Dirut RSUP Dr. M. Djamil Bertemu Wamenkes, Perkuat Riset Molekuler IGRA TBC

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat pengembangan riset kesehatan berbasis teknologi molekuler melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat. Pada Rabu (15/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Ketua Komite PPI PRA Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) di Kementerian Kesehatan RI.

Pertemuan tersebut membahas pengembangan riset translasional berbasis molekuler di RSUP Dr. M. Djamil, dengan fokus utama pada penguatan penelitian Interferon Gamma Release Assay (IGRA). Penguatan metode diagnostik ini menjadi bagian dari upaya mendukung program pemerintah dalam percepatan eliminasi TBC di Indonesia melalui deteksi dini yang lebih akurat, cepat, dan berbasis teknologi mutakhir.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara rumah sakit dan pemerintah pusat dalam mengembangkan riset berbasis teknologi molekuler. “Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan pengembangan riset dengan program nasional pemberantasan TBC, sehingga inovasi yang dihasilkan benar-benar mendukung target eliminasi TBC,” ujarnya.

Ia menegaskan pengembangan riset IGRA merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan menuju sistem yang lebih presisi dan berbasis bukti ilmiah. “Kami mendukung penuh agenda pemerintah dalam eliminasi TBC. IGRA menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat deteksi kasus, terutama infeksi laten yang sering tidak terdiagnosis,” kata Dovy.

Menurutnya, RSUP Dr. M. Djamil memiliki komitmen kuat untuk terus mendorong inovasi di bidang diagnostik, khususnya dalam deteksi penyakit infeksi seperti TBC. “Pendekatan berbasis molekuler akan memberikan lompatan besar dalam meningkatkan akurasi diagnosis serta efektivitas penanganan pasien,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan pengembangan riset IGRA tidak hanya berfokus pada aspek pelayanan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas penelitian tenaga medis dan peneliti di lingkungan rumah sakit. “Kami ingin memastikan rumah sakit berperan aktif sebagai pusat riset yang mendukung kebijakan nasional, khususnya dalam pengendalian penyakit menular,” ujarnya.

Dovy menilai dukungan dari Kementerian Kesehatan menjadi faktor penting dalam percepatan implementasi riset translasional ini. “Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat adopsi hasil riset ke dalam layanan kesehatan, sekaligus memperkuat strategi nasional eliminasi TBC,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan hasil riset secara langsung dalam praktik klinis. “Riset translasional harus mampu menjembatani laboratorium dengan layanan pasien, sehingga setiap temuan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Tes IGRA sendiri merupakan metode pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi TBC dengan mengukur respons sistem imun terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis. Berbeda dengan tes tuberkulin konvensional, IGRA memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya tingkat spesifisitas yang lebih tinggi serta tidak terpengaruh oleh vaksinasi BCG, sehingga hasilnya lebih akurat dalam mendeteksi infeksi laten TBC.

Selain itu, tes IGRA juga hanya memerlukan satu kali kunjungan pasien karena hasil dapat diperoleh dari sampel darah tanpa perlu pemeriksaan lanjutan seperti pada metode lama. Hal ini menjadikan IGRA sebagai salah satu inovasi penting dalam diagnosis dini TBC, terutama dalam mendukung program eliminasi TBC di Indonesia.

Melalui pertemuan ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat menjadi salah satu pusat unggulan dalam pengembangan riset molekuler di bidang penyakit infeksi, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat pencapaian target program nasional pemberantasan dan eliminasi TBC di Indonesia.(*)

DWP RSUP Dr. M. Djamil Gelar Pertemuan Bulanan Bertema Self Healing

Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUP Dr. M. Djamil  menggelar pertemuan bulanan yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Rabu (15/4). Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kualitas diri para anggota setelah menjalani bulan suci Ramadan.

Pertemuan bulanan kali ini menghadirkan motivator Paljariati Yusral yang memberikan materi bertajuk “Self Healing untuk Hati yang Tenang dan Jiwa Kembali Fitrah di Bulan Syawal Penuh Makna dengan Hipnoterapi”. Para peserta tampak mengikuti setiap sesi dengan serius, terutama saat sesi praktik relaksasi yang dipandu langsung oleh narasumber.

Ketua DWP RSUP Dr. M. Djamil, Ny. Winanda Dovy, dalam sambutannya menyampaikan pertemuan bulanan ini merupakan agenda rutin yang tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga sarana pengembangan diri bagi para anggota. “Kami ingin setiap pertemuan bulanan tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga memberikan nilai tambah yang bisa dirasakan langsung oleh seluruh anggota,” ujarnya. Turut hadir pengurus dan anggota DWP RSUP Dr. M. Djamil.

