RSUP Dr. M. Djamil Perluas Aksi Kemanusiaan untuk Korban Banjir di Tanah Datar

Sebagai rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil kembali melaksanakan aksi pengabdian masyarakat dengan menurunkan tim kesehatan ke daerah terdampak banjir di Nagari Guguak Malalo dan Nagari Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Kabupaten Tanah Datar, pada Sabtu (20/12).

Dalam aksi kemanusiaan kali ini, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya mengirimkan tenaga medis umum, melainkan menerjunkan tim lengkap yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis kandungan, dan dokter spesialis kulit. Tim spesialis tersebut didampingi oleh perawat serta tim farmasi untuk memastikan pelayanan kesehatan dan distribusi obat-obatan berjalan optimal di posko pengungsian di Masjid Taqwa Jorong Mutiara Nagari Batu Taba dan Puskesmas Padang Laweh Malalo.

Khusus di posko pengungsian Masjid Taqwa Jorong Mutiara, tim medis berhasil memberikan penanganan dan pengobatan kepada sedikitnya lima puluh pasien yang merupakan korban terdampak yang merupakan warga Guguak Malalo. Berdasar pemeriksaan di lapangan, mayoritas warga mengeluhkan gangguan kesehatan berupa hipertensi, nyeri sendi, nyeri ulu hati, infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, serta penyakit kulit berupa gatal-gatal yang kerap muncul pasca-bencana banjir.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat di posko utama di Nagari Batu Taba, Kecamatan Batipuh Selatan menegaskan kehadiran tim medis ini adalah bentuk komitmen nyata rumah sakit dalam meringankan beban masyarakat. “Kegiatan ini merupakan panggilan kemanusiaan bagi institusi kesehatan untuk memberikan akses pengobatan yang berkualitas bagi masyarakat yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan akibat dampak bencana,” katanya didampingi Ketua DWP RSUP Dr. M. Djamil Ny Winanda Dovy dan jajaran direksi.

Menurutnya, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berperan sebagai pusat rujukan, tetapi juga harus proaktif hadir di tengah-tengah masyarakat saat kondisi darurat seperti ini terjadi. “Pelayanan yang diberikan sengaja melibatkan dokter spesialis agar diagnosa dan penanganan medis yang diterima warga lebih akurat dan tepat sasaran,” ucapnya.

Ia berharap melalui kehadiran tim medis ini, risiko penyebaran penyakit pasca-banjir dapat ditekan dan kondisi fisik warga dapat segera pulih. “Kami juga memastikan bahwa ketersediaan obat-obatan yang dibawa oleh tim farmasi telah disesuaikan dengan kebutuhan lapangan berdasarkan tren penyakit yang umum muncul di lokasi bencana,” tutur Dovy.

Pengabdian masyarakat ini mendapat apresiasi dari Pemkan Tanah Datar. Wakil Bupati Tanah Datar, Ahmad Fadly, menyampaikan asa terima kasih yang tak terhingga kepada manajemen RSUP Dr. M. Djamil karena telah merespons kondisi darurat di Tanah Datar dengan sangat serius, bahkan dengan menghadirkan dokter-dokter spesialis langsung ke lokasi bencana.

“Bantuan kesehatan ini datang di saat yang sangat tepat, mengingat kondisi psikologis warga yang masih terguncang sering kali memicu munculnya berbagai keluhan fisik,” tuturnya.

Ia menyebutkan pemerintah daerah sangat terbantu karena penanganan medis yang diberikan bersifat komprehensif, mulai dari pemeriksaan anak-anak hingga lansia. “Sinergi yang ditunjukkan RSUP Dr. M. Djamil membuktikan bahwa masyarakat tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit ini. Kehadiran para dokter spesialis ini dinilai memberikan rasa aman dan tenang bagi para pengungsi yang selama ini merasa khawatir akan kondisi kesehatan mereka di tengah keterbatasan fasilitas di pengungsian,” tuturnya.

Ia menegaskan Pemkab Tanah Datar akan selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan RSUP Dr. M. Djamil dalam upaya pemulihan pasca-bencana, khususnya dalam aspek kesehatan lingkungan dan pencegahan wabah penyakit. “Bagi kami, kecepatan respons medis adalah kunci utama dalam mencegah timbulnya korban tambahan pasca-kejadian bencana alam,” tegas Ahmad Fadly.

