Dirut RSUP Dr. M. Djamil Paparkan Pengembangan Masterplan kepada Gubernur Sumbar

Komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Sumatera Barat terus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah daerah dan institusi pelayanan kesehatan. Salah satu langkah tersebut terlihat dalam kegiatan Munaqasah Subuh yang dilaksanakan bersama Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, di mushala kompleks Istana Gubernuran pada Senin (1/6).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, memaparkan berbagai perkembangan dan rencana strategis pengembangan rumah sakit rujukan nasional tersebut. Pembahasan utama difokuskan pada update pengembangan masterplan RSUP Dr. M. Djamil sebagai upaya memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan yang modern, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi itu juga membahas dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terhadap rencana pembangunan gedung dormitory yang diperuntukkan bagi pegawai, keluarga pasien, serta peserta didik yang menjalani pendidikan dan praktik di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menjelaskan pengembangan masterplan rumah sakit merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan yang sedang dilakukan untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan di masa depan.

RSUP Dr. M. Djamil terus berupaya melakukan pengembangan secara menyeluruh, baik dari aspek pelayanan, sumber daya manusia, pendidikan, penelitian maupun infrastruktur. Dalam pertemuan ini kami menyampaikan perkembangan masterplan rumah sakit yang dirancang untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih baik, profesional, berkualitas, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” ujar Dovy.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pendukung seperti dormitory menjadi salah satu kebutuhan penting bagi rumah sakit pendidikan dan rumah sakit rujukan nasional. Selain memberikan kenyamanan bagi keluarga pasien yang berasal dari berbagai daerah, fasilitas tersebut juga akan mendukung proses pendidikan tenaga kesehatan serta meningkatkan kesejahteraan pegawai.

Kami mengapresiasi dukungan dan perhatian Bapak Gubernur terhadap pengembangan RSUP Dr. M. Djamil. Dukungan terhadap pembangunan dormitory ini menjadi langkah strategis karena tidak hanya mendukung kenyamanan keluarga pasien, tetapi juga menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan di rumah sakit,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyampaikan RSUP Dr. M. Djamil memiliki peran penting sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat dan wilayah regional Sumatera. Karena itu, upaya pengembangan rumah sakit perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar mampu memberikan pelayanan yang semakin optimal kepada masyarakat.

Melalui diskusi yang berlangsung dalam kegiatan Munaqasah Subuh tersebut, kedua pihak sepakat bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan harus dibangun melalui perencanaan yang matang, penguatan fasilitas, serta kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan.

Pengembangan masterplan RSUP Dr. M. Djamil diharapkan dapat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan rumah sakit yang modern, unggul, dan berdaya saing, sekaligus mendukung visi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, RSUP Dr. M. Djamil terus melangkah menuju pelayanan kesehatan yang semakin humanis, profesional, berkualitas, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Sumatera Barat dan Indonesia.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Teguhkan Semangat Pancasila dalam Pelayanan Kesehatan

Semangat Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat kembali diteguhkan oleh RSUP Dr. M. Djamil melalui pelaksanaan upacara peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, Senin (1/6). Kegiatan yang berlangsung di halaman Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh insan rumah sakit dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek pelayanan kesehatan.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan sambutan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. Dalam sambutan yang dibacakannya, Dovy Djanas menegaskan peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat komitmen kebangsaan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

“Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali berdiri di atas tanah pusaka untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, hari ini adalah momen refleksi untuk memastikan bahwa api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia,” ujarnya. Turut hadir jajaran direksi, manajemen dan civitas hospitalia.

Ia menyampaikan tema peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, yakni “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, menjadi penegasan nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi juga dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Menurutnya, Pancasila telah terbukti menjadi pedoman yang mampu menjaga keutuhan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perkembangan teknologi yang sangat cepat hingga dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks, Pancasila tetap menjadi pegangan moral bangsa. “Pancasila adalah ‘bintang penuntun’ yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” katanya.

Ia menegaskan Pancasila juga menjadi “jangkar moral” dalam menghadapi berbagai perubahan global yang terjadi saat ini. Sebagai negara besar, Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan dunia internasional, tetapi memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan Pancasila merupakan fondasi utama bagi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi bagian dari jati diri bangsa dinilai sangat relevan untuk menjembatani perbedaan dan meredakan konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. “Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik,” ungkapnya.

