Wamenkes RI Dorong Percepatan Eliminasi TB di Sumbar

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mendampingi Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR dalam Rapat Koordinasi Percepatan Eliminasi TBC Provinsi Sumatera Barat yang digelar di Auditorium Gubernuran, Selasa (12/5). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah pusat dalam memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat.

Rapat koordinasi itu turut dihadiri Sesditjen Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI dr. Sunarto, M.Kes, pejabat Kemenkes, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, jajaran pemerintah daerah, kepala dinas kesehatan kabupaten dan kota, pimpinan rumah sakit, serta berbagai pemangku kepentingan sektor kesehatan lainnya.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR menegaskan Presiden RI Prabowo Subianto memberikan perhatian serius terhadap upaya pemberantasan TBC di Indonesia. Angka kematian akibat TBC masih sangat tinggi meskipun penyakit tersebut sebenarnya dapat disembuhkan apabila ditangani secara cepat dan tepat.

“Dalam satu tahun ada 126 ribu orang meninggal karena TBC. Padahal TBC bisa diobati dan tidak harus berujung kematian. Presiden minta ini ke depan bisa kita tekan,” kata dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR.

Ia menyebutkan, percepatan eliminasi TBC kini menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat. Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota, termasuk meningkatkan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan di daerah.

“Ini provinsi ke-24 yang kami datangi. Kami ingin memastikan pemerintah pusat dan daerah bergerak bersama untuk mengatasi hal ini,” ujarnya.

Menurut dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, penanganan TBC tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor hingga tingkat pemerintahan paling bawah. Pemerintah pusat juga tengah menyiapkan program renovasi 8.000 rumah masyarakat, termasuk bagi pasien TBC yang membutuhkan lingkungan hunian sehat untuk mendukung proses penyembuhan.

Selain itu, pemerintah akan memperkuat skrining TBC melalui pendistribusian teknologi portable X-ray ke daerah-daerah dengan angka kasus tinggi. “Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat deteksi dini sehingga pasien segera mendapatkan pengobatan,” ucapnya.

Dalam paparannya, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR mengungkapkan estimasi kasus TBC di Sumatera Barat mencapai sekitar 25 ribu kasus. Namun, baru sekitar 15 ribu kasus yang berhasil ditemukan dan diobati. “Artinya masih ada sekitar 10 ribu orang di Sumatera Barat yang belum mendapat penanganan intensif, inilah tantangan kita ke depan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sumbar untuk mendukung penuh percepatan eliminasi TBC melalui penguatan kolaborasi hingga tingkat nagari dan desa. “Kami beserta seluruh jajaran, mulai dari provinsi, kabupaten/kota hingga nagari dan desa, siap bersinergi dengan pemerintah pusat dalam penanganan berbagai isu kesehatan,” tegas Mahyeldi.

Menurutnya, percepatan penanganan TBC membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat, termasuk camat, lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas hingga kader kesehatan, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini. “Jangan sampai masyarakat datang ke rumah sakit ketika kondisi sudah parah. Itu yang perlu kita edukasi bersama,” ujarnya.

Mahyeldi juga menyampaikan dukungan penuh terhadap Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Kementerian Kesehatan RI sebagai langkah memperkuat deteksi dini berbagai persoalan kesehatan masyarakat.

Usai rapat koordinasi, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan bahwa RSUP Dr. M. Djamil siap mendukung penuh program percepatan eliminasi TBC di Sumatera Barat melalui penguatan layanan kesehatan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor.

“RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan siap mendukung kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam percepatan eliminasi TBC. Penanganan TBC membutuhkan sinergi seluruh pihak agar angka kasus maupun kematian dapat ditekan,” ujar Dirut.

Ia menambahkan, RSUP Dr. M. Djamil terus meningkatkan kualitas pelayanan serta memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam mendukung deteksi dini dan penanganan pasien TBC secara optimal.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya eliminasi TBC. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri lebih awal, maka penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko komplikasi dan penularan dapat diminimalkan.

“Kami berharap masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini. Semakin cepat ditemukan, maka semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan mencegah penularan kepada orang lain,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Tegaskan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Transformasi Kesehatan

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam membangun kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian, hingga pengembangan inovasi medis. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui penandatanganan sejumlah kerja sama strategis dalam rangkaian Kunjungan Kerja dan Kuliah Umum Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, yang berlangsung di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Kampus Jati, Selasa (12/5).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua secara langsung menandatangani nota kesepahaman bersama sejumlah mitra strategis dari berbagai bidang. Penandatanganan ini menjadi langkah nyata rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan tersebut dalam memperluas jejaring kolaborasi demi mendukung penguatan sumber daya manusia kesehatan, pengembangan riset, inovasi teknologi medis, hingga peningkatan layanan unggulan bagi masyarakat.

