RS M. Djamil Edukasi Pasien tentang Pentingnya Mobilisasi Dini Pascaoperasi

RS M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Pada Kamis (25/6), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Instalasi Bedah Sentral (IBS) menggelar penyuluhan kesehatan yang membahas pentingnya mobilisasi dini pascaoperasi bagi pasien.

Kegiatan yang berlangsung di area ruang tunggu IBS tersebut diikuti oleh pasien dan keluarga pasien yang tengah menjalani perawatan. Penyuluhan disampaikan oleh tim perawat IBS, yaitu Ns. Yetti Mulyati, S.Kep., Ns. Syandriko Afriki Yaldi, S.Kep., Ns. Febri Jasman, S.Kep., Ns. Trio Hadi Putra, S.Kep., Ns. Intan Faradilla, S.Kep., Wiwidiawati, A.Md.Kep., dan Haswiarti, A.Md.Kep.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pasien tentang pentingnya melakukan mobilisasi secara bertahap setelah menjalani operasi guna mempercepat proses pemulihan sekaligus mencegah berbagai komplikasi akibat terlalu lama berbaring.

Dalam pemaparannya Ns. Yetti Mulyati, S.Kep, dijelaskan mobilisasi dini pascaoperasi merupakan proses aktivitas yang dilakukan pasien setelah menjalani operasi. Dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur hingga mampu turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan melakukan aktivitas berjalan di luar kamar sesuai kondisi dan kemampuan pasien.

Yetti menjelaskan mobilisasi memiliki berbagai tujuan penting, di antaranya mempertahankan fungsi tubuh, memperlancar peredaran darah, membantu fungsi pernapasan menjadi lebih baik, mempertahankan tonus atau kekuatan otot, memperlancar eliminasi urine dan buang air besar, mempercepat proses penyembuhan luka operasi, serta membantu pasien kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Selain itu, mobilisasi juga menjadi sarana interaksi dan komunikasi antara pasien dengan tenaga kesehatan selama masa perawatan.

“Mobilisasi dini merupakan salah satu bagian penting dalam proses pemulihan pasien pascaoperasi. Dengan melakukan gerakan secara bertahap sesuai kondisi pasien, proses penyembuhan dapat berlangsung lebih optimal dan risiko komplikasi akibat tirah baring terlalu lama dapat diminimalkan,” jelasnya.

Pada kesempatan itu juga dijelaskan mobilisasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu mobilisasi pasif dan mobilisasi aktif. Mobilisasi pasif dilakukan ketika pasien belum mampu menggerakkan tubuh secara mandiri sehingga memerlukan bantuan orang lain secara keseluruhan. Sementara itu, mobilisasi aktif dilakukan ketika pasien sudah mampu melakukan pergerakan tubuh secara mandiri tanpa bantuan orang lain.

Ia menyampaikan mobilisasi dini memberikan banyak manfaat bagi pasien. Aktivitas bergerak secara bertahap dapat membantu meningkatkan kebugaran tubuh, memperkuat kembali otot-otot perut dan panggul, mengurangi rasa nyeri, serta memperlancar sirkulasi darah sehingga kebutuhan oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh dapat terpenuhi dengan baik.

“Pasien yang melakukan mobilisasi dini umumnya akan merasa lebih sehat dan kuat. Pergerakan tubuh membantu mengembalikan fungsi otot secara bertahap, memperlancar aliran darah, serta mendukung proses penyembuhan sehingga pasien dapat lebih cepat kembali beraktivitas,” ungkap Yetti.

Sebaliknya, apabila pasien tidak melakukan mobilisasi sesuai anjuran tenaga kesehatan, berbagai dampak negatif dapat terjadi. Penyembuhan luka operasi dapat berlangsung lebih lama, rasa nyeri bertambah, tubuh menjadi pegal dan kaku, muncul risiko lecet atau luka pada kulit akibat tekanan yang berkepanjangan, hingga memperpanjang masa perawatan di rumah sakit.

Dalam penyuluhan tersebut juga dipaparkan tahapan mobilisasi dini yang perlu dilakukan pasien setelah operasi. Pada enam jam pertama setelah operasi, pasien dianjurkan untuk tetap tirah baring. Namun demikian, pasien tetap dapat melakukan gerakan ringan seperti menggerakkan lengan dan tangan, menggerakkan ujung jari kaki, memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis, serta menekuk dan menggeser kaki.

Selanjutnya, pada rentang waktu enam hingga sepuluh jam setelah operasi, pasien dianjurkan mulai belajar miring ke kiri dan ke kanan untuk membantu mencegah terjadinya trombosis maupun tromboemboli. Setelah 24 jam pascaoperasi, pasien mulai dianjurkan belajar duduk secara bertahap sesuai kondisi klinisnya. Jika kemampuan duduk sudah baik dan kondisi tubuh memungkinkan, pasien dapat melanjutkan proses mobilisasi dengan belajar berdiri dan berjalan secara perlahan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

“Mobilisasi dini bukan hanya membantu mempercepat penyembuhan luka operasi, tetapi juga menjaga fungsi tubuh tetap optimal selama masa perawatan. Karena itu, pasien diharapkan mengikuti anjuran tenaga kesehatan agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan aman,” tukasnya.

Melalui kegiatan penyuluhan kesehatan ini, RS M. Djamil berharap pasien dan keluarga dapat memahami bahwa mobilisasi dini merupakan bagian penting dari proses penyembuhan pascaoperasi. Dengan pengetahuan yang baik dan kepatuhan terhadap anjuran tenaga kesehatan, proses pemulihan pasien dapat berlangsung lebih cepat, aman, dan optimal sehingga pasien dapat segera kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik.(*)

Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45