Peringati World Cancer Day, RSUP Dr. M. Djamil Berikan Edukasi Manajemen Efek Samping Kemoterapi

Semangat juang pasien kanker di RSUP Dr. M. Djamil mendapatkan suntikan edukasi dan motivasi baru tepat pada peringatan Hari Kanker Sedunia, Kamis (5/2). Melalui penyuluhan kesehatan yang digelar di Unit Kemoterapi, pihak rumah sakit berupaya mengikis kecemasan pasien dengan membekali mereka pemahaman komprehensif tentang manajemen efek samping pengobatan dan dukungan psikososial dari lingkungan terdekat.

Dalam pemaparannya, dr. Ari Oktavenra, Sp.B, Subsp. Onk (K) menjelaskan mekanisme kerja kemoterapi guna meredam kekhawatiran utama yang sering dialami pasien. “Kemoterapi dirancang untuk menghancurkan sel-sel yang memiliki karakteristik pertumbuhan sangat cepat, seperti sel kanker. Namun, karena sifatnya tersebut, kemoterapi secara tidak sengaja juga memberikan pengaruh pada sel-sel tubuh yang sehat yang secara alami memang beregenerasi dengan cepat, seperti sel rambut, sumsum tulang, serta sel-sel pada lapisan mulut, kerongkongan, lambung, dan usus,” kata dr. Ari Oktavenra, Sp.B, Subsp. Onk (K).

Terkait metodenya, sebutnya, pengobatan ini bervariasi tergantung kondisi pasien, mulai dari pemberian pil atau tablet, suntikan, hingga melalui cairan infus ke pembuluh darah, di mana beberapa pasien mungkin hanya membutuhkan satu jenis obat sementara yang lain memerlukan kombinasi dua atau lebih jenis pengobatan.

“Berbagai efek samping yang mungkin muncul seperti mual, muntah, kehilangan nafsu makan, radang pada area mulut dan kerongkongan, gangguan pencernaan seperti diare atau sulit buang air besar, hingga kerontokan rambut dan dampak psikologis lainnya,” ucapnya.

Untuk meminimalkan keluhan mual dan muntah misalnya, katanya, pasien disarankan menerapkan pola makan dengan porsi kecil namun frekuensinya lebih sering, serta mengonsumsi minuman seperti jus apel, lemon, atau teh hangat guna meredakan mual. “Pasien juga diimbau untuk menghindari makan dan minum dalam rentang waktu satu hingga dua jam sebelum dan sesudah sesi kemoterapi dilakukan,” tuturnya.

Saat sudah kembali ke rumah, ucap dr. Ari, perawatan mandiri menjadi kunci keberhasilan dengan cara menghindari kondisi yang memicu luka, menggunakan sikat gigi berbulu lunak, memastikan istirahat total minimal tiga hari setelah perawatan. “Serta disiplin dalam mengonsumsi obat-obatan tablet sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh tim medis,” ucap dr. Ari.

Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah aspek keamanan bagi keluarga atau wali pasien selama 48 jam pertama setelah sesi kemoterapi berakhir. “Kami mengingatkan cairan tubuh pasien pada periode tersebut masih mengandung sisa-sisa obat kemoterapi, sehingga pendamping perlu berhati-hati dalam berinteraksi dengan cairan tubuh tersebut,” imbaunya.

Melengkapi sisi medis, Ns. Siti Herlina Ali Sopiah, M.Kep, Sp.Kep.Onk menekankan dukungan keluarga merupakan pilar yang tidak terpisahkan dari keberhasilan terapi kanker secara keseluruhan. Dukungan ini mencakup segala bentuk perhatian, bantuan informasi, hingga keterlibatan nyata dalam keseharian pasien yang secara signifikan mampu mengurangi tingkat stres, kecemasan, dan depresi.

“Dengan adanya dukungan keluarga yang kuat, pasien tidak hanya akan lebih patuh dalam menjalani program pengobatan, tetapi juga memiliki mental yang lebih tangguh dan kualitas hidup yang jauh lebih baik meskipun tengah berjuang melawan penyakitnya,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Peringati World Cancer Day 2026

RSUP Dr. M. Djamil memperingati World Cancer Day atau Hari Kanker Sedunia pada Kamis (5/2). Kegiatan yang dipusatkan di Unit Kemoterapi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat dukungan bagi para pejuang kanker. Acara yang diinisiasi oleh Departemen Onkologi Terpadu bekerja sama dengan Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran ini mengusung tema, yakni “United by Unique”.