Langkah ini menambah panjang catatan dedikasi RSUP Dr. M. Djamil dalam penanganan bencana di wilayah Sumatera Barat. Sebelumnya, rumah sakit ini juga telah sukses melaksanakan pengabdian masyarakat selama sepuluh hari penuh di daerah terdampak banjir bandang Nagari Salareh Air Timur, Kabupaten Agam. Tak hanya itu, aksi serupa juga sempat dilakukan di daerah Batu Busuak, Kota Padang, sebagai bagian dari rangkaian respons cepat rumah sakit terhadap situasi darurat yang menimpa masyarakat sekitar.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Raih Penghargaan Wajib Pajak Pengelola APBN Terbesar di Kota Padang Tahun 2024

RSUP Dr. M. Djamil kembali menorehkan prestasi membanggakan, kali ini di bidang kepatuhan administrasi negara. Rumah sakit rujukan nasional ini dinobatkan sebagai Wajib Pajak Pengelola APBN dengan Setoran Terbesar di Kota Padang Tahun 2024 oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Padang Dua.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala KPP Pratama Padang Dua, Budiyan, kepada Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Rabu (17/12). Seremoni penyerahan ini berlangsung di sela-sela kegiatan Sosialisasi Aktivasi Coretax, sebuah sistem inti perpajakan terbaru yang sedang diimplementasikan secara nasional.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada jajaran KPP Pratama Padang Dua. Penghargaan ini adalah buah dari kerja keras seluruh tim keuangan dan manajemen rumah sakit dalam menjaga tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas penghargaan ini. Bagi kami, pajak bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk kontribusi nyata RSUP Dr. M. Djamil dalam mendukung pembangunan bangsa. Penghargaan ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kepatuhan dan ketertiban administrasi perpajakan di masa depan,” ungkap Dovy.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Dovy juga menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam pelaporan pajak. Terkait sosialisasi sistem Coretax yang sedang berjalan, ia menyatakan dukungan penuh terhadap digitalisasi perpajakan yang diusung oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

“Seiring dengan semangat transformasi kesehatan yang kami jalankan, kami juga berkomitmen melakukan transformasi digital di bidang administrasi. Aktivasi Coretax ini akan semakin memudahkan kami dalam memantau dan melaporkan pajak secara real-time dan lebih akurat,” tambahnya.

Kepala KPP Pratama Padang Dua, Budiyan, menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi pemerintah terhadap instansi yang menunjukkan integritas dan dedikasi tinggi dalam pengelolaan pajak. RSUP Dr. M. Djamil dinilai tidak hanya patuh secara administratif, tetapi juga menjadi penyumbang terbesar dalam mendukung target penerimaan negara di wilayah kerja Kota Padang.

“Kontribusi RSUP Dr. M. Djamil sangat signifikan bagi pembangunan nasional melalui setoran pajak yang dikelolanya. Kami berharap prestasi ini menjadi teladan bagi instansi pengelola APBN lainnya di Sumatera Barat,” ujar Budiyan.(*)

coretax

RSUP Dr. M. Djamil Gandeng KPP Pratama Padang Sosialisasi Coretax

RSUP Dr. M. Djamil mengambil langkah proaktif dalam mendukung reformasi birokrasi dan digitalisasi administrasi perpajakan. Pada Rabu (17/12), rumah sakit rujukan utama di Sumatera Tengah ini menggelar Sosialisasi Aktivasi Coretax yang dilangsungkan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. M. Djamil.


Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh civitas hospitalia untuk beradaptasi dengan sistem administrasi perpajakan terbaru yang diusung oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Acara tersebut dihadiri oleh jajaran direksi, jajaran Manajemen, serta staf medis dan non-medis. Turut hadir sebagai mitra strategis, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Padang Satu dan Dua beserta tim penyuluh pajak yang bertindak sebagai narasumber teknis.


“Sistem Coretax Administration System (CTAS) baru ini bukan sekadar perubahan aplikasi, melainkan sebuah transformasi proses bisnis yang akan mengintegrasikan berbagai layanan perpajakan menjadi lebih efisien, akuntabel, dan transparan,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.


Memahami dan menguasai penggunaan Coretax ini bukanlah sebuah pilihan, tegasnya, melainkan keharusan. Transisi ke sistem baru tentu memiliki tantangan tersendiri. Oleh karena itu, sosialisasi hari ini menjadi sangat krusial. Tujuannya agar tidak gagap teknologi, meminimalisir kesalahan administrasi, dan memastikan kewajiban perpajakan RSUP Dr. M. Djamil tetap berjalan patuh (compliance) sesuai peraturan yang berlaku.


