Penyakit Arteri Perifer Tingkatkan Risiko Stroke dan Jantung, Deteksi dengan ABI

Penyakit Arteri Perifer atau Peripheral Artery Disease (PAP) adalah kondisi serius yang sering kali terabaikan, di mana terjadi penyempitan pembuluh darah arteri di luar jantung dan otak, paling umum menyerang kaki. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, tetapi juga menjadi penanda risiko tinggi terhadap masalah kardiovaskular yang lebih fatal seperti serangan jantung dan stroke. Masyarakat diimbau untuk lebih mewaspadai gejala dan memanfaatkan pemeriksaan sederhana namun krusial, yaitu Ankle Brachial Index (ABI).

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUP Dr. M. Djamil, dr. Hamzah Muhammad Zein, Sp.JP, FIHA, menekankan betapa pentingnya deteksi dini PAP, terutama bagi kelompok berisiko. PAP terjadi karena penumpukan plak (aterosklerosis) yang menghambat aliran darah ke tungkai. “Banyak pasien sering mengira nyeri di kaki sebagai kelelahan biasa, padahal itu bisa jadi pertanda aliran darah yang tidak lancar. Gejala khas PAP adalah klaudikasio, yaitu nyeri atau kram pada otot kaki yang muncul saat berjalan atau beraktivitas, namun hilang saat istirahat,” jelas dr. Hamzah.

Ia menambahkan selain klaudikasio, gejala lain yang patut diwaspadai termasuk rasa dingin pada kaki, perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan, luka pada kaki atau jari kaki yang sulit sembuh, serta pertumbuhan rambut kaki yang melambat atau hilang. “Jika ada kombinasi gejala ini, apalagi pada individu yang memiliki faktor risiko, harus segera diperiksakan,” tegasnya.

dr. Hamzah Muhammad Zein menggarisbawahi beberapa faktor risiko utama yang membuat seseorang rentan terhadap PAP. Faktor-faktor tersebut meliputi usia di atas 50 tahun, riwayat merokok (aktif maupun pasif) yang menjadi penyebab paling kuat, memiliki diabetes melitus, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi (dislipidemia), serta riwayat penyakit jantung atau stroke dalam keluarga. “Terutama pasien diabetes, mereka sering tidak merasakan nyeri karena kerusakan saraf (neuropati diabetik), sehingga PAP baru terdeteksi saat sudah parah, misalnya muncul luka yang tidak kunjung sembuh atau gangren,” ujar dr. Hamzah.

Untuk mendeteksi Penyakit Arteri Perifer, dr. Hamzah merekomendasikan pemeriksaan non-invasif yang cepat dan tidak menyakitkan, yaitu Ankle Brachial Index (ABI). Prosedur ini membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki (ankle) dengan tekanan darah di lengan (brachial).

“ABI adalah alat skrining yang sangat berharga. Cara kerjanya sederhana, yaitu mengukur tekanan darah sistolik pada arteri di pergelangan kaki dan membaginya dengan tekanan darah sistolik pada arteri di lengan. Rasio ini memberikan indikasi seberapa baik aliran darah di kaki,” kata dr. Hamzah.

Nilai ABI yang normal adalah antara 1,0 hingga 1,4. Jika hasilnya di bawah 0,9, ini merupakan indikasi kuat adanya PAP. Semakin rendah angkanya, semakin parah penyempitan arterinya. “Hasil ABI kurang dari 0,9 harus menjadi lampu merah. Selain menegakkan diagnosis PAP, nilai ABI yang abnormal juga mengindikasikan bahwa pasien tersebut berisiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner dan penyakit serebrovaskular. Artinya, ABI tidak hanya mendeteksi masalah di kaki, tetapi juga menjadi prediktor risiko kardiovaskular sistemik,” tambahnya.

Deteksi dini melalui ABI memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efektif, yang berfokus pada pengendalian faktor risiko dan perbaikan kualitas hidup. Penanganan PAP meliputi modifikasi gaya hidup secara agresif, seperti berhenti merokok sepenuhnya, mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, serta memulai program latihan fisik yang disupervisi.