“Tema “United by Unique” yang diangkat pada tahun 2026 ini memberikan pesan bahwa setiap pasien adalah pribadi yang unik. Tidak ada dua perjalanan kanker yang benar-benar sama, karena setiap individu membawa kondisi tubuh, latar belakang, nilai kehidupan, serta kebutuhan emosional dan spiritual yang berbeda-beda. Oleh karena itu, strategi dalam melawan kanker tidak dapat diseragamkan, baik dalam aspek pelayanan medis maupun cara menunjukkan kepedulian,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil yang diwakili oleh Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian, dr. Maliana, M.Kes.

Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Departemen Onkologi Terpadu, Dr. dr. Irza Wahid, Sp.PD, KHOM, FINASIM, Ketua Pengampuan Kanker, Dr. dr. Daan Khambri, Sp.B (K) Onk, M.Kes, serta Kepala Instalasi Diagnostik Terpadu dr. Vesri Yoga, Sp.PD, K-GEH, MARS, FINASIM dan jajaran Departemen Onkologi Terpadu.

Sebagai bagian dari rangkaian edukasi, dr. Ari Oktavenra, Sp.B, Subsp. Onk (K) memberikan pemaparan tentang cara mencegah dan mengatasi efek samping kemoterapi, yang seringkali menjadi kekhawatiran utama pasien. Sementara itu, Ns. Siti Herlina Ali Sopiah, M.Kep, Sp.Kep.Onk melengkapi penyuluhan dengan memaparkan betapa pentingnya dukungan keluarga sebagai bagian tak terpisahkan dari terapi kanker.

Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan moral langsung, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian juga berkesempatan menyerahkan buah tangan kepada para pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi di unit tersebut, menciptakan suasana hangat dan penuh semangat kekeluargaan.

dr. Maliana menyampaikan pendekatan terhadap kanker harus mampu melampaui sekadar pemberian obat dan prosedur medis. Perawatan ideal harus mampu menyentuh rasa aman, rasa dihargai, dan rasa dimengerti oleh pasien. Empati dipandang bukan hanya sebagai sikap formalitas, melainkan sebuah keberanian untuk hadir, mendengar tanpa menghakimi, dan menemani pasien tanpa merasa paling tahu.

“RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional menyadari tanggung jawab besar ini dengan terus memperkuat layanan kanker secara komprehensif. Upaya ini mencakup aspek promotif dan preventif, peningkatan deteksi dini, hingga pelayanan diagnostik dan terapi berbasis bukti ilmiah, serta perawatan paliatif yang tetap berfokus pada kualitas hidup dan martabat pasien,” tuturnya.

Ia menekankan prinsip utama yang dipegang teguh oleh rumah sakit adalah pemahaman bahwa kesembuhan tidak selalu berarti bebas dari penyakit secara total, namun selalu berarti tetap dihargai sebagai manusia. Atas dasar itulah, RSUP Dr. M. Djamil terus mendorong sektor pendidikan dan penelitian di bidang kanker guna meningkatkan angka harapan hidup sekaligus kualitas hidup para pasien. Hal ini bertujuan memastikan setiap pasien diperlakukan dengan hormat, setiap keluhan keluarga didengar, dan setiap keputusan medis selalu melibatkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.

“Edukasi dalam penyuluhan ini memiliki peran strategis sebagai bentuk pencegahan paling awal agar masyarakat dapat mengenali gejala sejak dini, menghapus stigma, dan mengubah ketakutan menjadi langkah nyata dalam mencari pertolongan,” sebut dr. Maliana.

Ia mengatakan penyuluhan ini juga membawa pesan moral yang kuat bahwa tidak boleh ada satu pun individu yang berjuang sendirian melawan kanker. Dukungan dari keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat luas dianggap sebagai “obat tak tertulis” yang sangat menentukan keberhasilan terapi.

