RSUP Dr. M. Djamil Bekali 66 Dokter Muda Lewat LOI

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit pendidikan utama di wilayah Sumatera Barat. Pada Senin (27/4), rumah sakit milik Kementerian Kesehatan RI tersebut bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menyelenggarakan kegiatan Layanan Orientasi Informasi (LOI) bagi peserta Program Studi Pendidikan Profesi Dokter. Kegiatan ini diikuti oleh 66 dokter muda yang akan menjalani masa kepaniteraan klinik sebagai bagian dari proses pendidikan profesi.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, dalam sambutannya menegaskan orientasi ini tidak sekadar menjadi ajang pengenalan lingkungan belajar. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi titik awal dalam proses internalisasi nilai, budaya kerja, tata kelola pendidikan klinik, serta penguatan pemahaman terhadap sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.

“Setiap dokter muda yang memasuki lingkungan rumah sakit pendidikan harus mampu memahami peran strategisnya sebagai bagian dari sistem layanan kesehatan yang terintegrasi,” kata Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian ini.

Turut hadir Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Unand dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Dokter dr. Irvan Medison, SpP(K).FISR, Manajer Diklat, Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep; serta Asisten Manajer Pendidikan, dr. Ilvilia Saptahani.

Sebagai rumah sakit pendidikan utama sekaligus rumah sakit rujukan nasional, sebutny, RSUP Dr. M. Djamil memikul mandat besar dalam menghadirkan integrasi pelayanan, pendidikan, dan penelitian secara berkualitas. “Dalam konteks tersebut, kehadiran dokter muda tidak hanya dipandang sebagai peserta didik, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem pembelajaran yang berkontribusi dalam pelayanan kesehatan. Mereka dipersiapkan menjadi sumber daya manusia kesehatan yang unggul dan adaptif untuk menjawab tantangan transformasi sistem kesehatan nasional yang terus berkembang,” ucapnya.

Transformasi kesehatan, menurut dr. Maliana, membutuhkan dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis yang kuat, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, mampu bekerja dalam tim, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki orientasi pada pelayanan yang berpusat pada pasien atau patient-centered care. “Oleh karena itu, masa kepaniteraan klinik menjadi fase krusial dalam membentuk karakter dan kompetensi tersebut,” tegas dr. Maliana.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian para dokter muda selama menjalani pendidikan klinik. Pertama, membangun budaya keselamatan pasien sebagai nilai dasar dalam praktik klinik. Setiap proses pembelajaran harus berlandaskan prinsip patient safety, kepatuhan terhadap standar operasional, serta komitmen terhadap mutu layanan. Kedua, memperkuat profesionalisme dan integritas dengan menjunjung tinggi etika profesi, disiplin, tanggung jawab, serta sikap hormat terhadap sistem pendidikan dan pelayanan yang ada.

“Ketiga, memanfaatkan kepaniteraan sebagai ruang pembelajaran kolaboratif, di mana para dokter muda didorong untuk aktif belajar melalui kerja tim, komunikasi interprofesional, refleksi kasus, dan pengalaman klinik yang komprehensif,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Sukri Rahman, menambahkan selain kompetensi akademik dan keterampilan klinis, aspek empati menjadi hal yang tidak kalah penting dalam pembentukan seorang dokter. “Empati merupakan fondasi dalam membangun hubungan yang baik antara dokter dan pasien, sekaligus menjadi kunci dalam memberikan pelayanan kesehatan yang humanis dan bermartabat,” ucapnya.

Ia menegaskan dokter tidak hanya dituntut untuk mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit, tetapi juga harus mampu memahami kondisi psikologis, sosial, dan emosional pasien. “Dengan demikian, pelayanan kesehatan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek medis semata, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan secara menyeluruh,” tukasnya.(*)

Hadiri Pelantikan IDI Sumbar, RSUP Dr. M. Djamil Tegaskan Komitmen Kolaborasi

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi dan kontribusi terhadap dunia kesehatan, khususnya di Sumatera Barat. Hal ini tercermin dari kehadiran perwakilan manajemen rumah sakit tersebut dalam pelantikan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumatera Barat periode 2025–2028 yang berlangsung pada Sabtu (25/4).

