RS M. Djamil yang berada di bawah Kementerian Kesehatan RI bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menggelar kegiatan Layanan Orientasi Informasi (LOI) Program Studi Pendidikan Profesi Dokter pada Senin (29/6). Kegiatan tersebut menjadi langkah awal bagi 30 dokter muda yang akan menjalani kepaniteraan klinik di rumah sakit pendidikan utama tersebut.
Orientasi ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan lingkungan belajar dan pelayanan rumah sakit. Tetapi juga menjadi momentum penanaman nilai, budaya kerja, serta pemahaman tentang tata kelola pendidikan klinik yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, mengatakan kegiatan orientasi merupakan tahapan penting dalam membentuk karakter dan kompetensi dokter muda sebelum terjun langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat di bawah supervisi para dokter pendidik.
“Kegiatan orientasi ini tidak dimaknai semata sebagai pengenalan lingkungan belajar, tetapi sebagai titik awal internalisasi nilai, budaya kerja, tata kelola pendidikan klinik, serta penguatan pemahaman terhadap sistem pelayanan yang berorientasi mutu dan keselamatan pasien,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai rumah sakit pendidikan utama sekaligus rumah sakit rujukan nasional, RS M. Djamil memiliki mandat strategis untuk menghadirkan integrasi pelayanan, pendidikan, dan penelitian secara berkualitas. Dalam konteks tersebut, dokter muda merupakan bagian dari ekosistem pembelajaran yang dipersiapkan menjadi sumber daya manusia kesehatan yang unggul guna menjawab tantangan transformasi kesehatan nasional.
Ia menegaskan transformasi kesehatan membutuhkan dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis yang baik, tetapi juga berintegritas, mampu bekerja sama dalam tim, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki orientasi pada pelayanan yang berpusat kepada pasien. Karena itu, selama menjalani kepaniteraan klinik, dr. Maliana menekankan tiga hal utama yang harus menjadi perhatian seluruh dokter muda.
“Pertama, bangun budaya keselamatan pasien sebagai nilai dasar praktik klinik. Setiap proses belajar harus berpijak pada prinsip patient safety, kepatuhan terhadap standar, dan penghormatan terhadap mutu layanan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga profesionalisme dalam setiap proses pembelajaran dan pelayanan. “Kedua, kuatkan profesionalisme dan integritas. Junjung tinggi etika profesi, disiplin, tanggung jawab, dan sikap hormat terhadap sistem pendidikan maupun pelayanan,” lanjutnya.
Selain itu, ia meminta para dokter muda memanfaatkan masa kepaniteraan sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama dengan berbagai profesi kesehatan. “Ketiga, manfaatkan kepaniteraan sebagai ruang pembelajaran kolaboratif. Belajarlah melalui kerja tim, komunikasi interprofesional, refleksi kasus, dan pengalaman klinik yang akan membentuk Saudara sebagai dokter yang utuh,” tuturnya.
Melalui orientasi tersebut, para dokter muda diharapkan mampu memahami budaya organisasi rumah sakit, sistem pelayanan kesehatan, hingga berbagai regulasi yang menjadi pedoman selama menjalani pendidikan profesi dokter. “Bekal tersebut dinilai penting agar proses pembelajaran klinik dapat berlangsung secara optimal sekaligus tetap mengedepankan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, mengatakan kegiatan LOI menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa memasuki fase pendidikan klinik yang memiliki tantangan berbeda dibandingkan pendidikan akademik di ruang kuliah.
“Kami berharap seluruh dokter muda dapat memanfaatkan kesempatan belajar di RS M. Djamil sebaik-baiknya untuk meningkatkan kompetensi klinis, kemampuan komunikasi, serta sikap profesional yang akan menjadi bekal saat menjalankan tugas sebagai dokter di masa depan,” harapnya.(*)