RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong penguatan kemandirian bangsa di bidang kesehatan, khususnya dalam pengembangan produk biosimilar dan obat-obatan. Upaya tersebut diwujudkan melalui langkah strategis yang melibatkan kolaborasi lintas institusi antara rumah sakit, akademisi, dan regulator nasional.
Pada Rabu (29/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D, di Kantor BPOM RI, Jakarta.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membahas langkah konkret dalam pengembangan bahan biosimilar dan produk obat-obatan di dalam negeri. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan sektor kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Biosimilar merupakan produk biologi yang dikembangkan agar memiliki kemiripan tinggi dengan obat biologis inovator yang telah tersedia sebelumnya, baik dari aspek kualitas, keamanan, maupun efektivitas. Berbeda dengan obat generik berbasis kimia, biosimilar diproduksi melalui proses bioteknologi yang kompleks dan memerlukan uji komparabilitas yang ketat. Kehadiran biosimilar menjadi solusi strategis untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi modern, khususnya untuk penyakit kronis dan katastropik, karena lebih terjangkau tanpa mengurangi manfaat klinis yang diberikan.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas mendapat dukungan dari BPOM, terutama dalam membuka akses ke industri farmasi. Akses ini dinilai penting untuk mempercepat proses penelitian, pengembangan, hingga produksi bahan-bahan biosimilar maupun produk obat-obatan yang sesuai dengan tugas dan fungsi BPOM sebagai regulator.
Ia menegaskan RSUP Dr. M. Djamil siap mengambil peran lebih aktif dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti di tahap laboratorium semata. “Kami ingin memastikan hasil penelitian yang dilakukan bersama mitra akademik dapat benar-benar diterjemahkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam bentuk biosimilar yang aman, efektif, dan terjangkau,” ujar Dr. dr. Dovy Djanas.
Penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk regulator dan industri, sebutnya, menjadi kunci dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan yang berkelanjutan. “Sinergi ini tidak hanya penting untuk percepatan pengembangan produk, tetapi juga untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar mutu dan regulasi yang berlaku,” tambahnya.
Menurutnya, langkah ini juga merupakan bagian dari kontribusi nyata RSUP Dr. M. Djamil dalam mendukung program prioritas nasional di bidang kesehatan. “Kami melihat ini sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian bangsa, sekaligus meningkatkan daya saing produk farmasi dalam negeri agar mampu bersaing di tingkat global,” tutupnya.
Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc menegaskan percepatan kemandirian bangsa dalam menghasilkan produk biosimilar dan vaksin merupakan langkah strategis yang harus terus didorong. Kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, dan regulator menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan.
“Penguatan riset berbasis kebutuhan nasional akan memberikan dampak signifikan tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga pada kemandirian industri farmasi dalam negeri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, pengembangan biosimilar diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang lebih terjangkau dan berkualitas,” kata Ketua Komite PPI PRA RSUP Dr. M. Djamil ini.
Sementara itu, Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, dalam pertemuan tersebut menyambut baik inisiatif kolaborasi ini dan menekankan pentingnya langkah cepat yang terukur. Ia mengharapkan agar dalam waktu dekat, tepatnya pada pekan berikutnya, sudah tersedia roadmap yang jelas untuk didiskusikan lebih lanjut sebagai dasar implementasi program pengembangan biosimilar dan produk obat-obatan di Indonesia.(*)