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil diwakili Kepala Instalasi Gawat Darurat, dr. Haviz Yuad, Sp.OG, Subsp. FER (K) turut menghadiri acara pelantikan tersebut. Kegiatan ini mengusung tema besar “Koordinasi, Kolaborasi, dan Kontribusi” sebagai landasan dalam memperkuat peran organisasi profesi dokter di tingkat wilayah.

Kepengurusan IDI Wilayah Sumatera Barat periode 2025–2028 dipimpin oleh Dr. dr. Roni Eka Sahputra, Sp.OT, Subsp. O.T.B (K) secara resmi dilantik oleh Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Dr. Slamet Budiarto, SH., MH.Kes. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Gubernur Sumbar diwakili Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH, Dekan Fakultas Kedokteran se-Sumbar, Ketua TP PKK Kota Padang dr. Dian Puspita, Sp.JP, berbagai unsur tenaga kesehatan serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan di Sumatera Barat.

Usai pelantikan, dr. Haviz Yuad menyampaikan ucapan selamat atas nama Direksi dan Manajemen RSUP Dr. M. Djamil kepada seluruh pengurus yang baru dilantik. “RSUP Dr. M. Djamil siap mendukung program-program strategis IDI Wilayah Sumatera Barat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan dengan organisasi profesi seperti IDI. Koordinasi yang kuat dan kolaborasi yang berkelanjutan akan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kesehatan, termasuk peningkatan kompetensi tenaga medis dan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien.

“Melalui momentum ini, kami berharap terjalin kolaborasi yang semakin erat antara RSUP Dr. M. Djamil dengan IDI Wilayah Sumatera Barat. Kami percaya bahwa dengan koordinasi yang baik, kita dapat menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujar dr. Haviz Yuad.

Sementara itu, Ketua Umum PB IDI, Dr. Slamet Budiarto, dalam sambutannya mengharapkan agar kepengurusan yang baru mampu menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab dan integritas. “Tema koordinasi, kolaborasi, dan kontribusi harus benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata. IDI tidak hanya menjadi organisasi profesi, tetapi juga mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa,” ungkap Dr. Slamet Budiarto.

Ia juga mendorong agar IDI Wilayah Sumatera Barat dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan inovasi pelayanan kesehatan, memperkuat jejaring antar tenaga medis. “Kemudian meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dokter,” harapnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gencarkan Edukasi Manajemen Diabetes

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus edukasi kesehatan bagi masyarakat. Pada Jumat (24/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar kegiatan edukasi kesehatan tentang manajemen diabetes melitus. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Poliklinik Khusus Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, dan diikuti oleh pasien serta keluarga pasien yang tengah menjalani pengobatan.

Edukasi ini menghadirkan narasumber dr. Athari Fadhila, Sp.PD yang memaparkan secara komprehensif tentang manajemen diabetes melitus, mulai dari pemahaman dasar penyakit hingga langkah-langkah pengendalian yang efektif. Dalam pemaparannya, dr. Athari menekankan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan keterlibatan aktif dari pasien.

“Pengendalian kadar gula darah tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari. Pasien diimbau untuk menjaga pola makan seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, serta mematuhi anjuran terapi yang diberikan oleh tenaga medis. Selain itu, pemantauan gula darah secara berkala juga menjadi kunci penting dalam mencegah komplikasi,” kata dr. Athari Fadhila, Sp.PD.

dr. Athari Fadhila, Sp.PD menjelaskan komplikasi diabetes dapat berdampak serius apabila tidak dikelola dengan baik, seperti gangguan pada jantung, ginjal, saraf, hingga penglihatan. “Oleh karena itu, edukasi seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pasien sehingga mampu mengelola penyakitnya secara mandiri dan optimal,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Athari Fadhila, Sp.PD juga mengingatkan banyak kasus diabetes yang tidak terkontrol disebabkan oleh kurangnya disiplin dalam menjalani pengobatan dan pola hidup sehat. “Kunci utama dalam pengelolaan diabetes adalah konsistensi. Pasien harus patuh minum obat, menjaga pola makan, dan rutin kontrol agar gula darah tetap stabil,” jelasnya.

Ia juga menegaskan dukungan dari lingkungan terdekat sangat membantu pasien dalam menjalani perubahan gaya hidup yang tidak mudah. “Keluarga memiliki peran besar dalam mengingatkan, mendampingi, dan memberikan motivasi kepada pasien. Dengan dukungan yang baik, pasien akan lebih semangat untuk menjaga kesehatannya,” ungkap dr. Athari.