“Saya mengimbau agar rekan-rekan dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Simak paparan yang disampaikan oleh narasumber ahli kita. Jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi mengenai hal-hal teknis yang mungkin akan kita hadapi di lapangan nanti,” imbaunya.


Dirut menginstruksikan agar memanfaatkan momen sosialisasi ini untuk segera melakukan aktivasi akun Coretax. Mohon jangan ditunda-tunda. “Pastikan akun Bapak/Ibu sudah aktif dan data sudah sesuai sekarang juga.Tujuannya jelas, agar nanti pada saat pelaporan SPT Tahunan tidak lagi mengalami kendala teknis, tidak bingung cara akses, dan tidak terhambat sistem,” tegasnya.


Ia menekankan mari kita mudahkan urusan administrasi kita sendiri dengan bersiap sejak awal, sehingga fokus kita dalam melayani pasien tidak terganggu oleh urusan administrasi perpajakan yang mendadak. “Mari kita jadikan momen ini sebagai langkah awal kesiapan kita menyongsong era baru administrasi perpajakan yang lebih modern,” pungkasnya. (*)

Penyakit Arteri Perifer Tingkatkan Risiko Stroke dan Jantung, Deteksi dengan ABI

Penyakit Arteri Perifer atau Peripheral Artery Disease (PAP) adalah kondisi serius yang sering kali terabaikan, di mana terjadi penyempitan pembuluh darah arteri di luar jantung dan otak, paling umum menyerang kaki. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, tetapi juga menjadi penanda risiko tinggi terhadap masalah kardiovaskular yang lebih fatal seperti serangan jantung dan stroke. Masyarakat diimbau untuk lebih mewaspadai gejala dan memanfaatkan pemeriksaan sederhana namun krusial, yaitu Ankle Brachial Index (ABI).

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUP Dr. M. Djamil, dr. Hamzah Muhammad Zein, Sp.JP, FIHA, menekankan betapa pentingnya deteksi dini PAP, terutama bagi kelompok berisiko. PAP terjadi karena penumpukan plak (aterosklerosis) yang menghambat aliran darah ke tungkai. “Banyak pasien sering mengira nyeri di kaki sebagai kelelahan biasa, padahal itu bisa jadi pertanda aliran darah yang tidak lancar. Gejala khas PAP adalah klaudikasio, yaitu nyeri atau kram pada otot kaki yang muncul saat berjalan atau beraktivitas, namun hilang saat istirahat,” jelas dr. Hamzah.

Ia menambahkan selain klaudikasio, gejala lain yang patut diwaspadai termasuk rasa dingin pada kaki, perubahan warna kulit menjadi pucat atau kebiruan, luka pada kaki atau jari kaki yang sulit sembuh, serta pertumbuhan rambut kaki yang melambat atau hilang. “Jika ada kombinasi gejala ini, apalagi pada individu yang memiliki faktor risiko, harus segera diperiksakan,” tegasnya.

dr. Hamzah Muhammad Zein menggarisbawahi beberapa faktor risiko utama yang membuat seseorang rentan terhadap PAP. Faktor-faktor tersebut meliputi usia di atas 50 tahun, riwayat merokok (aktif maupun pasif) yang menjadi penyebab paling kuat, memiliki diabetes melitus, tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi (dislipidemia), serta riwayat penyakit jantung atau stroke dalam keluarga. “Terutama pasien diabetes, mereka sering tidak merasakan nyeri karena kerusakan saraf (neuropati diabetik), sehingga PAP baru terdeteksi saat sudah parah, misalnya muncul luka yang tidak kunjung sembuh atau gangren,” ujar dr. Hamzah.

Untuk mendeteksi Penyakit Arteri Perifer, dr. Hamzah merekomendasikan pemeriksaan non-invasif yang cepat dan tidak menyakitkan, yaitu Ankle Brachial Index (ABI). Prosedur ini membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki (ankle) dengan tekanan darah di lengan (brachial).

“ABI adalah alat skrining yang sangat berharga. Cara kerjanya sederhana, yaitu mengukur tekanan darah sistolik pada arteri di pergelangan kaki dan membaginya dengan tekanan darah sistolik pada arteri di lengan. Rasio ini memberikan indikasi seberapa baik aliran darah di kaki,” kata dr. Hamzah.

Nilai ABI yang normal adalah antara 1,0 hingga 1,4. Jika hasilnya di bawah 0,9, ini merupakan indikasi kuat adanya PAP. Semakin rendah angkanya, semakin parah penyempitan arterinya. “Hasil ABI kurang dari 0,9 harus menjadi lampu merah. Selain menegakkan diagnosis PAP, nilai ABI yang abnormal juga mengindikasikan bahwa pasien tersebut berisiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner dan penyakit serebrovaskular. Artinya, ABI tidak hanya mendeteksi masalah di kaki, tetapi juga menjadi prediktor risiko kardiovaskular sistemik,” tambahnya.

