Direksi RSUP Dr. M. Djamil Pimpin Sosialisasi BerAKHLAK Perkuat Budaya Kerja

RSUP Dr. M. Djamil terus meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya kerja yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan terbaik melalui penguatan nilai-nilai dasar aparatur sipil negara (ASN) BerAKHLAK di lingkungan rumah sakit. Komitmen tersebut kembali ditegaskan pada pelaksanaan apel pagi yang berlangsung di shelter lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. M. Djamil pada Senin (4/5).

Kegiatan apel pagi tersebut dipimpin oleh Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama jajaran direksi. Dalam suasana yang penuh semangat dan kebersamaan, jajaran direksi secara bergiliran membacakan butir-butir nilai dasar ASN BerAKHLAK yang kemudian diikuti oleh seluruh peserta apel sebagai bentuk internalisasi bersama terhadap budaya kerja yang menjadi fondasi pelayanan publik.

Melalui kegiatan tersebut, manajemen rumah sakit ingin memastikan bahwa nilai BerAKHLAK tidak hanya dipahami sebagai slogan, namun benar-benar menjadi pedoman dalam perilaku kerja sehari-hari. Nilai BerAKHLAK meliputi berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif dinilai sejalan dengan semangat transformasi pelayanan kesehatan yang terus dijalankan oleh RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional di Sumatera Barat.

Dalam arahannya, Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan sosialisasi ASN BerAKHLAK akan terus dilakukan secara berkelanjutan melalui apel pagi yang dilaksanakan secara bergiliran oleh masing-masing unit kerja. Pendekatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memastikan seluruh insan rumah sakit memiliki pemahaman yang sama terhadap nilai-nilai dasar ASN serta mampu mengimplementasikannya secara nyata dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Setiap apel pagi, unit kerja akan secara bergiliran menyosialisasikan ASN BerAKHLAK. Ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang kuat, agar seluruh pegawai memiliki semangat yang sama dalam memberikan pelayanan yang profesional, humanis, dan penuh integritas,” ujar Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Ia menegaskan pelayanan kesehatan yang unggul tidak hanya dibangun melalui fasilitas, teknologi, maupun kompetensi klinis semata, tetapi juga melalui karakter dan nilai yang dimiliki setiap individu di dalam organisasi. Nilai ASN BerAKHLAK harus tercermin mulai dari hal-hal sederhana seperti disiplin waktu, komunikasi yang baik, saling menghargai antarprofesi, hingga kemampuan memberikan pelayanan yang empatik kepada pasien dan keluarga.

“Rumah sakit adalah tempat yang penuh dinamika dan tantangan. Di sinilah nilai-nilai BerAKHLAK harus benar-benar hidup. Ketika seluruh pegawai memiliki integritas, semangat melayani, dan kemampuan berkolaborasi, maka kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat juga akan semakin baik,” kata Dirut.

Ia menyampaikan transformasi budaya kerja merupakan proses yang harus dijaga secara konsisten dan tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, manajemen terus mendorong setiap unit kerja untuk menjadi role model dalam penerapan nilai BerAKHLAK, sehingga budaya positif dapat tumbuh dari unit terkecil dan menyebar ke seluruh lini organisasi.

“Kalau kita ingin menjadi rumah sakit rujukan yang tidak hanya unggul secara layanan medis, tetapi juga unggul dalam pelayanan publik, maka budaya kerja yang berlandaskan BerAKHLAK harus menjadi identitas bersama. Ini adalah komitmen yang harus dijaga oleh seluruh insan RSUP Dr. M. Djamil, tanpa terkecuali,” tambahnya.

Ia juga mengajak seluruh pegawai untuk menjadikan apel pagi bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang refleksi, penguatan semangat, dan penyamaan visi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Setiap insan rumah sakit memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap semangat ASN BerAKHLAK dapat terus tumbuh dan menjadi budaya yang hidup di setiap lini pelayanan, sehingga mampu mendukung terciptanya pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas, responsif, dan berorientasi pada keselamatan serta kepuasan pasien,” tukas Dirut. (*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Ketua Dewan Pembina POGI Sumbar, Perkuat Kolaborasi Turunkan AKI dan AKB

RSUP Dr. M. Djamil menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak di Sumatera Barat seiring pelantikan jajaran pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) wilayah Sumatera Barat periode 2025–2028. Momentum tersebut juga ditandai dengan dilantiknya Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua sebagai Ketua Dewan Pembina POGI Sumbar.