“Perubahan gaya hidup adalah kunci utama. Selain itu, pemberian obat-obatan pengencer darah atau antiplatelet, obat penurun kolesterol jenis statin, dan obat untuk mengontrol tekanan darah serta diabetes sangat penting untuk memperlambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi serius,” tutur dr. Hamzah Muhammad Zein, Sp.JP, FIHA seraya berharap masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko, tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan ABI demi kesehatan jantung dan pembuluh darah secara menyeluruh.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Pisah Sambut Dewan Pengawas, Momentum Sinergi untuk Transformasi Kesehatan

RSUP Dr. M. Djamil menggelar Pisah Sambut Dewan Pengawas di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Sabtu (13/12). Pisah sambut ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Dewan Pengawas periode 2022–2025 dan penyambutan resmi bagi Dewan Pengawas yang baru dilantik oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Diketahui Dewan Pengawas Periode 2022-2025 diketuai oleh drg. Arianti Anaya, MKM dengan anggota Albertus Yudha Poerwadi, SE, M.Si., CA., CPMA, CPIA, Dr. Edih Mulyadi, S.E., M.Si, Indah Febrianti, SH, MH, dan Mohammad Dody Fachrudin, S.E., M.Si. Sementara Dewan Pengawas baru diketuai Drs. Bayu Teja Muliawan, SH, M.Pharm, MM, Apt, Roy Himawan, S.Farm, Apt, M.K.M, Dr. Ahmad Irsan A. Moeis, SE, ME, Dr. Syukriah HG, SH, M.Hum dan Mohammad Dody Fachrudin, S.E., M.Si.

“Pisah Sambut ini diselenggarakan sebagai wujud silaturahmi, penghormatan, dan apresiasi kepada Dewan Pengawas Periode 2022–2025 atas dedikasi dan pengabdiannya,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.Turut hadir jajaran Komite Audit, jajaran direksi, manajemen, civitas hospitalia serta pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan Dewan Pengawas merupakan mitra strategis Direksi dalam memastikan rumah sakit dikelola dengan prinsip good governance, akuntabilitas, serta keberpihakan pada mutu pelayanan dan keselamatan pasien. “Selama masa pengabdian Bapak dan Ibu, Dewan Pengawas telah menjalankan peran secara optimal dalam membina, mengarahkan, serta mengawasi jalannya organisasi rumah sakit. Perjalanan RSUP Dr. M. Djamil bersama Dewan Pengawas periode sebelumnya merupakan perjalanan yang sarat dengan semangat membangun, semangat perubahan, dan semangat untuk terus maju,” paparnya.

Dovy menambahkan sinergi tersebut telah menghasilkan berbagai prestasi gemilang dan capaian penting dalam penguatan tata kelola, peningkatan mutu layanan. “Kemudian pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan peran rumah sakit sebagai rujukan regional,” ucap Dovy.Kepada Dewan Pengawas Periode yang Baru, yang kini diketuai oleh Drs. Bayu Teja Muliawan, SH, M.Pharm, MM, Apt, Direksi mengucapkan selamat datang dan selamat bertugas. “Kami berharap kehadiran Bapak dan Ibu dapat semakin memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mengawal pengelolaan rumah sakit yang profesional, transparan, dan akuntabel,” harap Dovy.

Dovy menegaskan komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk menyelaraskan arah kebijakan dan pengembangan rumah sakit dengan Program Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. “Untuk itu, bimbingan dan pengawasan dari Dewan Pengawas sangat dinantikan,” tuturnya.

drg. Arianti Anaya, MKM, selaku Ketua Dewan Pengawas Periode 2022–2025, menyampaikan rasa bangga atas capaian yang diraih rumah sakit selama masa pengawasannya. “Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan RSUP Dr. M. Djamil dalam mencapai standar pelayanan yang lebih tinggi. Dedikasi seluruh staf dan Direksi luar biasa. Kami berharap fondasi tata kelola yang telah kita bangun bersama dapat menjadi pijakan yang kokoh bagi Dewan Pengawas periode berikutnya untuk membawa rumah sakit ini melangkah lebih jauh, khususnya dalam menyukseskan program transformasi kesehatan,” kata drg. Arianti Anaya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas yang baru, Drs. Bayu Teja Muliawan, SH, M.Pharm, MM, Apt, menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan sinergi yang telah terjalin baik. “Merupakan kehormatan bagi kami untuk mengemban amanah sebagai Dewan Pengawas RSUP Dr. M. Djamil. Kami menyadari tantangan ke depan, terutama dalam mengimplementasikan transformasi kesehatan. Kami berkomitmen untuk memberikan arahan dan pengawasan yang konstruktif, memastikan bahwa setiap agenda transformasi berjalan optimal, transparan, dan pada akhirnya memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat Sumatera Barat dan sekitarnya,” tutur Bayu Teja Muliawan.