Adapun kerja sama yang dijalin meliputi Kolegium Keperawatan terkait pengembangan kompetensi tenaga keperawatan, Kolegium Patologi Anatomi terkait pelaksanaan fellowship dokter spesialis patologi anatomi, PT Crown Teknologi Indonesia terkait riset dan pengembangan produk diagnostik berbasis molekuler, PT Kranium Mukti Utama terkait layanan bank jaringan, serta RS Royal Prima Medan terkait pengampuan layanan transplantasi ginjal.

Penandatanganan tersebut turut disaksikan oleh Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, Ketua Konsil Kesehatan Indonesia drg. Arianti Anaya, MKM, Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi, Ph.D dan Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan kolaborasi yang terus dibangun merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan rumah sakit dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks dan dinamis.

“Penandatanganan kerja sama ini merupakan bentuk komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik institusi pendidikan, organisasi profesi, dunia industri, maupun sesama rumah sakit. Kami meyakini kemajuan pelayanan kesehatan tidak dapat dibangun sendiri, tetapi harus melalui sinergi yang kuat, saling mendukung, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta keselamatan pasien,” ujarnya.

Menurutnya, kerja sama yang dijalin tidak hanya bersifat administratif. Namun harus mampu melahirkan implementasi nyata yang berdampak langsung terhadap peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan riset, percepatan transfer teknologi, hingga hadirnya layanan kesehatan yang semakin komprehensif bagi masyarakat.

“Melalui kemitraan ini, kami ingin memastikan RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya menjadi rumah sakit rujukan nasional, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, pusat riset, serta pusat pengembangan layanan kesehatan unggulan di Sumatera dan Indonesia. Kolaborasi ini menjadi investasi jangka panjang untuk menghadirkan pelayanan yang semakin maju, adaptif, dan berkelas internasional,” tambahnya.

Momentum tersebut, sebutnya, sekaligus menegaskan posisi RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama yang terus aktif membangun ekosistem kolaboratif bersama berbagai pemangku kepentingan. “Ini sejalan dengan agenda transformasi kesehatan nasional yang tengah digencarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,” tukas Dirut. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Bersama PDRPI FK Unand Perkuat Riset TB dan Dapat Dukungan Wamenkes RI

RSUP Dr. M. Djamil terus mempertegas komitmennya dalam menghadirkan inovasi di bidang pelayanan kesehatan sekaligus pengembangan riset medis nasional. Sebagai rumah sakit vertikal milik Kementerian Kesehatan RI, RSUP Dr. M. Djamil kini menjalin kolaborasi strategis dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dalam pengembangan riset pemeriksaan Interferon Gamma Releasing Assay (IGRA) melalui produk bertajuk INA-Quantiferon TB. Riset ini diarahkan untuk menghasilkan metode deteksi tuberkulosis (TB) laten yang lebih akurat, terjangkau, dan dapat dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.

Kolaborasi tersebut mendapat perhatian dan apresiasi langsung dari Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR saat melakukan kunjungan ke PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan memberikan Kuliah Umum bertajuk Strategi Nasional Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf, Selasa (12/5).

Benjamin menilai sinergi antara rumah sakit pendidikan dan institusi akademik merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem kesehatan nasional, khususnya pada aspek deteksi dini penyakit infeksi. Oleh karena itu, pengembangan INA-Quantiferon TB menjadi bagian penting dalam mendukung kemandirian teknologi diagnostik nasional. “Yang kami lihat hari ini bukan sekadar sebuah riset, tetapi fondasi penting bagi kedaulatan kesehatan Indonesia,” kata Benjamin saat memberikan Kuliah Umum.

Turut hadir istri Wamenkes RI Linda Taroreh, Sesditjen Kesehatan Lanjutan dr. Sunarto, M.Kes, pejabat Kemenkes, Ketua Konsil Kesehatan Indonesia drg. Arianti Anaya, MKM, anggota DPR RI dr. Suir Syam, M.Kes, MMR, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima MPH, kepala daerah, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua beserta jajaran direksi dan manajemen, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D dan jajaran, civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, mitra serta undangan.

Ia mengatakan kolaborasi antara layanan kesehatan dan institusi riset seperti ini sangat strategis. INA-Quantiferon TB diharapkan mampu menghadirkan metode deteksi TB laten yang lebih akurat, lebih mudah diakses, dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada produk impor. ”Untuk itu, pengembangan riset tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Kesehatan RI dan ke depan diarahkan menuju proses hilirisasi bersama Bio Farma agar dapat diproduksi secara nasional dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” tutur Wamenkes.