Ia menambahkan pemilihan tema self healing pada bulan Syawal memiliki makna yang mendalam, karena menjadi momentum untuk kembali memperbaiki diri setelah Ramadan. “Bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk menata kembali hati dan pikiran. Melalui kegiatan ini, kami berharap para anggota بتوان menemukan ketenangan batin dan memperkuat kesiapan diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” kata Ny. Winanda Dovy.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari keseimbangan hidup, terutama bagi perempuan yang memiliki banyak peran. “Perempuan, khususnya anggota Dharma Wanita, memiliki tanggung jawab besar baik di keluarga maupun di lingkungan sosial. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting agar kita tetap kuat, positif, dan mampu memberikan energi baik kepada orang-orang di sekitar kita,” tuturnya.

Ny. Winanda Dovy juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dengan menghadirkan berbagai tema yang relevan dan narasumber inspiratif. “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program yang bermanfaat dan menyentuh kebutuhan anggota, sehingga DWP dapat menjadi wadah yang tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup para anggotanya,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Paljariati mengajak seluruh peserta untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional, terutama setelah menjalani ibadah Ramadan yang sarat dengan refleksi diri. “Melalui teknik hipnoterapi, seseorang dapat lebih mudah mengelola stres, melepaskan beban pikiran, serta menata kembali hati agar tetap tenang dan selaras dengan nilai-nilai kebaikan,” ucap Paljariati. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Edukasi Bersahabat dengan Masa Kemoterapi

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang holistik, tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental pasien. Pada Rabu (15/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Bersahabat dengan Masa Kemoterapi” yang dilaksanakan di Ruang Kemoterapi.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari bidang psikiatri, yakni Dr. dr. Yaslinda Yaunin, Sp.KJ, yang memberikan pemahaman kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kesiapan mental dalam menjalani proses pengobatan, khususnya kemoterapi. Dalam pemaparannya, ia menekankan pada dasarnya setiap penyakit memiliki peluang untuk diobati, kecuali kondisi yang berkaitan dengan proses penuaan seperti pikun. Oleh karena itu, pasien diharapkan tetap memiliki harapan dan semangat dalam menjalani terapi.

“Setiap penyakit itu ada obatnya, kecuali penyakit karena proses penuaan seperti pikun. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga semangat dan tidak kehilangan harapan dalam menjalani pengobatan,” ujar Dr. dr. Yaslinda.

Ia menjelaskan setiap individu yang menghadapi peristiwa buruk, termasuk diagnosis penyakit serius, umumnya akan melalui beberapa tahapan reaksi mental. Tahapan tersebut meliputi fase menyangkal (denial), fase marah (anger), fase tawar-menawar (bargaining), fase depresi (depression), hingga akhirnya mencapai fase menerima (acceptance). Proses ini merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari perjalanan emosional seseorang dalam beradaptasi dengan kondisi yang dihadapi.

“Reaksi seperti kaget, marah, hingga merasa putus asa adalah hal yang normal. Namun yang penting adalah bagaimana kita bisa sampai pada tahap menerima dan mulai beradaptasi dengan kondisi tersebut,” jelasnya.

Dalam upaya bangkit dari situasi tersebut, sebutnya, pasien dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tenaga ahli dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau bujukan dari pihak yang tidak memiliki kompetensi di bidang kesehatan. Dukungan dari orang-orang terdekat juga menjadi faktor penting, sehingga pasien disarankan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang yang dipercaya. Namun demikian, jika seseorang merasa perlu waktu untuk menyendiri, hal tersebut juga diperbolehkan selama dapat membantu proses pemulihan emosional.

“Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Konsultasikan penyakit kepada tenaga medis yang berkompeten, dan perkuat dukungan dari keluarga maupun orang terdekat,” tambah Dr. dr. Yaslinda.

Selain itu, penting bagi individu untuk tidak memendam perasaan duka secara berlarut-larut. Mengungkapkan perasaan melalui cerita atau curhat kepada orang terdekat dapat menjadi langkah awal yang baik dalam mengurangi beban psikologis. Pengelolaan stres juga perlu dilakukan dengan cara yang positif. Seperti melakukan aktivitas yang disenangi, menjaga pola makan dengan gizi seimbang, serta memastikan waktu istirahat yang cukup.

“Tipe bangkit dari kondisi sulit adalah dengan mengelola stres secara sehat, melakukan aktivitas yang disukai, makan dengan gizi seimbang, serta istirahat yang cukup. Hindari menyalahkan diri sendiri atau melakukan hal yang bisa membahayakan diri maupun orang lain,” tuturnya.