Pisah Sambut ini ditutup dengan penyerahan cenderamata sebagai simbol penghargaan kepada Dewan Pengawas periode 2022–2025 dan foto bersama, menandai pergantian kepemimpinan yang diharapkan dapat membawa RSUP Dr. M. Djamil menuju era pelayanan yang semakin prima.(*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Hadiri Rakor Robotik dan Percepatan Transplantasi Organ

Komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk terus berada di garis depan inovasi pelayanan kesehatan nasional dipertegas dengan partisipasi Direktur Utama, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dalam dua agenda rapat koordinasi yang berlangsung di Hotel Ibis Raden Saleh, Jakarta, pada Kamis hingga Jumat (11-12/12). Dua pertemuan tersebut meliputi Rapat Lanjutan Koordinasi Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan dan Rapat Koordinasi Progres Pelayanan Transplantasi Organ dan Jaringan.

Agenda pertama yang diikuti oleh Dirut adalah Rapat Lanjutan Koordinasi Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk menyusun peta jalan dan strategi implementasi teknologi robotik di fasilitas kesehatan Indonesia.

Dovy Djanas menyatakan teknologi robotik bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan yang akan meningkatkan akurasi, meminimalkan risiko, dan mempercepat pemulihan pasien. “RSUP Dr. M. Djamil siap menjadi bagian dari implementasi ini, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung,” tegasnya didampingi Ketua Pengampuan Laparoskopi Dr. dr. Muhammad Iqbal Rivai, Sp.B, Subsp.BD (K) dan Ketua Tim Transplantasi Ginjal Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD-KGH.

Selain isu teknologi robotik, Dovy Djanas juga turut serta dalam Rapat Koordinasi Progres Pelayanan Transplantasi Organ dan Jaringan. Agenda ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk mengevaluasi dan mengakselerasi program transplantasi yang menjadi salah satu layanan unggulan rumah sakit rujukan nasional.

Dalam konteks RSUP Dr. M. Djamil, pelayanan transplantasi, khususnya ginjal, menjadi fokus utama untuk dikembangkan. Transplantasi organ adalah puncak pelayanan terpadu yang menyelamatkan jiwa, dan pihaknya berkomitmen untuk memperkuat tim transplantasi, menjalin kerja sama yang lebih erat dengan berbagai pihak terkait. “Paling penting, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya donor organ,” ungkapnya.

Ia berharap melalui koordinasi teknologi robotik, RSUP Dr. M. Djamil diharapkan dapat segera mempersiapkan diri sebagai salah satu center of excellence dalam pemanfaatan teknologi canggih. Sementara itu, melalui rapat koordinasi transplantasi, rumah sakit ini dapat mempercepat target peningkatan layanan transplantasi organ, sehingga masyarakat di wilayah Sumatera bagian Barat tidak perlu lagi merujuk pasien transplantasi ke Jakarta atau kota besar lainnya. “Kedua agenda ini secara paralel memperkuat tiga pilar utama pembangunan kesehatan di RSUP Dr. M. Djamil, yaitu pelayanan prima (transplantasi), inovasi teknologi (robotik), dan pendidikan serta penelitian,” tukasnya.(*)

Jangan Anggap Remeh Gula Darah Tinggi, Spesialis Mata RSUP Dr. M. Djamil Ingatkan Bahaya Retinopati Diabetik

Diabetes Melitus (DM) bukan hanya mengancam organ vital seperti jantung dan ginjal, namun juga perlahan merenggut penglihatan. Komplikasi mikrovaskular mata yang dikenal sebagai Retinopati Diabetik (RD) menjadi salah satu penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah. Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan bahaya ini, terutama bagi para penderita DM.

Menanggapi hal ini, Spesialis Mata RSUP Dr. M. Djamil, dr. Karniela Ayuni Putri, Sp.M, menegaskan Retinopati Diabetik adalah kerusakan pada pembuluh darah kecil di retina, lapisan sensitif cahaya di belakang mata. “Peningkatan kadar gula darah yang berlangsung lama pada pasien DM akan merusak dinding pembuluh darah, menyebabkannya bocor, tersumbat, atau bahkan membentuk pembuluh darah baru yang rapuh. Proses inilah yang mengganggu fungsi retina dan berpotensi menyebabkan kebutaan,” jelas dr. Karniela.

