RS M. Djamil Tanamkan Etika Klinis dan Profesionalisme kepada Dokter Muda

RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik dan klinis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme, etika, dan budaya kerja yang berorientasi pada keselamatan pasien. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan Layanan Orientasi Informasi (LOI) Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas di Gedung Diklat RS M. Djamil, pada Selasa (30/6).

Dalam kegiatan tersebut, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, hadir sebagai narasumber dengan membawakan materi bertajuk “Membangun Etika Klinis dan Kompetensi di RS Pendidikan Utama Bertaraf Asia.” Materi tersebut menjadi bekal awal bagi para peserta didik profesi dokter sebelum menjalani proses pendidikan klinik di rumah sakit pendidikan utama.

Pada pemaparannya, dr. Maliana menjelaskan keberhasilan seorang dokter tidak hanya diukur dari kemampuan klinis yang dimiliki, tetapi juga dari integritas, etika profesi, kemampuan berkomunikasi, serta sikap yang ditunjukkan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. “Rumah sakit pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter calon dokter agar mampu memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berpusat pada pasien,” tuturnya.

Ia menegaskan komunikasi yang efektif, edukatif, dan penuh empati merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan yang baik dengan pasien, keluarga pasien, maupun sesama tenaga kesehatan. Kemampuan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi seorang dokter dalam menghadapi berbagai situasi pelayanan kesehatan yang kompleks.

“Kompetensi klinis harus berjalan beriringan dengan etika profesi. Seorang dokter tidak hanya dituntut mampu menegakkan diagnosis dan memberikan terapi yang tepat, tetapi juga harus mampu berkomunikasi secara efektif, memberikan edukasi yang mudah dipahami, serta menunjukkan empati kepada setiap pasien. Nilai-nilai inilah yang akan membentuk pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berorientasi pada keselamatan pasien,” ujar dr. Maliana.

Selain menanamkan nilai profesionalisme, dr. Maliana juga mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan saling menghormati. Oleh karena itu, pentingnya membangun budaya anti-perundungan (anti-bullying) di lingkungan rumah sakit pendidikan sebagai bagian dari upaya menciptakan iklim akademik yang kondusif.

Menurutnya, setiap peserta didik memiliki hak untuk belajar dalam suasana yang mendukung pengembangan kompetensi tanpa adanya intimidasi, diskriminasi, maupun tindakan perundungan dalam bentuk apa pun. Lingkungan pendidikan yang positif akan melahirkan tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, kolaboratif, dan berintegritas tinggi.

“Mari kita bersama-sama membangun budaya saling menghargai, saling mendukung, dan menolak segala bentuk perundungan. Rumah sakit pendidikan harus menjadi tempat yang aman untuk belajar, berkembang, dan membentuk karakter dokter yang profesional serta berakhlak,” tambahnya.

Ia berharap seluruh peserta didik profesi dokter dapat memahami budaya organisasi, standar pelayanan, serta nilai-nilai profesional yang diterapkan di rumah sakit. “Bekal tersebut diharapkan mampu menjadi landasan dalam menjalani pendidikan klinik sekaligus mempersiapkan calon dokter yang kompeten, beretika, humanis, dan siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat,” tukasnya.(*)

Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45