Indonesia, lanjutnya, telah menunjukkan peran nyata dalam menjaga perdamaian dunia melalui berbagai kontribusi, mulai dari keterlibatan pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), partisipasi dalam mediasi konflik regional, hingga konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih menghadapi penjajahan dan ketidakadilan.

“Kontribusi pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, seluruh peserta upacara juga diajak untuk terus menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan ekonomi, teknologi, dan pembangunan nasional harus tetap berpijak pada nilai-nilai moral yang terkandung dalam Pancasila agar pembangunan bangsa berjalan secara berkeadilan dan berkelanjutan.

“Indonesia Raya bukanlah mimpi kosong. Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup (living ideology). Jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah,” ujarnya.

Selain itu, sambutan BPIP juga mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar memastikan setiap kebijakan yang diambil benar-benar berlandaskan pada prinsip keadilan sosial dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. “Kepada para Menteri dan Kepala Daerah, saya titipkan Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan. Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita,” tegasnya.

Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini, RSUP Dr. M. Djamil menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial. Semangat Pancasila diharapkan tidak hanya menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan fungsi pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun budaya kerja yang profesional, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas, bersatu karena keberagamannya, dan kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya,” tukas Dirut. (*)

RSUP Dr. M Djamil Gelar Webinar International Nurses Day 2026

Memperingati International Nurses Day 2026, RSUP Dr. M. Djamil melalui Tim Kerja Pendidikan dan Pelatihan menyelenggarakan webinar bertema “Our Nurses. Our Future. Empowered Nurses Save Lives” pada Jumat (29/5). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran strategis perawat dalam mendukung transformasi pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, dan berorientasi pada kepuasan pasien.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dalam sambutannya mengatakan peringatan International Nurses Day merupakan momentum penting untuk memberikan penghargaan kepada seluruh perawat atas dedikasi, pengabdian, dan kontribusinya dalam pelayanan kesehatan. “Tema International Nurses Day tahun 2026 yaitu ‘Our Nurses. Our Future. Empowered Nurses Save Lives’ mengingatkan kita bahwa masa depan pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh perawat yang kuat, berdaya, kompeten, dan dihargai. Perawat merupakan garda terdepan dalam menjaga keselamatan pasien, meningkatkan mutu layanan, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, di era transformasi layanan kesehatan saat ini, rumah sakit tidak hanya dituntut memberikan pelayanan yang cepat dan tepat, tetapi juga pelayanan yang humanis, empatik, profesional, dan berorientasi pada kepuasan pasien. Karena itu, pemberdayaan perawat harus berjalan seiring dengan penguatan budaya pelayanan prima di lingkungan rumah sakit. “Kami meyakini bahwa perawat yang diberdayakan dan didukung dengan lingkungan kerja yang baik akan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Ketika budaya melayani tumbuh dengan kuat, maka kepuasan pasien meningkat, keselamatan pasien semakin terjaga, dan mutu pelayanan rumah sakit akan semakin baik,” katanya.

Pada webinar tersebut, peserta mendapatkan wawasan dari lima orang narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman luas di bidang keperawatan, manajemen pelayanan kesehatan, pendidikan keperawatan, keselamatan pasien, pelayanan prima, hingga transformasi budaya melayani. Ketua Umum DPP PPNI Dr. Harif Fadhillah, S.Kp.,SH.,M.Kep.MH memaparkan materi tentang “Peningkatan Kesejahteraan Perawat untuk Keberlanjutan Kesehatan Masyarakat Indonesia”. Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Prof. Dr. Rr. Tutik Sri Hariyati, S.Kp., MARS, FISQua, CHAE membahas tema “Masa Depan Perawat dengan Pemanfaatan Perkembangan Teknologi”.

Selain narasumber eksternal, webinar juga menghadirkan pemateri internal dari RSUP Dr. M. Djamil yakni Ns. Dorisnita, M.Kep, FISQua, CHAE, CHEE memaparkan Pemberdayaan Perawat dalam peningkatan Keselamatan Pasien, Dr. Ns. Alfitri, M. Kep, Sp.MB, FISQua, CHAE memaparkan Menumbuhkan Budaya Pelayanan yang Meningkatkan Kepuasan Pasien di Era Baru Keperawatan, dan Katherina Welong, SKM, MARS, FISQua,CHRA, CHMEE, CHCEE memaparkan “Budaya Kerja Perawat Indonesia menuju Indonesia Emas 2045”.

Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta dalam memahami peran strategis perawat sesuai tema International Nurses Day 2026. Forum ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, serta inspirasi untuk membangun pelayanan keperawatan yang lebih unggul, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan serta kepuasan pasien.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil berharap webinar ini tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama dalam memperkuat peran perawat sebagai bagian penting dari masa depan sistem kesehatan Indonesia. “Saya berharap webinar ini menjadi ruang refleksi dan inspirasi bagi kita semua untuk terus memperkuat peran perawat sebagai bagian penting dari masa depan sistem kesehatan Indonesia,” harapnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Sembelih Delapan Sapi Kurban di Idul Adha 1447 H

Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial terus ditunjukkan oleh RSUP Dr. M. Djamil dalam momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Pada Kamis (28/5), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan tersebut melalui Masjid Asy Syifa melaksanakan penyembelihan hewan kurban sebanyak delapan ekor sapi di lapangan kompleks rumah sakit. Kegiatan ini menjadi bagian dari wujud nyata nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama yang terus dijaga di lingkungan rumah sakit.

Pelaksanaan ibadah kurban berlangsung dengan tertib, melibatkan panitia, pegawai, tenaga kesehatan, serta sejumlah relawan yang bersama-sama membantu proses penyembelihan hingga pendistribusian daging kurban kepada masyarakat dan pihak yang berhak menerima. Suasana kebersamaan terlihat sejak pagi hari ketika para peserta kurban dan panitia bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

Kegiatan ini sekaligus membuktikan RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga terus memperkuat nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Momentum Idul Adha dimaknai sebagai sarana mempererat silaturahmi antarpegawai sekaligus meningkatkan semangat berbagi kepada sesama, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Ketua Panitia Ibadah Kurban, Juni Fitrah, S.Si, Apt, M.Farm menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh peserta kurban yang telah mempercayakan pelaksanaan ibadah kurban melalui Masjid Asy Syifa RSUP Dr. M. Djamil. Partisipasi para peserta tersebut menjadi bukti tingginya semangat berbagi dan kepedulian sosial di lingkungan rumah sakit.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta kurban yang telah berpartisipasi dan mempercayakan ibadah kurbannya kepada panitia Masjid Asy Syifa. Semoga ibadah kurban ini menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT serta membawa keberkahan bagi seluruh peserta dan penerima manfaat,” ujarnya didampingi Wakil Ketua Ns. Mira Susanti, S.Kep, M.Kep dan Sekretaris Panitia Yulfendri, Amd.PK, SKM.

Ia mengatakan, pelaksanaan ibadah kurban tersebut tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai keikhlasan, kebersamaan, dan semangat melayani sesama. Daging kurban nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat sekitar, petugas kebersihan, tenaga pendukung rumah sakit, serta pihak-pihak lain yang membutuhkan.

Menurut Juni Fitrah, semangat berkurban juga mencerminkan nilai pengabdian yang selama ini dijunjung tinggi oleh insan kesehatan di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil. Kepedulian yang ditunjukkan melalui kegiatan kurban menjadi bentuk nyata rasa syukur sekaligus komitmen untuk terus hadir memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian kepada sesama. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat pelayanan yang setiap hari dijalankan oleh seluruh insan rumah sakit,” katanya.

Ia juga menjelaskan proses pelaksanaan kurban tahun ini dipersiapkan secara matang agar berjalan lancar, mulai dari persiapan lokasi, pemeriksaan kesehatan hewan kurban, proses penyembelihan sesuai syariat, hingga pendistribusian daging kurban. Seluruh proses dilakukan dengan memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan rumah sakit.

“Kami berupaya agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik dan tertib. Alhamdulillah, seluruh panitia dan relawan bekerja sama dengan penuh semangat sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lancar,” tambahnya.

Juni Fitrah berharap kegiatan ibadah kurban dapat terus menjadi sarana mempererat hubungan antarpegawai serta memperkuat hubungan rumah sakit dengan masyarakat sekitar. “Semoga kegiatan ini dapat terus memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan rumah sakit, sekaligus menjadi sarana berbagi kebahagiaan dengan masyarakat pada momentum Idul Adha,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Edukasi Kelainan Pigmentasi Kulit Masyarakat

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif yang menyentuh langsung kebutuhan pasien dan pengunjung rumah sakit. Sebagai rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif, tetapi juga aktif melakukan promosi kesehatan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai penyakit dan upaya pencegahannya.