Retinopati Diabetik seringkali tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Ini yang membuatnya sangat berbahaya. “Pada fase awal, pasien mungkin tidak merasakan keluhan apapun. Barulah ketika penyakit sudah berkembang, seperti pada tahap Non-Proliferative Diabetic Retinopathy (NPDR) lanjut atau sudah masuk ke fase Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR), penglihatan mulai terganggu,” papar dr. Karniela.

Gejala yang mungkin timbul antara lain pandangan kabur, kesulitan membaca atau melihat objek kecil, munculnya floater (bintik-bintik gelap atau bayangan melayang), hingga hilangnya penglihatan secara tiba-tiba. Tahap PDR ditandai dengan pertumbuhan pembuluh darah baru abnormal (neovaskularisasi) yang sangat rapuh.

Pembuluh darah ini mudah pecah, menyebabkan perdarahan hebat di bola mata (vitreous hemorrhage) dan jaringan parut yang bisa menarik retina (tractional retinal detachment), yang merupakan kondisi darurat dan dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Sebagai dokter spesialis yang sehari-hari menangani kasus ini, dr. Karniela menekankan pencegahan adalah langkah terbaik. “Faktor risiko utama adalah lama menderita diabetes dan tingginya kadar gula darah yang tidak terkontrol,” tegasnya.

Pencegahan RD berpusat pada tiga pilar utama yakni kontrol gula darah ketat, kontrol tekanan darah dan kolesterol, serta skrining mata rutin. Mempertahankan kadar gula darah (HbA1c) sesuai target yang ditentukan dokter penyakit dalam atau endokrinologi adalah upaya paling efektif. Hipertensi dan dislipidemia turut memperburuk kerusakan pembuluh darah di retina.

Pemeriksaan mata secara komprehensif oleh dokter spesialis mata wajib dilakukan segera setelah didiagnosis DM Tipe 2, dan dalam waktu 5 tahun setelah diagnosis DM Tipe 1. “Penderita DM yang sudah lama mengidap penyakitnya harus lebih waspada dan rutin periksa setidaknya setahun sekali, bahkan lebih sering jika sudah terdeteksi ada kelainan,” saran dr. Karniela.

Bila Retinopati Diabetik sudah terdeteksi, penanganan yang tepat dan cepat sangat krusial. dr. Karniela menyebutkan beberapa modalitas terapi yang tersedia di RSUP Dr. M. Djamil, yaitu Injeksi Anti-VEGF, Terapi Laser (Fotokoagulasi), dan Vitrektomi. Obat Injeksi Anti-VEGF disuntikkan langsung ke dalam mata untuk mengurangi kebocoran dan menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal, terutama efektif untuk mengatasi edema makula diabetik (pembengkakan di pusat penglihatan).

Terapi Laser digunakan untuk menghentikan kebocoran pembuluh darah dan menghancurkan area retina yang kekurangan oksigen demi mencegah pertumbuhan pembuluh darah baru yang berbahaya. Sementara itu, Vitrektomi adalah prosedur bedah yang dilakukan pada kasus PDR lanjut, misalnya ketika terjadi perdarahan vitreus yang tidak kunjung hilang atau sudah terjadi pelepasan retina akibat tarikan jaringan parut.

“Sangat penting bagi pasien DM untuk segera memeriksakan mata di Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil jika merasakan keluhan sekecil apapun, atau bahkan jika tidak ada keluhan, sebagai bagian dari skrining rutin,” ajak dr. Karniela seraya menegaskan pemeriksaan dini memungkinkan diagnosis Retinopati Diabetik pada fase yang masih dapat ditangani, sehingga peluang untuk mempertahankan penglihatan tetap optimal.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Bergerak Cepat, Layanan Kesehatan Bencana Kini Menjangkau Batu Busuak

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana alam di Sumatera Barat. Selama dua hari berturut-turut, Senin (8/12) dan Selasa (9/12), tim medis dari RSUP Dr. M. Djamil juga diturunkan ke Batu Busuak, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Padang. Aksi kemanusiaan ini mencerminkan kesigapan dan komitmen institusi kesehatan rujukan utama di Sumatera Barat tersebut dalam menghadapi situasi darurat.