“Masyarakat diajak untuk membangun ruang-ruang yang aman bagi para pejuang kanker, di mana mereka bebas bercerita, merasa lelah, namun tetap memiliki harapan. Pihak rumah sakit mengajak semua elemen untuk mengganti tatapan iba dengan pelukan empati serta menghapus stigma dengan pemahaman yang benar,” ajak dr. Maliana.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkokoh Kapasitas Peneliti melalui Pelatihan GCP

RSUP Dr. M. Djamil mempertegas komitmennya dalam memajukan standar penelitian kesehatan di Indonesia melalui penyelenggaraan Pelatihan Good Clinical Practice (GCP) yang berlangsung mulai Rabu (4/2) hingga Jumat (6/2). Kegiatan yang dipusatkan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan ini menjadi bukti nyata keseriusan rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan tersebut dalam menciptakan ekosistem penelitian yang berkualitas dan berstandar internasional.

“Pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dan peneliti. Penerapan prinsip-prinsip GCP dianggap krusial karena merupakan landasan utama dalam menyelenggarakan penelitian klinik yang bermutu, aman, serta memenuhi kaidah etika,” kata Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian, dr. Maliana, M.Kes, saat memberikan sambutan.

Ia menekankan sebagai rumah sakit vertikal tipe A sekaligus rumah sakit pendidikan utama, RSUP Dr. M. Djamil memikul tanggung jawab besar untuk tidak hanya unggul dalam pelayanan rujukan. Tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

“Penerapan GCP di lingkungan rumah sakit menjadi kebutuhan mendasar guna memastikan bahwa setiap penelitian yang dijalankan mampu menjunjung tinggi perlindungan hak dan keselamatan subjek penelitian. Selain itu, standar ini berfungsi untuk menjaga integritas ilmiah data yang dihasilkan serta memastikan kepatuhan penuh terhadap regulasi nasional maupun standar global yang berlaku. Hal ini diharapkan dapat menghindarkan risiko malapraktik dalam riset dan memastikan hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara luas,” paparnya.

Keberhasilan pelaksanaan pelatihan ini, tegasnya, tidak lepas dari sinergi lintas institusi, di mana RSUP Dr. M. Djamil menjalin kolaborasi erat dengan Universitas Padjadjaran. Pihak manajemen rumah sakit menyampaikan apresiasi mendalam kepada Ketua Tim Pelatih GCP dan seluruh tim dari Universitas Padjadjaran yang telah memberikan dukungan, fasilitasi, serta pendampingan teknis.

“Kolaborasi tersebut dinilai sebagai bentuk kerja sama yang sangat berharga dalam memperkuat kapasitas penelitian klinik, sehingga RSUP Dr. M. Djamil memiliki fondasi yang lebih kokoh dalam menghadapi tantangan riset medis di masa depan,” sebut dr. Maliana.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta dibekali dengan pemahaman komprehensif dan keterampilan praktis oleh para pakar di bidangnya. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah Prof. Rovina Ruslami, dr. Sp.PD, Ph.D, kemudian Lika Apriani, dr, M.Sc, Ph.D, serta Dr. med. M. Hasan Bashari, dr. M.Kes.

“Melalui bimbingan para ahli tersebut, seluruh peserta diharapkan mampu mengimplementasikan prinsip GCP dalam setiap tahapan penelitian klinik. Pada akhirnya, peningkatan mutu penelitian ini ditargetkan dapat memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas,” harap dr. Maliana. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Hadirkan Inovasi NICU Berkonsep Family Care Center

RSUP Dr. M. Djamil terus berinovasi dalam meningkatkan standar pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sumatra Barat dan sekitarnya. Sebagai institusi medis di bawah naungan Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil kini resmi menghadirkan layanan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dengan konsep Family Care Center. Kehadiran fasilitas ini menandai babak baru dalam perawatan bayi baru lahir yang membutuhkan perhatian khusus, dengan mengedepankan keterlibatan aktif keluarga dalam proses penyembuhan.

Layanan inovatif ini berlokasi di lantai 2 Gedung Kebidanan dan Anak, yang telah dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan atmosfer hangat dan menenangkan. Ruangan NICU Family Care Center ini tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi medis, tetapi juga memberikan ruang bagi orang tua untuk mendampingi bayi mereka secara langsung selama masa perawatan intensif.

“Kehadiran layanan ini merupakan wujud nyata dari transformasi layanan kesehatan yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Ia menekankan kehadiran fisik orang tua, sentuhan, serta suara ibu dan ayah adalah “obat” yang tidak tergantikan oleh mesin manapun. “Sehingga rumah sakit berkomitmen memfasilitasi kebutuhan tersebut demi tumbuh kembang anak yang lebih optimal,” tutur Dovy.