Benjamin juga memaparkan kasus TB di Indonesia tahun 2025 diperkirakan 1.090.000 orang. Dimana capaian notifikasi kasus TB 876 ribu orang atau 80 persen dan jumlah kasus diobati lebih kurang 810 ribu (93 persen). Di Sumbar sendiri estimasi kasus TB pada tahun 2025 sebanyak 25.037 orang dengan capaian penemuan kasus 62 persen. Hanya dua kota yakni Kota Bukittinggi dan Kota Solok mencapai target penemuan kasus TB. “Sebagai ahli paru, maka saya langsung memimpin eliminasi TB di Indonesia. Ini tidak bisa diselesaikan oleh kementerian kesehatan saja akan tetapi lintas sektor,” sebutnya.

TB bukan hanya persoalan medis, sebut Benjamin, tetapi juga persoalan lingkungan dan kualitas hidup. “Karena itu pemerintah hadir bukan hanya dengan obat, tetapi juga dengan mendistribusikan teknologi skrining melalui portable X-ray ke daerah dengan angka kasus TB tinggi. Serta intervensi sosial seperti perbaikan rumah pasien TB kurang mampu agar penanganannya benar-benar tuntas dari hulu hingga hilir,” ungkapnya.

Tak hanya riset diagnostik TBC ini, Wamenkes pun kagum ada beberapa produk lagi hasil riset kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan PDRPI. Di antaranya produk MRSA Assay, pneumoplex 4.0, HIV Detect Real Time Kit, HBV Detect Real Time Kit. “Kami berharap inovasi seperti ini terus berkembang dan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghasilkan teknologi kesehatan yang kompetitif serta berdampak nyata bagi masyarakat,” harap Wamenkes.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan inovasi tersebut merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam mendukung transformasi kesehatan nasional melalui penguatan riset dan inovasi berbasis kolaborasi.

“RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga terus mendorong pengembangan riset yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kolaborasi dengan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini menjadi bagian penting dalam pengembangan deteksi TB laten melalui INA-Quantiferon TB,” katanya.

Menurut Dovy, pengembangan alat deteksi tersebut diharapkan mampu memperkuat program eliminasi tuberkulosis yang saat ini menjadi salah satu prioritas pemerintah di bidang kesehatan. “Melalui riset ini, kami ingin memastikan inovasi kesehatan tidak hanya lahir di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dalam layanan kesehatan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ini adalah bentuk kontribusi RSUP Dr. M. Djamil dalam mewujudkan kemandirian teknologi kesehatan Indonesia,” tutur Dirut.

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D menegaskan kolaborasi lintas institusi merupakan kunci dalam menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Perguruan tinggi harus mampu melahirkan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dan menjawab kebutuhan bangsa. Kolaborasi dengan RSUP Dr. M. Djamil dan dukungan Kementerian Kesehatan menjadi langkah penting menuju kemandirian teknologi kesehatan Indonesia,” ujarnya.

Ketua PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Si menjelaskan riset tersebut dilakukan untuk menghasilkan metode pemeriksaan TB laten yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih baik. “TB laten sering kali tidak terdeteksi karena pasien belum menunjukkan gejala. Melalui riset INA-Quantiferon TB ini, kami ingin menghadirkan metode diagnostik yang lebih efektif sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan pengembangan riset tersebut juga menjadi bagian dari upaya kemandirian bangsa dalam menghasilkan teknologi kesehatan berbasis riset dalam negeri. “Sekaligus membuktikan kolaborasi antara akademisi, klinisi, dan pemerintah mampu melahirkan inovasi kesehatan yang tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga aplikatif untuk menjawab tantangan kesehatan nasional,” tukas Dr. dr. Andani. (*)

RSUP Dr. M. Djamil dan Legislatif Perkuat Layanan Kesehatan

Komitmen untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat terus diperkuat oleh RSUP Dr. M. Djamil melalui sinergi bersama berbagai pemangku kepentingan. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan unsur legislatif sebagai mitra dalam mendukung penguatan layanan kesehatan nasional, peningkatan akses pelayanan, serta pengembangan fasilitas kesehatan yang semakin modern dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan kolaborasi dengan legislatif merupakan bagian penting dalam memperkuat peran rumah sakit sebagai pusat rujukan nasional di wilayah Sumatera. Dukungan dari para pemangku kebijakan memiliki peran besar dalam mempercepat pengembangan layanan, peningkatan sarana prasarana, hingga penguatan kualitas sumber daya manusia kesehatan.