Sebelumnya, sejak Jumat (5/12), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini menurunkan tim kesehatan di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Di lokasi tersebut, tim kesehatan bekerja keras memberikan pelayanan medis, pengobatan, serta dukungan psikososial tidak hanya kepada para korban terdampak bencana, tetapi juga kepada para relawan yang bertugas di lapangan. Dukungan bagi relawan ini penting untuk memastikan keberlangsungan operasi penanganan bencana.

Di Batu Busuak, tim kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, dan tim farmasi bergerak cepat menuju posko pengungsian untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara intensif bagi para korban yang mengungsi. Posko pengungsian seringkali menjadi titik rawan penyebaran penyakit akibat sanitasi yang terbatas dan kondisi stres yang dialami korban.

Kehadiran tim RSUP Dr. M. Djamil disambut baik oleh masyarakat. Mereka langsung memanfaatkan kesempatan untuk memeriksakan keluhan kesehatan yang mungkin timbul akibat kondisi pengungsian.

Ketua Tim Bencana yang juga Ketua Komite K3RS RSUP Dr. M. Djamil, Katherina Welong, SKM, MARS, mengungkapkan pemeriksaan yang dilakukan di posko pengungsian menunjukkan adanya pola keluhan kesehatan yang umum terjadi pada situasi bencana. “Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan di posko pengungsian Batu Busuak, ada tiga keluhan utama yang paling banyak disampaikan oleh korban terdampak,” ujar Katherina Welong.

Ketiga penyakit yang paling mendominasi tersebut meliputi. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi dan penyakit kuli. Tim medis segera memberikan pengobatan, vitamin, dan edukasi kesehatan dasar sesuai dengan keluhan yang dialami para korban. Tim Farmasi memastikan ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan untuk menangani penyakit-penyakit yang umum ini.

“Aksi kemanusiaan yang terkoordinasi dan menjangkau dua lokasi ini menunjukkan peran vital RSUP Dr. M. Djamil sebagai pilar utama pelayanan kesehatan, tidak hanya pada hari-hari biasa tetapi juga sebagai garda terdepan dalam penanggulangan dampak bencana di Sumatera Barat. Layanan akan terus diberikan sejalan dengan perkembangan situasi di lapangan,” tegas Katherina Welong. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Beri Bantuan Pemulihan Mental Anak Korban Banjir Bandang

Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Kabupaten Agam, khususnya Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, tidak hanya menimbulkan kerugian materiil dan fisik, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat, terutama anak-anak. Menyikapi kondisi ini, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya fokus pada pelayanan kesehatan fisik, tetapi juga bergerak aktif dalam upaya pemulihan kesehatan mental atau psikososial bagi anak-anak terdampak.

Pada hari Selasa (9/12), Tim 2 Tenaga Kesehatan dari RSUP Dr. M. Djamil yang bertugas di Posko SDN 05 Kayu Pasak, melancarkan aksi yang bertujuan untuk mengembalikan keceriaan anak-anak. Tim ini mengajak puluhan anak-anak korban terdampak untuk melakukan kegiatan santai namun memiliki dampak psikologis mewarnai buku gambar yang telah mereka sediakan.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami, tidak hanya untuk menyembuhkan luka fisik, tetapi juga luka di hati mereka. Kegiatan mewarnai ini adalah salah satu bentuk Dukungan Psikososial Awal (DPA) yang kami berikan. Melalui gambar dan warna, anak-anak bisa mengekspresikan perasaannya, mengurangi ketegangan, dan sejenak melupakan kengerian yang mereka alami,” ujar salah seorang anggota Tim 2, dr. Lusi Novia A.

Aksi ini disambut antusias oleh anak-anak. Tawa dan sorakan kecil mulai terdengar, menggantikan raut wajah tegang yang sempat terlihat. Pendekatan ini menunjukkan komitmen RSUP Dr. M. Djamil bahwa penanganan pascabencana harus bersifat holistik, menyentuh aspek fisik dan psikologis secara seimbang.

Di saat Tim 2 menyelesaikan tugas mulia mereka di lokasi bencana, persiapan untuk keberlanjutan bantuan medis juga dilaksanakan di Padang. Pada hari yang sama Selasa (9/12), Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, didampingi oleh Direktur Keuangan dan Perencanaan, Luhur Joko Prasetyo, melepas keberangkatan Tim 3 Tenaga Kesehatan. Tim ini akan menggantikan tugas Tim 2 dan bertugas selama empat hari ke depan di lokasi bencana yang sama.