Kepengurusan POGI Sumbar yang baru dipimpin oleh Dr. dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG, Subsp.Urogin.RE, dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia Sumbar, Dr. dr. Roni Eka Sahputra, Sp.OT, Subsp.O.T.B, bersama Ketua Umum PP POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, Subsp.F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM.

Usai pelantikan, Dr. Dovy Djanas menyampaikan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Ketua Dewan Pembina POGI Sumbar merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. “RSUP Dr. M. Djamil siap bersinergi dengan POGI Sumbar dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan reproduksi perempuan, khususnya dalam menekan angka kematian ibu dan bayi yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di Indonesia,” katanya.

Turut hadir Ketua Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia POGI Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, Sp.O.G, Subsp.Onk, D.MAS, Ketua Dewan Pembina PP POGI dr. Ari Kusuma Januarto, Sp.OG, Subsp. Obginsos, Sekretaris Jenderal PP POGI dre. Ulul Albab, Sp.OG, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH, pengurus POGI Sumbar serta undangan.

Menurutnya, kolaborasi antara rumah sakit rujukan nasional dengan organisasi profesi seperti POGI menjadi kunci dalam memperkuat sistem layanan kesehatan, mulai dari tingkat primer hingga tersier. Ia menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi tenaga medis serta pemerataan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat, khususnya di Sumatera Barat.

Sementara itu, Ketua Umum PP POGI, Prof. Budi Wiweko, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus POGI Sumbar yang baru dilantik. Ia berharap kepengurusan yang baru mampu membawa organisasi semakin aktif serta memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan perempuan di daerah.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu program utama PP POGI dari 14 strategi nasional adalah program SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia). Melalui program tersebut, POGI ingin meningkatkan kontribusinya kepada pemerintah dalam upaya menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, prevalensi stunting, serta kasus kanker serviks.

“Setiap satu jam masih ada perempuan yang meninggal dalam masa kehamilan maupun persalinan. Lebih memprihatinkan lagi, setiap 25 menit ada perempuan yang meninggal akibat kanker serviks,” ungkapnya.

Melalui 10 fokus gerakan SPRIN, POGI mendorong berbagai upaya strategis. Mulai dari perlindungan perempuan Indonesia dari kanker serviks melalui vaksinasi HPV dan skrining DNA HPV, penguatan perencanaan kehamilan, pendampingan kehamilan hingga persalinan yang aman, sampai menjaga kesehatan perempuan agar tetap aktif dan sehat hingga masa menopause.

“Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program tersebut, PP POGI juga menyalurkan 5.000 vaksin HPV melalui cabang-cabang POGI di berbagai daerah, serta memberikan multiple micronutrient sebagai dukungan pemenuhan gizi bagi ibu hamil. Oleh karena itu, kita ingin meningkatkan kolaborasi dengan seluruh stakeholder,” ucapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang menyampaikan apresiasi atas pelantikan kepengurusan POGI Sumbar periode 2025–2028. Keberadaan organisasi profesi seperti POGI memiliki peran strategis dalam mendukung program pembangunan kesehatan daerah, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan ibu, anak, serta kesehatan reproduksi perempuan di Sumatera Barat.

“Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus berkomitmen menekan angka kematian ibu dan bayi melalui penguatan layanan kesehatan yang terintegrasi, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan,” ungkapnya.

Ia menilai sinergi antara pemerintah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan organisasi profesi menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang semakin kuat dan merata. “Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk organisasi profesi, akademisi, dan rumah sakit seperti RSUP Dr. M. Djamil, agar setiap ibu hamil di Sumatera Barat mendapatkan pelayanan yang aman, berkualitas, dan tepat waktu. Kami berharap POGI Sumbar dapat terus menjadi mitra strategis dalam mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas,” tukas Mahyeldi.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Sambut Alumni 1976 FK Unand, Nostalgia Lintas Generasi

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat hubungan kemitraan dan ikatan historis dengan institusi pendidikan kedokteran yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan rumah sakit sebagai rumah sakit pendidikan utama di Sumatera Barat. Pada Sabtu (2/5), rumah sakit Kementerian Kesehatan tersebut menerima kunjungan dari rombongan reuni 50 tahun Angkatan 1976 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang berlangsung di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. M. Djamil.

Kunjungan penuh kehangatan tersebut disambut oleh Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) mewakili manajemen rumah sakit. Suasana penuh keakraban begitu terasa sejak rombongan tiba, menghadirkan kembali berbagai kenangan perjalanan panjang para alumni yang pernah menempuh pendidikan klinik dan pengabdian profesi di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil.