“Kolaborasi dengan legislatif merupakan langkah strategis dalam memperkuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kami percaya, dengan sinergi yang baik antara institusi pelayanan kesehatan dan para pemangku kebijakan, berbagai kebutuhan pengembangan layanan dapat berjalan lebih optimal, terarah, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” ujar Dr. Dovy Djanas.

Ia menambahkan sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen melakukan transformasi layanan melalui inovasi, penguatan tata kelola, peningkatan mutu pelayanan, serta memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

“RSUP Dr. M. Djamil memiliki tanggung jawab besar sebagai rumah sakit rujukan. Karena itu, kami terus berupaya menghadirkan pelayanan yang unggul secara klinis, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” tambahnya.

Sementara itu, anggota legislatif Andre Rosiade menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai langkah yang telah dilakukan RSUP Dr. M. Djamil dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Kami melihat RSUP Dr. M. Djamil memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya bagi masyarakat Sumatera Barat, tetapi juga bagi wilayah Sumatera secara umum. Unsur legislatif tentu siap mendukung berbagai langkah penguatan layanan agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik,” ujar Wakil Ketua Komisi VI DPR RI ini.

Andre juga menyampaikan harapannya agar RSUP Dr. M. Djamil terus berkembang menjadi rumah sakit kebanggaan masyarakat, tidak hanya unggul dalam pelayanan medis, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan inovasi kesehatan yang mampu bersaing di tingkat nasional.

“Harapan kami, RSUP Dr. M. Djamil terus tumbuh menjadi rumah sakit rujukan yang semakin maju, semakin modern, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan semua pihak, kami ingin rumah sakit ini menjadi kebanggaan Sumatera Barat dan Indonesia, yang mampu memberikan pelayanan terbaik sekaligus melahirkan berbagai inovasi di bidang kesehatan,” tuturnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Jadi Pengampu Transplantasi Ginjal bagi RS Royal Prima Medan

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat layanan kesehatan rujukan nasional sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antar rumah sakit di Indonesia. Pada Senin (11/5), rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menerima kunjungan dari RS Royal Prima Medan yang berlangsung di Sekretariat Unit Transplantasi Ginjal RSUP Dr. M. Djamil. Kunjungan tersebut menjadi langkah awal dalam penguatan kerja sama pengampuan layanan transplantasi ginjal antara kedua institusi, sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan transplantasi organ di Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa.

Diketahui, rangkaian kolaborasi ini akan berlanjut pada Selasa (12/5) melalui penandatanganan kerja sama resmi antara RSUP Dr. M. Djamil dengan RS Royal Prima Medan di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf Kampus Jati Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penandatanganan tersebut dijadwalkan turut disaksikan oleh Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan layanan transplantasi ginjal nasional melalui skema pengampuan antarrumah sakit.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan RS Royal Prima Medan kepada RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pengampu dalam pengembangan layanan transplantasi ginjal. Kolaborasi ini bukan hanya menjadi bentuk pengakuan terhadap kapasitas layanan yang dimiliki RSUP Dr. M. Djamil, namun juga bagian dari tanggung jawab institusi dalam mendukung pemerataan layanan kesehatan berteknologi tinggi di Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan RS Royal Prima Medan kepada RSUP Dr. M. Djamil. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus berbagi pengalaman, kompetensi, serta sistem layanan yang telah kami bangun selama bertahun-tahun. Harapan kami, kerja sama ini tidak hanya berhenti pada proses pendampingan teknis semata, tetapi benar-benar mampu melahirkan center-center transplantasi ginjal baru yang mandiri, berkualitas, dan mampu melayani masyarakat di daerahnya masing-masing. Dengan begitu, akses masyarakat terhadap layanan transplantasi ginjal akan semakin merata dan pasien tidak lagi harus terkonsentrasi ke rumah sakit tertentu saja,” ujar Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K).

Turut hadir Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes, Ketua Tim Transplantasi Ginjal Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD, KGH, FINASIM beserta tim, manajemen RSUP Dr. M. Djamil, Direktur Utama RS Royal Prima Medan, Dr. dr. Wienaldi, M.K.M., M.Q.M., Sp.KKLP dan tim serta dokter spesialis Urologi RS Royal Prima Medan Dr. dr. Bungaran Sihombing, Sp.U.

Ia menjelaskan, Unit Transplantasi Ginjal RSUP Dr. M. Djamil saat ini menjadi salah satu center transplantasi ginjal di luar Pulau Jawa yang secara rutin dan mandiri melakukan tindakan transplantasi ginjal. Sejak memulai layanan pada tahun 2015 hingga saat ini, rumah sakit ini terus menunjukkan perkembangan signifikan baik dari sisi kompetensi sumber daya manusia, teknologi, maupun jumlah pasien yang dilayani. Hingga kini, RSUP Dr. M. Djamil telah berhasil melaksanakan sebanyak 35 tindakan transplantasi ginjal dan secara rutin melakukan prosedur tersebut dua kali setiap bulan.