Pelepasan Tim 3 ini dilakukan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. M. Djamil, sebagai simbol kesiapsiagaan rumah sakit dalam merespons kondisi darurat. Yang membedakan Tim 3 adalah kelengkapan sumber daya manusianya. Tim ini dilengkapi dengan kehadiran dokter spesialis bedah. Kehadiran spesialis ini penting untuk menangani potensi kasus-kasus medis lanjutan yang membutuhkan intervensi bedah.

Dalam sambutan pelepasannya, dr. Maliana, M.Kes, menyampaikan pesan kepada seluruh anggota Tim 3. “Saya berpesan agar seluruh tim selalu menjaga kesehatan diri masing-masing. Kalian adalah garda terdepan dalam pelayanan, jadi pastikan kondisi fisik dan mental kalian prima. Selain itu, layani masyarakat dengan hati dan ikhlas. Tunjukkan bahwa RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya sekadar rumah sakit rujukan, tetapi juga sahabat masyarakat yang siap hadir di saat-saat tersulit. Fokus utama adalah pada keselamatan dan pelayanan terbaik, terutama dengan adanya dokter spesialis bedah untuk penanganan kasus yang lebih kompleks,” tegas dr. Maliana.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Raih Predikat Prima Pelayanan Publik

Menjelang akhir tahun 2025, RSUP Dr. M. Djamil kembali membuktikan kualitas layanannya dengan meraih penghargaan bergengsi dari Kementerian Kesehatan RI. Rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan ini dinobatkan sebagai penerima Predikat Prima untuk hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Pelayanan Publik (PEKPP) Mandiri Tahun 2025, dengan nilai tertinggi mencapai 4,69.

Penghargaan ini diserahkan pada Puncak Health Innovation Festival (HaiFest) 2025 yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, pada Minggu (7/12). Predikat Prima menjadi pengakuan resmi atas keberhasilan RSUP Dr. M. Djamil dalam menjalankan tata kelola pelayanan publik yang berkualitas tinggi, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Penghargaan PEKPP Mandiri merupakan evaluasi menyeluruh yang dilakukan untuk mengukur seberapa baik kinerja unit layanan publik di lingkungan Kementerian Kesehatan. Nilai 4,69 yang diraih RSUP Dr. M. Djamil adalah indikator kuat bahwa rumah sakit ini telah memenuhi, bahkan melampaui, standar pelayanan publik yang ditetapkan.

Predikat Prima ini mencakup berbagai aspek penilaian kritis, termasuk kecepatan dan ketepatan prosedur, transparansi informasi, ketersediaan fasilitas, serta profesionalisme sumber daya manusia dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Capaian ini menjadi bukti komitmen manajemen dan seluruh staf untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit rujukan di Sumatera Barat.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, didampingi oleh Direktur Layanan Operasional, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, hadir langsung untuk menerima penghargaan tersebut di Jakarta.

Dalam keterangannya, Dovy Djanas menyampaikan rasa bangga atas pengakuan yang didapatkan. “Kami bersyukur dan bangga atas perolehan Predikat Prima PEKPP Mandiri ini. Nilai 4,69 ini bukanlah angka biasa, melainkan cerminan dari upaya kolektif dan dedikasi luar biasa dari seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” ujar Dovy.

Dovy menegaskan penghargaan ini memperkuat visi rumah sakit untuk menjadi pusat rujukan terkemuka yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga prima dalam tata kelola organisasi. “Penghargaan ini menegaskan transformasi yang kami lakukan di bidang pelayanan publik berada pada jalur yang tepat. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh pegawai, mulai dari tenaga medis, perawat, hingga petugas administrasi, yang telah bekerja keras dengan integritas dan profesionalisme tinggi,” tambahnya.