Selain itu, dr. Athari Fadhila, Sp.PD mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap deteksi dini diabetes melitus. Banyak penderita yang tidak menyadari kondisi mereka hingga muncul komplikasi. “Jangan menunggu gejala berat. Lakukan pemeriksaan secara berkala, terutama bagi yang memiliki faktor risiko. Semakin dini terdeteksi, semakin baik peluang untuk mengendalikan penyakit ini,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Jalani Visitasi Kolegium BTKV Indonesia

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan layanan dan pendidikan kesehatan. Pada Jumat (24/4), rumah sakit yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan tersebut menerima kunjungan tim visitasi dari Kolegium Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Indonesia di Ruang Rapat Direksi.

Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam rangka persiapan penyelenggaraan Program Studi Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV) yang akan dikembangkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas bekerja sama dengan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama. Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang bedah spesialis yang memiliki peran krusial dalam penanganan penyakit jantung, paru, dan pembuluh darah.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil diwakili oleh Direktur Perencanaan dan Keuangan, Luhur Joko Prasetyo, dalam sambutannya menyampaikan pihak rumah sakit menyambut baik dan mendukung penuh proses visitasi tersebut. Kehadiran program studi BTKV merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu pelayanan sekaligus memperkuat fungsi RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan dan pusat pendidikan.

“Visitasi ini bukan hanya menjadi bagian dari proses administratif, tetapi juga momentum bagi kami untuk memastikan seluruh aspek kesiapan telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh kolegium,” ujar Luhur Joko Prasetyo.

Turut hadir Ketua Kolegium BTKV Indonesia Dr. dr. Ketut Putu Yasa, Sp.B., Sp.BTKV., Subsp.VE(K), FICS, FIATCVS dan dr. Wahyu Wiryawan, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp. JPK (K), MKM, tim BTKV FK Unand/RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp.BTKV, Subsp. V.E(K), FIATCVS, dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, FICS, FIATCVS, MARS, dr. Aulia Rahman Sp.BTKV, Subsp. JD (K), dan manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Ia menambahkan rumah sakit terus berupaya menghadirkan layanan unggulan yang sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran modern. Pengembangan program studi BTKV membutuhkan sinergi yang kuat antara rumah sakit dan institusi pendidikan. “Kami percaya kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas akan menghasilkan sistem pendidikan yang komprehensif, sehingga mampu melahirkan dokter spesialis yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di lapangan,” katanya.

Ia juga menekankan kesiapan sumber daya menjadi perhatian utama dalam proses ini. “Tidak hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga tenaga medis, tenaga pendidik, serta sistem pendukung lainnya harus dipersiapkan secara matang agar program ini dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” tutupnya.

Tim visitasi dari Kolegium Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Indonesia melakukan penilaian terhadap berbagai aspek, termasuk kesiapan sarana dan prasarana, kurikulum pendidikan, ketersediaan tenaga pengajar, serta sistem pendukung lainnya. Proses ini menjadi tahapan krusial sebelum program studi tersebut dapat resmi dibuka dan menerima peserta didik.

Kegiatan visitasi berlangsung dengan diskusi yang intensif dan konstruktif antara tim kolegium, manajemen rumah sakit, serta pihak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Semua pihak berharap hasil visitasi ini dapat memberikan rekomendasi positif sehingga program studi BTKV dapat segera direalisasikan.

Dengan adanya program ini, RSUP Dr. M. Djamil diharapkan tidak hanya menjadi pusat layanan kesehatan unggulan di wilayah Sumatera Barat, tetapi juga berperan sebagai pusat pendidikan spesialis yang mampu mencetak tenaga ahli di bidang bedah toraks, kardiak, dan vaskular untuk memenuhi kebutuhan nasional.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Pembinaan Tata Kelola RSUD Sungai Dareh

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit rujukan nasional sekaligus pembina bagi rumah sakit daerah. Komitmen tersebut kembali ditunjukkan pada Kamis (23/4), saat rumah sakit milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menerima kunjungan dari Dinas Kesehatan Dharmasraya di Ruang Rapat Direksi. Kunjungan ini menjadi langkah awal koordinasi dalam pelaksanaan pembinaan tata kelola RSUD Sungai Dareh agar semakin optimal dan sesuai standar nasional.