Ia menegaskan melalui kegiatan ini, berharap edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang pentingnya kesehatan mental selama menjalani kemoterapi, sehingga proses pengobatan dapat dijalani dengan lebih optimal. ”Kegiatan edukasi ini juga menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam menciptakan layanan yang lebih humanis dan berpusat pada pasien. Dengan menghadirkan pendekatan yang tidak hanya medis tetapi juga psikologis, RSUP Dr. M. Djamil terus berupaya mendukung proses penyembuhan pasien secara menyeluruh, baik dari sisi fisik maupun mental, sehingga kualitas hidup pasien dapat tetap terjaga selama masa pengobatan,” tukas Dr. dr. Yaslinda. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Bangun Sinergi Strategis dalam Paguyuban Pimpinan Instansi Vertikal Sumbar

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor di Sumatera Barat. Hal ini tercermin dari kehadiran Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dalam pertemuan Paguyuban Pimpinan Instansi Vertikal Sumbar yang digelar di Kafe Padangsche Spaarbank kawasan Pondok, Kota Padang pada hari ini, Selasa (14/4).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana santai tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempererat hubungan antar pimpinan instansi vertikal di Sumatera Barat. Suasana hangat dan penuh keakraban terasa sejak awal kegiatan, di mana para peserta tidak hanya berdiskusi tentang isu-isu strategis, tetapi juga menikmati jamuan makan siang bersama.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan kehadiran RSUP Dr. M. Djamil dalam forum paguyuban ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat di Sumatera Barat.

 “RSUP Dr. M. Djamil siap berkolaborasi dengan seluruh instansi vertikal untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat. Kami juga berkomitmen untuk turut berperan aktif dalam upaya pemulihan pascabencana, baik dari sisi pelayanan medis maupun dukungan kesehatan masyarakat,” ujar Dovy.

Ia menambahkan forum seperti ini penting untuk menyamakan persepsi dan memperkuat koordinasi antar lembaga, sehingga setiap program yang dijalankan dapat lebih efektif dan tepat sasaran. “Melalui forum seperti ini, kita bisa duduk bersama, menyatukan langkah, dan memastikan setiap kebijakan maupun program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sinergi yang kuat antar instansi menjadi kunci dalam menghadirkan pelayanan yang lebih optimal dan berkelanjutan,” ujar Dirut.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat, Irjen Pol. Gatot Tri Suryanta, dalam sambutannya mengajak seluruh anggota paguyuban untuk meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya para korban bencana banjir bandang yang terjadi pada November tahun lalu di sejumlah wilayah Sumatera Barat.

“Kita tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga harus memastikan masyarakat bisa bangkit kembali. Salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi, agar mereka dapat kembali mandiri dan memiliki penghidupan yang layak,” ungkapnya.

Menurutnya, sinergi antar instansi vertikal menjadi kunci utama dalam mempercepat pemulihan pascabencana. “Oleh karena itu, saya berharap forum paguyuban ini dapat menjadi wadah untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat segera diimplementasikan di lapangan,” harap Kapolda.

Pertemuan ini pun ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas sektor. Ini demi mewujudkan pelayanan publik yang lebih optimal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat, khususnya bagi mereka yang terdampak bencana. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Sosialisasikan Waspada Benjolan dan Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Kanker

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui kegiatan edukasi dan pengabdian. Pada Senin (13/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut, melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Puskesmas Airtawar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit, khususnya kanker. Dalam kegiatan tersebut, RSUP Dr. M. Djamil menghadirkan narasumber dokter spesialis patologi anatomi, dr. Sri Wildanur J, Sp.PA, yang membawakan materi bertajuk “Waspada Benjolan! Kenali Tubuhmu, Cegah Kanker Sejak Dini”.

Dalam pemaparannya, dr. Sri Wildanur menjelaskan benjolan merupakan massa atau tonjolan abnormal yang muncul pada jaringan tubuh dan dapat dirasakan secara fisik. Benjolan ini sering ditemukan di beberapa area tubuh seperti leher, ketiak, payudara, maupun pada permukaan kulit yang mudah dijangkau.

“Benjolan sering kali dianggap sepele oleh masyarakat, padahal tidak semua benjolan itu aman. Penting untuk mengenali karakteristiknya sejak dini agar dapat dibedakan mana yang jinak dan mana yang berpotensi ganas,” ujar dr. Sri Wildanur.

Ia menekankan benjolan jinak umumnya tumbuh lambat, tidak menimbulkan rasa nyeri, dan cenderung tidak berbahaya. Sebaliknya, benjolan ganas memiliki karakteristik tumbuh lebih cepat, dapat menyebar, serta berpotensi mengancam jiwa apabila tidak ditangani secara dini.