Ia menyadari kepuasan pasien adalah prioritas utama. “Penghargaan ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi, meningkatkan infrastruktur, dan memastikan bahwa setiap masyarakat yang datang ke RSUP Dr. M. Djamil mendapatkan pelayanan yang prima dan manusiawi. Kami berharap, capaian ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan,” harap Dovy.(*)

RSUP Dr. M. Djamil jadi Ujung Tombak Validasi Algoritma Diagnosis TBC Anak WHO

RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan dari Tim Direktorat Penanggulangan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI di Ruang Rapat Direksi pada Selasa (9/12). Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka monitoring dan evaluasi (Monev) pelaksanaan Penelitian Operasional Evaluasi dan Validasi Algoritma WHO untuk Diagnosis Tuberkulosis (TBC) Anak di Indonesia.Penelitian tersebut bertujuan untuk menilai dan memvalidasi algoritma diagnosis terbaru yang dikeluarkan oleh WHO khusus untuk kasus TBC pada anak. Mengingat anak-anak adalah kelompok rentan yang seringkali sulit didiagnosis TBC-nya secara pasti.

Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, menjelaskan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan dan rumah sakit pendidikan utama, berkepentingan besar dalam penelitian ini. “Penelitian TBC Anak ini memiliki tujuan utama menilai algoritma diagnosis terbaru untuk Tuberkulosis Anak. Ini adalah upaya strategis untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, mempercepat penanganan, dan pada akhirnya memperbaiki outcome pada pasien anak yang merupakan kelompok rentan. Kami ingin memastikan penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pelayanan,” tegas dr. Maliana.

Turut hadir Manajer Timker Litbang dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, FIAC, IFCAP dan jajaran, anggota tim peneliti dr. Riki Alkamdani, Sp.A, Subsp.Resp dan manajemen rumah sakit. Kegiatan dilanjutkan telusur ke Departemen Ilmu Kesehatan Anak.

Kegiatan Monev yang berlangsung seharian tersebut mencakup paparan progres nasional, pengecekan Case Report Form (CRF) dan dokumen klaim, peninjauan portnat dan logistik penelitian, serta penyusunan rencana tindak lanjut.

dr. Maliana berharap seluruh proses monev dapat berjalan secara objektif dan menghasilkan masukan yang relevan untuk memperkuat implementasi penelitian di lapangan.

Sementara itu, Mardawaning Hanggarjita, dari Tim Kerja TBC Kemenkes RI, menguraikan tujuan umum monitoring ini adalah untuk memantau seluruh rangkaian kegiatan penelitian operasional evaluasi dan validasi algoritma WHO untuk diagnosis TBC anak di Indonesia. Secara khusus, monev bertujuan untuk melakukan verifikasi dan validasi data penelitian operasional guna memastikan konsistensi dan kualitas data sesuai dengan protokol. Selain itu, kegiatan ini juga memantau pelaksanaan prosedur diagnostik non-invasif yang sedang diuji, yakni berupa pengambilan sampel tongue swab (usapan lidah) dan pemeriksaan LAM Urin.

Tim juga melakukan pengecekan dokumen klaim pembiayaan penelitian operasional, mengevaluasi ketersediaan dan pemanfaatan logistik penelitian, serta mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang mungkin dihadapi selama kegiatan penelitian di lapangan. “Keberhasilan validasi algoritma ini diharapkan dapat menjadi panduan klinis yang lebih efektif, sehingga pasien anak di Indonesia dapat menerima diagnosis TBC lebih cepat dan akurat,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Bantuan Obat-obatan untuk Korban Bencana dari Perhati-KL Sumbar

RSUP Dr. M. Djamil  menerima bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan untuk korban terdampak bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat. Bantuan ini diserahkan oleh Perhati-KL Cabang Sumatera Barat di Ruang Rapat Direksi RSUP Dr. M. Djamil pada Selasa (9/12).

Penyerahan bantuan tersebut diterima oleh Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil, Luhur Joko Prasetyo, SE., MKes didampingi oleh Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian, dr. Maliana, M.Kes. Sementara itu, dari pihak Perhati-KL Sumbar, bantuan diserahkan oleh Ketua Perhati-KL Sumbar, dr. Novialdi, Sp.THT-BKL., Subsp. LF.(K).

Luhur Joko Prasetyo menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kepedulian dari Perhati-KL Sumbar. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Perhati-KL Sumbar atas bantuan obat-obatan ini. Bantuan ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi dan solidaritas antar tenaga kesehatan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Luhur Joko Prasetyo seraya menambahkan obat-obatan yang disumbangkan akan segera didistribusikan dan digunakan untuk mendukung layanan kesehatan bagi para korban di lokasi bencana.