Selain menjadi momentum silaturahmi, kunjungan reuni emas ini juga menjadi ajang mengenang masa-masa pendidikan kedokteran, khususnya pengalaman koas dan perjalanan akademik yang pernah ditempuh para alumni di RSUP Dr. M. Djamil. Berbagai cerita, kenangan, dan nostalgia tentang dinamika pendidikan klinik puluhan tahun lalu kembali menghidupkan memori kolektif yang telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran di Sumatera Barat.

Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas kunjungan para senior Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia kesehatan, pendidikan, dan pengabdian masyarakat.

“Selamat datang kembali di RSUP Dr. M. Djamil. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian bukan hanya menjadi sebuah ajang reuni, tetapi juga menghadirkan kembali jejak sejarah, nilai-nilai perjuangan, serta semangat pengabdian yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu. Rumah sakit ini terus berkembang, namun akar sejarah dan kontribusi para pendahulu tetap menjadi fondasi penting bagi kami untuk terus melangkah maju,” ujar Bestari.

Ia menambahkan, RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan memiliki keterikatan yang sangat erat dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Sehingga momentum seperti ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi akademik dan pelayanan kesehatan telah terjalin lintas generasi.

“Banyak dokter hebat lahir dari proses pendidikan di rumah sakit ini. Kami merasa terhormat dapat menerima kembali para alumni yang pernah menjadi bagian dari perjalanan besar RSUP Dr. M. Djamil. Semoga silaturahmi ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi dokter yang sedang menempuh pendidikan saat ini,” tambahnya.

Turut hadir dalam rombongan reuni tersebut di antaranya Prof. Dr. dr. Masrul, MSc, Sp.GK yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas periode 2013–2017, serta Dr. dr. Joserizal Serudji, Sp.OG, Subsp.KFM bersama para alumni lainnya yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pengembangan profesi kedokteran.

Kegiatan berlangsung hangat dengan agenda ramah tamah dan berbagi cerita lintas generasi. Momen reuni 50 tahun ini menjadi simbol bahwa ikatan antara institusi pendidikan, alumni, dan rumah sakit pendidikan tidak hanya terbangun dalam ruang akademik, tetapi juga tumbuh menjadi bagian dari sejarah pengabdian yang terus hidup dari generasi ke generasi. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Budaya BerAKHLAK, Dirut Jadi Narasumber Webinar Pelayanan Prima 2.0

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat transformasi pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu dan budaya kerja unggul di era disrupsi. Komitmen tersebut tercermin dari kepercayaan yang diberikan kepada Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua sebagai narasumber dalam Webinar Pelayanan Prima 2.0: Revolusi BerAKHLAK di Era Disrupsi yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta pada Kamis (30/4).

Dalam forum nasional tersebut, Dovy Djanas memaparkan materi bertajuk Revolusi Mindset BerAKHLAK di Era Disrupsi yang menekankan pentingnya perubahan pola pikir aparatur sipil negara dalam menghadapi tantangan layanan kesehatan yang semakin kompleks. Transformasi tidak cukup hanya dilakukan pada aspek sistem dan teknologi, namun harus dimulai dari perubahan mindset dan budaya kerja seluruh sumber daya manusia di rumah sakit.

“Budaya BerAKHLAK bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi napas dalam setiap aktivitas pelayanan. Di tengah era disrupsi, kecepatan, ketepatan, dan empati menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat,” ujar Dovy Djanas.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya, yakni Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta III Dr. Siti Badriah, M.Kep., Ns.Sp.Kep.Kom dan dimoderatori Widyaiswara Ahli Madya BBPK Jakarta Dr. Yana Irawati, SE, S.KM, M.KM.

Ia menegaskan RSUP Dr. M. Djamil juga terus mendorong penguatan sistem dan tata kelola yang selaras dengan nilai-nilai BerAKHLAK. Berbagai rencana aksi yang telah dan terus dikembangkan di RSUP Dr. M. Djamil dalam rangka memperkuat implementasi nilai-nilai BerAKHLAK. “Langkah tersebut mencakup penguatan branding dan image rumah sakit, optimalisasi publikasi dan media, internalisasi nilai secara aktif kepada seluruh civitas hospitalia, integrasi sistem pelayanan, hingga pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan serta pemberian penghargaan bagi unit dan individu berprestasi,” sebutnya.

Menurutnya, implementasi nilai BerAKHLAK di RSUP Dr. M. Djamil telah berjalan secara nyata dan terstruktur. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui sosialisasi budaya ASN BerAKHLAK yang digencarkan secara rutin kepada seluruh pegawai, termasuk melalui apel pagi. Hal ini bertujuan untuk memastikan setiap insan rumah sakit memiliki pemahaman yang sama serta mampu menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik pelayanan sehari-hari.