“Ciri-ciri yang perlu diwaspadai antara lain benjolan yang cepat membesar, terasa keras, tidak dapat digerakkan, atau disertai perubahan pada kulit. Jika menemukan tanda-tanda tersebut, segera lakukan pemeriksaan medis,” tambahnya.

Ia menjelaskan secara umum terdapat beberapa jenis benjolan yang perlu diwaspadai, di antaranya benjolan akibat tumor ganas, kista, maupun tumor jinak. Masing-masing memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda sehingga memerlukan pemeriksaan medis untuk memastikan diagnosis.

Adapun faktor penyebab munculnya benjolan cukup beragam, mulai dari paparan zat berbahaya, infeksi dan peradangan, hingga faktor keturunan atau genetik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Selain ciri fisik, dr. Sri juga mengingatkan adanya gejala penyerta yang tidak boleh diabaikan, seperti demam, pembengkakan kelenjar getah bening, perubahan fungsi organ di sekitar benjolan, serta penurunan berat badan secara tiba-tiba. “Deteksi dini adalah kunci. Semakin cepat benjolan yang mencurigakan diperiksa, maka peluang keberhasilan pengobatan akan semakin besar,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga diedukasi tentang pentingnya melakukan pemeriksaan mandiri di rumah secara rutin, terutama pada area tubuh yang rentan. Namun demikian, pemeriksaan medis tetap menjadi langkah utama untuk memastikan kondisi benjolan melalui pemeriksaan lanjutan seperti biopsi atau pencitraan medis.

Sebagai upaya pencegahan, masyarakat dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat, menghindari paparan zat karsinogenik, menjaga kebersihan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengenali tanda-tanda awal penyakit, khususnya yang berkaitan dengan benjolan, sehingga dapat segera melakukan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang tepat. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan diharapkan mampu menekan angka kejadian kanker serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Sumatera Barat,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Kampanyekan Awareness dan Dukungan untuk Pasien Parkinson

RSUP Dr. M. Djamil memperingati World Parkinson’s Day 2026 dengan menggelar kegiatan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat pada Senin (13/4). Rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Kelompok Kerja Gangguan Gerak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil mengangkat tema “Awareness, Early Care, and Everyday Support for Parkinson’s”.

Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit Parkinson, sekaligus mendorong deteksi dini serta dukungan berkelanjutan bagi para pasien. Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Yuliarni Syafitra, Sp.N(K) yang memberikan penjelasan komprehensif tentang penyakit neurodegeneratif tersebut.

“Parkinson merupakan penyakit degenerasi otak yang menyebabkan kematian sel-sel pada bagian otak yang disebut substansia nigra. Bagian ini terletak di batang otak bagian atas dan memiliki peran penting dalam memproduksi dopamin. Penurunan dopamin inilah yang kemudian berdampak langsung pada gangguan gerak pada pasien,” kata Prof. Yuliarni Syafitra di Poliklinik Neurologi.

Ia menjelaskan dopamin merupakan zat kimia di otak yang berfungsi penting dalam mengatur pergerakan tubuh. Ketika kadar dopamin menurun, kemampuan tubuh untuk mengontrol gerakan menjadi terganggu. “Kondisi inilah yang memunculkan berbagai gejala khas pada penyakit Parkinson,” sebutnya.

Terdapat empat pilar utama gejala Parkinson yang perlu dikenali masyarakat. Pertama adalah bradikinesia, yaitu kondisi di mana gerakan menjadi melambat dan amplitudo gerakan menurun. Kedua adalah rigiditas, berupa kekakuan pada sendi yang membuat pergerakan terasa berat. Ketiga adalah tremor, yaitu gerakan bergetar yang biasanya muncul saat anggota tubuh dalam kondisi istirahat. Keempat adalah ketidakstabilan postural, yang menyebabkan gangguan keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh.

Meski demikian, perjalanan penyakit Parkinson pada setiap pasien bersifat unik. Gejala yang muncul dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, baik dari segi jenis, tingkat keparahan, maupun progresivitasnya. Hal ini membuat penanganan penyakit Parkinson memerlukan pendekatan yang bersifat personal dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yuliarni juga menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan segera berkonsultasi ke dokter spesialis neurologi apabila mengalami tanda-tanda yang mengarah pada Parkinson. “Diagnosis yang tepat dan penanganan sejak awal dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien,” tegasnya.