Deteksi dini melalui ABI memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efektif, yang berfokus pada pengendalian faktor risiko dan perbaikan kualitas hidup. Penanganan PAP meliputi modifikasi gaya hidup secara agresif, seperti berhenti merokok sepenuhnya, mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, serta memulai program latihan fisik yang disupervisi.

“Perubahan gaya hidup adalah kunci utama. Selain itu, pemberian obat-obatan pengencer darah atau antiplatelet, obat penurun kolesterol jenis statin, dan obat untuk mengontrol tekanan darah serta diabetes sangat penting untuk memperlambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi serius,” tutur dr. Hamzah Muhammad Zein, Sp.JP, FIHA seraya berharap masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko, tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan ABI demi kesehatan jantung dan pembuluh darah secara menyeluruh.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gelar Pisah Sambut Dewan Pengawas, Momentum Sinergi untuk Transformasi Kesehatan

RSUP Dr. M. Djamil menggelar Pisah Sambut Dewan Pengawas di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Sabtu (13/12). Pisah sambut ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Dewan Pengawas periode 2022–2025 dan penyambutan resmi bagi Dewan Pengawas yang baru dilantik oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Diketahui Dewan Pengawas Periode 2022-2025 diketuai oleh drg. Arianti Anaya, MKM dengan anggota Albertus Yudha Poerwadi, SE, M.Si., CA., CPMA, CPIA, Dr. Edih Mulyadi, S.E., M.Si, Indah Febrianti, SH, MH, dan Mohammad Dody Fachrudin, S.E., M.Si. Sementara Dewan Pengawas baru diketuai Drs. Bayu Teja Muliawan, SH, M.Pharm, MM, Apt, Roy Himawan, S.Farm, Apt, M.K.M, Dr. Ahmad Irsan A. Moeis, SE, ME, Dr. Syukriah HG, SH, M.Hum dan Mohammad Dody Fachrudin, S.E., M.Si.

“Pisah Sambut ini diselenggarakan sebagai wujud silaturahmi, penghormatan, dan apresiasi kepada Dewan Pengawas Periode 2022–2025 atas dedikasi dan pengabdiannya,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.Turut hadir jajaran Komite Audit, jajaran direksi, manajemen, civitas hospitalia serta pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) RSUP Dr. M. Djamil.

Ia mengatakan Dewan Pengawas merupakan mitra strategis Direksi dalam memastikan rumah sakit dikelola dengan prinsip good governance, akuntabilitas, serta keberpihakan pada mutu pelayanan dan keselamatan pasien. “Selama masa pengabdian Bapak dan Ibu, Dewan Pengawas telah menjalankan peran secara optimal dalam membina, mengarahkan, serta mengawasi jalannya organisasi rumah sakit. Perjalanan RSUP Dr. M. Djamil bersama Dewan Pengawas periode sebelumnya merupakan perjalanan yang sarat dengan semangat membangun, semangat perubahan, dan semangat untuk terus maju,” paparnya.

Dovy menambahkan sinergi tersebut telah menghasilkan berbagai prestasi gemilang dan capaian penting dalam penguatan tata kelola, peningkatan mutu layanan. “Kemudian pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan peran rumah sakit sebagai rujukan regional,” ucap Dovy.Kepada Dewan Pengawas Periode yang Baru, yang kini diketuai oleh Drs. Bayu Teja Muliawan, SH, M.Pharm, MM, Apt, Direksi mengucapkan selamat datang dan selamat bertugas. “Kami berharap kehadiran Bapak dan Ibu dapat semakin memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mengawal pengelolaan rumah sakit yang profesional, transparan, dan akuntabel,” harap Dovy.