Memperingati International Skin Pigmentation Day, Selasa (26/5), RSUP Dr. M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Bagian Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil menggelar kegiatan edukasi kesehatan di Poliklinik Kulit dan Kelamin. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Guru Besar Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. Dr. dr. Satya Widya Yenny, Sp.D.V.E., Subsp. D.K.E., M.Ag., FINSDV, FAADV didampingi peserta PPDS, dr. Suri Emilia Annisa.

Dalam pemaparannya, Prof. Widya menjelaskan pigmentasi kulit berkaitan dengan melanin, yaitu zat pewarna alami yang memberikan warna pada kulit, rambut, dan mata. Gangguan pigmentasi dapat terjadi ketika produksi melanin berkurang atau justru meningkat sehingga menyebabkan perubahan warna kulit yang tampak berbeda dari warna kulit normal.

“Kelainan pigmentasi kulit secara umum dapat berupa hipomelanosis atau bercak putih akibat berkurangnya melanin, serta hipermelanosis atau bercak hitam yang terjadi akibat peningkatan melanin pada kulit. Kondisi tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor risiko yang perlu dipahami masyarakat,” katanya.

Salah satu bentuk hipermelanosis yang cukup sering ditemukan adalah lentigo solaris. Kelainan ini ditandai dengan munculnya bercak coklat hingga hitam yang umumnya terdapat pada area tubuh yang sering terpapar sinar matahari seperti wajah, bahu, lengan, dan tangan. Lentigo solaris dapat terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, namun lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut.

Menurut Prof. Widya, beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya lentigo solaris. Antara lain memiliki kulit berwarna lebih terang, sering melakukan aktivitas di luar ruangan sehingga terpapar sinar matahari dalam jangka panjang, usia lanjut, serta riwayat menjalani terapi radiasi atau fototerapi.

Selain lentigo solaris, masyarakat juga perlu mengenal melasma yang ditandai dengan munculnya bercak coklat atau hitam pada wajah, terutama di daerah dahi, hidung, kedua pipi, area atas bibir, dan dagu. Melasma lebih sering terjadi pada perempuan, khususnya yang tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari yang tinggi serta memiliki warna kulit sawo matang hingga gelap.

“Melasma merupakan salah satu kelainan pigmentasi yang cukup sering ditemukan. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti paparan sinar matahari, polusi lingkungan, penggunaan obat-obatan dan kosmetik tertentu, faktor genetik, hingga beberapa penyakit tertentu yang memengaruhi kondisi kulit,” ujar Prof. Widya.

Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap kulit dari paparan sinar ultraviolet yang berlebihan. Langkah-langkah sederhana dapat memberikan manfaat besar dalam mencegah berbagai gangguan pigmentasi maupun penuaan dini pada kulit. “Upaya perlindungan diri yang dapat dilakukan antara lain menghindari paparan sinar matahari pada jam puncak antara pukul 09.00 hingga 15.00, menggunakan payung saat beraktivitas di luar ruangan, memakai kacamata hitam, menggunakan topi bertepi lebar, serta mengaplikasikan sunscreen secara rutin sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Kegiatan edukasi tersebut mendapat perhatian dari pasien dan pengunjung yang hadir di Poliklinik Kulit dan Kelamin. Selain memberikan informasi tentang jenis-jenis kelainan pigmentasi kulit, sesi edukasi juga membuka ruang diskusi sehingga masyarakat dapat memahami tanda-tanda awal gangguan kulit dan pentingnya pemeriksaan sejak dini.

Prof. Widya mengingatkan perubahan warna kulit yang menetap atau semakin meluas tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan oleh tenaga medis yang kompeten sangat penting untuk memastikan diagnosis yang tepat dan menentukan penanganan yang sesuai.

“Bila ada keluhan pada kulit, jangan menunda untuk memeriksakan diri. Segera konsultasikan ke dokter spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika agar dapat dilakukan evaluasi dan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing pasien,” katanya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Peran Caregiver Bagi Pasien Kemoterapi

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang berbagai layanan kesehatan, termasuk pendampingan bagi pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Sebagai rumah sakit UPT Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil secara rutin menghadirkan kegiatan edukasi kesehatan guna memberikan informasi yang tepat kepada pasien dan keluarga.

Pada Selasa (26/5), melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil menggelar kegiatan edukasi kesehatan di Unit Kemoterapi. Kegiatan tersebut diikuti oleh pasien dan keluarga yang tengah mendampingi proses pengobatan, dengan tujuan meningkatkan pemahaman tentang kemoterapi serta pentingnya peran caregiver dalam mendukung keberhasilan terapi.