Ia menambahkan gejala Parkinson dapat dikendalikan dengan penggunaan obat anti-Parkinson. “Terapi yang tepat dapat membantu meningkatkan fungsi gerak pasien, sehingga mereka tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Bahkan, banyak pasien yang masih dapat bekerja dan menjalani kehidupan produktif dengan semangat,” ucapnya.

Melalui peringatan World Parkinson’s Day ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya deteksi dini, perawatan yang tepat, serta dukungan dari lingkungan sekitar bagi penderita Parkinson. Dukungan keluarga dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam membantu pasien menjalani kehidupan yang lebih baik.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Jalani Site Visit AIIB, Bappenas, dan Kemenkes untuk Percepatan Proyek TRUST

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran sebagai rumah sakit rujukan nasional sekaligus rumah sakit pendidikan utama di Sumatera Barat. Pada Senin (13/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut menerima kunjungan dari tim Bappenas, Kementerian Kesehatan RI, serta Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dalam rangka persiapan implementasi proyek Teaching Hospital Referral Upgrading and System Transformation (TRUST).

Kunjungan ini merupakan bagian dari site visit untuk melihat secara langsung kesiapan RSUP Dr. M. Djamil dalam pelaksanaan proyek yang saat ini telah masuk tahap blue book di Bappenas dan ditargetkan segera berlanjut ke tahap green book hingga proses loan negotiation. Peninjauan dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai aspek penting, mulai dari kesiapan manajemen, ketersediaan lahan, sumber daya manusia, hingga tata kelola dan infrastruktur rumah sakit.

Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI, dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes, menegaskan proyek ini memiliki dampak strategis bagi penguatan sistem kesehatan nasional. “Melalui proyek ini, kami ingin mendorong RSUP Dr. M. Djamil sebagai Rumah Sakit Penyelenggara Pendidikan Utama (RSPPU) untuk mempercepat produksi dokter spesialis di Indonesia, sekaligus mengembangkan layanan kesehatan yang komprehensif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan pihaknya juga ingin kualitas pelayanan RSUP Dr. M. Djamil semakin meningkat, memperkuat sistem rujukan nasional, serta mendukung pengampuan tata kelola rumah sakit daerah. “Melalui site visit ini, kami berharap dapat memperoleh gambaran nyata terkait kesiapan rumah sakit serta mengidentifikasi sejak awal aspek-aspek yang perlu diperkuat, baik dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, maupun tata kelola,” jelas dr. Ockti.

Turut hadir jajaran direksi dan manajemen, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTEd, Tokoh Masyarakat Prof. Ganefri, Ph.D, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang dr. Srikurnia Yati, tim AIIB, Bappenas, dan Kementerian Kesehatan.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari seluruh pihak. “Kami mengharapkan dukungan aktif dari berbagai pihak, khususnya di RSUP Dr. M. Djamil sebagai lokus proyek, untuk melengkapi data dan memperkuat justifikasi agar seluruh kriteria dapat terpenuhi sebelum memasuki tahap berikutnya,” katanya.

Ia juga mendorong RSUP Dr. M. Djamil untuk meraih akreditasi internasional Accreditation Council for Graduate Medical Education International (ACGME-I). “Akreditasi internasional tersebut menjadi bagian penting dalam proyek ini,” tambahnya.

Senada dengan itu, Direktur Gizi dan Kesehatan Masyarakat Bappenas, Diah Lenggogeni, ST, M.Sc, menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan menilai kesiapan RSUP Dr. M. Djamil dalam usulan pinjaman luar negeri melalui program TRUST. “RSUP Dr. M. Djamil telah ditunjuk sebagai RSPPU dan kami berharap rumah sakit ini dapat menjadi success story dalam pengembangan rumah sakit pendidikan di Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menambahkan dalam skema AIIB, penguatan akan difokuskan pada aspek teknologi. “RSUP Dr. M. Djamil akan fokus pada pengembangan layanan spesialis, salah satunya radiologi, yang akan diperkuat melalui dukungan teknologi dalam skema pendanaan AIIB,” jelasnya.

Sementara itu, Senior Investment Officer sekaligus Project Team Leader AIIB, Deni A. Fauzi, menekankan proyek ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. “Pengembangan RSUP Dr. M. Djamil merupakan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat kapasitas layanan rujukan tersier, meningkatkan kualitas pendidikan tenaga medis, serta menyediakan fasilitas kesehatan modern yang berorientasi pada pasien,” ungkapnya.