Rombongan yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan Dharmasraya Yosta Defina, S.Farm, Apt, M.KM dan Direktur RSUD Sungai Dareh dr. Fitra Neza, M.Kes, disambut oleh Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil, Luhur Joko Prasetyo, beserta jajaran manajemen.

“Pelaksanaan pembinaan ini merupakan bagian dari tindak lanjut instruksi Kementerian Kesehatan dalam memperkuat sistem rujukan nasional dan pemerataan kualitas layanan kesehatan. Dimana rumah sakit vertikal hadir tidak hanya sebagai pusat rujukan, tetapi juga sebagai pembina aktif bagi rumah sakit daerah,” kata Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil, Luhur Joko Prasetyo.

Luhur Joko Prasetyo menyampaikan pembinaan ini bertujuan untuk memastikan tata kelola keuangan RSUD berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Selain itu, pembinaan juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia rumah sakit, memperkuat mutu pelayanan medik, serta mendorong efisiensi operasional secara menyeluruh. Upaya ini juga mencakup peningkatan kualitas layanan operasional dan sistem pendukung rumah sakit agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Ia menambahkan, ruang lingkup pembinaan meliputi tata kelola keuangan, pengelolaan sumber daya manusia, pelayanan medik, serta layanan operasional dan sistem informasi rumah sakit. Seluruh aspek tersebut dinilai krusial dalam membangun rumah sakit daerah yang profesional, transparan, dan berorientasi pada mutu pelayanan.

Menurut Luhur, pembinaan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga bentuk komitmen bersama dalam membangun sistem layanan kesehatan yang terintegrasi. “Kami ingin memastikan setiap proses pengelolaan di rumah sakit daerah dapat berjalan secara akuntabel dan berstandar, sehingga berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan antara rumah sakit pusat dan daerah dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. “Sinergi ini menjadi kunci. Dengan komunikasi yang intens dan pendampingan yang tepat, kami optimistis RSUD Sungai Dareh dapat berkembang menjadi rumah sakit yang unggul di wilayahnya,” katanya.

Luhur menyampaikan keberhasilan pembinaan sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak yang terlibat. “Kami berharap program ini tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi benar-benar diimplementasikan secara konsisten dan berkesinambungan, sehingga mampu meningkatkan kinerja, akuntabilitas, serta mutu pelayanan kesehatan secara nyata,” tutupnya.

Program kerja pembinaan ini diharapkan menjadi pedoman yang komprehensif bagi pelaksanaan pendampingan tata kelola rumah sakit milik pemerintah daerah oleh RSUP Dr. M. Djamil kepada rumah sakit binaan. Dengan adanya pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, diharapkan kinerja, akuntabilitas, serta mutu pelayanan kesehatan di RSUD Sungai Dareh dapat terus meningkat, sehingga mampu memberikan layanan yang optimal dan merata bagi masyarakat di Kabupaten Dharmasraya dan sekitarnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Lahirnya Dokter Profesional dan Berintegritas

RSUP Dr. M. Djamil terus menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan pendidikan kedokteran dan peningkatan kualitas tenaga medis di Indonesia. Komitmen tersebut kembali ditunjukkan pada Rabu (22/4), ketika Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Yudisium Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode II Tahun 2026 yang digelar di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan mereka. Capaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras, ketekunan, serta dedikasi tinggi selama menempuh proses pendidikan. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga keluarga dan lingkungan yang telah memberikan dukungan penuh sepanjang perjalanan akademik.

“RSUP Dr. M. Djamil, sebagai rumah sakit pendidikan, menyambut kehadiran para lulusan baru ini dengan optimisme tinggi untuk bersama-sama melanjutkan pengabdian di bidang pelayanan kesehatan. Peran rumah sakit pendidikan tidak hanya sebatas memberikan pelayanan kepada pasien, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, serta pendidikan kedokteran. Oleh karena itu, sinergi antara rumah sakit dan institusi pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan sistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan,” kata Dirut saat memberikan sambutan.

Ia berharap para lulusan mampu menjadi tenaga medis yang profesional, menjunjung tinggi etika, serta memiliki empati dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, para dokter muda diharapkan terus mengembangkan kompetensi diri seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan.