Dovy menegaskan komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk menyelaraskan arah kebijakan dan pengembangan rumah sakit dengan Program Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. “Untuk itu, bimbingan dan pengawasan dari Dewan Pengawas sangat dinantikan,” tuturnya.

drg. Arianti Anaya, MKM, selaku Ketua Dewan Pengawas Periode 2022–2025, menyampaikan rasa bangga atas capaian yang diraih rumah sakit selama masa pengawasannya. “Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan RSUP Dr. M. Djamil dalam mencapai standar pelayanan yang lebih tinggi. Dedikasi seluruh staf dan Direksi luar biasa. Kami berharap fondasi tata kelola yang telah kita bangun bersama dapat menjadi pijakan yang kokoh bagi Dewan Pengawas periode berikutnya untuk membawa rumah sakit ini melangkah lebih jauh, khususnya dalam menyukseskan program transformasi kesehatan,” kata drg. Arianti Anaya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas yang baru, Drs. Bayu Teja Muliawan, SH, M.Pharm, MM, Apt, menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan sinergi yang telah terjalin baik. “Merupakan kehormatan bagi kami untuk mengemban amanah sebagai Dewan Pengawas RSUP Dr. M. Djamil. Kami menyadari tantangan ke depan, terutama dalam mengimplementasikan transformasi kesehatan. Kami berkomitmen untuk memberikan arahan dan pengawasan yang konstruktif, memastikan bahwa setiap agenda transformasi berjalan optimal, transparan, dan pada akhirnya memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat Sumatera Barat dan sekitarnya,” tutur Bayu Teja Muliawan.

Pisah Sambut ini ditutup dengan penyerahan cenderamata sebagai simbol penghargaan kepada Dewan Pengawas periode 2022–2025 dan foto bersama, menandai pergantian kepemimpinan yang diharapkan dapat membawa RSUP Dr. M. Djamil menuju era pelayanan yang semakin prima.(*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Hadiri Rakor Robotik dan Percepatan Transplantasi Organ

Komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk terus berada di garis depan inovasi pelayanan kesehatan nasional dipertegas dengan partisipasi Direktur Utama, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dalam dua agenda rapat koordinasi yang berlangsung di Hotel Ibis Raden Saleh, Jakarta, pada Kamis hingga Jumat (11-12/12). Dua pertemuan tersebut meliputi Rapat Lanjutan Koordinasi Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan dan Rapat Koordinasi Progres Pelayanan Transplantasi Organ dan Jaringan.

Agenda pertama yang diikuti oleh Dirut adalah Rapat Lanjutan Koordinasi Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk menyusun peta jalan dan strategi implementasi teknologi robotik di fasilitas kesehatan Indonesia.

Dovy Djanas menyatakan teknologi robotik bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan yang akan meningkatkan akurasi, meminimalkan risiko, dan mempercepat pemulihan pasien. “RSUP Dr. M. Djamil siap menjadi bagian dari implementasi ini, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung,” tegasnya didampingi Ketua Pengampuan Laparoskopi Dr. dr. Muhammad Iqbal Rivai, Sp.B, Subsp.BD (K) dan Ketua Tim Transplantasi Ginjal Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD-KGH.

Selain isu teknologi robotik, Dovy Djanas juga turut serta dalam Rapat Koordinasi Progres Pelayanan Transplantasi Organ dan Jaringan. Agenda ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk mengevaluasi dan mengakselerasi program transplantasi yang menjadi salah satu layanan unggulan rumah sakit rujukan nasional.

Dalam konteks RSUP Dr. M. Djamil, pelayanan transplantasi, khususnya ginjal, menjadi fokus utama untuk dikembangkan. Transplantasi organ adalah puncak pelayanan terpadu yang menyelamatkan jiwa, dan pihaknya berkomitmen untuk memperkuat tim transplantasi, menjalin kerja sama yang lebih erat dengan berbagai pihak terkait. “Paling penting, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya donor organ,” ungkapnya.

Ia berharap melalui koordinasi teknologi robotik, RSUP Dr. M. Djamil diharapkan dapat segera mempersiapkan diri sebagai salah satu center of excellence dalam pemanfaatan teknologi canggih. Sementara itu, melalui rapat koordinasi transplantasi, rumah sakit ini dapat mempercepat target peningkatan layanan transplantasi organ, sehingga masyarakat di wilayah Sumatera bagian Barat tidak perlu lagi merujuk pasien transplantasi ke Jakarta atau kota besar lainnya. “Kedua agenda ini secara paralel memperkuat tiga pilar utama pembangunan kesehatan di RSUP Dr. M. Djamil, yaitu pelayanan prima (transplantasi), inovasi teknologi (robotik), dan pendidikan serta penelitian,” tukasnya.(*)

Jangan Anggap Remeh Gula Darah Tinggi, Spesialis Mata RSUP Dr. M. Djamil Ingatkan Bahaya Retinopati Diabetik

Diabetes Melitus (DM) bukan hanya mengancam organ vital seperti jantung dan ginjal, namun juga perlahan merenggut penglihatan. Komplikasi mikrovaskular mata yang dikenal sebagai Retinopati Diabetik (RD) menjadi salah satu penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah. Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan bahaya ini, terutama bagi para penderita DM.