Ia menambahkan proyek TRUST juga berfokus pada penguatan sistem layanan, peningkatan kapasitas institusi, serta standardisasi mutu layanan kesehatan secara nasional. “Dengan pendekatan ini, investasi yang dilakukan diharapkan tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan,” harap Deni.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyatakan komitmennya dalam mendukung pengembangan RSUP Dr. M. Djamil. “Pemerintah Kota Padang tentu mendukung upaya peningkatan kapasitas dan kualitas layanan di RSUP Dr. M. Djamil. Kehadiran proyek TRUST ini menjadi peluang besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih modern dan berkualitas bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap, dengan penguatan ini, masyarakat tidak perlu lagi mencari layanan kesehatan ke luar daerah. “Pasalnya, fasilitas dan pelayanan di Kota Padang, khususnya di RSUP Dr. M. Djamil, akan semakin lengkap dan kompetitif,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan pemerintah provinsi memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini. “Kerja sama dengan AIIB bukan sekadar investasi finansial, melainkan investasi masa depan untuk memastikan masyarakat, khususnya di Sumatera Barat, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas,” ujarnya.

Ia juga berharap kerja sama ini tidak hanya terbatas pada RSUP Dr. M. Djamil, tetapi dapat diperluas ke fasilitas kesehatan lain di Sumatera Barat. “Mari kita buktikan kita siap melangkah ke tahap appraisal serta negosiasi lebih lanjut guna mewujudkan pembangunan fisik yang telah kita cita-citakan bersama demi masyarakat Sumatera Barat,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menegaskan komitmen penuh rumah sakit dalam menyukseskan proyek TRUST sebagai bagian dari transformasi layanan dan pendidikan kesehatan.

“Kami tidak hanya mempersiapkan pembangunan fisik, tetapi juga melakukan penguatan menyeluruh dari sisi manajemen, sumber daya manusia, hingga tata kelola layanan. Proyek ini menjadi momentum penting bagi RSUP Dr. M. Djamil untuk bertransformasi menjadi rumah sakit pendidikan berstandar internasional,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Dirut menjelaskan bahwa pada tahap awal, pengembangan akan difokuskan pada pembangunan Central Medical Unit (CMU) setinggi delapan lantai yang akan menjadi pusat layanan utama rumah sakit. “CMU ini dirancang sebagai jantung pelayanan rumah sakit ke depan. Di dalamnya akan terintegrasi berbagai layanan penting dalam satu sistem yang lebih efisien dan modern, sehingga pelayanan menjadi lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” paparnya.

Ia menambahkan salah satu keunggulan utama CMU adalah keberadaan Instalasi Gawat Darurat (IGD) terpadu. “IGD terpadu ini akan mampu menangani berbagai kasus kritis dengan respons yang lebih cepat dan sistem yang terintegrasi. Selain itu, kami juga merencanakan pembangunan 30 kamar operasi modern yang dilengkapi teknologi terkini untuk meningkatkan kapasitas layanan tindakan medis secara signifikan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, fasilitas perawatan intensif juga menjadi perhatian utama. “Kami akan memperkuat layanan ICU, NICU, dan PICU, mengingat kebutuhan terhadap layanan intensif terus meningkat, terutama bagi pasien dengan kondisi kritis, termasuk bayi dan anak. Dengan fasilitas ini, kami ingin memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik sesuai standar medis,” ujarnya.

Di gedung CMU tersebut, lanjutnya, juga akan tersedia fasilitas pembelajaran yang lengkap untuk mendukung peran RSUP Dr. M. Djamil sebagai RSPPU. “Kami ingin memastikan integrasi antara pelayanan dan pendidikan berjalan optimal, sehingga mampu mencetak tenaga medis yang unggul sekaligus memberikan layanan kesehatan berkualitas tinggi bagi masyarakat,” tukas Dirut. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Rajut Silaturahmi Lintas Generasi melalui Halalbihalal

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam mempererat hubungan kekeluargaan lintas generasi, termasuk dengan para purnabakti yang telah mengabdikan diri bagi kemajuan institusi. Dalam suasana hangat pasca-Idulfitri, Sabtu (11/4), Silaturahmi dan Halalbihalal Keluarga Besar Forum Komunikasi Persahabatan Pensiunan (FKPP) RSUP Dr. M. Djamil digelar di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Acara tersebut dihadiri Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua yang sekaligus memberikan sambutan di hadapan para pensiunan dan keluarga besar rumah sakit. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada seluruh purnabakti yang telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan rumah sakit hingga saat ini. Kontribusi para pensiunan tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.

“Silaturahmi ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa RSUP Dr. M. Djamil dibangun oleh dedikasi panjang para pendahulu. Kami yang saat ini melanjutkan estafet kepemimpinan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengembangkan amanah tersebut,” ujar Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Turut hadir pengurus FKPP dan pensiunan RSUP Dr. M. Djamil.