“Kami memastikan internalisasi nilai BerAKHLAK tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar diterapkan dalam perilaku kerja sehari-hari. Dengan demikian, kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien akan semakin meningkat,” tambahnya.

Selain itu, Dovy Djanas juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif dalam mendorong keberhasilan transformasi budaya di rumah sakit. “Transformasi tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kepemimpinan yang mampu menggerakkan, memberi teladan, serta membangun kolaborasi lintas profesi agar pelayanan yang kita berikan benar-benar terintegrasi dan berorientasi pada keselamatan pasien,” jelasnya.

Ia juga menambahkan di tengah dinamika perubahan yang cepat, rumah sakit dituntut untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pelayanan publik. RSUP Dr. M. Djamil, kata dia, terus mendorong inovasi berbasis kebutuhan pasien dengan tetap mengedepankan integritas dan profesionalisme.

“Kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai dasar ASN. Inovasi yang kita lakukan harus memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu layanan dan kepuasan masyarakat,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Dovy Djanas menegaskan keberlanjutan implementasi budaya BerAKHLAK memerlukan sistem yang kuat dan dukungan seluruh elemen organisasi. Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting untuk memastikan setiap program berjalan efektif dan memberikan hasil yang terukur.

“Keberhasilan implementasi budaya kerja harus dapat diukur dan dievaluasi secara berkala. Dari situ kita bisa melihat apa yang perlu diperbaiki dan apa yang harus terus ditingkatkan agar pelayanan kita semakin berkualitas,” tukas Dirut.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Nursing Practice Update Bahas Kanker Payudara

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya di bidang kanker, dengan menggelar kegiatan ilmiah Nursing Practice Update Webinar Series pada Kamis (30/4). Kegiatan yang diinisiasi sebagai bagian dari penguatan kapasitas tenaga kesehatan ini mengangkat tema “Strengthening Integrated Cancer Care: Peran Strategis Multidisiplin dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara”.

Webinar tersebut menjadi ruang diskusi dan pembelajaran bagi tenaga kesehatan lintas profesi untuk memperkuat pendekatan pelayanan kanker yang tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga pada kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Tema yang diusung mencerminkan urgensi penguatan kolaborasi multidisiplin dalam menghadapi kompleksitas penanganan kanker payudara yang terus berkembang.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Forum ilmiah seperti ini memiliki makna strategis dalam mendukung transformasi layanan kesehatan yang sedang berjalan. “Ini bukan sekadar webinar, tetapi bagian dari upaya membangun kompetensi, memperkuat budaya ilmiah, dan memastikan pelayanan kita terus berkembang sesuai tuntutan transformasi kesehatan,” ujarnya.

Webinar ini menghadirkan narasumber yakni Dr. Kemala Rita Wahidi, S.Kp, Sp.Kep.Onk., ETN., MARS.,FISQua, Dr. dr. Daan Khambri, Sp.B (K)Onk, M.Kes, Ns. Lidya., M.Kep,Sp.Kep.MB (Onk), dan Ns. Siti Herlina Ali Sopiah, M.Kep., Sp.Kep.Onk., CPN. Dan dimoderatori Ns. Ibaadi Indra, M.Kep., Sp.Kep.Onk., CPN.

Ia menekankan pelayanan kanker tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sistem yang terintegrasi dan kolaboratif. Keberhasilan penanganan kanker sangat ditentukan oleh sinergi berbagai profesi dalam satu tim yang solid. “Pelayanan kanker tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sistem pelayanan yang terintegrasi, kolaboratif, dan berbasis tim multidisiplin. Karena itu, tema yang diangkat hari ini sangat relevan,” katanya.

Ia juga menyoroti kualitas layanan kanker tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi atau kompetensi satu profesi tertentu, melainkan pada kekuatan kolaborasi seluruh tim pelayanan kesehatan. Dalam konteks ini, perawat memiliki posisi yang sangat strategis dalam memastikan mutu layanan tetap terjaga.

“Kualitas layanan kanker tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kompetensi satu profesi, tetapi oleh kekuatan kolaborasi seluruh tim. Dalam hal ini, perawat memiliki peran strategis sebagai pemberi asuhan, penggerak mutu, penjaga keselamatan pasien, dan koordinator pelayanan,” jelasnya.