“Dengan bekal ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di Universitas Andalas, kami percaya para lulusan mampu beradaptasi dengan cepat dalam berbagai situasi medis yang dinamis serta menghadapi tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang. Profesi kedokteran adalah panggilan mulia yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan dedikasi,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTEd dalam sambutannya menyampaikan yudisium bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda kesiapan lulusan untuk memasuki fase pengabdian yang sesungguhnya di dunia kedokteran. “Tantangan ke depan akan semakin kompleks, sehingga para lulusan dituntut tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, integritas, dan kemampuan komunikasi yang baik dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan profesi dokter menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama. Oleh karena itu, setiap lulusan diharapkan mampu menjaga empati, menjunjung tinggi etika profesi, serta terus belajar sepanjang hayat untuk mengikuti perkembangan ilmu kedokteran yang dinamis.

Selain itu, Dekan FK Unand menegaskan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan rumah sakit pendidikan seperti RSUP Dr. M. Djamil dalam mencetak dokter yang kompeten dan siap pakai. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam memastikan lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga terampil secara klinis.

“Kami berharap agar para lulusan mampu menjadi duta almamater yang membawa nama baik institusi, serta memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional,” harap Dekan FK Unand ini. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima PPDS FK Unpri untuk Program Stase

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya sebagai rumah sakit pendidikan dengan menerima peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Pada Selasa (21/4), rumah sakit yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut menerima peserta PPDS Program Studi Jantung dari Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia Medan bernama dr. Teguh Tirto Katon.

Peserta PPDS tersebut akan menjalani masa stase di Bagian Anak RSUP Dr. M. Djamil selama 10 minggu. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses pendidikan dan pengembangan kompetensi klinis, khususnya dalam penanganan kasus-kasus kardiologi pada pasien anak yang membutuhkan pendekatan multidisiplin serta ketelitian tinggi.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua didampingi Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian, dr. Maliana, M.Kes, mengucapkan selamat datang sekaligus menegaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan belajar ini secara optimal.

“Selamat datang di RSUP Dr. M. Djamil. Kami berharap para peserta PPDS dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam ilmu dan keterampilan klinis, khususnya dalam penanganan kasus kardiologi pada anak yang memiliki kompleksitas tersendiri,” ujar Dr. dr. Dovy Djanas di Ruang Rapat Direksi.

Ia juga menekankan lingkungan RSUP Dr. M. Djamil memberikan ruang belajar yang luas dengan beragam kasus rujukan yang dapat meningkatkan pengalaman klinis peserta. “Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Sumatera Barat, kami memiliki spektrum kasus yang lengkap. Ini merupakan peluang besar bagi peserta PPDS untuk belajar secara komprehensif dan terintegrasi,” tambahnya.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga profesionalisme, etika, serta kerja sama tim selama menjalani masa pendidikan klinis. “Kami menekankan agar seluruh peserta dapat menjunjung tinggi etika profesi, disiplin dalam menjalankan tugas, serta mampu berkolaborasi dengan seluruh tenaga kesehatan. Hal ini penting untuk menciptakan pelayanan yang berkualitas sekaligus lingkungan belajar yang kondusif,” tuturnya.

Selain itu, pihak rumah sakit juga menegaskan komitmennya dalam mendukung proses pendidikan dokter spesialis sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu layanan kesehatan. “Dengan adanya kerja sama pendidikan ini, diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta PPDS dalam meningkatkan keterampilan klinis, tetapi juga turut mendukung peningkatan mutu pelayanan di RSUP Dr. M. Djamil serta memperkuat sinergi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mencetak dokter spesialis yang unggul dan berdaya saing,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Sosialisasi dan Asistensi Pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2025

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat komitmennya sebagai institusi layanan kesehatan sekaligus organisasi publik yang menjunjung tinggi tata kelola yang baik. Pada Selasa (21/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menggelar kegiatan Sosialisasi dan Asistensi Pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Tahun Pajak 2025 yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan ini menghadirkan tim penyuluh dari Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi serta KPP Pratama Padang Dua yang memberikan pemaparan langsung kepada peserta. Kehadiran para penyuluh menjadi momentum dalam memastikan seluruh informasi terkait ketentuan perpajakan dapat dipahami secara utuh, jelas, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil, Luhur Joko Prasetyo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim dari Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi serta KPP Pratama Padang Dua yang telah berkenan hadir dan memberikan sosialisasi secara langsung. “Kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mendukung peningkatan pemahaman pegawai, khususnya tenaga medis, terhadap kewajiban perpajakan yang melekat pada profesinya,” ucapnya.