Keberhasilan tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari kemandirian dan inovasi tim transplantasi ginjal RSUP Dr. M. Djamil yang terus berkembang. Tim transplantasi rumah sakit ini bahkan menjadi yang pertama di luar Pulau Jawa yang secara mandiri mampu melakukan pemeriksaan skrining donor organ secara komprehensif. Pemeriksaan tersebut meliputi HLA typing pada donor dan resipien, pemeriksaan HLA Antibodi Resipien, hingga CDC Crossmatch guna memastikan tingkat kecocokan donor dan penerima organ secara optimal.

“Proses skrining yang komprehensif ini sangat penting untuk memastikan kecocokan antara donor dan resipien sehingga dapat meminimalkan risiko penolakan organ pascatransplantasi. Selain itu, untuk pengambilan ginjal donor, kami juga telah menerapkan teknik laparoskopi yang jauh lebih minim invasif dibandingkan bedah terbuka, sehingga rasa nyeri lebih minimal, masa pemulihan lebih cepat, dan bekas luka lebih kecil bagi pendonor,” ungkap Direktur Medik dan Keperawatan ini.

Ia berharap pengalaman dan sistem yang telah dibangun RSUP Dr. M. Djamil ini dapat ditransfer secara optimal kepada rumah sakit mitra. “Sehingga kualitas layanan transplantasi ginjal nasional dapat tumbuh bersama dengan standar mutu dan keselamatan yang sama,” jelas Bestari.

Sementara itu, Direktur Utama RS Royal Prima Medan, Dr. dr. Wienaldi, M.K.M., M.Q.M., Sp.KKLP, menyampaikan kunjungan ini menjadi momentum penting bagi rumah sakit yang dipimpinnya dalam mempersiapkan pengembangan layanan transplantasi ginjal di Sumatera Utara. “Kami melihat RSUP Dr. M. Djamil memiliki pengalaman yang sangat baik dan konsisten dalam mengembangkan layanan transplantasi ginjal secara mandiri. Karena itu kami percaya, melalui kerja sama pengampuan ini kami dapat belajar secara langsung dari center yang sudah terbukti, mulai dari penguatan sumber daya manusia, tata kelola layanan, hingga kesiapan teknologi dan sistem penunjang,” sebutnya.

Ia berharap kerja sama ini dapat menjadi fondasi kuat bagi RS Royal Prima Medan untuk menghadirkan layanan transplantasi ginjal yang aman, berkualitas, dan mandiri di Sumatera Utara. “Sehingga masyarakat tidak perlu lagi mencari layanan serupa ke daerah yang lebih jauh,” ungkap Wienaldi. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Diapresiasi Andre Rosiade atas Pelayanan Kemanusiaan

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mengedepankan sisi kemanusiaan dibanding persoalan pembiayaan. Rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat itu tetap melayani pasien yang membutuhkan perawatan meskipun tidak memiliki BPJS Kesehatan maupun jaminan pembayaran lainnya. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari anggota DPR RI asal Sumatera Barat, Andre Rosiade saat mengunjungi pasien yang sedang menjalani perawatan di RSUP Dr. M. Djamil, Jumat (8/5).

Kedatangan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI tersebut disambut langsung oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Dalam kunjungannya, Andre melihat langsung pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada masyarakat, termasuk pasien yang tidak memiliki BPJS Kesehatan maupun jaminan pembayaran lainnya. Ia mengaku terharu melihat langkah cepat rumah sakit yang tetap mengutamakan keselamatan pasien tanpa mempersoalkan biaya pengobatan di awal pelayanan.

“Saya melihat dan menyaksikan sendiri banyak sekali pasien yang dirawat di rumah sakit ini membutuhkan bantuan meskipun tidak memiliki BPJS Kesehatan maupun tidak memiliki jaminan pembayaran. Alhamdulillah rumah sakit ini bergerak cepat untuk tetap melayani pasien tanpa perlu memikirkan pembiayaan ataupun jaminan pembayaran,” ujar Andre Rosiade.

Ia menyebut langkah yang dilakukan RSUP Dr. M. Djamil merupakan bentuk pelayanan kemanusiaan yang patut diapresiasi dan dipertahankan. Rumah sakit pemerintah harus hadir untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis.