Karena itu, penguatan kompetensi keperawatan berbasis bukti ilmiah atau evidence-based practice menjadi sangat penting. Forum seperti webinar ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk memperbarui pengetahuan sekaligus mendorong implementasi praktik terbaik dalam pelayanan sehari-hari.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional, RSUP Dr. M. Djamil diharapkan terus menjadi role model dalam penyelenggaraan layanan kanker yang berkualitas, terintegrasi, dan berorientasi pada hasil nyata bagi pasien. “Komitmen ini tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan teknologi dan fasilitas, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan,” tuturnya.

dr. Maliana memberikan penekanan tegas agar hasil dari kegiatan ini tidak berhenti pada tataran teori semata, melainkan mampu diimplementasikan secara nyata dalam praktik pelayanan. “Saya berharap forum ini tidak berhenti sebagai transfer ilmu, tetapi harus menghasilkan implementasi, perubahan praktik, dan dampak nyata pada pelayanan,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk membawa pulang semangat perubahan dan menerjemahkan ilmu yang diperoleh menjadi langkah konkret di tempat kerja masing-masing. “Saya ingin menegaskan, jangan berhenti pada wacana, bawa pulang perubahan. Apa yang didapat hari ini harus diterjemahkan menjadi perbaikan praktik, penguatan kolaborasi, dan peningkatan mutu layanan. Pelayanan harus lebih baik, kolaborasi harus lebih kuat, dan pasien harus merasakan manfaatnya. Itulah ukuran keberhasilan kita,” tukas dr. Maliana. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Kualitas Uji Klinis melalui Kunjungan INA-CRC

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran sebagai rumah sakit rujukan sekaligus pusat pengembangan riset klinis di Indonesia. Pada Kamis (30/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menerima kunjungan tim INA Clinical Research Unit di Ruang Rapat Direksi. Kunjungan tersebut sebagai bagian dari upaya strategis dalam memperkuat pelaksanaan uji klinis serta pengembangan Clinical Research Unit (CRU).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melakukan koordinasi lintas sektor, pemetaan kesiapan, serta penguatan sistem dalam pelaksanaan uji klinis yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi komprehensif untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang dibutuhkan dalam pengembangan CRU, mulai dari kesiapan fasilitas penelitian hingga mekanisme tata kelola yang terintegrasi.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes menyampaikan kunjungan ini memiliki nilai strategis dalam mendorong kesiapan rumah sakit dalam mengembangkan riset klinis yang berkualitas. “Momentum ini sangat penting bagi kita untuk melakukan koordinasi, pemetaan kesiapan, serta penguatan sistem pelaksanaan uji klinis dan pengembangan CRU. Kami berharap melalui kegiatan ini, kita dapat memperoleh masukan yang konstruktif terkait berbagai aspek penting, seperti kesiapan fasilitas penelitian, mekanisme koordinasi antarunit, tata kelola etik dan regulatori, aspek hukum dan keuangan, perencanaan sumber daya manusia, infrastruktur, akses pasien, serta kebutuhan pendampingan teknis dalam penerapan standar pelaksanaan uji klinis,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Manajer CRC BB Binomika dr. Dona Arlinda, M.Sc, Tim CRC BB Binomika Hanifah Chaerunnisa, Ssi, mewakili Direktorat Registrasi Obat BPOM Dewi Isnabarika A, S.Farm, Apt, mewakili Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan (PPKR) dr. Nadia Adeline, Ketua CRU dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, Subsp. H.L.E (K), FIAC, IFCAP dan tim, tim peneliti serta manajemen RSUP Dr. M. Djamil. 

Selain diskusi yang membahas aspek hukum dan keuangan, perencanaan sumber daya manusia, infrastruktur, serta akses pasien dan proses persetujuan etik penelitian kesehatan, rombongan juga melakukan peninjauan langsung ke sejumlah unit pendukung. Seperti Laboratorium Sentral, Instalasi Farmasi, dan kantor CRU. Peninjauan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kesiapan sarana dan prasarana dalam mendukung pelaksanaan uji klinis yang terstandar.

Pengembangan CRU dan pelaksanaan uji klinis tidak dapat dilakukan secara parsial, tegasnya, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas unit dan lintas profesi. “Sinergi antara manajemen rumah sakit, peneliti, Komite Etik Penelitian Kesehatan, instalasi pelayanan, laboratorium, farmasi, rekam medis, sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS), hingga unit hukum dan keuangan menjadi faktor kunci dalam mewujudkan kesiapan rumah sakit sebagai site penelitian klinis yang kredibel dan berdaya saing,” tuturnya.

dr. Maliana, M.Kes berharap kehadiran tim INA-CRC, BPOM, serta PPKR dapat memberikan arahan, pendampingan, dan rekomendasi yang aplikatif dalam memperkuat pengembangan CRU ke depan. “Setiap masukan yang diberikan akan menjadi bahan evaluasi penting dalam menyusun langkah tindak lanjut, memperbaiki sistem yang ada, serta meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam mendukung pelaksanaan uji klinis yang aman, bermutu, dan berintegritas,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan yang tidak hanya unggul dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga aktif dalam pengembangan riset klinis dan inovasi kesehatan. “Dengan komitmen dan kolaborasi yang solid, Clinical Research Unit diharapkan mampu berkembang menjadi unit yang semakin matang, profesional, serta menjadi motor penggerak dalam peningkatan kualitas penelitian klinis di lingkungan rumah sakit,” ucap dr. Maliana.