Menanggapi hal ini, Spesialis Mata RSUP Dr. M. Djamil, dr. Karniela Ayuni Putri, Sp.M, menegaskan Retinopati Diabetik adalah kerusakan pada pembuluh darah kecil di retina, lapisan sensitif cahaya di belakang mata. “Peningkatan kadar gula darah yang berlangsung lama pada pasien DM akan merusak dinding pembuluh darah, menyebabkannya bocor, tersumbat, atau bahkan membentuk pembuluh darah baru yang rapuh. Proses inilah yang mengganggu fungsi retina dan berpotensi menyebabkan kebutaan,” jelas dr. Karniela.

Retinopati Diabetik seringkali tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Ini yang membuatnya sangat berbahaya. “Pada fase awal, pasien mungkin tidak merasakan keluhan apapun. Barulah ketika penyakit sudah berkembang, seperti pada tahap Non-Proliferative Diabetic Retinopathy (NPDR) lanjut atau sudah masuk ke fase Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR), penglihatan mulai terganggu,” papar dr. Karniela.

Gejala yang mungkin timbul antara lain pandangan kabur, kesulitan membaca atau melihat objek kecil, munculnya floater (bintik-bintik gelap atau bayangan melayang), hingga hilangnya penglihatan secara tiba-tiba. Tahap PDR ditandai dengan pertumbuhan pembuluh darah baru abnormal (neovaskularisasi) yang sangat rapuh.

Pembuluh darah ini mudah pecah, menyebabkan perdarahan hebat di bola mata (vitreous hemorrhage) dan jaringan parut yang bisa menarik retina (tractional retinal detachment), yang merupakan kondisi darurat dan dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Sebagai dokter spesialis yang sehari-hari menangani kasus ini, dr. Karniela menekankan pencegahan adalah langkah terbaik. “Faktor risiko utama adalah lama menderita diabetes dan tingginya kadar gula darah yang tidak terkontrol,” tegasnya.

Pencegahan RD berpusat pada tiga pilar utama yakni kontrol gula darah ketat, kontrol tekanan darah dan kolesterol, serta skrining mata rutin. Mempertahankan kadar gula darah (HbA1c) sesuai target yang ditentukan dokter penyakit dalam atau endokrinologi adalah upaya paling efektif. Hipertensi dan dislipidemia turut memperburuk kerusakan pembuluh darah di retina.

Pemeriksaan mata secara komprehensif oleh dokter spesialis mata wajib dilakukan segera setelah didiagnosis DM Tipe 2, dan dalam waktu 5 tahun setelah diagnosis DM Tipe 1. “Penderita DM yang sudah lama mengidap penyakitnya harus lebih waspada dan rutin periksa setidaknya setahun sekali, bahkan lebih sering jika sudah terdeteksi ada kelainan,” saran dr. Karniela.

Bila Retinopati Diabetik sudah terdeteksi, penanganan yang tepat dan cepat sangat krusial. dr. Karniela menyebutkan beberapa modalitas terapi yang tersedia di RSUP Dr. M. Djamil, yaitu Injeksi Anti-VEGF, Terapi Laser (Fotokoagulasi), dan Vitrektomi. Obat Injeksi Anti-VEGF disuntikkan langsung ke dalam mata untuk mengurangi kebocoran dan menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal, terutama efektif untuk mengatasi edema makula diabetik (pembengkakan di pusat penglihatan).

Terapi Laser digunakan untuk menghentikan kebocoran pembuluh darah dan menghancurkan area retina yang kekurangan oksigen demi mencegah pertumbuhan pembuluh darah baru yang berbahaya. Sementara itu, Vitrektomi adalah prosedur bedah yang dilakukan pada kasus PDR lanjut, misalnya ketika terjadi perdarahan vitreus yang tidak kunjung hilang atau sudah terjadi pelepasan retina akibat tarikan jaringan parut.

“Sangat penting bagi pasien DM untuk segera memeriksakan mata di Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil jika merasakan keluhan sekecil apapun, atau bahkan jika tidak ada keluhan, sebagai bagian dari skrining rutin,” ajak dr. Karniela seraya menegaskan pemeriksaan dini memungkinkan diagnosis Retinopati Diabetik pada fase yang masih dapat ditangani, sehingga peluang untuk mempertahankan penglihatan tetap optimal.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Bergerak Cepat, Layanan Kesehatan Bencana Kini Menjangkau Batu Busuak

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana alam di Sumatera Barat. Selama dua hari berturut-turut, Senin (8/12) dan Selasa (9/12), tim medis dari RSUP Dr. M. Djamil juga diturunkan ke Batu Busuak, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Padang. Aksi kemanusiaan ini mencerminkan kesigapan dan komitmen institusi kesehatan rujukan utama di Sumatera Barat tersebut dalam menghadapi situasi darurat.