“Saya sebagai wakil masyarakat Sumatera Barat sangat mengapresiasi langkah RSUP Dr. M. Djamil yang lebih mengedepankan kemanusiaan dibanding pembiayaan. Ini harus dipertahankan. Layani dulu masyarakat, utamakan keselamatan pasien. Untuk pembiayaan nantinya tentu ada BPJS Kesehatan maupun pemerintah yang akan bergotong royong membantu masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan pihak rumah sakit berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang ekonomi pasien. Keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelayanan yang diberikan rumah sakit.

“Kami di RSUP Dr. M. Djamil selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Prinsip kami adalah menyelamatkan pasien terlebih dahulu. Soal administrasi dan pembiayaan tentu akan dicarikan solusi bersama sesuai aturan yang berlaku,” ujar Dovy Djanas.

Ia menambahkan, sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat, RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang cepat, humanis, dan profesional bagi seluruh masyarakat. “Rumah sakit ini milik masyarakat. Karena itu kami ingin memastikan seluruh pasien mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik. Kami percaya pelayanan kesehatan harus mengutamakan kemanusiaan, empati, dan keselamatan pasien,” tukas Dirut. (*)

RSUP Dr M Djamil Jadi Rujukan Benchmarking Unit Cost bagi BMHS Group

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan langkah transformasi tata kelola layanan kesehatan berbasis efisiensi biaya melalui kegiatan benchmarking pengelolaan unit cost bersama PT Bundamedik Tbk (BMHS Group). Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (8/5) di ruang pertemuan RSU Bunda Padang dan menjadi bagian dari upaya penguatan sistem pembiayaan rumah sakit yang lebih transparan, akuntabel, serta berorientasi pada mutu layanan pasien.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menegaskan rumah sakit yang dipimpinnya telah mulai menerapkan skema unit cost sejak awal November tahun lalu. Penerapan sistem ini menjadi langkah penting dalam menyederhanakan struktur tarif sekaligus meningkatkan kepastian biaya layanan bagi pasien.

“RSUP Dr. M. Djamil telah menerapkan unit cost awal November lalu dengan skema tarif paket standar. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan sistem pembiayaan yang lebih transparan, efisien, dan mudah dipahami oleh masyarakat,” ujar Dovy Djanas dalam sesi diskusi benchmarking tersebut.

Pada kesempatan itu, Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil Luhur Joko Prasetyo didampingi Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes menyampaikan kata pengantar penerapan unit cost. Dilanjutkan Ketua Unit Cost dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, MARS, FICS, FIATCVS memaparkan penerapan unit cost di RSUP Dr. M. Djamil dan Wakil Kepala Instalasi SIMRS Fena Amalia Untari, SKM.MPH memaparkan ekosistem digital unit cost.

Ia menambahkan penerapan unit cost tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga mendorong perubahan budaya kerja di lingkungan rumah sakit, khususnya dalam hal efisiensi layanan dan penguatan tata kelola berbasis data. “Dengan sistem ini, setiap layanan kesehatan dihitung berdasarkan komponen biaya yang lebih terstruktur, sehingga rumah sakit dapat mengendalikan pemborosan sekaligus menjaga kualitas pelayanan tetap optimal,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur PT Bundamedik Tbk, Cuncun Wijaya, menyampaikan apresiasi atas inisiatif RSUP Dr. M. Djamil yang telah lebih dahulu mengimplementasikan sistem unit cost dalam operasionalnya. Pengalaman rumah sakit ini menjadi rujukan penting bagi pihaknya dalam mengembangkan tata kelola keuangan rumah sakit di lingkungan BMHS Group.

“Kami ingin belajar banyak dari pengalaman RSUP Dr. M. Djamil dalam mengelola unit cost. Implementasi yang sudah berjalan tentu menjadi referensi berharga bagi kami dalam memperkuat sistem pengelolaan biaya di rumah sakit-rumah sakit kami,” ujar Cuncun Wijaya.

Hal senada juga disampaikan oleh Komisaris Independen PT Bundamedik Tbk, drg. Arianti Anaya, MKM, yang menilai bahwa kolaborasi dan benchmarking seperti ini sangat penting dalam mempercepat peningkatan kualitas manajemen rumah sakit di Indonesia. Tantangan utama industri kesehatan saat ini bukan hanya pada aspek pelayanan medis, tetapi juga pada efisiensi pembiayaan dan keberlanjutan sistem.

“Pengelolaan unit cost yang baik akan sangat menentukan keberlanjutan layanan rumah sakit. Karena itu, kami melihat RSUP Dr. M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit pemerintah yang sudah cukup maju dalam implementasi sistem ini dan layak menjadi pembelajaran bersama,” ungkap Arianti Anaya.

Diskusi tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengalaman terkait tantangan implementasi unit cost, mulai dari penyesuaian sistem informasi, perhitungan biaya layanan, hingga perubahan pola manajemen operasional rumah sakit.