Ia juga menegaskan keberhasilan rumah sakit dalam memberikan layanan kesehatan tidak terlepas dari nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pensiunan. “Nilai integritas, profesionalisme, dan semangat pengabdian yang ditanamkan sejak dulu menjadi fondasi utama dalam setiap langkah transformasi yang kami lakukan saat ini,” tambahnya.

Direktur Utama menyampaikan harapannya agar para pensiunan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan RSUP Dr. M. Djamil ke depan. “Kami membuka ruang kolaborasi dan komunikasi yang berkelanjutan, karena pengalaman dan kebijaksanaan para senior adalah aset berharga dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama juga memaparkan rencana pengembangan masterplan RSUP Dr. M. Djamil sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan kesehatan. Pengembangan ini mencakup penataan infrastruktur, peningkatan fasilitas pelayanan, serta penguatan peran rumah sakit sebagai pusat rujukan nasional dan pendidikan.

Kegiatan silaturahmi dan halalbihalal ini juga menghadirkan tausiah dari Dr. Syofyan Hadi, SS, M.Ag, MA.Hum yang memberikan pesan-pesan keagamaan tentang pentingnya menjaga ukhuwah, mempererat tali persaudaraan, serta menjadikan momen Idulfitri sebagai titik awal untuk memperbaiki hubungan antarsesama. Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan terasa sepanjang acara, mencerminkan eratnya ikatan antara para pensiunan dengan manajemen aktif RSUP Dr. M. Djamil.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Pengembangan Layanan Vaskular dan Endovaskular

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan layanan kesehatan unggulan, khususnya di bidang vaskular dan endovaskular. Komitmen tersebut ditegaskan dalam gelaran 1st Andalas Vascular Summit dengan menghadirkan berbagai pakar nasional dan internasional yang berlangsung pada Sabtu (11/4).

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dalam sambutannya menyampaikan rumah sakit yang dipimpinnya akan terus berkomitmen untuk mengembangkan layanan vaskular yang unggul dan berstandar tinggi. Selain itu, juga fokus memperkuat kompetensi sumber daya manusia serta membangun jejaring kolaborasi dengan berbagai pusat layanan kesehatan dan organisasi profesi, termasuk Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Indonesia (PESBEVI).

“Kolaborasi menjadi elemen yang sangat penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Sekaligus akan mempercepat peningkatan kualitas layanan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap penanganan vaskular yang modern dan komprehensif,” ucapnya.

Dr. Dovy Djanas menyampaikan penguatan layanan vaskular tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga pada sistem pelayanan yang terintegrasi. “Keberhasilan layanan medis sangat ditentukan oleh koordinasi yang baik antarunit, mulai dari diagnosis, tindakan, hingga rehabilitasi pasien,” sebut Dirut.

Ia juga menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dalam pengembangan sumber daya manusia. Tenaga kesehatan harus terus diberikan akses terhadap pelatihan, pendidikan lanjutan, serta forum ilmiah agar mampu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang begitu dinamis. ”Selain itu, rumah sakit harus mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Hal ini mencakup peningkatan kualitas pelayanan, efisiensi sistem, serta pendekatan yang lebih berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan pasien,” ungkapnya.

Perkembangan teknik endovascular, sebutnya, telah membawa perubahan signifikan dalam praktik kedokteran modern. Pendekatan yang lebih minimal invasif tidak hanya meningkatkan keberhasilan klinis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pasien, terutama dalam hal waktu pemulihan yang lebih cepat serta peningkatan kualitas hidup pasca tindakan medis.

Meski demikian, kemajuan teknologi harus selalu diiringi dengan peningkatan kompetensi tenaga medis, penguatan standar pelayanan, serta komitmen terhadap keselamatan pasien. “Teknologi hanyalah alat, sementara kualitas pelayanan tetap sangat ditentukan oleh integritas dan profesionalisme tenaga kesehatan,” tegas Dirut.

Kegiatan ilmiah ini turut dihadiri oleh Ketua Umum PESBEVI periode 2025–2028, Dr. dr. Patrianef, Sp.B, Subsp.BVE(K), jajaran pengurus PESBEVI Padang, serta Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTEd. Forum ini juga menghadirkan pembicara internasional, yakni Dr. Sriram Narayanan, IBBS, MS, FRCS, seorang Senior Consultant Vascular & Endovascular Surgeon asal Singapura, yang berbagi pengalaman dan perkembangan terbaru di bidang vaskular dan endovaskular.

