Muhammad Nur, seorang tokoh yang dikenal luas di Kepulauan Riau, memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Lahir dan besar di Kepulauan Riau, ia telah mengabdi di berbagai posisi penting. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kepulauan Riau, anggota DPRD Batam, dan deputi di Otorita Batam. Dedikasinya terhadap daerahnya juga terbukti dari perannya sebagai salah satu pejuang dalam pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Namun, di balik kesibukan dan pengabdiannya, ada tantangan besar yang harus ia hadapi. Karena gaya hidup yang tidak teratur dan pola makan yang sembarangan akibat padatnya jadwal kerja, pada tahun 2013 Muhammad Nur didiagnosis menderita gagal ginjal.
Saat dokter menyarankan untuk melakukan hemodialisa, Muhammad Nur merasa bingung. Berbekal pemikiran bahwa yang terbaik adalah yang terdekat dengan Kepulauan Riau. Ia pun mencari pengobatan di luar negeri, yaitu di Johor, Malaysia, atau Singapura. Akhirnya, ia memutuskan untuk berobat ke Mount Elizabeth Hospital, Singapura, dan menjalani transplantasi ginjal.
Namun, sepuluh tahun kemudian, kenyataan pahit kembali datang. Muhammad Nur kembali divonis harus menjalani hemodialisa. Kali ini, ia mencoba mencari pilihan lain. Berbekal koneksi dengan para dokter, ia bertanya kepada seorang kenalan tentang Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD-KGH, FINASIM, seorang ahli ginjal yang bertugas di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Setelah bertemu dan menceritakan kondisinya, Dr. dr. Harnavi langsung sigap. Tanpa menunggu lama, Muhammad Nur langsung bertemu dengan tim dokter Dr. dr. Harnavi untuk mendapatkan advokasi dan pelayanan yang baik.
Di sinilah titik balik dari pandangan Muhammad Nur terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Ia mulai membandingkan pengalamannya di Singapura dengan pelayanan yang diterimanya di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Hasilnya, ia terkejut dan sangat puas.
Ia menyimpulkan pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya di RSUP Dr. M. Djamil, tidak kalah baik, bahkan jauh lebih baik dari segi pelayanan maupun peralatan. Saat menjalani prosedur di RSUP Dr. M. Djamil, Muhammad Nur hanya merasakan sedikit nyeri. Hal ini sangat berbeda dengan pengalamannya di Singapura yang menurutnya membuatnya sampai menangis kesakitan. Ia juga menyoroti profesionalisme dan keramahan para perawat yang melayani dengan tulus.
Pengalaman ini mengubah total pandangannya. Ia kini bertanya-tanya, “Kenapa orang jauh-jauh berobat ke Singapura atau Malaysia?” Baginya, apa yang dicarinya di luar negeri kini ia temukan di negaranya sendiri.
Sebagai bentuk apresiasinya, Muhammad Nur mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada seluruh tim dokter, baik tim transplantasi ginjal maupun tim penunjang lainnya, serta para perawat yang ramah di RSUP Dr. M. Djamil. Kisahnya adalah cerminan dari keyakinan dan kebanggaan terhadap kemajuan pelayanan kesehatan di Indonesia.(***)