Penyakit Arteri Perifer atau Peripheral Artery Disease (PAP) adalah kondisi serius yang sering kali terabaikan, di mana terjadi penyempitan pembuluh darah arteri di luar jantung dan otak, paling umum menyerang kaki. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, tetapi juga menjadi penanda risiko tinggi terhadap masalah kardiovaskular yang lebih fatal seperti serangan jantung dan stroke. Masyarakat diimbau untuk lebih mewaspadai gejala dan memanfaatkan pemeriksaan sederhana namun krusial, yaitu Ankle Brachial Index (ABI).
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUP Dr. M. Djamil, dr. Hamzah Muhammad Zein, Sp.JP, FIHA, menekankan betapa pentingnya deteksi dini PAP, terutama bagi kelompok berisiko. PAP terjadi karena penumpukan plak (aterosklerosis) yang menghambat aliran darah ke tungkai. “Banyak pasien sering mengira nyeri di kaki sebagai kelelahan biasa, padahal itu bisa jadi pertanda aliran darah yang tidak lancar. Gejala khas PAP adalah klaudikasio, yaitu nyeri atau kram pada otot kaki yang muncul saat berjalan atau beraktivitas, namun hilang saat istirahat,” jelas dr. Hamzah.
Ia menambahkan selain klaudikasio, gejala lain yang patut diwaspadai termasuk rasa dingin pada kaki, perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan, luka pada kaki atau jari kaki yang sulit sembuh, serta pertumbuhan rambut kaki yang melambat atau hilang. “Jika ada kombinasi gejala ini, apalagi pada individu yang memiliki faktor risiko, harus segera diperiksakan,” tegasnya.
dr. Hamzah Muhammad Zein menggarisbawahi beberapa faktor risiko utama yang membuat seseorang rentan terhadap PAP. Faktor-faktor tersebut meliputi usia di atas 50 tahun, riwayat merokok (aktif maupun pasif) yang menjadi penyebab paling kuat, memiliki diabetes melitus, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi (dislipidemia), serta riwayat penyakit jantung atau stroke dalam keluarga. “Terutama pasien diabetes, mereka sering tidak merasakan nyeri karena kerusakan saraf (neuropati diabetik), sehingga PAP baru terdeteksi saat sudah parah, misalnya muncul luka yang tidak kunjung sembuh atau gangren,” ujar dr. Hamzah.
Untuk mendeteksi Penyakit Arteri Perifer, dr. Hamzah merekomendasikan pemeriksaan non-invasif yang cepat dan tidak menyakitkan, yaitu Ankle Brachial Index (ABI). Prosedur ini membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki (ankle) dengan tekanan darah di lengan (brachial).
“ABI adalah alat skrining yang sangat berharga. Cara kerjanya sederhana, yaitu mengukur tekanan darah sistolik pada arteri di pergelangan kaki dan membaginya dengan tekanan darah sistolik pada arteri di lengan. Rasio ini memberikan indikasi seberapa baik aliran darah di kaki,” kata dr. Hamzah.
Nilai ABI yang normal adalah antara 1,0 hingga 1,4. Jika hasilnya di bawah 0,9, ini merupakan indikasi kuat adanya PAP. Semakin rendah angkanya, semakin parah penyempitan arterinya. “Hasil ABI kurang dari 0,9 harus menjadi lampu merah. Selain menegakkan diagnosis PAP, nilai ABI yang abnormal juga mengindikasikan bahwa pasien tersebut berisiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner dan penyakit serebrovaskular. Artinya, ABI tidak hanya mendeteksi masalah di kaki, tetapi juga menjadi prediktor risiko kardiovaskular sistemik,” tambahnya.
Deteksi dini melalui ABI memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efektif, yang berfokus pada pengendalian faktor risiko dan perbaikan kualitas hidup. Penanganan PAP meliputi modifikasi gaya hidup secara agresif, seperti berhenti merokok sepenuhnya, mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, serta memulai program latihan fisik yang disupervisi.
“Perubahan gaya hidup adalah kunci utama. Selain itu, pemberian obat-obatan pengencer darah atau antiplatelet, obat penurun kolesterol jenis statin, dan obat untuk mengontrol tekanan darah serta diabetes sangat penting untuk memperlambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi serius,” tutur dr. Hamzah Muhammad Zein, Sp.JP, FIHA seraya berharap masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko, tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan ABI demi kesehatan jantung dan pembuluh darah secara menyeluruh.(*)