Dengan adanya fasilitas ini, ucapnya, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat terus menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia wilayah barat. “Fokus pada kenyamanan keluarga serta integrasi teknologi medis terkini diharapkan dapat memberikan ketenangan batin bagi para orang tua yang tengah berjuang demi kesehatan buah hati mereka. Sekaligus memperkuat peran rumah sakit sebagai pusat penyembuhan yang humanis dan modern,” ungkapnya.

Inovasi ini mendapat sambutan dan apresiasi dari Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyatakan rasa bangganya atas kemajuan yang dicapai oleh RSUP Dr. M. Djamil. Baginya, peningkatan fasilitas ini merupakan langkah besar dalam menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang di Kota Padang. Apresiasi tersebut bukan sekadar pujian saja, mengingat Fadly Amran juga memiliki kedekatan emosional dengan layanan ini. Istri dan kedua buah hatinya saat ini tengah menjalani perawatan di ruang NICU Family Care Center tersebut. Sehingga ia merasakan langsung dampak positif dari kebijakan perawatan yang inklusif bagi anggota keluarga.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Layanan Rujukan dengan FibroScan

RSUP Dr. M. Djamil kembali memperkuat posisinya sebagai pusat layanan kesehatan rujukan dengan menghadirkan inovasi teknologi medis bagi masyarakat. Rumah sakit yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan ini memiliki alat diagnostik FibroScan yang tersedia di Instalasi Diagnostik Terpadu. Kehadiran teknologi ini menjadi angin segar bagi penanganan kasus penyakit dalam, khususnya dalam memberikan penilaian yang lebih akurat dan non-invasif terhadap kesehatan organ hati pasien.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastro Entero Hepatologi Dr. dr. Saptino Miro, SpPD, K-GEH, FINASIM, menjelaskan mekanisme kerja FibroScan menyerupai perangkat ultrasonografi atau USG karena memanfaatkan gelombang suara. Namun, fungsi utama dari alat ini sangat spesifik, yakni untuk mengukur tingkat elastisitas atau kekakuan jaringan pada organ hati manusia.

“Melalui parameter tersebut, tim medis dapat mendeteksi keberadaan fibrosis hati pada pasien yang menderita penyakit hati kronis secara lebih dini tanpa harus melalui prosedur biopsi yang cenderung menyakitkan,” ucapnya.

Pemeriksaan ini, tuturnya, memiliki kemampuan luar biasa dalam menentukan derajat keparahan fibrosis hati secara presisi, mulai dari derajat satu hingga derajat empat yang merupakan tingkatan paling berat. “Proses pemeriksaannya pun tergolong sangat sederhana dan nyaman bagi pasien; petugas hanya perlu mengoleskan sedikit cairan gel pada ujung alat yang berukuran kecil, kemudian menempelkannya pada area pinggang atau bagian samping tubuh pasien,” ucapnya.

Dalam waktu singkat, alat tersebut akan memberikan data mengenai kondisi elastisitas hati yang menjadi indikator kunci kesehatan organ tersebut. “Salah satu indikasi utama penggunaan FibroScan adalah untuk memantau kondisi fatty liver atau perlemakan hati, yang saat ini menjadi masalah kesehatan yang kian marak ditemukan di masyarakat,” sebutnya.

Ia menjelaskan perlemakan hati yang tidak tertangani dengan baik berisiko tinggi memicu terjadinya fibrosis atau pengerasan hati. “Sehingga deteksi melalui FibroScan menjadi langkah untuk menentukan tindakan medis selanjutnya,” tuturnya.

Dr. Saptino menekankan pentingnya gaya hidup teratur dan menjaga berat badan ideal sebagai langkah preventif utama agar terhindar dari risiko perlemakan hati. “Bagi masyarakat yang memiliki keluhan atau indikasi permasalahan hati, RSUP Dr. M. Djamil mengimbau untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Instalasi Diagnostik Terpadu demi mendapatkan penanganan yang tepat dan berkualitas,” ajaknya. (*)

Direksi RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Jajaran Pengurus IKA FK Unand Periode 2025-2030

Kolaborasi antara institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan di Sumbar memasuki babak baru. Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Direktur Medik dan Keperawatan, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), resmi dilantik sebagai bagian dari jajaran Pengurus Pusat Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas periode 2025-2030.