Dalam kesempatan tersebut, Perawat Kemoterapi RSUP Dr. M. Djamil, Cristia Pamela, S.Kep, menjadi narasumber dengan materi bertajuk “Mengenal Kemoterapi dan Peran Caregiver bagi Pasien Kemoterapi.” Ia menjelaskan kemoterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang memerlukan kepatuhan tinggi, baik dari pasien maupun keluarga yang mendampingi.

Menurut Cristia, keberhasilan pengobatan kemoterapi dan keberlangsungan hidup pasien tidak hanya ditentukan oleh tindakan medis yang diberikan tenaga kesehatan. Tetapi juga bergantung pada kehadiran seorang caregiver atau pendamping utama yang mendukung pasien selama menjalani pengobatan.

“Keberhasilan terapi kemoterapi sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan caregiver. Mereka menjadi orang yang paling dekat dengan pasien dalam menjalani proses pengobatan yang sering kali berlangsung dalam jangka waktu panjang. Kehadiran caregiver membantu pasien tetap patuh menjalani terapi sekaligus memberikan kekuatan secara emosional,” ujar Cristia.

Ia menjelaskan caregiver umumnya merupakan anggota keluarga terdekat seperti pasangan, anak, atau orang tua. Dalam praktiknya, peran yang dijalankan sangat kompleks dan tidak terbatas pada pendampingan saat pasien datang ke rumah sakit.

Caregiver bertanggung jawab untuk memastikan jadwal terapi berjalan sesuai rencana, membantu mengelola pemberian obat-obatan di rumah, menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal pasien. Kemudian menyiapkan kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, hingga memberikan dukungan psikologis agar pasien tetap memiliki motivasi dan semangat dalam menghadapi proses pengobatan.

“Caregiver adalah individu yang memberikan bantuan fisik, emosional, sosial, serta pendampingan kepada pasien yang mengalami gangguan kesehatan atau keterbatasan selama menjalani pengobatan. Dukungan yang diberikan tidak hanya membantu pasien secara fisik, tetapi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup pasien selama menjalani terapi,” jelasnya.

Cristia mengingatkan proses kemoterapi sering kali menimbulkan berbagai tantangan, baik dari sisi fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, keluarga diharapkan mampu menjadi sistem pendukung yang kuat bagi pasien agar dapat melewati setiap tahapan pengobatan dengan lebih baik.

Kegiatan edukasi ini berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber. Berbagai pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan efek samping kemoterapi, pola makan yang dianjurkan, hingga cara memberikan dukungan yang tepat kepada anggota keluarga yang sedang berjuang melawan kanker.

 “Kami berharap edukasi ini dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai kemoterapi serta memperkuat peran caregiver sebagai pendamping utama. Dengan dukungan keluarga yang baik, pasien akan lebih termotivasi menjalani pengobatan, sehingga kualitas hidup dan peluang keberhasilan terapi dapat semakin meningkat,” harap Cristia.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Bersama POGI dan HKFM Kampanyekan Deteksi Dini Preeklampsia saat CFD

RSUP Dr. M. Djamil menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya preeklampsia melalui peringatan World Preeclampsia Day 2026 yang digelar saat Car Free Day di pelataran parkir Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Barat pada Minggu (24/5). Kegiatan ini dilaksanakan bersama POGI Sumbar dan HKFM Padang sebagai bentuk kolaborasi dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi akibat komplikasi kehamilan.

Peringatan World Preeclampsia Day 2026 yang dilaksanakan secara nasional ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang preeklampsia, yakni kondisi tekanan darah tinggi pada ibu hamil yang dapat membahayakan keselamatan ibu maupun janin apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan berbagai layanan kesehatan secara gratis mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan USG gratis, edukasi tentang preeklampsia, hingga berbagai games dan doorprize yang disambut antusias oleh pengunjung Car Free Day.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil yang diwakili Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kesehatan ibu dan anak.

“RSUP Dr. M. Djamil mengapresiasi kegiatan ini karena menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk lebih memahami bahaya preeklampsia sejak dini. Kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, dan komunitas menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil,” ujarnya.

Ia mengatakan, preeklampsia tidak hanya menjadi persoalan medis semata, tetapi juga tantangan bersama yang membutuhkan perhatian seluruh pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga hingga masyarakat luas. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat tentang tanda dan gejala preeklampsia perlu terus ditingkatkan agar ibu hamil mendapatkan penanganan sedini mungkin.