Dengan semakin kompleksnya kebutuhan layanan kesehatan dan tekanan efisiensi di sektor publik maupun swasta, model pengelolaan berbasis unit cost dipandang sebagai salah satu pendekatan strategis yang dapat memperkuat keberlanjutan sistem kesehatan nasional ke depan.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Peringati Hari Asma Sedunia dengan Edukasi Asma

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif melalui berbagai kegiatan edukasi kesehatan. Pada Kamis (7/5), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi memperingati Hari Asma Sedunia dengan menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien di Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Djamil.

Peringatan Hari Asma Sedunia tahun ini mengusung tema “Akses terhadap Inhaler Antiinflamasi untuk Semua Penderita Asma: Masih Merupakan Kebutuhan Mendesak.” Tema tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap pengobatan yang tepat, khususnya terapi inhalasi antiinflamasi, masih menjadi tantangan yang harus terus diperjuangkan agar seluruh penyandang asma dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Kegiatan edukasi ini menghadirkan narasumber dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Dr. dr. Masrul Basyar, Sp.P, (K), FISR, FAPSR, yang memberikan pemahaman komprehensif tentang asma, mulai dari pengenalan penyakit, faktor risiko, gejala, diagnosis, hingga pengobatan dan upaya pencegahannya. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pasien dan keluarga yang aktif mengikuti sesi edukasi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengelolaan asma dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Dr. dr. Masrul menjelaskan asma merupakan penyakit saluran napas yang sensitif dan mudah mengalami peradangan, sehingga menyebabkan saluran napas menjadi lebih reaktif terhadap berbagai pencetus. Kondisi tersebut dapat membuat saluran napas menyempit dan mengganggu aliran udara, sehingga menimbulkan berbagai keluhan pada penderitanya.

“Gejala asma yang sering dirasakan antara lain sesak napas, napas berbunyi atau mengi, dada terasa berat, serta batuk terutama pada pagi hari atau malam hari. Gejala ini bisa datang dan pergi, bahkan intensitasnya dapat berubah-ubah tergantung kondisi masing-masing pasien dan faktor pencetus yang dialami,” jelas Dr. dr. Masrul.

Ia menambahkan terdapat sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami asma. Di antaranya riwayat keluarga dengan asma, riwayat alergi, obesitas, paparan asap rokok, serta berbagai faktor lingkungan. Selain itu, terdapat pula faktor pencetus yang dapat memicu kekambuhan, seperti tungau, debu rumah, asap rokok, udara dingin, debu, infeksi virus, aktivitas fisik berat, stres emosional, parfum menyengat, hingga polusi udara.

“Penegakan diagnosis asma dilakukan melalui evaluasi gejala klinis, riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan fungsi paru sesuai indikasi medis. Diagnosis yang tepat sangat penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya,’ ucapnya.

Dalam aspek pengobatan, Dr. dr. Masrul menekankan terapi asma saat ini semakin berkembang dan salah satu yang paling efektif adalah terapi inhalasi, terutama inhaler antiinflamasi yang bekerja langsung pada saluran napas. Penggunaan inhaler secara tepat, rutin, dan sesuai anjuran dokter menjadi kunci utama dalam mengontrol gejala serta mencegah serangan berulang.

“Banyak pasien merasa sudah sembuh ketika gejalanya membaik, lalu menghentikan pengobatan sendiri. Padahal asma adalah penyakit kronis yang membutuhkan kontrol jangka panjang. Terapi inhalasi yang digunakan dengan teknik yang benar dapat membantu mengendalikan peradangan dan menurunkan risiko serangan,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan melalui penghindaran faktor pencetus, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga sesuai kemampuan. “Kemudian menghindari paparan asap rokok, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan kontrol berkala ke dokter,” tuturnya.

Menutup sesi edukasi, Dr. dr. Masrul menegaskan bahwa asma bukanlah hambatan untuk menjalani hidup secara produktif apabila pasien memahami penyakitnya dan menjalani pengobatan dengan disiplin.

“Pesan yang paling penting adalah asma dapat dikontrol. Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, akses terhadap inhaler antiinflamasi, serta kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, penyandang asma tetap bisa hidup aktif, sehat, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” tukas Dr. dr. Masrul.(*)

RSUP Dr. M Djamil Dorong Lulusan Dokter Spesialis Berempati dan Profesional

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia kesehatan yang unggul dan profesional melalui sinergi berkelanjutan dengan dunia pendidikan kedokteran. Komitmen tersebut kembali terlihat pada Kamis (7/5), saat Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menghadiri kegiatan Yudisium Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode II yang digelar di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf Kampus Jati.