Sementara itu, Manajer CRC BB Binomika dr. Dona Arlinda, M.Sc menegaskan pentingnya kesiapan sistem yang terintegrasi dalam mendukung pelaksanaan uji klinis di rumah sakit. Pengembangan CRU bukan hanya tentang ketersediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut kesiapan tata kelola dan kolaborasi lintas unit. “Kami melihat RSUP Dr. M. Djamil memiliki potensi yang sangat baik untuk berkembang sebagai site uji klinis. Yang perlu terus diperkuat adalah integrasi sistem, konsistensi dalam penerapan standar, serta koordinasi antarunit agar pelaksanaan penelitian dapat berjalan efektif, efisien, dan memenuhi prinsip Good Clinical Practice,” ungkapnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Kukuhkan Peran Endalaparoskopi Nasional

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan perannya sebagai rumah sakit rujukan nasional yang aktif dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga medis. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui keterlibatan langsung pimpinan rumah sakit dalam agenda strategis di tingkat nasional.

Pada Selasa (28/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Ketua Pengampuan Dr. dr. Muhammad Iqbal Rivai, Sp.B(K)BD, M.Kes menghadiri audiensi instruktur nasional endolaparoskopi yang berlangsung di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Audiensi tersebut dipimpin oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dan dihadiri oleh para instruktur nasional serta perwakilan rumah sakit pendidikan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pertemuan ini menjadi forum penting dalam memperkuat arah kebijakan dan strategi pengembangan layanan endolaparoskopi di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan bedah minimal invasif yang semakin dibutuhkan masyarakat. Dalam audiensi tersebut, dibahas berbagai aspek mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, standarisasi pelatihan, hingga penguatan jejaring layanan antar rumah sakit pengampu dan jejaringnya.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan keikutsertaan dalam audiensi ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung program prioritas nasional di bidang kesehatan, khususnya dalam pengembangan layanan unggulan berbasis teknologi. Hal ini sejalan dengan penunjukan RSUP Dr. M. Djamil sebagai pusat pengampuan nasional endolaparoskopi, yang mengemban tanggung jawab dalam membina, mendampingi, serta meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan lain di berbagai daerah.

“Penunjukan ini adalah amanah besar yang kami sambut dengan kesiapan penuh. Kami tidak hanya berfokus pada pelayanan, tetapi juga memastikan transfer knowledge berjalan optimal kepada rumah sakit jejaring,” ujar Dovy Djanas.

Menurutnya, peran sebagai pusat pengampuan tidak hanya sebatas penyedia layanan, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang aman, efektif, dan sesuai standar. Dengan adanya penguatan ini, diharapkan layanan endolaparoskopi dapat semakin merata dan mudah diakses oleh masyarakat, sekaligus menekan angka rujukan ke luar daerah.

“Endolaparoskopi adalah salah satu bentuk kemajuan layanan bedah yang memberikan banyak manfaat bagi pasien, mulai dari luka operasi yang lebih kecil hingga waktu pemulihan yang lebih cepat. Ini yang ingin kita dorong agar bisa dinikmati masyarakat secara luas,” tambahnya.

Dovy Djanas menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam memastikan keberhasilan program pengampuan nasional tersebut. Sinergi antara pemerintah pusat, rumah sakit pengampu, serta fasilitas kesehatan di daerah menjadi kunci dalam menciptakan layanan yang merata dan berkualitas.

“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. Dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan jejaring yang kuat, RSUP Dr. M. Djamil siap menjadi bagian dari solusi dalam pemerataan layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia,” tegasnya.

Ia juga menambahkan RSUP Dr. M. Djamil akan terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan serta memperkuat fasilitas penunjang yang mendukung layanan bedah minimal invasif. Hal ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan modern yang menuntut efisiensi, akurasi, serta pemulihan pasien yang lebih cepat.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat kapasitas tenaga medis dan infrastruktur layanan, sehingga standar pelayanan yang kami berikan tidak hanya unggul, tetapi juga konsisten dan berkelanjutan,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Pengembangan Biosimilar Nasional

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong penguatan kemandirian bangsa di bidang kesehatan, khususnya dalam pengembangan produk biosimilar dan obat-obatan. Upaya tersebut diwujudkan melalui langkah strategis yang melibatkan kolaborasi lintas institusi antara rumah sakit, akademisi, dan regulator nasional.