Pelantikan kepengurusan yang dikomandoi oleh Dr. dr. Yevri Zulfiqar, Sp.B, Sp.U (K), M.Kes ini dilakukan oleh Ketua Umum DPP IKA Unand, Denny Abdi, S.E, M.Si, di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf, Kampus Jati, Minggu (1/2). Momentum ini turut disaksikan oleh Rektor Unand, Efa Yonnedi, Ph.D, Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Unand dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, Wakil Dekan II Dr. dr. Noza Hilbertina, S.Ked, Sp.P.A, M.Biomed, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH dan alumni Fakultas Kedokteran Unand yang menegaskan pentingnya peran strategis alumni dalam pembangunan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Dovy Djanas menyebutkan Fakultas Kedokteran Unand telah melahirkan ribuan alumni yang kini mengabdi di berbagai penjuru negeri hingga tingkat internasional. “Alumni tidak hanya berperan sebagai tenaga medis di garda terdepan, tetapi juga sebagai pendidik, peneliti, hingga pemimpin dan pengambil kebijakan yang menentukan arah masa depan kesehatan bangsa,” tuturnya.

Dovy menekankan IKA FK Unand memiliki posisi strategis sebagai wadah pemersatu lintas generasi dan lintas disiplin yang mampu menyinergikan potensi besar tersebut. Dalam menjalankan peran ini, ia memandang nilai-nilai profesionalisme, etika, dan integritas harus menjadi landasan utama. “Di tengah tantangan dunia kesehatan yang kian kompleks, mulai dari transformasi sistem pelayanan hingga pesatnya perkembangan teknologi medis, seorang dokter dituntut untuk tidak hanya unggul secara kompetensi teknis, tetapi juga harus kokoh secara moral dan sisi kemanusiaan,” ucap Dovy.

Sebagai pimpinan RSUP Dr. M. Djamil yang merupakan rumah sakit pendidikan utama bagi FK Unand, Dovy menegaskan tanggung jawab besar institusinya dalam mendukung proses pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hubungan antara kedua lembaga ini menurutnya bukan sekadar hubungan institusional formal, melainkan kemitraan strategis yang saling menguatkan demi mencetak sumber daya manusia kesehatan yang unggul.

“Dalam konteks inilah, IKA FK Unand hadir sebagai jembatan penting yang menghubungkan dunia akademik dengan realitas pelayanan dan pengabdian di tengah masyarakat. Tantangan pembangunan kesehatan ke depan diyakini tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi erat antar pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Ia menekankan keberadaan IKA FK Unand diharapkan mampu menjadi mitra strategis yang konstruktif, inovatif, dan solutif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di Sumatera Barat. “Kami optimisme  dengan semangat kebersamaan dan kepemimpinan yang visioner, pengurus yang baru dilantik akan membawa organisasi menjadi semakin berdaya dan bermakna bagi bangsa,” harap Dovy.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ketua Umum DPP IKA Unand, Denny Abdi, S.E, M.Si, yang mengucapkan selamat atas terbentuknya kepengurusan baru ini. berharap IKA FK Unand dapat menjadi contoh bagi ikatan alumni fakultas lain dalam memberikan kontribusi nyata bagi almamater.

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D, dalam sambutannya menitipkan harapan besar agar kepengurusan di bawah pimpinan Dr. dr. Yevri Zulfiqar mampu menjadi motor penggerak inovasi. Ia menekankan pentingnya menyatukan seluruh potensi alumni demi kejayaan Unand dan kemajuan layanan kesehatan nasional.(*)

Peringati Hari Kusta Sedunia, RSUP Dr. M. Djamil Tekankan Pentingnya Deteksi Dini dan Hapus Stigma

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui edukasi yang berkelanjutan. Pada hari ini, Jumat (30/1), Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran bekerja sama dengan Kelompok Staf Medik (KSM) Dermatologi, Venereologi, dan Estetika menggelar peringatan Hari Kusta Sedunia. Kegiatan yang dipusatkan di ruang tunggu Poliklinik Kulit dan Kelamin ini bertujuan untuk menghapus stigma negatif serta memberikan pemahaman yang benar tentang penyakit kusta kepada para pasien dan pengunjung rumah sakit.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Tutty Ariani, Sp.D.V.E, Subsp.D.T, hadir sebagai narasumber untuk memaparkan penyuluhan kesehatan. Ia menjelaskan secara tegas bahwa kusta merupakan penyakit infeksi yang murni disebabkan oleh bakteri, sehingga masyarakat perlu mengubah cara pandang yang selama ini keliru.