Sebelumnya, sejak Jumat (5/12), rumah sakit Kementerian Kesehatan ini menurunkan tim kesehatan di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Di lokasi tersebut, tim kesehatan bekerja keras memberikan pelayanan medis, pengobatan, serta dukungan psikososial tidak hanya kepada para korban terdampak bencana, tetapi juga kepada para relawan yang bertugas di lapangan. Dukungan bagi relawan ini penting untuk memastikan keberlangsungan operasi penanganan bencana.

Di Batu Busuak, tim kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, dan tim farmasi bergerak cepat menuju posko pengungsian untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara intensif bagi para korban yang mengungsi. Posko pengungsian seringkali menjadi titik rawan penyebaran penyakit akibat sanitasi yang terbatas dan kondisi stres yang dialami korban.

Kehadiran tim RSUP Dr. M. Djamil disambut baik oleh masyarakat. Mereka langsung memanfaatkan kesempatan untuk memeriksakan keluhan kesehatan yang mungkin timbul akibat kondisi pengungsian.

Ketua Tim Bencana yang juga Ketua Komite K3RS RSUP Dr. M. Djamil, Katherina Welong, SKM, MARS, mengungkapkan pemeriksaan yang dilakukan di posko pengungsian menunjukkan adanya pola keluhan kesehatan yang umum terjadi pada situasi bencana. “Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan di posko pengungsian Batu Busuak, ada tiga keluhan utama yang paling banyak disampaikan oleh korban terdampak,” ujar Katherina Welong.

Ketiga penyakit yang paling mendominasi tersebut meliputi. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi dan penyakit kuli. Tim medis segera memberikan pengobatan, vitamin, dan edukasi kesehatan dasar sesuai dengan keluhan yang dialami para korban. Tim Farmasi memastikan ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan untuk menangani penyakit-penyakit yang umum ini.

“Aksi kemanusiaan yang terkoordinasi dan menjangkau dua lokasi ini menunjukkan peran vital RSUP Dr. M. Djamil sebagai pilar utama pelayanan kesehatan, tidak hanya pada hari-hari biasa tetapi juga sebagai garda terdepan dalam penanggulangan dampak bencana di Sumatera Barat. Layanan akan terus diberikan sejalan dengan perkembangan situasi di lapangan,” tegas Katherina Welong. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Beri Bantuan Pemulihan Mental Anak Korban Banjir Bandang

Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Kabupaten Agam, khususnya Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, tidak hanya menimbulkan kerugian materiil dan fisik, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat, terutama anak-anak. Menyikapi kondisi ini, RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya fokus pada pelayanan kesehatan fisik, tetapi juga bergerak aktif dalam upaya pemulihan kesehatan mental atau psikososial bagi anak-anak terdampak.

Pada hari Selasa (9/12), Tim 2 Tenaga Kesehatan dari RSUP Dr. M. Djamil yang bertugas di Posko SDN 05 Kayu Pasak, melancarkan aksi yang bertujuan untuk mengembalikan keceriaan anak-anak. Tim ini mengajak puluhan anak-anak korban terdampak untuk melakukan kegiatan santai namun memiliki dampak psikologis mewarnai buku gambar yang telah mereka sediakan.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami, tidak hanya untuk menyembuhkan luka fisik, tetapi juga luka di hati mereka. Kegiatan mewarnai ini adalah salah satu bentuk Dukungan Psikososial Awal (DPA) yang kami berikan. Melalui gambar dan warna, anak-anak bisa mengekspresikan perasaannya, mengurangi ketegangan, dan sejenak melupakan kengerian yang mereka alami,” ujar salah seorang anggota Tim 2, dr. Lusi Novia A.

Aksi ini disambut antusias oleh anak-anak. Tawa dan sorakan kecil mulai terdengar, menggantikan raut wajah tegang yang sempat terlihat. Pendekatan ini menunjukkan komitmen RSUP Dr. M. Djamil bahwa penanganan pascabencana harus bersifat holistik, menyentuh aspek fisik dan psikologis secara seimbang.

