atau keturunan, serta sejumlah faktor lain yang belum diketahui secara pasti,” ucapnya.

Pada sesi edukasi tersebut, dr. Dhiang juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan berbagai sinyal yang diberikan tubuh. Gejala tumor otak sering kali muncul secara bertahap dan kerap dianggap sebagai keluhan biasa sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala yang terus-menerus atau semakin memberat, kejang yang muncul secara tiba-tiba, gangguan atau penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran. Kemudian perubahan perilaku yang tidak biasa, gangguan koordinasi tubuh, mual dan muntah tanpa sebab yang jelas, hingga kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh.

“Yang perlu menjadi perhatian khusus adalah munculnya kejang secara tiba-tiba, terutama pada seseorang yang sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat kejang. Kondisi seperti ini harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan untuk mencari penyebabnya,” katanya.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan pencitraan seperti MRI atau CT Scan digunakan untuk memetakan kondisi otak dan mengetahui lokasi serta ukuran tumor. Selain itu, pemeriksaan darah maupun PET Scan dapat dilakukan untuk memperoleh informasi sistemik yang lebih lengkap. Sementara itu, biopsi jaringan tetap menjadi metode utama untuk memastikan jenis tumor secara pasti.

“Pemeriksaan MRI atau CT Scan sangat membantu dalam melihat gambaran struktur otak. Namun untuk menentukan jenis tumor secara definitif, diperlukan pemeriksaan jaringan melalui biopsi,” terang dr. Dhiang.

Perkembangan ilmu kedokteran telah menghadirkan berbagai pilihan terapi bagi pasien tumor otak. “Penanganan dapat berupa tindakan bedah atau operasi, kemoterapi, radioterapi, maupun terapi target yang disesuaikan dengan jenis dan kondisi tumor yang dialami pasien,” ucapnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi tubuh dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan gejala yang tidak biasa. “Jangan pernah mengabaikan sinyal-sinyal kecil dari tubuh Anda. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pemeriksaan sesegera mungkin adalah kunci keselamatan. Semakin cepat tumor ditemukan, semakin tinggi tingkat keberhasilan terapi yang dapat dicapai,” pungkasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Teken Kerja Sama ASEAN Centre of Excellence dan Fellowship Anestesiologi Intensif

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat kolaborasi strategis dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, pendidikan, serta pengembangan kompetensi tenaga medis. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan The ASEAN Center of Excellence (COE) Program and Symposium on Minimally Invasive Colorectal Surgery pada Sabtu (6/6).

Rumah sakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menjalin kolaborasi bersama Johnson & Johnson MedTech Indonesia serta Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia. Kerja sama tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat pengembangan layanan bedah minimal invasif sekaligus peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan melalui program pendidikan dan pelatihan berstandar internasional.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Director Johnson & Johnson MedTech Indonesia, Marcel Aditiawarman. Kesepakatan ini berfokus pada pengembangan Pusat Keunggulan (Center of Excellence) serta penyelenggaraan Symposium and Workshop Minimally Invasive Colorectal Surgery yang diharapkan menjadi wadah peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam bidang bedah kolorektal minimal invasif.

Dalam kesempatan yang sama, RSUP Dr. M. Djamil juga menandatangani kerja sama dengan Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia yang diwakili oleh dr. Yendi, Sp.An-TI, MH.Kes, M.Kes. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan program Fellowship Anestesiologi dan Terapi Intensif sebagai upaya mencetak tenaga medis yang memiliki kompetensi unggul dalam bidang anestesiologi dan perawatan intensif.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan yang terus dilakukan rumah sakit untuk menghadirkan pelayanan yang lebih berkualitas, aman, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

“Kolaborasi merupakan kunci dalam mempercepat peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Melalui kerja sama dengan Johnson & Johnson MedTech Indonesia dan Kolegium Anestesiologi serta Terapi Intensif Indonesia, kami ingin menghadirkan ekosistem pembelajaran yang kuat, mendorong transfer ilmu pengetahuan, serta memperluas akses tenaga kesehatan terhadap teknologi dan praktik terbaik yang berkembang di tingkat internasional,” ujar Dovy usai kegiatan.

Menurutnya, pengembangan ASEAN Centre of Excellence menjadi peluang besar bagi RSUP Dr. M. Djamil untuk semakin memperkuat perannya sebagai rumah sakit rujukan nasional yang tidak hanya berfokus pada pelayanan, tetapi juga pendidikan dan penelitian.

“Kami berharap program ini dapat menjadi pusat pengembangan kompetensi yang memberikan manfaat luas, tidak hanya bagi tenaga kesehatan di Sumatera Barat, tetapi juga bagi peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan kawasan ASEAN. Pada akhirnya, seluruh upaya ini bermuara pada peningkatan keselamatan pasien dan kualitas layanan kesehatan yang diterima masyarakat,” katanya.