“Kusta bukanlah sebuah kutukan, bukan aib yang harus disembunyikan, dan sama sekali bukan akhir dari segalanya bagi para penderitanya. Meski penyakit ini masih ditemukan di lingkungan sekitar, masyarakat diimbau untuk tidak merasa takut secara berlebihan asalkan memiliki pengetahuan yang tepat mengenai gejala dan penanganannya,” tegasnya.

Turut hadir Ketua KSM Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Prof. Dr. dr. Satya Wydya Yenny, Sp.D.V.E, M.Ag beserta jajaran serta pasien.

Mengenali tanda-tanda awal kusta menjadi poin krusial yang disampaikan dalam edukasi tersebut. dr. Tutty memaparkan bahwa gejala awal yang patut diwaspadai meliputi munculnya bercak putih atau kemerahan pada kulit yang disertai mati rasa. Selain itu, penderita mungkin akan merasakan kesemutan, kebas, atau bahkan mendapati luka yang tidak terasa sakit pada bagian tubuh tertentu. “Kesadaran untuk segera memeriksakan diri saat gejala ini muncul sangat menentukan masa depan pasien, karena semakin cepat penyakit ini dideteksi, maka risiko terjadinya kecacatan permanen akan semakin kecil,” tutur dr. Tutty.

Hal yang paling menggembirakan adalah fakta bahwa kusta bisa disembuhkan secara total asalkan pasien menjalani pengobatan secara tuntas. dr. Tutty menekankan obat kusta telah tersedia secara gratis di Puskesmas, terjamin keamanannya, dan sudah terbukti secara medis mampu menyembuhkan asalkan diminum secara rutin setiap hari tanpa terputus. “Melalui pengobatan yang disiplin, kusta bukan lagi ancaman yang menghalangi produktivitas seseorang,” harapnya.

dr. Tutty menyampaikan pesan menyentuh bagi para pasien kusta agar tetap semangat dalam menjalani hidup. Ia menegaskan penyandang kusta tetap memiliki hak dan kemampuan untuk bekerja, bersekolah, meraih cita-cita, dan tetap menjadi manusia yang utuh di tengah masyarakat. Sementara itu, bagi masyarakat umum, ia mengajak semua pihak untuk lebih peduli dengan segera memeriksakan diri jika menemukan tanda-tanda mencurigakan, serta proaktif mengajak keluarga maupun tetangga untuk berobat. “Dengan menyebarkan pesan positif dan edukasi yang benar, diharapkan mata rantai penularan kusta dapat diputus dan diskriminasi terhadap penderitanya dapat dihilangkan sepenuhnya,” tukasnya.(*)

Dukungan Penuh Menteri PU dan Andre Rosiade, RSUP Dr. M. Djamil Mulai Pengeboran Sumur Dalam

Harapan RSUP Dr. M. Djamil memiliki sumber air mandiri yang tangguh bencana mulai terealisasi. Pada Jumat (30/1), rumah sakit rujukan utama ini menerima kunjungan Menteri PU Dody Hanggodo dan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade untuk memulai proyek pengeboran sumur dalam (deep well) sedalam 120 meter.

Kehadiran dua tokoh nasional ini juga didampingi oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah serta Wali Kota Padang Fadly Amran, sebagai bentuk sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Kedatangan rombongan itu disambut oleh Plh. Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), serta Direktur Perencanaan dan Keuangan, Luhur Joko Prasetyo.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan pemerintah segera mengambil langkah konkret dengan memulai pengerjaan fisik pengeboran sumur dalam (deep well) dengan kedalaman 120 meter. Proses pengerjaan ini dijadwalkan mulai berjalan efektif pada Sabtu (31/1) besok dan ditargetkan akan rampung dalam waktu sepuluh hari ke depan.

“Pengeboran ini merupakan solusi jangka panjang setelah selama lebih dari dua bulan terakhir, Kementerian PU secara konsisten memberikan dukungan darurat berupa suplai air melalui 14 unit mobil tangki setiap harinya untuk menjaga kelangsungan pelayanan medis,” ungkapnya.

Ia menjelaskan sumur dalam yang tengah dibangun ini diproyeksikan mampu menghasilkan debit air hingga 10 liter per detik. Setelah sumur ini beroperasi secara penuh dan terintegrasi dengan jaringan sambungan utama rumah sakit, kapasitas air yang dihasilkan akan mampu mencukupi sekitar 90 persen dari total kebutuhan air bersih di RSUP Dr. M. Djamil.

