RSUP Dr. M. Djamil Tangani Recovery Pegawai Kejati Sumbar, Dari Kursi Roda Menuju Kaki Palsu

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya sebagai rumah sakit rujukan nasional yang mampu menangani kasus-kasus kompleks lintas disiplin. Saat ini, rumah sakit tersebut menjadi pusat rehabilitasi bagi seorang pegawai Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Lani Anggraini (30), yang harus menjalani pemulihan setelah kehilangan kakinya akibat bencana gempa besar 30 September 2009 di Sumatera Barat.

Cedera parah yang dialaminya membuat kakinya harus diamputasi, sehingga ia menjalani hidup dengan keterbatasan mobilitas dan bergantung pada kursi roda selama bertahun-tahun. Lani, yang sebelumnya bertugas di Kejaksaan Negeri Agam, menjadi salah satu korban yang harus menghadapi dampak fisik yang berat dari gempa tersebut.

Kehilangan salah satu kakinya membuatnya terbatas dalam bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari. Selama bertahun-tahun, Lani hanya mampu beraktivitas menggunakan kursi roda. Kondisi ini tentu menimbulkan tantangan tersendiri, baik secara fisik maupun psikologis.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Muhibuddin, SH, MH menceritakan pertemuannya dengan Lani beberapa waktu lalu. Ia menyadari kondisi Lani memprihatinkan, karena pegawai tersebut berjuang sendirian menjalani aktivitas sehari-hari tanpa dukungan yang memadai. “Saya melihat Lani berjuang sendirian. Kondisinya membuat saya terpanggil untuk memastikan ia mendapatkan bantuan yang layak,” kata Muhibuddin saat Penandatanganan Kerja Sama RSUP Dr. M. Djamil dan Kejati Sumbar di Aula Kejati Sumbar, Kamis (2/4).

Melihat kondisi tersebut, Muhibuddin segera mengambil langkah untuk mengupayakan bantuan lebih intensif. Ia berkoordinasi dengan Asisten Pembinaan untuk memutuskan pemindahtugasan Lani ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, sehingga akses terhadap fasilitas dan dukungan rehabilitasi dapat lebih mudah dilakukan.

Selain langkah administratif, Muhibuddin juga memiliki inisiatif personal untuk membantu Lani mendapatkan kaki palsu. Awalnya, ia merencanakan untuk membawa Lani ke Solo, yang dikenal memiliki fasilitas ortopedi dan rehabilitasi yang lengkap setelah berdiskusi dengan Asisten Pembinaan serta beberapa rekan yang mendukung rencana tersebut.

Keputusan akhirnya diambil setelah Muhibuddin bertemu dengan Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil dan dr. Yusirwan. Dari pertemuan itu, Muhibuddin diyakinkan dokter spesialis ortopedi di RSUP Dr. M. Djamil memiliki kemampuan setara dengan fasilitas di Solo. “Setelah berdiskusi langsung, saya yakin kemampuan dokter di RSUP Dr. M. Djamil tidak kalah. Mereka meyakinkan bahwa seluruh proses bisa ditangani di sini. Dan meminta persetujuan orang tua Lani untuk memulai rehabilitasi,” ucapnya.

Proses ini pun berjalan dan kini telah mencapai tiga bulan, mencakup rehabilitasi medik, hingga persiapan pemasangan kaki palsu. “Bulan April ini kami menunggu hasil evaluasi tim dokter untuk tahap akhir, yakni pemasangan kaki palsu. Sebelumnya, dokter menyarankan adanya tindakan perbaikan ulang sebelum pemasangan. Langkah ini telah mendapat persetujuan dari orang tua Lani,” tutur Kajati Sumbar.

Muhibuddin berharap seluruh proses berjalan lancar. “Harapan saya sederhana. Lani bisa kembali mandiri. Saya titip kepada Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, semoga suatu hari Lani tidak lagi menggunakan kursi roda dan bisa tersenyum lebih lebar,” harapnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan menjelaskan proses rehabilitasi Lani telah berjalan intensif dalam beberapa bulan terakhir. “Sudah dua bulan terakhir Lani melakukan rehabilitasi rutin di RSUP Dr. M. Djamil. Kami menyiapkan tim medis untuk persiapan pemasangan kaki palsu, termasuk fisioterapi dan pembuatan stump kaki palsu,” terangnya.