Ia menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, terutama yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran jasa pelayanan serta pemotongan pajak. “Aspek ini dinilai krusial karena berhubungan langsung dengan hak dan kewajiban dokter, sehingga diperlukan kesamaan pemahaman agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi di kemudian hari,” sebut Luhur Joko Prasetyo.

Pemahaman perpajakan yang baik, sebutnya, bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari integritas institusi. “Kami ingin memastikan setiap tenaga medis dan pegawai memahami secara tepat hak dan kewajiban perpajakannya, sehingga tidak hanya patuh secara administratif, tetapi juga memiliki kesadaran penuh sebagai bagian dari warga negara yang berkontribusi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang dialog yang konstruktif antara rumah sakit dan otoritas pajak. “Melalui asistensi langsung seperti ini, berbagai kendala teknis di lapangan dapat didiskusikan dan dicarikan solusi bersama. Dengan begitu, mekanisme yang kita jalankan ke depan akan semakin selaras, transparan, dan memberikan kepastian bagi seluruh pihak,” tambahnya.

Melalui sosialisasi dan asistensi ini, tutur Luhur Joko Prasetyo, diharapkan seluruh peserta dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai ketentuan perpajakan atas jasa medis, termasuk pelaporan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menciptakan keselarasan antara mekanisme pembayaran jasa pelayanan di rumah sakit dengan ketentuan perpajakan yang berlaku secara nasional.

“Upaya ini menjadi langkah nyata dalam mendorong peningkatan kepatuhan perpajakan di lingkungan rumah sakit, yang didukung oleh sistem yang transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, tetapi juga menjadi contoh institusi pemerintah yang patuh terhadap regulasi dan berintegritas dalam pengelolaan keuangan negara,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Jalani Penilaian Rapid Assessment untuk Perkuat Budaya K3

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan rumah sakit. Pada Selasa (21/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut menerima kunjungan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumatera Barat bersama BPJS Ketenagakerjaan Cabang Padang. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan penilaian penerapan K3 melalui Rapid Assessment pada program promotif dan preventif terkait kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (KK/PAK).

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya evaluasi menyeluruh terhadap sistem K3 yang telah berjalan, sekaligus sebagai sarana untuk mengidentifikasi potensi risiko di lingkungan kerja rumah sakit. Selain itu, penilaian ini juga bertujuan untuk mengukur tingkat kepatuhan terhadap standar dan regulasi yang berlaku, sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah perbaikan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Direktur Layanan Operasional, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS menyampaikan melalui kegiatan ini diharapkan rumah sakit dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait implementasi K3. Pasalnya, pendekatan promotif dan preventif menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman.

“Melalui kegiatan ini, kita bisa melakukan identifikasi potensi risiko, menilai kepatuhan terhadap standar, serta merumuskan langkah-langkah perbaikan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Pendekatan preventif dan promotif dalam K3 tidak hanya fokus pada penanganan ketika terjadi insiden, tetapi lebih kepada upaya peningkatan kesadaran seluruh sumber daya manusia terhadap pentingnya budaya keselamatan kerja,” ujar Direktur Layanan Operasional ini.

Ia juga menambahkan keberhasilan penerapan K3 tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada konsistensi implementasi di lapangan. Seluruh unit kerja memiliki peran strategis dalam memastikan setiap prosedur keselamatan dijalankan dengan disiplin dan berkesinambungan.

“Implementasi K3 harus menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari. Tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh lini. Dengan demikian, kita tidak hanya mencegah risiko, tetapi juga membangun sistem kerja yang lebih tangguh dan adaptif terhadap berbagai potensi bahaya,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan insight yang lebih mendalam bagi seluruh jajaran rumah sakit dalam memahami pentingnya K3 secara menyeluruh. Dengan adanya kesamaan persepsi, diharapkan seluruh civitas hospitalia dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat.