Diketahui, RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat, tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga secara proaktif telah mengambil langkah cepat tanggap bencana. Pihak rumah sakit telah menurunkan tim kesehatan langsung ke lokasi dampak bencana untuk memberikan pertolongan dan layanan medis.

Fokus utama penanganan saat ini adalah di wilayah yang terdampak parah, salah satunya di Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Tim kesehatan RSUP Dr. M. Djamil terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang bertugas memberikan pemeriksaan, pengobatan, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat di lokasi pengungsian maupun di sekitar area bencana.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes menekankan pentingnya peran rumah sakit dalam situasi darurat. “Tim kami bergerak cepat untuk memastikan korban bencana mendapatkan penanganan medis yang memadai. Bantuan obat-obatan dari Perhati-KL ini tentu sangat memperkuat logistik tim di lapangan, terutama untuk penanganan penyakit yang rentan muncul pascabencana seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, dan diare,” jelas dr. Maliana.

Sementara itu, Ketua Perhati-KL Sumbar dr. Novialdi, Sp.THT-BKL., Subsp. LF.(K) menyatakan inisiatif pemberian bantuan ini adalah bentuk tanggung jawab moral organisasi profesi untuk berkontribusi aktif dalam penanggulangan bencana.

“Kami dari Perhati-KL Sumbar merasa terpanggil untuk meringankan beban korban banjir bandang. Kami berharap bantuan obat-obatan ini dapat bermanfaat optimal melalui tangan RSUP Dr. M. Djamil yang telah memiliki tim dan jalur distribusi langsung ke lokasi terdampak,” kata dr. Novialdi.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Turunkan Dokter Spesialis Bedah, Perkuat Layanan Kesehatan di Salareh Aia

RSUP Dr. M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit rujukan Kementerian Kesehatan, memperkuat respons terhadap dampak bencana alam di Kabupaten Agam. Mulai besok, Selasa (9/12/2025), rumah sakit ini akan menerjunkan Tim 3 yang dilengkapi dengan dokter spesialis bedah untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih komprehensif bagi korban terdampak bencana dan para relawan di Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan.Tim 3 yang bertugas selama tiga hari ke depan akan menjadi tim yang lebih lengkap.

Ketua Tim Bencana RSUP Dr. M. Djamil yang juga menjabat sebagai Ketua Komite K3RS, Katherina Welong, SKM, MARS, menjelaskan keputusan untuk menyertakan dokter spesialis bedah didasarkan pada hasil asesmen kebutuhan lapangan.

“Mulai besok hingga tiga hari ke depan, RSUP Dr. M. Djamil akan menurunkan Tim 3. Dalam tim ini akan turut bergabung dokter spesialis bedah selain dokter spesialis penyakit dalam, anak, dan kulit, serta perawat dan farmasi,” jelas Katherina Welong.

Langkah ini diambil mengingat potensi penanganan luka yang lebih kompleks di lokasi bencana. “Pihak rumah sakit telah menyiapkan instrumen set bedah minor untuk memungkinkan penanganan kasus-kasus seperti perawatan luka terbuka, tindakan debridement, atau prosedur bedah kecil lainnya dapat dilakukan secara cepat dan efektif di posko,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada hari Senin (8/12), Tim 2 tenaga kesehatan dari RSUP Dr. M. Djamil telah aktif memberikan pelayanan di tiga posko utama, yakni di Puskesmas Koto Alam, Posko SDN 05 Kayu Pasak, dan Posko Gumarang.

Layanan kesehatan yang diberikan pada hari ini telah melayani lebih dari seratus pasien di ketiga posko tersebut. Data menunjukkan keluhan pasien yang dominan meliputi hipertensi, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Sindrom dispepsia pada pasien anak, kebutuhan perawatan luka dan masalah kulit dan ditemukan juga kasus TB Paru anak.

Tingginya angka keluhan ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan pemeriksaan medis, terutama untuk kondisi yang rentan terjadi di lokasi pengungsian dan memerlukan tindak lanjut dari tenaga kesehatan spesialis.

“Melalui upaya berkelanjutan ini, RSUP Dr. M. Djamil memastikan respons kesehatan di lokasi bencana terus ditingkatkan kualitasnya, dengan penambahan layanan spesialis untuk memberikan penanganan yang optimal bagi masyarakat terdampak dan para relawan,” tegas Katherina Welong.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45