Ia menambahkan proses ini memang cukup panjang karena membutuhkan penguatan otot secara bertahap. “Rehabilitasi harus dilakukan rutin agar otot-otot kaki semakin kuat sebelum kaki palsu dipasang,” jelasnya.

Dovy menyebut pemulihan Lani diampu oleh tim dokter ortopedi dan rehabilitasi medik RSUP Dr. M. Djamil, yakni Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.O.T. Subsp. P.L (K), M.Kesdandr. Widiya Rahmi, Sp.KFR. Kedua dokter tersebut menangani seluruh tahapan, mulai dari evaluasi kondisi tulang dan jaringan, fisioterapi, hingga persiapan pemasangan prostesis.

Kami ingin memastikan bahwa setiap pasien tidak hanya mendapatkan tindakan medis, tetapi juga dukungan menyeluruh agar kualitas hidupnya benar-benar meningkat. Dalam kasus Lani, kami berharap ia bisa kembali berdiri dan suatu hari berjalan dengan percaya diri,” tambahnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Jalin Kerja Sama Strategis dengan Kejati Sumbar

RSUP Dr. M. Djamil terus memperluas jejaring kerja sama strategis guna memperkuat tata kelola institusi yang profesional dan berintegritas. Hari ini, Rabu (2/4), rumah sakit rujukan nasional tersebut menjalin kerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat dalam upaya memperkuat aspek hukum, khususnya di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Muhibuddin, SH, MH di aula Kejati Sumbar. Turut menyaksikan jajaran direksi RSUP Dr. M. Djamil dan para Asisten Kejati Sumbar.

“Kerja sama dengan Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat ini merupakan langkah strategis dan visioner dalam memperkuat fondasi hukum di lingkungan rumah sakit. Dukungan dari aparat penegak hukum sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai dinamika dan tantangan yang muncul dalam pengelolaan institusi pelayanan kesehatan yang kompleks,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Menurutnya, ruang lingkup kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama dalam membangun tata kelola yang baik atau good governance. Kerja sama tersebut mencakup pemberian bantuan hukum dalam penanganan perkara Perdata dan Tata Usaha Negara, baik melalui jalur litigasi maupun non litigasi. Hal ini dinilai sangat penting untuk memastikan setiap permasalahan hukum yang dihadapi dapat ditangani secara tepat dan profesional.

“Selain itu, kerja sama ini juga mencakup pemberian pertimbangan hukum berupa legal opinion dan pendampingan hukum. Dengan adanya dukungan tersebut, setiap kebijakan dan langkah strategis yang diambil oleh manajemen rumah sakit diharapkan memiliki landasan hukum yang kuat, terukur, dan akuntabel,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kerja sama ini juga meliputi tindakan hukum lain, termasuk peran Kejaksaan sebagai mediator dalam penyelesaian sengketa, serta langkah-langkah preventif dan represif dalam rangka penyelamatan serta pemulihan aset dan keuangan negara. “Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan perlindungan menyeluruh terhadap kepentingan institusi dan negara,” harap Dirut.

Dr. Dovy Djanas menekankan kerja sama ini tidak hanya bersifat reaktif dalam menangani persoalan hukum yang telah terjadi, tetapi juga bersifat preventif guna meminimalisasi potensi risiko hukum di masa yang akan datang. “Langkah ini merupakan bentuk nyata komitmen RSUP Dr. M. Djamil dalam membangun sistem yang transparan, akuntabel, dan berintegritas,” tegasnya.

Ia menyampaikan keberhasilan suatu kerja sama tidak hanya ditentukan oleh penandatanganan dokumen semata, melainkan oleh komitmen, konsistensi, dan sinergi yang terus dibangun secara berkelanjutan. “Oleh karena itu, pihaknya memandang kemitraan ini sebagai hubungan strategis jangka panjang yang harus dirawat melalui komunikasi yang baik, koordinasi yang efektif, serta semangat saling mendukung antar lembaga,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Muhibuddin, SH, MH, menyambut baik kerja sama tersebut. Kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam menjaga dan memperkuat good corporate culture di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil. “Peran Kejaksaan tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mendukung tata kelola institusi yang bersih dan profesional,” ucapnya.