“Sementara untuk sisa 10 persen kebutuhan lainnya, pemerintah berkomitmen untuk terus mencari formula teknis tambahan agar pemenuhan air bersih di rumah sakit rujukan utama ini dapat mencapai angka 100 persen tanpa hambatan sedikit pun,” tegasnya.

Selain fokus pada sumber air, Menteri PU juga merespons positif usulan terkait pengadaan pompa bertenaga surya (solar cell) dan pembangunan reservoar tambahan. Ia menegaskan seluruh infrastruktur pendukung tersebut akan ditangani secara bertahap namun pasti. “Langkah awal yang menjadi prioritas utama adalah penuntasan sumur, yang kemudian akan diikuti secara simultan dengan penyiapan tangki reservoar serta instalasi pipa menuju saluran utama rumah sakit,” ucapnya.

Aspek kualitas juga menjadi perhatian serius dalam proyek ini. Menteri Dody memastikan air yang ditarik dari kedalaman 120 meter tersebut akan melalui serangkaian uji laboratorium terlebih dahulu untuk menjamin mutunya setara dengan standar air PDAM atau bahkan lebih baik. “Setelah kualitasnya teruji dan memenuhi kriteria medis, air baru akan dialirkan masuk ke reservoar dan dipompa menuju saluran utama untuk digunakan dalam berbagai layanan vital rumah sakit, mulai dari kebutuhan ruang operasi hingga unit hemodialisa,” papar Dody.

Menanggapi langkah ini, Plh. Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas atensi pemerintah pusat dan DPR RI. Ia menekankan air adalah urat nadi operasional rumah sakit.

“Kami bersyukur dan berterima kasih atas bantuan dari Bapak Menteri PU dan dukungan dari Bapak Andre Rosiade. Selama ini, suplai 14 tangki air per hari sangat membantu kami bertahan di tengah keterbatasan pasca-bencana. Namun, dengan dimulainya pengeboran sumur dalam 120 meter ini, kami merasa jauh lebih tenang,” ungkap Direktur Medik dan Keperawatan ini.

Ia menambahkan kebutuhan air bersih di RSUP Dr. M. Djamil sangat spesifik, terutama untuk unit-unit kritis. “Air bersih bukan hanya untuk kebutuhan MCK, tapi vital untuk unit Hemodialisa (cuci darah), ruang operasi, hingga sterilisasi alat medis. Kehadiran sumur dalam ini adalah jawaban atas kebutuhan keamanan pelayanan kami bagi masyarakat Sumatera Barat,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menegaskan dirinya akan terus mengawal proyek ini hingga tuntas. Menurutnya, RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera bagian tengah harus memiliki infrastruktur yang tangguh terhadap bencana.

“Ini adalah bukti nyata kehadiran negara. Kita tidak ingin pelayanan kesehatan terganggu lagi karena masalah teknis seperti air. Kami di DPR RI akan terus berkolaborasi dengan Kementerian PU dan Kementerian Kesehatan agar fasilitas di M. Djamil terus ditingkatkan,” tegas Andre.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Tampilkan Inovasi Unggulan di Ajang Muktamar dan Seminar Nasional ARSPI

RSUP Dr. M. Djamil menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung transformasi kesehatan nasional melalui partisipasi aktif dalam rangkaian Muktamar, Seminar, dan Workshop yang diselenggarakan oleh Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ARSPI). Acara bertemakan Peran Strategis Rumah Sakit Pendidikan Dalam Percepatan Pendidikan Spesialis dan Pemerataan Layanan Kesehatan ini berlangsung selama dua hari, yakni Kamis (29/1) dan Jumat (30/1) di Aston Kartika Grogol Hotel and Conference Center, Jakarta.

Dalam kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga turut memeriahkan suasana dengan menghadirkan booth pameran. Booth ini menjadi sarana bagi RSUP Dr. M. Djamil untuk memaparkan berbagai capaian, fasilitas layanan medis terkini, hingga program pendidikan dan penelitian yang menjadi pilar utama rumah sakit tersebut.

Hadir langsung di lokasi acara, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian, dr. Maliana, M.Kes dan Direktur Layanan Operasional, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS. Keduanya memantau langsung aktivitas di booth pameran sekaligus berinteraksi dengan para pengunjung yang terdiri dari direksi rumah sakit serta praktisi kesehatan dari berbagai daerah.