Di saat Tim 2 menyelesaikan tugas mulia mereka di lokasi bencana, persiapan untuk keberlanjutan bantuan medis juga dilaksanakan di Padang. Pada hari yang sama Selasa (9/12), Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, didampingi oleh Direktur Keuangan dan Perencanaan, Luhur Joko Prasetyo, melepas keberangkatan Tim 3 Tenaga Kesehatan. Tim ini akan menggantikan tugas Tim 2 dan bertugas selama empat hari ke depan di lokasi bencana yang sama.

Pelepasan Tim 3 ini dilakukan di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. M. Djamil, sebagai simbol kesiapsiagaan rumah sakit dalam merespons kondisi darurat. Yang membedakan Tim 3 adalah kelengkapan sumber daya manusianya. Tim ini dilengkapi dengan kehadiran dokter spesialis bedah. Kehadiran spesialis ini penting untuk menangani potensi kasus-kasus medis lanjutan yang membutuhkan intervensi bedah.

Dalam sambutan pelepasannya, dr. Maliana, M.Kes, menyampaikan pesan kepada seluruh anggota Tim 3. “Saya berpesan agar seluruh tim selalu menjaga kesehatan diri masing-masing. Kalian adalah garda terdepan dalam pelayanan, jadi pastikan kondisi fisik dan mental kalian prima. Selain itu, layani masyarakat dengan hati dan ikhlas. Tunjukkan bahwa RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya sekadar rumah sakit rujukan, tetapi juga sahabat masyarakat yang siap hadir di saat-saat tersulit. Fokus utama adalah pada keselamatan dan pelayanan terbaik, terutama dengan adanya dokter spesialis bedah untuk penanganan kasus yang lebih kompleks,” tegas dr. Maliana.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Raih Predikat Prima Pelayanan Publik

Menjelang akhir tahun 2025, RSUP Dr. M. Djamil kembali membuktikan kualitas layanannya dengan meraih penghargaan bergengsi dari Kementerian Kesehatan RI. Rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan ini dinobatkan sebagai penerima Predikat Prima untuk hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Pelayanan Publik (PEKPP) Mandiri Tahun 2025, dengan nilai tertinggi mencapai 4,69.

Penghargaan ini diserahkan pada Puncak Health Innovation Festival (HaiFest) 2025 yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, pada Minggu (7/12). Predikat Prima menjadi pengakuan resmi atas keberhasilan RSUP Dr. M. Djamil dalam menjalankan tata kelola pelayanan publik yang berkualitas tinggi, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Penghargaan PEKPP Mandiri merupakan evaluasi menyeluruh yang dilakukan untuk mengukur seberapa baik kinerja unit layanan publik di lingkungan Kementerian Kesehatan. Nilai 4,69 yang diraih RSUP Dr. M. Djamil adalah indikator kuat bahwa rumah sakit ini telah memenuhi, bahkan melampaui, standar pelayanan publik yang ditetapkan.

Predikat Prima ini mencakup berbagai aspek penilaian kritis, termasuk kecepatan dan ketepatan prosedur, transparansi informasi, ketersediaan fasilitas, serta profesionalisme sumber daya manusia dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Capaian ini menjadi bukti komitmen manajemen dan seluruh staf untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit rujukan di Sumatera Barat.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, didampingi oleh Direktur Layanan Operasional, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, hadir langsung untuk menerima penghargaan tersebut di Jakarta.

Dalam keterangannya, Dovy Djanas menyampaikan rasa bangga atas pengakuan yang didapatkan. “Kami bersyukur dan bangga atas perolehan Predikat Prima PEKPP Mandiri ini. Nilai 4,69 ini bukanlah angka biasa, melainkan cerminan dari upaya kolektif dan dedikasi luar biasa dari seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” ujar Dovy.

Dovy menegaskan penghargaan ini memperkuat visi rumah sakit untuk menjadi pusat rujukan terkemuka yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga prima dalam tata kelola organisasi. “Penghargaan ini menegaskan transformasi yang kami lakukan di bidang pelayanan publik berada pada jalur yang tepat. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh pegawai, mulai dari tenaga medis, perawat, hingga petugas administrasi, yang telah bekerja keras dengan integritas dan profesionalisme tinggi,” tambahnya.

Ia menyadari kepuasan pasien adalah prioritas utama. “Penghargaan ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi, meningkatkan infrastruktur, dan memastikan bahwa setiap masyarakat yang datang ke RSUP Dr. M. Djamil mendapatkan pelayanan yang prima dan manusiawi. Kami berharap, capaian ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan,” harap Dovy.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45