Muhibuddin menambahkan melalui kerja sama ini, Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat akan berperan aktif dalam memberikan pendampingan hukum yang komprehensif, sehingga setiap kebijakan yang diambil oleh pihak rumah sakit dapat berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. “Langkah ini penting untuk menciptakan rasa aman dan kepastian hukum dalam pelaksanaan tugas pelayanan publik,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya upaya pencegahan dalam setiap potensi permasalahan hukum. Pendekatan preventif harus menjadi prioritas utama agar berbagai risiko hukum dapat diminimalisasi sejak dini, sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di kemudian hari.

“Sinergi antara Kejaksaan dan RSUP Dr. M. Djamil diharapkan mampu menjadi contoh kolaborasi yang efektif antar lembaga negara. Dengan komunikasi yang intensif dan koordinasi yang baik, ia optimistis kerja sama ini akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi kedua institusi, tetapi juga bagi masyarakat luas sebagai penerima manfaat layanan publik,” harap Muhibuddin.(*)

Hadiri Halalbihalal, RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Sinergi dengan Unand

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring kemitraan dengan institusi pendidikan. Pada Senin (1/4), Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes mewakili Direktur Utama menghadiri kegiatan Halalbihalal dan Festival Kuliner yang diselenggarakan Universitas Andalas (Unand) di Auditorium Kampus Limau Manis. Kehadiran ini menjadi wujud hubungan erat antara RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama dan Universitas Andalas sebagai institusi akademik yang terus mendorong peningkatan mutu SDM kesehatan.

dr. Maliana, M.Kes menyampaikan rasa terima kasih atas undangan dan penyelenggaraan kegiatan yang menggabungkan nuansa kebersamaan dan penghargaan terhadap budaya kuliner lokal. Momentum ini menjadi penguat hubungan baik yang telah terjalin lama antara kedua institusi.

“RSUP Dr. M. Djamil memiliki hubungan yang sangat erat dengan Unand, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengembangan SDM kesehatan. Kegiatan seperti ini memperkuat rasa kebersamaan dan menjadi ruang untuk terus membangun sinergi demi pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Sumatera Barat,” ujarnya.

dr. Maliana menegaskan pentingnya keberlanjutan kerja sama, terutama pada aspek pengembangan kompetensi tenaga kesehatan. “Kami sangat terbantu dengan kehadiran Unand sebagai mitra akademik yang kuat, terutama dalam upaya mencetak tenaga kesehatan yang profesional, humanis, dan berdaya saing tinggi,” katanya.

Ia juga menyoroti peran riset bersama yang terus berkembang. “RSUP Dr. M. Djamil terbuka untuk kolaborasi riset yang inovatif. Kami percaya penelitian yang dihasilkan dari kerja sama rumah sakit dan universitas akan memberikan dampak nyata pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan,” tambahnya.

Selain itu, dr. Maliana menekankan kemitraan kedua institusi bukan hanya soal program, tetapi juga tentang semangat membangun sistem kesehatan yang lebih baik. “Kami ingin hubungan ini tidak hanya bersifat seremonial tetapi benar-benar menjadi fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan dan pelayanan kesehatan yang saling menguatkan,” tegasnya.

Acara berlangsung hangat dan penuh keakraban, dihadiri Rektor Unand Efa Yonnedi, Ph.D dan jajaran wakil rektor, sivitas akademika, serta perwakilan berbagai mitra strategis. Kehadiran RSUP Dr. M. Djamil menjadi simbol konsistensi dalam memperkuat jejaring dan komitmen bersama meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan di Sumatera Barat.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Jejaring RSUD lewat Pembinaan Layanan Operasional

RSUP Dr. M. Djamil menggelar pertemuan virtual bersama sejumlah rumah sakit daerah dalam rangka pembinaan pengisian borang data aspek layanan operasional. Kegiatan ini merupakan bagian dari mandat Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Kesehatan Lanjutan terkait pembagian jejaring rumah sakit yang harus diampu oleh setiap UPT vertikal.

“Kegiatan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, tetapi wujud komitmen bersama dalam memperkuat kualitas layanan kesehatan di Sumatera Barat,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil yang diwakili Direktur Layanan Operasional, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS saat memberikan sambutan, Rabu (1/4).

