RSUP Dr. M. Djamil menunjukkan kesiapannya dalam menghadapi skenario bencana besar dengan berperan aktif pada Simulasi Nasional Kesiapsiagaan Menghadapi Megathrust Sumatera Barat. Acara yang digelar oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan ini berlangsung di Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang, pada Rabu (3/9).
Sebanyak 40 petugas dari RSUP Dr. M. Djamil dikerahkan untuk mensimulasikan penanganan korban massal. Mereka adalah tim medis, perawat, tenaga kesehatan, hingga tenaga non- kesehatan. Partisipasi ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan wujud komitmen rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan vertikal Kementerian Kesehatan untuk menjadi garda terdepan dalam respons bencana.
Dalam simulasi ini, RSUP Dr. M. Djamil mendirikan fasilitas darurat yang mirip dengan kondisi nyata setelah gempa bumi dan tsunami. Fasilitas ini dirancang secara komprehensif, mulai dari ruang triase untuk memilah dan mengklasifikasikan korban berdasar tingkat keparahan luka.Instalasi Gawat Darurat (IGD) Lapangan, area untuk memberikan pertolongan pertama secara cepat dan efektif.
Kemudian Ruang Rawat Inap Sementara untuk menampung korban yang membutuhkan observasi lebih lanjut. Ruang Operasi Lapangan disiapkan untuk penanganan bedah darurat bagi korban dengan luka serius. Dan unit penunjang seperti laboratorium dan radiologi untuk mendukung diagnosis medis, dan gizi.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua didampingi Direktur Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS dan Ketua Komite K3RS Katherina Welong mengatakan simulasi ini ntuk menguji sistem dan personel rumah sakit dalam situasi tekanan tinggi. “Kami ingin memastikan seluruh tim kami siap, mulai dari menerima pasien di titik triase, melakukan tindakan medis di IGD, hingga mengelola pasien yang membutuhkan operasi. Ini melatih koordinasi tim di bawah tekanan, yang merupakan kunci utama dalam penanganan bencana,” ujar Dovy.
Simulasi ini, sebutnya, tidak hanya menguji keterampilan medis, tetapi juga menguatkan sistem komando dan koordinasi yang terpusat. “Dengan banyaknya pihak yang terlibat, mulai dari tim SAR, kepolisian, hingga berbagai rumah sakit, sistem komando tunggal menjadi hal vital agar penanganan berjalan sinergis dan efektif,” ungkapnya.
Ia menekankan partisipasi RSUP Dr. M. Djamil dalam simulasi ini menegaskan peran strategis rumah sakit vertikal sebagai pusat rujukan utama yang mampu beradaptasi dan memberikan layanan kesehatan maksimal dalam kondisi bencana. “Kesiapan ini menjadi modal penting bagi Sumatera Barat, yang berada di zona rawan gempa, untuk menghadapi ancaman megathrust di masa depan,” harap Dirut. (*)