Dovy menambahkan perkembangan teknologi kedokteran saat ini menuntut tenaga kesehatan untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensinya. “Karena itu, kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, institusi pendidikan, dan industri kesehatan menjadi sangat penting dalam menciptakan inovasi yang berdampak langsung terhadap pelayanan pasien,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Percepat Transformasi Bedah Minimal Invasif Melalui Simposium Internasional Kolorektal

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan layanan kesehatan, pendidikan kedokteran, serta inovasi teknologi bedah melalui penyelenggaraan The ASEAN Center of Excellence (COE) Program and Symposium on Minimally Invasive Colorectal Surgery yang digelar di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, pada Sabtu (6/6).

Kegiatan ilmiah internasional yang disponsori oleh Kementerian Kesehatan RI, Kolegium Bedah Indonesia, dan Johnson & Johnson MedTech Indonesia ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit Kementerian Kesehatan tersebut dalam memperkuat jejaring kolaborasi dengan para ahli bedah kolorektal terkemuka di kawasan Asia Pasifik sekaligus mempercepat transformasi layanan bedah minimal invasif di Indonesia.

Simposium menghadirkan narasumber utama President of Asia Pacific Federation of Coloproctology, Dato’ Luqman Mazlan, MD, yang membagikan berbagai perkembangan terkini dalam bidang bedah kolorektal modern. Dalam paparannya, Dato’ Luqman membahas dua topik penting, yakni Robotic Colorectal SurgerydanEnhanced Recovery After Surgery in Colorectal Surgery, yang saat ini menjadi standar praktik bedah modern di berbagai pusat layanan kesehatan dunia.

Selain sesi ilmiah, kegiatan ini juga memberikan pengalaman pembelajaran yang komprehensif melalui pelaksanaan live surgery berupa tindakan laparoscopic low anterior resection (MIS LAR). Operasi tersebut dilakukan langsung oleh Dato’ Luqman Mazlan, MD bersama Kepala Departemen Bedah Digestif RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. M. Iqbal Rivai, Sp.B, Subsp.BD(K), dan disaksikan oleh peserta dari berbagai institusi pendidikan serta fasilitas pelayanan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis tentang perkembangan teknologi bedah minimal invasif, tetapi juga dapat mengamati secara langsung penerapan teknik operasi modern yang mengutamakan presisi, keamanan pasien, serta percepatan pemulihan pascaoperasi.

Selain Dato’ Luqman Mazlan, MD, juga menghadirkan narasumber dr. Rini Suswita, Sp.B (K)BD memaparkan New Guideline Updates for Rectal Anastomisis dan dr. Irwan, Sp.B, Subsp.BD(K) memaparkan New Guideline Updates for Metastatectomy in Colorectal Surgery.

Kepala Departemen Bedah Digestif RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. M. Iqbal Rivai, Sp.B, Subsp.BD(K), mengatakan penyelenggaraan simposium dan program ASEAN Center of Excellence merupakan bagian dari langkah strategis rumah sakit dalam membangun pusat unggulan bedah minimal invasif yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Transformasi spesifik layanan endo-laparoskopi RSUP Dr. M. Djamil kami arahkan menjadi Indonesian Center for Minimally Invasive Surgery (ICMIS). Tujuannya adalah menjadikan rumah sakit ini sebagai pusat pendidikan nasional yang menjadi tempat belajar bagi residen bedah, peserta pelatihan, hingga fellowship dari seluruh Indonesia melalui kolaborasi dengan Kolegium Bedah dan kurikulum yang terstandardisasi,” ujar Dr. dr. Iqbal.

Menurutnya, pengembangan ICMIS tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan kepada pasien, tetapi juga pada penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang bedah minimal invasif. RSUP Dr. M. Djamil memiliki visi yang lebih luas untuk menjadi pusat rujukan dan pusat pembelajaran yang diakui secara regional maupun global.

“Kami menargetkan ICMIS dapat berkembang menjadi benchmark centre untuk minimal invasive surgery, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga kawasan Asia Tenggara, Asia Pasifik, hingga tingkat dunia. Karena itu, kolaborasi dengan para ahli internasional seperti yang dilakukan hari ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi tersebut,” katanya.

Penyelenggaraan ASEAN Center of Excellence Program and Symposium on Minimally Invasive Colorectal Surgery menjadi bukti nyata komitmen RSUP Dr. M. Djamil dalam menghadirkan layanan kesehatan berbasis teknologi mutakhir sekaligus memperkuat peran rumah sakit sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu kedokteran. Melalui sinergi dengan institusi dan pakar internasional, RSUP Dr. M. Djamil terus bergerak menuju standar pelayanan kesehatan kelas dunia demi memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45