Pertemuan virtual tersebut dihadiri oleh jajaran direktur dan manajemen rumah sakit yang menjadi jejaring pengampuan RSUP Dr. M. Djamil. Yaitu RSUD Prof. H. M. Yamin, SH Pariaman; RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi; RSUD M. Natsir Solok; RS Universitas Andalas; serta RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh. Hadir pula Kabid Yankes Dinas Kesehatan Sumatera Barat, drg. Das Endresva Dewi, M.Si, bersama manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Ia menjelaskan proses pengampuan ini dirancang sebagai ruang saling berbagi, bertukar pengalaman, dan membuka diri terhadap praktik-praktik baik dari setiap rumah sakit. “Tidak tertutup kemungkinan bahwa pembelajaran justru datang dari rumah sakit yang diampu, sehingga semua pihak dapat tumbuh dan berkembang secara kolektif,” tutur drg. Ade.

drg. Ade menegaskan proses pengumpulan dan integrasi data ini akan menjadi dasar bagi langkah-langkah strategis pembinaan ke depan. Data yang lengkap, akurat, dan seragam diperlukan agar analisis kebutuhan, pemetaan kapasitas, serta rekomendasi peningkatan layanan dapat dilakukan secara tepat sasaran. “Borang bukan sekadar formulir, tetapi cermin kesiapan rumah sakit dalam mengelola layanan operasionalnya. Dari sini kita dapat melihat area yang sudah kuat maupun yang masih perlu diperbaiki,” jelasnya.

Pada tahap awal ini, fokus utama adalah integrasi data layanan operasional melalui pengisian borang. RSUP Dr. M. Djamil telah menyiapkan borang data dukung yang wajib dilengkapi oleh seluruh rumah sakit jejaring paling lambat 10 April 2026. “Setelah tahap pengisian selesai, proses akan dilanjutkan dengan pengkajian serta presentasi dari masing-masing rumah sakit untuk menggambarkan kondisi riil di lapangan. Tahap berikutnya adalah penjadwalan kunjungan onsite ke setiap rumah sakit untuk melihat langsung implementasi operasional dan peluang penguatan layanan,” paparnya.

Ia juga mengapresiasi semangat kolaboratif yang ditunjukkan oleh seluruh rumah sakit jejaring sejak awal proses ini digulirkan. Keterbukaan untuk berbagi tantangan maupun capaian menjadi kunci keberhasilan pembinaan jejaring rumah sakit. “Kami melihat komitmen yang tinggi dari rekan-rekan di daerah. Ini memberikan optimisme bahwa penguatan sistem layanan kesehatan di Sumatera Barat dapat berjalan lebih cepat dan terarah,” tambah drg. Ade.

drg. Ade menegaskan RSUP Dr. M. Djamil akan terus hadir sebagai mitra pendamping yang siap memberikan dukungan teknis, pelatihan, dan asistensi sesuai kebutuhan masing-masing rumah sakit. Dan berharap seluruh rangkaian kegiatan ini tidak hanya menghasilkan peningkatan kualitas data, tetapi juga mendorong transformasi layanan yang berkelanjutan. “Yang kita bangun bukan hanya dokumen, tetapi budaya mutu. Dengan sinergi yang kuat, kita akan mampu memberikan layanan kesehatan yang lebih aman, efektif, dan berorientasi pada pasien,” harapnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Peringati World Purple Day, Tekankan Hidup Berkualitas bagi Penyandang Epilepsi

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan sekaligus edukasi kepada masyarakat. Pada hari ini (31/3), rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Neurologi FK Unand/RSUP Dr. M. Djamil menggelar kegiatan peringatan World Purple Day for Epilepsy Awareness yang sebenarnya diperingati secara global setiap tanggal 26 Maret. Kegiatan ini dilaksanakan di Poliklinik Neurologi dengan melibatkan pasien, keluarga pasien, serta tenaga kesehatan.

Peringatan ini mengusung tema tentang pentingnya hidup berkualitas bagi penyandang epilepsi. Tema tersebut dipilih untuk menekankan bahwa epilepsi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna, selama mendapatkan penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai dari lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan itu, dr. Lidya Susanti, SpN(K), M.Biomed, M.PedKed hadir memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien yang datang ke Poliklinik Neurologi. “Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan kecenderungan terjadinya kejang berulang akibat aktivitas listrik yang tidak normal di otak,” kata dr. Lidya.