Kehadiran para narasumber serta peserta dari berbagai daerah menjadikan kegiatan ini sebagai wadah strategis untuk bertukar ilmu, memperkuat jejaring profesional, serta mendorong peningkatan mutu layanan kesehatan vaskular di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTEd menyampaikan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan layanan vaskular melalui pendidikan dan penelitian. Sinergi ini menjadi kunci dalam mencetak tenaga medis yang kompeten dan siap menghadapi tantangan global.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi kurikulum pendidikan kedokteran dengan perkembangan teknologi medis terkini, termasuk teknik endovaskular. “Dengan demikian, lulusan kedokteran tidak hanya memiliki pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan modern,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya, kegiatan ilmiah seperti ini menjadi wadah penting dalam memperluas wawasan akademik dan klinis bagi mahasiswa maupun tenaga medis. “Forum tersebut membuka ruang diskusi, pertukaran pengalaman, serta penguatan jejaring profesional di tingkat nasional dan internasional,” harap Dr. dr. Sukri. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Edukasi Kesehatan tentang Kanker Mulut Rahim

RSUP Dr. M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan kembali melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan bagi pengunjung rumah sakit pada Jumat (10/4). Edukasi kali ini mengangkat tema kanker mulut rahim dan menghadirkan narasumber dr. Ferry Iskandar Kharisma Sinaga, Sp.OG, Subsp.Onk, yang memberikan penyuluhan langsung di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan lantai II Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Dalam pemaparannya, dr. Ferry menjelaskan secara rinci tentang kanker mulut rahim serta faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. “Kanker mulut rahim adalah salah satu kanker yang penyebabnya jelas dan sebenarnya sangat bisa dicegah. Kuncinya ada pada pengetahuan dan kemauan untuk melakukan pencegahan sejak usia muda,” kata dr. Ferry.

dr. Ferry menekankan kebiasaan hidup sehat juga berperan penting dalam mencegah perkembangan kanker mulut rahim. “Selain vaksinasi dan skrining, gaya hidup pun sangat berpengaruh. Hindari merokok, jaga pola makan, dan tetap aktif bergerak. Semua itu turut melindungi tubuh dari risiko kanker,” katanya.

Ia juga mengingatkan banyak kasus kanker mulut rahim ditemukan dalam kondisi sudah lanjut karena kurangnya kesadaran melakukan pemeriksaan berkala. “Sering kali pasien datang ketika sudah stadium dua atau tiga. Padahal, jika ditemukan pada tahap awal, penanganannya jauh lebih sederhana dan tingkat keberhasilan pengobatannya sangat tinggi,” tegasnya.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Ferry memastikan layanan pencegahan dan deteksi dini telah tersedia di RSUP Dr. M. Djamil. “Di rumah sakit ini, semua metode skrining tersedia, mulai dari IVA Test, Pap smear, hingga HPV DNA Test. Jadi tidak ada alasan untuk menunda pemeriksaan. Semakin cepat ditemukan, semakin baik hasilnya,” ungkapnya.

Ia kemudian memaparkan tiga pendekatan pencegahan kanker mulut rahim, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pada pencegahan primer, vaksinasi HPV merupakan langkah utama. “Saat ini tersedia vaksin bivalen untuk tipe 16 dan 18, quadrivalen untuk tipe 16, 18, 6 dan 11, serta vaksin nanovalen yang mencakup tipe 16, 18, 6, 11, 31, 33, 45, 52, dan 58. Vaksin paling ideal diberikan pada usia 9–14 tahun sebanyak dua dosis, dan pada usia 15 tahun ke atas dapat diberikan satu atau dua dosis,” jelasnya.

Pencegahan sekunder dilakukan melalui skrining berkala. “Skrining dianjurkan mulai usia 30 tahun, atau usia 25 tahun pada perempuan dengan HIV. Pemeriksaan dilakukan sampai usia 65 tahun, dan dapat dihentikan apabila dua kali co-testing hasilnya negatif,” ungkapnya.

Sementara itu, pencegahan tersier mencakup penanganan lesi pra-kanker maupun kanker yang sudah terdeteksi. Penanganan dapat berupa krioterapi, thermal ablasi, penggunaan asam trikloroasetat (TCA) 85 persen, hingga pembedahan, tergantung stadium penyakit. “Penanganan dilakukan berdasarkan tingkat keparahan, mulai dari stadium 1 hingga stadium 4,” jelasnya.

dr. Ferry kembali mengingatkan edukasi kesehatan memiliki peran besar dalam menurunkan kasus kanker pada perempuan. “Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Kita punya banyak cara untuk melindungi diri dari kanker mulut rahim yang dibutuhkan hanya kesadaran dan tindakan,” tukas dr. Ferry. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45