RS M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif, tidak hanya berfokus pada penanganan medis, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis pasien. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RS M. Djamil menggelar penyuluhan kesehatan bagi pasien dan keluarga di Unit Kemoterapi pada Selasa (30/6). Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. dr. Arina Widya Murni, SpPD-KPPM, M.Kes, FINASIM yang membawakan materi bertajuk “Bersahabat dengan Kemoterapi, Mungkinkah?”.
Dalam paparannya, dr. Arina menjelaskan menjalani kemoterapi bukan hanya menjadi tantangan fisik, tetapi juga emosional. Banyak pasien yang mengalami kecemasan sejak awal menjalani terapi, mulai dari rasa takut terhadap pemberian obat kemoterapi, kekhawatiran mengenai hasil pengobatan, hingga kecemasan akan masa depan.
“Selain itu, pasien juga kerap diliputi rasa takut terhadap efek samping kemoterapi, kesedihan akibat perubahan kondisi tubuh, kemarahan atau frustrasi karena keterbatasan aktivitas, perasaan bersalah karena menganggap diri menjadi beban keluarga, hingga kekhawatiran terhadap pekerjaan, biaya pengobatan, maupun perannya dalam keluarga,” tuturnya.
Menurutnya, berbagai perasaan tersebut merupakan respons yang sangat wajar dialami oleh pasien kanker. Stres merupakan respons tubuh yang tidak spesifik terhadap berbagai tuntutan atau tekanan yang dihadapi seseorang. Oleh karena itu, pasien tidak perlu merasa sendiri ataupun malu ketika mengalami kondisi tersebut.
“Perasaan cemas, takut, sedih, bahkan marah adalah hal yang wajar dan dapat dimengerti saat seseorang menjalani pengobatan kanker. Yang terpenting bukan menghilangkan seluruh perasaan itu, tetapi bagaimana kita mampu mengelola stres agar tidak mengganggu proses pengobatan dan kualitas hidup,” jelas dr. Arina.
Ia menambahkan terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengelola stres selama menjalani kemoterapi. Salah satunya melalui latihan relaksasi yang dilakukan secara rutin untuk membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang. Selain itu, terapi perilaku juga dapat menjadi alternatif dengan menuliskan berbagai pikiran maupun peristiwa negatif yang dirasakan, kemudian mengelompokkannya berdasar mana yang merupakan sebuah keharusan dan mana yang hanya sebatas kepentingan. “Cara ini diharapkan mampu membantu pasien melihat permasalahan secara lebih objektif dan mengurangi beban pikiran,” ucapnya.
dr. Arina menekankan keberhasilan dalam mengelola stres sangat bergantung pada komitmen yang kuat dari diri pasien sendiri untuk terus beradaptasi dan membangun pola pikir yang lebih positif selama menjalani pengobatan. “Perubahan yang paling besar selalu dimulai dari diri sendiri. Dengan komitmen yang kuat, pasien akan lebih mudah menerima kondisi yang sedang dijalani dan mampu menemukan kekuatan untuk terus melanjutkan pengobatan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga membagikan sejumlah tips sederhana yang dapat diterapkan pasien dalam kehidupan sehari-hari. Pasien diimbau untuk tidak ragu bertanya kepada tenaga kesehatan apabila masih belum memahami penyakit maupun proses pengobatan yang dijalani. Teknik relaksasi dianjurkan dilakukan sesering mungkin, disertai tetap menjalankan aktivitas yang disukai sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Pasien juga diajak untuk lebih fokus pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan dibandingkan terus memikirkan hal-hal di luar kendali,” paparnya.
dr. Arina mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama dalam menjalani kehidupan, termasuk selama proses pengobatan. Ia memperkenalkan konsep Ikigai dari Jepang, yakni filosofi hidup yang membantu seseorang menemukan makna, tujuan, serta alasan untuk tetap semangat menjalani setiap hari.
“Target utama kita adalah bahagia. Bahagia bukan berarti tidak memiliki masalah, tetapi mampu menemukan makna dalam setiap proses kehidupan. Dengan memiliki Ikigai, seseorang akan memiliki alasan untuk tetap bangkit, tetap berjuang, dan tetap menikmati hidup meskipun sedang menjalani kemoterapi,” tukasnya.(*)