Ia menekankan masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru tentang epilepsi, termasuk stigma yang membuat penderita seringkali dikucilkan. “Epilepsi bukan penyakit menular dan dalam banyak kasus dapat dikontrol dengan pengobatan yang teratur,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan pentingnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, karena penghentian obat secara tiba-tiba dapat memicu kekambuhan kejang. Selain itu, ia mengingatkan keluarga pasien agar memahami kondisi tersebut dan mampu memberikan pertolongan pertama yang tepat saat terjadi kejang, seperti menjaga posisi pasien agar tetap aman dan tidak memasukkan benda apapun ke dalam mulut pasien.

“Epilepsi memiliki berbagai jenis dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap pasien. Tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat yang terlihat jelas, namun ada juga bentuk kejang ringan seperti hilang kesadaran sesaat atau gerakan berulang yang sering tidak disadari. Oleh karena itu, pentingnya pemeriksaan medis yang tepat untuk memastikan diagnosis sehingga terapi yang diberikan dapat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengenali faktor pencetus kejang yang dapat berbeda pada setiap individu, seperti kurang tidur, stres, kelelahan, atau ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, pasien diharapkan dapat mengelola gaya hidupnya dengan lebih baik untuk mencegah kekambuhan.

“Kami mengimbau agar pasien rutin melakukan kontrol ke dokter agar perkembangan kondisi dapat dipantau secara berkala. Selain itu, dukungan sosial memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang epilepsi. Lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja diharapkan dapat memberikan pemahaman dan penerimaan yang baik sehingga pasien tidak merasa terisolasi,” imbaunya.

Ia berharap melalui edukasi yang terus dilakukan, masyarakat semakin terbuka dan mampu memberikan dukungan yang positif bagi penyandang epilepsi. Edukasi yang diberikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, tetapi juga untuk memberikan dukungan moral kepada pasien agar lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Dengan penanganan yang tepat, dukungan keluarga, serta lingkungan yang lebih inklusif, penyandang epilepsi diharapkan mampu hidup dengan kualitas yang lebih baik,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Kunjungan RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh untuk Tindak Lanjut Penjajakan Kerja Sama Pengampuan

RSUP Dr. M. Djamil kembali menerima kunjungan kerja dari mitra layanan kesehatan daerah. Hari ini, Senin (31/3), rombongan dari RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh datang bersilaturahmi sekaligus menindaklanjuti pertemuan sebelumnya antara Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG, KFM dan direksi RSUP Dr. M. Djamil terkait penjajakan kerja sama pengampuan tata kelola rumah sakit daerah.

Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, bersama Manajer Hukum, Nova Afriani, S.H., M.H., menerima rombongan yang dipimpin oleh Direktur RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh, dr. Elfitrimelly, Sp.A., M.Biomed didampingi Kasubag Perencanaan dan Program, Risdi Ihksan, SKM., MPH di ruang kerja Direktur Layanan Operasional. Kunjungan ini menjadi lanjutan dari komunikasi intens yang telah terbangun antara kedua institusi dalam rangka peningkatan mutu layanan kesehatan dan penguatan tata kelola rumah sakit daerah melalui mekanisme pengampuan.

Dalam kesempatan itu, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS menyampaikan apresiasi atas kunjungan RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh. “RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan memiliki mandat untuk memperkuat jejaring layanan kesehatan di daerah, terutama melalui pendampingan yang sistematis dan terukur. Kolaborasi seperti ini menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk memastikan layanan kesehatan yang berkualitas dapat diakses secara merata oleh masyarakat,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan pengampuan tata kelola bukan hanya menyasar aspek administrasi atau manajerial, tetapi juga menyentuh proses peningkatan mutu layanan klinis, keselamatan pasien, serta penguatan sistem informasi rumah sakit. “Pendampingan yang kami lakukan sifatnya komprehensif, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga monitoring evaluasi. Kami ingin memastikan mitra rumah sakit daerah memiliki sistem yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ade menambahkan RSUP Dr. M. Djamil siap membuka ruang diskusi yang lebih teknis terkait area-area penguatan yang dibutuhkan, baik itu dalam pengelolaan SDM kesehatan, mutu layanan, maupun tata kelola organisasi. “Kami percaya bahwa keberhasilan pengampuan hanya bisa diraih jika semua pihak bergerak serempak dan memiliki visi yang sama,” tutur drg. Ade.

