RS M. Djamil Tekankan Pentingnya Kepatuhan Berobat bagi Penyandang Epilepsi

RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya sebagai rumah sakit rujukan nasional di bawah Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan penyuluhan kesehatan bertajuk Mengenal Epilepsi yang dilaksanakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan di ruang tunggu Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT), Senin (29/6).

Kegiatan ini menghadirkan tim narasumber terdiri dari Devi Gusti Aini, Amrizal, Desmalinda Ali, dan Amrida. Penyuluhan diikuti oleh pasien serta keluarga pasien yang sedang menunggu pelayanan kesehatan, dengan harapan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai epilepsi, sekaligus menghilangkan stigma yang masih melekat terhadap penyakit tersebut.

Dalam pemaparannya, Amrizal menjelaskan keberhasilan pengendalian epilepsi sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat dan menerapkan pola hidup sehat. Obat antiepilepsi ini memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kestabilan aktivitas listrik di otak sehingga tidak terjadi kejang.

“Obat epilepsi ibarat satpam bagi otak. Tugasnya menjaga agar aktivitas listrik di otak tidak mengalami gangguan atau ‘korslet’. Karena itu, obat tidak boleh dihentikan secara mendadak. Menghentikan obat tanpa arahan dokter justru dapat meningkatkan risiko kejang yang lebih berat dibandingkan sebelumnya,” jelas Amrizal.

Ia menegaskan pasien harus mengonsumsi obat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Untuk membantu menjaga kepatuhan, pasien disarankan memasang pengingat pada telepon genggam sesuai frekuensi minum obat. Selain itu, pasien juga tidak diperbolehkan menghentikan pengobatan secara mandiri meskipun sudah lama tidak mengalami kejang.

“Walaupun sudah bertahun-tahun tidak mengalami kejang, keputusan menghentikan obat hanya boleh dilakukan atas izin dokter spesialis saraf. Pasien juga tidak dianjurkan mengganti merek atau jenis obat secara sembarangan karena kadar obat dapat berbeda. Selalu konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter atau apoteker,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Amrizal juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik apabila muncul efek samping ringan pada awal penggunaan obat, seperti rasa kantuk, pusing ringan, atau mual, karena umumnya akan berkurang seiring waktu. “Namun, apabila muncul gejala serius seperti ruam di seluruh tubuh, mata menguning, tinja berwarna pucat, gangguan keseimbangan, maupun perubahan suasana hati yang berat hingga muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri, pasien diminta segera berkonsultasi ke dokter,” imbau Amrizal.

Selain kepatuhan terhadap pengobatan, penerapan gaya hidup sehat juga menjadi faktor penting dalam mengendalikan epilepsi. Amrizal menjelaskan terdapat beberapa pemicu kejang yang perlu dihindari, di antaranya kurang tidur, lupa mengonsumsi obat, stres berat, konsumsi alkohol, paparan cahaya berkedip bagi pasien yang sensitif, serta terlambat makan yang dapat menyebabkan kadar gula darah menurun.

“Kurang tidur merupakan musuh nomor satu bagi penderita epilepsi. Usahakan tidur selama tujuh hingga delapan jam setiap hari. Begadang dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang. Begitu juga dengan lupa minum obat, stres berat, konsumsi alkohol, serta terlambat makan yang semuanya dapat menjadi pencetus kekambuhan,” ungkapnya.

Dalam sesi tanya jawab, Amrizal turut memberikan edukasi tentang langkah yang harus dilakukan apabila pasien lupa mengonsumsi obat. Apabila baru teringat kurang dari enam jam dari jadwal seharusnya, obat dapat segera diminum. Namun apabila sudah lebih dari enam jam atau mendekati jadwal dosis berikutnya, pasien dianjurkan melewati dosis yang terlupa dan tidak menggandakan dosis selanjutnya. “Untuk mencegah kejadian serupa, penggunaan kotak obat harian, alarm pengingat, maupun bantuan anggota keluarga sangat dianjurkan,” sarannya.

Ia menekankan pengendalian epilepsi merupakan kombinasi antara kepatuhan terhadap terapi dan penerapan gaya hidup sehat. “Kontrol epilepsi sekitar 80 persen ditentukan oleh kepatuhan minum obat dan 20 persen dipengaruhi oleh gaya hidup sehat. Pasien memegang kendali terhadap keberhasilan pengobatannya. Namun perlu diingat, edukasi ini bersifat umum. Jenis obat, dosis, maupun anjuran khusus bagi setiap pasien dapat berbeda sehingga tetap harus mengikuti instruksi dokter spesialis saraf yang merawat,” pungkasnya.(*)

Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45