Pada Rabu (29/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D, di Kantor BPOM RI, Jakarta.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membahas langkah konkret dalam pengembangan bahan biosimilar dan produk obat-obatan di dalam negeri. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan sektor kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Biosimilar merupakan produk biologi yang dikembangkan agar memiliki kemiripan tinggi dengan obat biologis inovator yang telah tersedia sebelumnya, baik dari aspek kualitas, keamanan, maupun efektivitas. Berbeda dengan obat generik berbasis kimia, biosimilar diproduksi melalui proses bioteknologi yang kompleks dan memerlukan uji komparabilitas yang ketat. Kehadiran biosimilar menjadi solusi strategis untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi modern, khususnya untuk penyakit kronis dan katastropik, karena lebih terjangkau tanpa mengurangi manfaat klinis yang diberikan.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas mendapat dukungan dari BPOM, terutama dalam membuka akses ke industri farmasi. Akses ini dinilai penting untuk mempercepat proses penelitian, pengembangan, hingga produksi bahan-bahan biosimilar maupun produk obat-obatan yang sesuai dengan tugas dan fungsi BPOM sebagai regulator.

Ia menegaskan RSUP Dr. M. Djamil siap mengambil peran lebih aktif dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti di tahap laboratorium semata. “Kami ingin memastikan hasil penelitian yang dilakukan bersama mitra akademik dapat benar-benar diterjemahkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam bentuk biosimilar yang aman, efektif, dan terjangkau,” ujar Dr. dr. Dovy Djanas.

Penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk regulator dan industri, sebutnya, menjadi kunci dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan yang berkelanjutan. “Sinergi ini tidak hanya penting untuk percepatan pengembangan produk, tetapi juga untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar mutu dan regulasi yang berlaku,” tambahnya.

Menurutnya, langkah ini juga merupakan bagian dari kontribusi nyata RSUP Dr. M. Djamil dalam mendukung program prioritas nasional di bidang kesehatan. “Kami melihat ini sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian bangsa, sekaligus meningkatkan daya saing produk farmasi dalam negeri agar mampu bersaing di tingkat global,” tutupnya.

Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc menegaskan percepatan kemandirian bangsa dalam menghasilkan produk biosimilar dan vaksin merupakan langkah strategis yang harus terus didorong. Kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, dan regulator menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan.

“Penguatan riset berbasis kebutuhan nasional akan memberikan dampak signifikan tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga pada kemandirian industri farmasi dalam negeri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, pengembangan biosimilar diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang lebih terjangkau dan berkualitas,” kata Ketua Komite PPI PRA RSUP Dr. M. Djamil ini.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, dalam pertemuan tersebut menyambut baik inisiatif kolaborasi ini dan menekankan pentingnya langkah cepat yang terukur. Ia mengharapkan agar dalam waktu dekat, tepatnya pada pekan berikutnya, sudah tersedia roadmap yang jelas untuk didiskusikan lebih lanjut sebagai dasar implementasi program pengembangan biosimilar dan produk obat-obatan di Indonesia.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Edukasi Imunisasi Anak

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif bagi masyarakat. Salah satu langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan yang rutin digelar untuk pasien dan keluarga pasien di lingkungan rumah sakit.

Pada Rabu (29/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar edukasi kesehatan tentang imunisasi di Poliklinik Anak Lantai II Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Sedunia, sekaligus sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya imunisasi sejak dini.

Edukasi kesehatan tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis anak, dr. Imil Irsal Imran, Sp.A, yang memaparkan materi secara komprehensif namun mudah dipahami oleh para orang tua yang hadir. Dalam pemaparannya, dr. Imil menjelaskan imunisasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit melalui pemberian vaksin.

“Imunisasi adalah cara melindungi tubuh dari penyakit dengan pemberian vaksin. Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan sehingga ketika terpapar penyakit, tubuh sudah siap melawannya,” ujar dr. Imil.