Ia berharap kerja sama ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya dalam bentuk layanan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih aman. “Kami ingin hadir tidak hanya sebagai mitra teknis, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem besar yang mendorong perubahan positif di layanan kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh, dr. Elfitrimelly, Sp.A., M.Biomed, menyampaikan kunjungan ini menjadi langkah penting bagi pihaknya untuk menindaklanjuti arahan kepala daerah sekaligus memperkuat kolaborasi dengan rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat. “RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh sangat terbuka dengan proses pendampingan yang dilakukan RSUP Dr. M. Djamil, terutama dalam hal penguatan tata kelola, penyusunan program strategis, serta peningkatan kapasitas manajemen dan layanan klinis,” ucapnya.

Ia menekankan dukungan RSUP Dr. M. Djamil akan menjadi energi baru bagi RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh dalam meningkatkan mutu pelayanan, memperbaiki tata kelola, serta memperluas akses layanan kesehatan bermutu bagi masyarakat. “Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah peningkatan yang kami lakukan benar-benar berdampak langsung pada pasien dan masyarakat luas,” tukas dr. Elfitrimelly. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Pacu Percepatan Layanan Kesehatan

Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) menegaskan pentingnya peningkatan kinerja seluruh jajaran pelayanan kesehatan di lingkungan RSUP Dr. M. Djamil dengan menekankan kesiapan langkah jangka pendek memasuki triwulan II, peningkatan kuantitas layanan tanpa mengesampingkan kualitas, serta penguatan mutu dan keselamatan pasien.

“Memasuki triwulan II ini, kita harus bergerak lebih cepat dengan langkah-langkah konkret yang terukur, tanpa meninggalkan standar kualitas yang sudah kita bangun bersama,” ujar Dr. dr. Bestari Jaka Budiman saat memimpin apel pagi perdana pasca-perayaan Idul Fitri di shelter Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (30/3).

Dalam arahannya, ia menekankan seluruh unit kerja harus segera menyusun strategi jangka pendek yang realistis dan dapat diimplementasikan secara efektif. Peningkatan kuantitas layanan, menurutnya, menjadi hal yang penting seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, namun hal tersebut tidak boleh mengorbankan kualitas layanan yang diberikan.

“Kuantitas layanan harus meningkat, tetapi kualitas tidak boleh turun. Justru keduanya harus berjalan seiring agar kepercayaan masyarakat terus terjaga,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan mutu dan keselamatan pasien merupakan prioritas utama yang harus menjadi perhatian seluruh tenaga kesehatan. Setiap proses pelayanan harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dan standar operasional yang berlaku guna meminimalkan risiko serta memastikan keselamatan pasien. “Mutu dan keselamatan pasien adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya slogan, tetapi harus menjadi budaya kerja di setiap lini pelayanan,” tambahnya.

Momentum apel pagi pasca-Idul Fitri ini sekaligus menjadi ajang memperkuat kembali semangat kerja dan kebersamaan antarpegawai setelah masa libur panjang. Suasana apel berlangsung khidmat dan penuh semangat, mencerminkan komitmen baru dalam meningkatkan kinerja serta memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, juga dilaksanakan penyerahan kenang-kenangan kepada sejumlah pegawai yang memasuki masa purnabakti sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian mereka selama bertugas. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh pegawai untuk terus berkontribusi secara optimal dalam memajukan rumah sakit.(*)

Halalbihalal Departemen Ilmu Bedah, Momentum Penguatan Sinergi RSUP Dr. M. Djamil-FK Unand

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat dengan membangun jejaring kolaborasi yang kokoh bersama institusi pendidikan, khususnya Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Sinergi antara kedua lembaga tersebut bukan sekadar kerja sama institusional, tetapi menjadi amanah besar dalam membangun ekosistem pelayanan, pendidikan, dan penelitian yang unggul serta berintegritas.

“Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa pelayanan kesehatan terus berkembang selaras dengan kemajuan ilmu kedokteran dan kebutuhan masyarakat,” kata Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, pada kegiatan Halalbihalal Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran/RSUP Dr. M. Djamil, Minggu (29/3).