“Sering kali preeklampsia datang tanpa gejala yang disadari. Karena itu pemeriksaan kehamilan rutin sangat penting untuk mendeteksi faktor risiko lebih awal. Kami ingin masyarakat memahami bahwa keselamatan ibu dan bayi dapat dijaga melalui deteksi dini dan penanganan yang tepat,” katanya.

Ia menegaskan, RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional di Sumatera Barat akan terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk meningkatkan kualitas layanan obstetri dan neonatal. Hal tersebut dilakukan melalui penguatan sumber daya manusia, fasilitas kesehatan, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

“Komitmen kami adalah menghadirkan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi ibu dan anak. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif agar angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan,” tambahnya.

Ia juga berharap kegiatan yang dilaksanakan saat Car Free Day tersebut mampu menjangkau lebih banyak masyarakat karena dilakukan di ruang publik yang ramai dikunjungi warga. Dengan pendekatan yang santai dan edukatif, pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan kehamilan dinilai lebih mudah diterima masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ibu hamil. Semakin banyak masyarakat yang paham, maka semakin besar peluang kita mencegah komplikasi kehamilan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua POGI Sumbar, Dr. dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG, Subsp.Urogin.RE mengatakan kegiatan ini sejalan dengan program POGI yakni SPRIN atau Selamatkan Perempuan Indonesia yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan perempuan, khususnya ibu hamil.

“Melalui program SPRIN, kami ingin memastikan masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin dan deteksi dini preeklampsia. Edukasi seperti ini sangat penting karena preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia,” katanya.

Ia berharap melalui kegiatan tersebut masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan. “Bahkan tidak ragu melakukan pemeriksaan secara rutin di fasilitas kesehatan,” ucapnya.

Sementara itu, Mewakili Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Padang, Dr. dr. Roza Sriyanti, Sp.OG, KFM mengatakan preeklampsia masih menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang membutuhkan perhatian serius karena dapat berkembang dengan cepat dan membahayakan kondisi ibu maupun janin apabila tidak terdeteksi sejak dini. Edukasi kepada masyarakat ini menjadi langkah penting agar ibu hamil memahami faktor risiko serta tanda bahaya selama kehamilan.

“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa preeklampsia dapat dicegah dan dikendalikan melalui pemeriksaan kehamilan rutin serta pola hidup sehat selama masa kehamilan. Dengan deteksi dini, risiko komplikasi yang lebih berat dapat diminimalkan sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, dan komunitas kesehatan menjadi kekuatan penting dalam memperluas edukasi kepada masyarakat. Pendekatan langsung kepada masyarakat melalui kegiatan Car Free Day tersebut menjadi sarana efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami.

“Kami berharap semakin banyak ibu hamil yang sadar untuk rutin memeriksakan kehamilannya dan tidak mengabaikan keluhan sekecil apa pun selama masa kehamilan. Penanganan yang cepat dan tepat akan sangat menentukan kesehatan ibu maupun bayi yang dikandung,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Komit Tingkatkan Kesadaran Masyarakat tentang Bahaya Preeklampsia

Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, RSUP Dr. M. Djamil terus menghadirkan edukasi kesehatan yang informatif dan mudah dipahami bagi masyarakat. Pada Jumat (22/5), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan RI ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Ibu dan Anak memperingati Hari Preeklampsia Sedunia melalui kegiatan edukasi kesehatan di Poliklinik Kebidanan Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan edukasi tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal, Dr. dr. Roza Sriyanti, Sp.OG, Subsp K.Fm, didampingi PPDS Obstetri dan Ginekologi dr. Ghina Harisa Amalia. Dalam pemaparannya bertajuk “Preeklampsia: Kenali Tanda Bahaya, Lindungi Ibu dan Bayi”, keduanya mengajak masyarakat, khususnya ibu hamil, untuk lebih memahami bahaya preeklampsia serta pentingnya deteksi dini selama kehamilan.

PPDS Obstetri dan Ginekologi dr. Ghina Harisa Amalia menjelaskan preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan serius yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi dan sering kali disertai protein berlebih dalam urin atau proteinuria. Kondisi tersebut dapat memengaruhi berbagai organ vital ibu, seperti ginjal, hati, dan otak sehingga membutuhkan perhatian serta penanganan medis segera.