Ia menegaskan imunisasi memiliki peran penting dalam mencegah penyakit berbahaya, mengurangi angka kematian anak, serta melindungi masyarakat secara luas melalui terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunity. “Manfaat vaksin tidak hanya dirasakan oleh individu yang menerima, tetapi juga oleh lingkungan sekitar,” tuturnya.

dr. Imil menjelaskan tujuan pemberian vaksin adalah memberikan perlindungan yang menyerupai infeksi alamiah tanpa menimbulkan sakit berat maupun komplikasi. Selain itu, vaksin juga dirancang untuk membentuk imunitas jangka panjang serta membantu menghentikan penyebaran infeksi di masyarakat. “Antigen dalam vaksin saat ini semakin mirip dengan penyebab infeksi aslinya, sehingga respon imun yang dihasilkan menjadi lebih baik dan protektif,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan imunisasi diberikan sejak bayi baru lahir hingga usia anak, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. “Kepatuhan terhadap jadwal imunisasi menjadi kunci penting agar perlindungan yang diberikan dapat optimal,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Imil turut menjelaskan berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, serta menegaskan vaksin yang digunakan aman karena telah melalui serangkaian uji keamanan yang ketat. Efek samping yang mungkin timbul umumnya bersifat ringan, seperti demam atau nyeri di lokasi suntikan, dan akan hilang dalam waktu singkat. “Orang tua tidak perlu khawatir, karena vaksin sudah melalui uji keamanan. Efek samping biasanya ringan dan sementara,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam keberhasilan program imunisasi. Orang tua diharapkan membawa anak untuk imunisasi tepat waktu, menyimpan dan memantau buku KIA. “Termasuk aktif bertanya kepada tenaga kesehatan apabila terdapat hal yang belum dipahami,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Peringati Hari Hemofilia Sedunia

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif. Pada Jumat (17/4) lalu, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan memperingati Hari Hemofilia Sedunia dengan menggelar kegiatan edukasi kesehatan yang berlangsung di Poliklinik Penyakit Dalam Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan ini dihadiri oleh pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit yang antusias mengikuti pemaparan materi. Edukasi kesehatan tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis penyakit dalam, dr. Ali Ardany, Sp.PD, yang menyampaikan informasi komprehensif tentang hemofilia, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, hingga penanganannya.

Dalam pemaparannya, dr. Ali Ardany menjelaskan hemofilia merupakan kelainan genetik bawaan yang ditandai dengan gangguan proses pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan tertentu. Kondisi ini menyebabkan darah sulit membeku sehingga penderita berisiko mengalami perdarahan yang lebih lama disbanding orang normal.

“Hemofilia adalah penyakit yang perlu dipahami sejak dini karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Ali Ardany, Sp.PD dalam sesi edukasi tersebut.

Ia juga menambahkan hemofilia terbagi menjadi dua jenis utama. Yaitu hemofilia A yang disebabkan oleh kekurangan faktor VIII dan hemofilia B yang disebabkan oleh kekurangan faktor IX. “Penyebab utama hemofilia adalah faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga. Namun demikian, pada beberapa kasus, hemofilia juga dapat terjadi akibat mutasi spontan yang tidak memiliki riwayat keluarga sebelumnya. Mutasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan, meskipun hal tersebut relatif jarang terjadi,” tuturnya.

Gejala hemofilia umumnya ditandai dengan perdarahan yang sulit berhenti. Selain itu, terdapat gejala lain yang perlu diwaspadai seperti mudah memar, mimisan yang sering terjadi, perdarahan pada persendian yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan, perdarahan tanpa sebab yang jelas, perdarahan pada gusi, hingga ditemukannya darah pada urine atau feses.

“Jika mengalami perdarahan yang tidak wajar atau sering berulang, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri. Deteksi dini sangat penting untuk menentukan penanganan yang tepat,” tambahnya.

Untuk menegakkan diagnosis hemofilia, dr. Ali menyampaikan diperlukan pemeriksaan laboratorium darah guna mengukur kadar faktor pembekuan. “Pemeriksaan ini menjadi langkah penting dalam memastikan jenis dan tingkat keparahan hemofilia yang dialami pasien,” ucapnya.

Terkait pencegahan, karena hemofilia merupakan penyakit genetik, maka tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, upaya pencegahan komplikasi dapat dilakukan dengan menghindari aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera atau perdarahan, serta melakukan kontrol rutin ke fasilitas kesehatan.

Dalam hal pengobatan, hemofilia dapat ditangani melalui terapi penggantian faktor pembekuan yang diberikan secara berkala sesuai kebutuhan pasien. Penanganan yang tepat dan teratur dapat membantu penderita menjalani kehidupan yang lebih baik dan meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang. “Dengan pengobatan yang rutin dan kepatuhan pasien, penderita hemofilia tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang baik,” tutup dr. Ali.

Melalui kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hemofilia, sekaligus mendorong deteksi dini dan penanganan yang optimal bagi pasien. Edukasi kesehatan seperti ini menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif rumah sakit dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45