Dalam kegiatan Halalbihalal ini turut dihadiri jajaran Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedoktera Unand/RSUP Dr. M. Djamil.

dr. Maliana menekankan kerja bersama ini memiliki nilai strategis jangka panjang. “Kita tidak hanya berbicara tentang pelayanan hari ini, tetapi juga tentang masa depan, tentang bagaimana kita menyiapkan generasi dokter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Ia menambahkan pembinaan karakter menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam pendidikan kedokteran. “Karena dokter yang baik tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu memberikan pelayanan dengan empati dan keikhlasan,” tutur dr. Maliana.

Momentum Halalbihalal tersebut menjadi ruang yang penuh makna bagi seluruh civitas Departemen Ilmu Bedah. Kegiatan ini menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat, menjadi wadah untuk menyatukan kembali hati yang mungkin sempat berjarak, meluruhkan ego yang mungkin pernah mengeras, serta menyempurnakan ibadah dengan saling memaafkan. Dalam tradisi ini, hadir keyakinan bahwa kesempurnaan hubungan dengan Allah harus sejalan dengan kebaikan hubungan antarsesama manusia.

dr. Maliana menegaskan transformasi SDM kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada kemampuan klinis semata. RSUP Dr. M. Djamil sedang mendorong penguatan kompetensi holistik yang mencakup etika profesional, komunikasi efektif, hingga ketahanan mental tenaga kesehatan. “Pasien membutuhkan dokter dan tenaga medis yang mampu hadir bukan hanya sebagai penyembuh, tetapi juga sebagai pendamping dalam proses kesembuhan. Itu semua dimulai dari karakter,” katanya.

Ia juga menyampaikan rumah sakit berkomitmen memberikan ruang pembelajaran yang kondusif bagi peserta didik dan dokter muda. “Rumah sakit ini adalah laboratorium kehidupan. Setiap kasus, setiap pasien, setiap interaksi adalah proses pembentukan jati diri seorang dokter. Karena itu, suasananya harus kita jaga,” tegasnya.

dr. Maliana berharap agar kerja sama antara RSUP Dr. M. Djamil dan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dapat terus dijaga dengan semangat saling menghormati dan saling menguatkan. “Mari kita terus menjaga sinergi ini. Karena pada akhirnya, keberhasilan kita tidak diukur dari apa yang kita bangun hari ini, tetapi dari warisan kebaikan yang kita tinggalkan untuk generasi berikutnya,” tutur dr. Maliana. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Ajak Pasien Pahami Pentingnya Kepatuhan Terapi TB

RSUP Dr. M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia dengan menggelar kegiatan edukasi kesehatan di Poliklinik Paru Lantai II Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (27/3). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan, pengobatan, serta pengendalian TB, yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, dokter spesialis paru dr. Dewi Wahyu Fitrina, Sp.P(K) hadir sebagai narasumber dan menyampaikan materi tentang mitos serta fakta seputar tuberkulosis. “TB merupakan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan sepenuhnya apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur sesuai standar yang telah ditetapkan,” kata dr. Dewi.

Pengobatan TB, sebutnya, memerlukan durasi minimal enam bulan, sesuai dengan program nasional penanggulangan TB. “Kepatuhan pasien dalam menjalani regimen terapi menjadi kunci penting keberhasilan, sehingga edukasi yang benar dan mudah dipahami sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Edukasi kesehatan ini semakin menarik dengan adanya sesi tanya jawab antara pasien dan dokter. Pasien memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi langsung mengenai gejala, cara penularan, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, menunjukkan bahwa informasi mengenai TB masih sangat dibutuhkan masyarakat. Untuk menambah semangat peserta, panitia juga menyediakan doorprize yang dibagikan kepada pasien yang aktif dalam sesi diskusi.