Kegiatan yudisium tersebut berlangsung khidmat, dihadiri jajaran pimpinan fakultas, para dosen, lulusan, serta keluarga yang turut memberikan dukungan kepada para calon dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikan mereka. Momentum ini menjadi bagian penting dalam mencetak tenaga kesehatan spesialis yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya di Sumatera Barat dan Indonesia secara umum.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menyampaikan apresiasi kepada para peserta yudisium yang telah menyelesaikan proses pendidikan dengan penuh dedikasi dan perjuangan. “RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama akan terus mendukung proses pendidikan dokter spesialis bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Kami berharap para lulusan tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan klinis yang baik, tetapi juga menjunjung tinggi etika profesi serta mampu memberikan pelayanan kesehatan yang humanis kepada masyarakat,” ujar Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K).

Ia juga menambahkan kolaborasi antara rumah sakit pendidikan dan institusi akademik memiliki peran strategis dalam mencetak dokter spesialis berkualitas yang mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di berbagai daerah. “Keberhasilan pendidikan kedokteran tidak hanya ditentukan oleh aspek teori, namun juga pengalaman praktik dan pembentukan karakter selama menjalani pendidikan klinis,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd mengatakan yudisium dokter spesialis periode II ini merupakan salah satu bentuk capaian penting dalam upaya meningkatkan kualitas tenaga medis di Indonesia. Para lulusan telah melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang panjang, sehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata di dunia kesehatan.

“Kami berharap seluruh dokter spesialis yang diyudisium hari ini dapat mengabdikan ilmu dan kompetensinya untuk masyarakat dengan penuh tanggung jawab. Tantangan pelayanan kesehatan ke depan semakin besar, sehingga dibutuhkan dokter-dokter yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan profesionalisme tinggi,” katanya.

Dr. dr. Sukri Rahman juga mengapresiasi dukungan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan yang selama ini menjadi mitra strategis Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dalam mendukung proses pendidikan dokter spesialis. “Sinergi yang baik antara institusi pendidikan dan rumah sakit menjadi faktor penting dalam mencetak lulusan berkualitas dan berdaya saing,” ucap Dekan.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Optimistis Layanan Kanker Meningkat dengan Subspesialis Baru

RSUP Dr. M. Djamil kembali memperkuat layanan kesehatan rujukan kanker melalui penyerahan brevet dokter subspesialis bedah onkologi kepada dua dokter lulusan terbaru pada Kamis (7/5). Dua dokter yang menerima brevet subspesialis bedah onkologi tersebut yakni dr. M. Al Farisyi, Sp.B, Subsp.Onk (K) dan dr. Fadly Asril, Subsp.Onk (K). Penyerahan brevet menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan sekaligus memperkuat pelayanan penanganan kanker di Indonesia.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas keberhasilan para dokter dalam menyelesaikan pendidikan subspesialis bedah onkologi. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses pendidikan yang panjang, disiplin, serta dedikasi tinggi dalam dunia medis.

“Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi para lulusan, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi institusi. Kami berharap ilmu dan kompetensi yang diperoleh dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, khususnya pasien kanker yang membutuhkan penanganan komprehensif dan profesional,” ujar dr. Maliana di Ruang Pertemuan Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan kebutuhan terhadap dokter subspesialis onkologi saat ini terus meningkat seiring bertambahnya kasus kanker yang memerlukan penanganan spesifik dan terpadu. Karena itu, keberadaan tenaga medis dengan kompetensi subspesialis dinilai sangat penting untuk mendukung pelayanan kesehatan rujukan yang lebih cepat, tepat, dan berkualitas.

“Kami di RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen mendukung pengembangan SDM kesehatan melalui pendidikan berkelanjutan. Rumah sakit pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan tenaga medis yang unggul dan siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di masa depan,” katanya.

dr. Maliana juga berharap para lulusan tidak hanya mengedepankan kompetensi klinis, tetapi turut aktif dalam pengembangan penelitian dan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Dokter subspesialis memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan penanganan kanker secara tepat.

“Dengan bertambahnya dokter subspesialis bedah onkologi, kami optimistis kualitas layanan kanker di Indonesia akan semakin baik. Ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang paripurna dan berorientasi pada keselamatan pasien,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Noza Hilbertina, Sp.PA, M.Biomed, Subsp.D.H.B (K), mengatakan kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Unand dan RSUP Dr. M. Djamil selama ini menjadi fondasi penting dalam mencetak tenaga medis berkualitas dan berdaya saing tinggi.

“Pendidikan subspesialis membutuhkan proses panjang, kedisiplinan, serta komitmen yang tinggi. Kami berharap para lulusan dapat terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan nasional,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45