Dalam keterangannya, dr. Maliana, M.Kes menyampaikan keikutsertaan RSUP Dr. M. Djamil dalam ajang ARSPI merupakan langkah strategis untuk memperkuat jejaring antar-rumah sakit pendidikan. “Kami hadir di sini untuk berbagi sekaligus menyerap inovasi terbaru dalam pengelolaan SDM dan sistem pendidikan kedokteran. Sebagai rumah sakit pendidikan, tantangan kami ke depan adalah melahirkan tenaga medis yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga adaptif terhadap teknologi,” ujar dr. Maliana.

Ia menekankan dengan kehadiran booth pameran ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat mempererat hubungan kerjasama dengan institusi pendidikan lainnya. “Serta memberikan gambaran nyata tentang kontribusi rumah sakit dari Sumatera Barat ini dalam peta kesehatan nasional,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS menekankan pentingnya kolaborasi dalam aspek operasional rumah sakit. “Partisipasi dalam pameran ini merupakan kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa RSUP Dr. M. Djamil terus berbenah dalam meningkatkan standar layanan operasional demi kepuasan pasien,” ucapnya didampingi Kepala Instalasi Promosi Kesehatan (Promkes) dan Pemasaran, Saswita Kemala Dewi, SKM, MKKK.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Pengampuan Penyakit Prioritas dan Bedah Invasif

RSUP Dr. M. Djamil semakin mengukuhkan perannya sebagai pusat layanan kesehatan rujukan utama di wilayah Sumatera dengan mempercepat implementasi program pengampuan sembilan penyakit prioritas serta pengembangan layanan endo-laparoskopi. Upaya strategis ini mendapat perhatian dalam kunjungan kerja Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI, dr. Obrin Parulian, M.Kes, pada Kamis (29/1). Dalam forum diskusi yang berlangsung di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi tersebut, RSUP Dr. M. Djamil melaporkan progres signifikan dalam membina jaringan rumah sakit di wilayah Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, hingga Bengkulu.

Plh. Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menjelaskan  saat ini rumah sakit tersebut memikul tanggung jawab besar dalam membina puluhan rumah sakit untuk berbagai layanan spesialis. Secara rinci, RSUP Dr. M. Djamil mengampu 53 rumah sakit untuk layanan kanker, 54 rumah sakit untuk penanganan stroke, serta 44 rumah sakit dalam jejaring uronefrologi. Selain itu, jangkauan pengampuan juga mencakup 33 rumah sakit untuk kesehatan ibu dan anak, 20 rumah sakit untuk jantung, serta puluhan rumah sakit lainnya yang menangani respirasi, infeksi emerging, diabetes melitus, dan gastro hepatologi. “Meskipun jangkauan wilayahnya sangat luas, ada tantangan operasional di lapangan yang memerlukan koordinasi berkelanjutan dengan pemerintah pusat,” ungkapnya.

Turut dihadiri Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen dan kepala departemen serta PIC Pengampuan.

Selain fokus pada penyakit prioritas, RSUP Dr. M. Djamil juga dipercaya menjadi pionir dalam program pengampuan endo-laparoskopi nasional. Sebagai bukti nyata, rumah sakit telah meresmikan program fellowship endo-laparoskopi bagi dokter spesialis bedah yang akan memulai angkatan pertamanya pada Maret hingga Juli 2026. Antusiasme terhadap program ini sangat luar biasa, di mana seluruh kuota peserta sudah terisi penuh dan kini tengah menjalani proses administrasi di tingkat kolegium. “Langkah ini selaras dengan target Kementerian Kesehatan agar pada tahun 2028, prosedur bedah minimal invasif dapat dilakukan secara mandiri di 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, sehingga pasien di daerah terpencil tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke kota besar,” tegasnya.

Menanggapi capaian tersebut, dr. Obrin Parulian memberikan apresiasi terhadap dedikasi manajemen RSUP Dr. M. Djamil dalam memperkuat sistem rujukan nasional. Ia menekankan keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara rumah sakit pengampu dan yang diampu. Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk terus mengawal penyelesaian berbagai kendala, baik dari aspek sarana prasarana maupun penguatan sumber daya manusia. “Melalui integrasi layanan yang lebih baik, diharapkan akses kesehatan berkualitas dapat tersebar merata dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkendala jarak geografis,” tegasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45