Menanggapi tingginya beban kasus TB di Indonesia, dr. Dewi Wahyu Fitrina, Sp.P(K) menyampaikan salah satu tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya stigma yang melekat di masyarakat. “Banyak pasien yang datang sudah dalam kondisi berat karena takut dianggap membawa penyakit berbahaya. Padahal, semakin cepat TB terdeteksi, semakin cepat pula pengobatan bisa dimulai dan peluang sembuh menjadi jauh lebih tinggi,” ujarnya.

dr. Dewi juga menekankan pentingnya dukungan keluarga selama proses pengobatan berlangsung. Pasien TB sering mengalami kelelahan dan kejenuhan karena terapi yang panjang, sehingga motivasi dari lingkungan terdekat sangat berpengaruh. “Kadang pasien merasa bosan atau ingin berhenti minum obat karena sudah merasa lebih baik. Di sinilah peran keluarga dibutuhkan untuk memastikan obat tetap diminum sesuai jadwal. Konsistensi adalah kunci,” jelasnya.

Ia menambahkan RSUP Dr. M. Djamil siap menjadi pusat rujukan edukasi dan konsultasi TB, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. “Kami selalu terbuka untuk memberikan edukasi dan pemeriksaan bagi siapa pun yang memiliki gejala TB. Jangan menunggu parah, karena TB bisa disembuhkan dan kita semua berperan untuk menghentikan rantai penularannya,” pungkasnya. (*)

Kunjungan Wali Kota Payakumbuh, RSUP Dr. M. Djamil Dorong Penguatan RSUD Adnaan WD

RSUP Dr. M. Djamil terus memperluas jejaring pengampuan pelayanan kesehatan di Sumatera Barat. Pada hari ini, Kamis (26/3), RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG, KFM di ruang kerja Direktur Utama. Kunjungan tersebut menjadi momentum dalam mempererat hubungan kelembagaan sekaligus menjajaki kerja sama strategis dalam pengampuan tata kelola rumah sakit daerah.

Kedatangan Wali Kota Payakumbuh didampingi Asisten III Administrasi dan Umum Setko Payakumbuh Drs. Ifon Satria Chan, M.Si disambut langsung oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menyampaikan pihaknya terus berkomitmen memperluas jejaring pengampuan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu layanan kesehatan di daerah. “RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional memiliki tanggung jawab dalam mendukung penguatan kapasitas rumah sakit daerah, baik dari sisi tata kelola, sumber daya manusia, hingga pelayanan klinis,” kata Dirut.

Menurutnya, penjajakan kerja sama dengan Pemko Payakumbuh merupakan langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas layanan di RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh. “Melalui pengampuan ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta perbaikan sistem manajemen rumah sakit yang berkelanjutan,” harapnya.

Dr. dr. Dovy Djanas menambahkan pengampuan tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga mencakup penguatan sistem rujukan, digitalisasi layanan, serta peningkatan keselamatan pasien. “Oleh karena itu pentingnya kolaborasi yang terstruktur dan berkesinambungan agar rumah sakit daerah mampu berkembang secara mandiri namun tetap terhubung dalam jejaring pelayanan kesehatan nasional,” tuturnya.

Ia juga menegaskan RSUP Dr. M. Djamil siap memberikan pendampingan secara komprehensif, termasuk melalui pelatihan tenaga medis dan manajemen, supervisi berkala, serta berbagi praktik terbaik yang telah diterapkan di rumah sakit pusat. “Dengan pendekatan tersebut, diharapkan standar pelayanan di daerah dapat semakin mendekati standar nasional bahkan internasional,” harap Dirut.

Sementara itu, Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG, KFM menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh jajaran manajemen RSUP Dr. M. Djamil. Kunjungan ini tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan rumah sakit pusat.

“Pemko Payakumbuh memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, kerja sama pengampuan dengan RSUP Dr. M. Djamil diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu layanan di RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh, baik dalam aspek pelayanan medis maupun tata kelola organisasi,” tegas Wali Kota.

Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG, KFM menegaskan pihaknya siap mendukung penuh proses pengampuan tersebut, termasuk dalam penyediaan sumber daya dan kebijakan yang diperlukan di tingkat daerah. “Kami berharap kolaborasi ini dapat mempercepat transformasi layanan kesehatan di Payakumbuh sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan berkualitas,” harapnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar kerja sama ini tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi dapat berkembang menjadi kemitraan strategis yang berkelanjutan. “Dengan dukungan dari RSUP Dr. M. Djamil, Pemko Payakumbuh optimistis mampu meningkatkan daya saing RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh sebagai rumah sakit rujukan regional,” tukas Wali Kota.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45