“Preeklampsia bukan kondisi yang boleh dianggap sepele. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dan dapat menimbulkan komplikasi serius yang berpotensi fatal bagi ibu maupun bayi apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” ujar dr. Ghina.

Ia juga menjelaskan sejumlah tanda bahaya preeklampsia yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil. Antara lain sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, sesak napas, mual dan muntah yang muncul mendadak, serta nyeri pada perut bagian atas. Selain itu, terdapat tanda lain yang tidak boleh diabaikan seperti pembengkakan secara tiba-tiba, kenaikan berat badan drastis, serta tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.

Menurutnya, terdapat beberapa kelompok ibu hamil yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklampsia. Di antaranya kehamilan pertama, ibu hamil dengan usia terlalu muda atau terlalu tua, memiliki riwayat keluarga dengan preeklampsia, kehamilan kembar, hingga ibu dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Ghina menegaskan pemeriksaan kehamilan rutin menjadi kunci utama dalam mendeteksi preeklampsia sedini mungkin. Deteksi dini hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan kehamilan yang teratur bersama tenaga kesehatan terpercaya.

“Pemeriksaan rutin sangat penting karena preeklampsia kadang muncul tanpa gejala yang jelas di awal. Dengan kontrol kehamilan yang teratur, kondisi ibu dan bayi dapat dipantau sehingga risiko komplikasi dapat dicegah lebih dini,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana namun penting, seperti rutin memeriksakan kehamilan, mewaspadai gejala yang muncul, serta menjalani pola hidup sehat selama masa kehamilan. Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan juga menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.

“Jangan lewatkan satu pun jadwal kontrol ke dokter atau bidan. Lindungi diri Anda dan si kecil dengan melakukan pemeriksaan secara rutin dan segera periksakan diri apabila merasakan tanda bahaya selama kehamilan,” ajaknya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Edukasi Diet Ketogenik untuk Dukung Terapi Anak dengan Epilepsi

RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui edukasi yang informatif dan mudah dipahami. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan yang diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Gizi di Poliklinik Anak Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Jumat (22/5).

Kegiatan edukasi ini menghadirkan narasumber Wahyu Fitriani, SKM, RD yang memaparkan materi tentang diet ketogenik sebagai salah satu pendekatan terapi gizi untuk pasien tertentu, khususnya anak dengan epilepsi dan sindrom epilepsi. Edukasi ini mendapat perhatian dari pasien dan keluarga pasien yang hadir karena membahas pola makan yang kini semakin dikenal luas, namun masih membutuhkan pemahaman yang tepat dalam penerapannya.

Dalam pemaparannya, Wahyu Fitriani menjelaskan diet ketogenik merupakan pola makan dengan komposisi tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat. Pola ini dirancang agar tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama menggantikan karbohidrat. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah ketosis.

“Tujuan utama diet ketogenik adalah mendorong tubuh masuk ke kondisi ketosis, dimana tubuh membakar lemak sebagai sumber energi utama, bukan karbohidrat. Diet ini bukan sekadar pola makan biasa, tetapi terapi yang dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan,” jelas Wahyu Fitriani didampingi Farhinza Oktriani, S.Tr.Gz dan Rementi ButarButar, S.Gz.

Ia menerangkan diet ketogenik telah banyak digunakan sebagai terapi tambahan pada pasien epilepsi, terutama anak-anak yang mengalami kejang berulang dan tidak sepenuhnya merespons pengobatan antikejang. Kejang yang terjadi akibat gangguan interaksi antar sel saraf otak yang menggunakan impuls listrik untuk berkomunikasi.

“Gejala kejang merupakan kelainan pada interaksi antar sel saraf otak. Sel saraf berinteraksi menggunakan impuls listrik, dan gangguan pada impuls listrik inilah yang mengakibatkan kejang. Ketika obat antikejang belum memberikan hasil optimal pada beberapa pasien, maka pemberian diet ketogenik dapat menjadi salah satu terapi pendukung yang dioptimalkan,” ujarnya.