“Kami berharap melalui kegiatan ini kita mendapatkan pemahaman yang lebih dalam, sehingga menjadi modal bagi kami untuk memiliki persepsi yang sama terkait pentingnya K3. Dengan begitu, kami dapat lebih mudah mengidentifikasi area mana saja yang perlu ditingkatkan, serta rekomendasi apa yang harus segera diimplementasikan dan diaplikasikan,” tambahnya.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat penerapan K3 di rumah sakit. Sinergi antara rumah sakit, pemerintah daerah, dan lembaga terkait diharapkan mampu menghasilkan kebijakan dan praktik terbaik yang berdampak nyata bagi keselamatan tenaga kerja.

“Kami berharap ada komitmen bersama dari seluruh civitas hospitalia dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif. Dengan dukungan semua pihak, kami optimis penerapan K3 di lingkungan rumah sakit dapat terus ditingkatkan dan memberikan manfaat jangka panjang,” tutupnya.

Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong terbangunnya komitmen bersama dari seluruh elemen rumah sakit dalam mewujudkan budaya K3 yang kuat dan berkelanjutan. Dengan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif, kualitas pelayanan kepada masyarakat pun diharapkan semakin optimal.

“Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, RSUP Dr. M. Djamil terus berupaya menjadi institusi pelayanan kesehatan yang tidak hanya unggul dalam layanan medis, tetapi juga dalam penerapan standar keselamatan kerja yang berkualitas dan berdaya saing,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Gencarkan Edukasi IVA untuk Cegah Kanker Serviks

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui kegiatan promotif dan preventif yang berkesinambungan. Pada Senin (20/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan mengadakan edukasi kesehatan tentang pemeriksaan IVA di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan deteksi dini kanker leher rahim yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.

Dalam kegiatan edukasi tersebut, narasumber dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obgin, dr. Febri Rahma Astri, memaparkan pentingnya deteksi dini kanker leher rahim melalui metode Pap smear maupun metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Pemeriksaan ini dianjurkan bagi wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, terutama pada kelompok usia 30 hingga 50 tahun. Karena pada rentang usia tersebut risiko terjadinya perubahan sel di leher rahim cenderung meningkat.

Ia menjelaskan tujuan utama dari pemeriksaan IVA adalah untuk menemukan lesi prakanker serta mendeteksi adanya perubahan sel sejak dini pada leher rahim. Dengan deteksi yang dilakukan lebih awal, penanganan dapat segera diberikan sehingga peluang kesembuhan menjadi jauh lebih besar. “Metode IVA sendiri memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya pemeriksaan yang sederhana, mudah, dan cepat, serta hasilnya dapat langsung diketahui tanpa harus menunggu proses laboratorium,” ucapnya.

Untuk memperkuat pesan edukasi, Ia turut memberikan penegasan terkait pentingnya skrining rutin. “Kanker leher rahim merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dan dideteksi sejak dini melalui skrining rutin. Kami mengimbau perempuan, khususnya usia produktif, untuk tidak menunda pemeriksaan karena deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” ujarnya.

Keunggulan lain dari metode ini adalah tidak memerlukan fasilitas laboratorium yang kompleks sehingga dapat dilaksanakan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas bahkan melalui layanan mobil keliling. Pemeriksaan ini juga dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih seperti dokter umum dan bidan, sehingga cakupan pelayanan dapat lebih luas menjangkau masyarakat.

Dokter tersebut juga menekankan pemeriksaan IVA bukanlah prosedur yang menakutkan maupun menyakitkan, sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk melakukannya. “Pemeriksaan IVA adalah metode yang sederhana, cepat, dan aman, serta dapat dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Jangan menunggu muncul gejala, karena pada tahap awal kanker sering kali tidak menunjukkan tanda apa pun, sehingga skrining menjadi langkah paling efektif untuk perlindungan diri,” tambahnya.

Apabila pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan kunjungan tunggal, yaitu pemeriksaan IVA yang dilanjutkan dengan tindakan krioterapi bila ditemukan lesi, maka hal ini dapat meminimalisasi kemungkinan pasien tidak kembali untuk pengobatan lanjutan (loss to follow-up). Dengan demikian, upaya deteksi dan penanganan menjadi lebih efektif dan efisien.

Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan IVA sebagai langkah preventif dalam melawan kanker leher rahim. RSUP Dr. M. Djamil mengajak seluruh perempuan untuk tidak ragu melakukan skrining secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki tenaga terlatih dan sarana yang memadai. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45