Wahyu Fitriani menyampaikan diet ketogenik memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan kebutuhan terapi. Jenis tersebut meliputi diet ketogenik klasik, diet ketogenik MCT (Medium Chain Triglyceride), diet modifikasi Atkins, serta diet rendah indeks glikemik. “Gambaran menu yang dapat diterapkan dalam diet ketogenik, seperti ikan lele goreng, sup ayam, daging ungkep, orak-arik telur dengan labu siam, hingga tumis kangkung. Meski terlihat sederhana, seluruh menu tersebut tetap harus dihitung dan disusun sesuai kebutuhan gizi pasien,” tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan diet ketogenik tidak hanya bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Tetapi juga disiplin keluarga dalam menjalankan pola makan yang telah direncanakan bersama tenaga kesehatan. “Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya terapi gizi dalam mendukung pengobatan pasien, khususnya pada anak dengan epilepsi. Edukasi kesehatan seperti ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola diet tertentu, sehingga manfaat yang diperoleh dapat optimal dan aman bagi pasien,” tukas Wahyu Fitriani. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Wisuda Kemoterapi untuk Rayakan Perjuangan Pasien Kanker

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan psikologis pasien. Sebagai rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berbagai inovasi pelayanan terus dihadirkan guna memberikan pengalaman perawatan yang lebih bermakna bagi setiap pasien dan keluarga. Salah satu inovasi terbaru diwujudkan oleh Unit Kemoterapi pada Instalasi Diagnostik Terpadu, yang menggelar prosesi wisuda bagi pasien pasca-menyelesaikan seluruh rangkaian terapi kemoterapi.

Kegiatan yang berlangsung penuh haru tersebut menjadi simbol apresiasi atas perjuangan panjang para pasien dalam menghadapi proses pengobatan kanker yang tidak mudah. Dalam suasana hangat dan emosional, dua pasien yang telah dinyatakan menyelesaikan program kemoterapi mengikuti prosesi wisuda sederhana. Mereka menerima penghormatan dari para tenaga kesehatan yang selama ini mendampingi perjalanan terapi, sekaligus menerima setangkai bunga sebagai simbol harapan, kekuatan, dan awal baru menuju kehidupan yang lebih sehat.

Momen tersebut tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi para wisudawan, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi pasien lain yang masih berjuang menjalani proses terapi. Suasana haru begitu terasa ketika pasien, keluarga, serta tenaga kesehatan saling memberikan pelukan, doa, dan ucapan selamat. Bagi sebagian pasien, perjalanan kemoterapi bukan hanya perjuangan fisik, melainkan juga perjuangan mental, emosional, hingga sosial yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Melalui program wisuda ini, pihak rumah sakit ingin memastikan bahwa setiap perjuangan pasien dihargai dan dirayakan sebagai sebuah pencapaian besar.

Kepala Instalasi Diagnostik Terpadu, dr. Vesri Yoga, Sp.PD, K-GEH, MARS, FINASIM, mengatakan bahwa inovasi ini merupakan bentuk pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care). Dalam prinsip ini, proses penyembuhan tidak hanya diukur dari keberhasilan terapi secara klinis, melainkan juga dari bagaimana pasien merasa dihargai, didukung, dan dimanusiakan selama menjalani pengobatan.

“Setiap pasien yang menyelesaikan kemoterapi telah melalui perjuangan yang luar biasa. Mereka bukan hanya menjalani terapi medis, tetapi juga melawan rasa takut, rasa lelah, dan berbagai tantangan selama proses pengobatan. Karena itu, kami ingin menghadirkan sebuah momen spesial sebagai bentuk penghargaan atas keteguhan dan semangat mereka. Setangkai bunga yang kami berikan adalah simbol bahwa harapan selalu tumbuh setelah perjuangan,” ujar dr. Vesri Yoga.

Ia menambahkan, inovasi pelayanan seperti ini sejalan dengan transformasi pelayanan kesehatan yang terus dikembangkan oleh RSUP Dr. M. Djamil, yakni menghadirkan layanan yang unggul secara klinis sekaligus humanis dalam pendekatan kepada pasien. “Keberhasilan pengobatan bukan hanya tentang selesainya tindakan medis, tetapi juga bagaimana pasien dapat kembali menjalani hidup dengan optimisme, kepercayaan diri, dan kualitas hidup yang lebih baik,” tuturnya.

Salah seorang pasien, Nurul Azani, turut membagikan kisahnya. Ia menceritakan rangkaian kemoterapinya dimulai sejak Januari 2026 hingga memasuki siklus keenam. “Menjalani kemoterapi pasti ada rasa sedihnya, tetapi kita harus tetap semangat. Perawat kemoterapi di sini baik-baik, kalau ada apa-apa langsung cepat ditangani. Terima kasih kepada perawat RSUP Dr. M. Djamil yang sudah merawat kami dengan sangat baik. Banyak sekali yang memberikan semangat di sini,” ungkap Nurul. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45