Monev Pelaksanaan Surveilans Sentinel PIE, RSUP Dr. M. Djamil Terima Kunjungan Tim PIE Kemenkes

RSUP Dr. M. Djamil salah satu rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat, kembali menunjukkan komitmennya dalam penanggulangan penyakit infeksi. Hari ini (22/5), RSUP Dr. M. Djamil berkesempatan menerima kunjungan Tim Kerja Penyakit Infeksi Emerging Direktorat Survailans dan Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI di Ruang Rapat Direksi, Kamis (22/5). Kunjungan tersebut dalam rangka monitoring evaluasi pelaksanaan surveilans sentinel penyakit infeksi emerging di RSUP Dr. M. Djamil.

Kedatangan Tim Kerja Penyakit Infeksi Emerging yang dipimpin drh. Endang Burni P, M.Kes diterima oleh Manajer Pelayanan Medik dr. Nirza Warto, Sp.THT-KL (K). Turut mendampingi Tim Penyakit Infeksi Emerging RSUP Dr. M. Djamil, Manajer dan Asisten Manajer. Hadir juga tim Dinas Kesehatan Sumbar dan tim Dinas Kesehatan Padang.

“Kami berterima kasih atas perhatian dan dukungan dari Kementerian Kesehatan melalui kunjungan monitoring dan evaluasi ini. RSUP Dr. M. Djamil berkomitmen penuh untuk terus meningkatkan kualitas surveilans penyakit infeksi emerging, mengingat peran strategis rumah sakit kami sebagai rujukan di wilayah ini,” kata Manajer Pelayanan Medik dr. Nirza Warto, Sp.THT-KL (K) dalam sambutannya.

Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil telah mengimplementasikan berbagai program untuk deteksi dini dan penanganan kasus penyakit infeksi. Termasuk penyakit infeksi emerging yang berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat. “Kami menyadari ancaman penyakit infeksi emerging bersifat dinamis. Oleh karena itu, kolaborasi yang kuat antara rumah sakit dan Kementerian Kesehatan sangat penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Kami siap menindaklanjuti setiap rekomendasi dari Tim PIE Kemenkes untuk memastikan sistem surveilans kami selalu prima,” harapnya.

Dengan adanya kunjungan ini, tuturnya, diharapkan RSUP Dr. M. Djamil dapat semakin berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi emerging di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Barat. “Kunjungan ini juga diharapkan dapat memberikan masukan berharga bagi RSUP Dr. M. Djamil dalam menyempurnakan sistem surveilansnya,” tutur dr. Nirza.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyakit Infeksi Emerging  drh. Endang Burni P, M.Kes menjelaskan surveilans penyakit infeksi emerging diperlukan dikarenakan kemunculan penyakit tersebut sulit diprediksi dan sulit terdeteksi secara klinis. Namun dapat dideteksi melalui kumpulan gejala (sindrom) yang mirip dari beberapa penyakit yang sedang diamati. “Pendekatan sindrom sebagai “pintu masuk”diikuti dengan anamnesis faktor risiko spesifik. Di antaranya riwayat perjalanan atau tinggal, riwayat kontak atau paparan dan sebagainya,” ucapnya.

Pendekatan sindrom, sebutnya, digunakan untuk meningkatkan sensitivitas, cocok untuk penyakit yang sifatnya langka atau belum pernah terjadi di area tertentu. “Diikuti dengan pengambilan spesimen dan pemeriksaan laboratorium untuk jenis patogennya,” sebutnya.

Ia mengatakan sindrom yang akan diamati merupakan sindrom yang paling sering menyebabkan Public Health Emergency of International Concern dan epidemi/pandemi. “Kemudian surveilans ini dilakukan untuk mewaspadai munculnya penyakit yang tidak diketahui (disease x),” tutur drh. Endang Burni.

Ia mengatakan tujuan umum surveilans penyakit infeksi emerging adalah memperkuat rekomendasi berbasis bukti dalam rangka penanggulangan penyakit infeksi emerging. Sementara tujuan khususnya adalah terlaksana kewaspadaan dini terhadap kasus penyakit infeksi emerging, meningkatkan kapasitas deteksi dini dan tatalaksana kasus penyakit infeksi emerging di rumah sakit lokasi sentinel.

“Meningkatkan kapasitas respons kesehatan masyarakat penyakit infeksi emerging dan mengetahui gambaran epidemiologi (situasi, kecenderungan penyakit dan faktor risiko) penyakit infeksi emerging di rumah sakit lokasi sentinel,” tukasnya.

Pada kesempatan itu, Tim Kerja PIE Kemenkes memaparkan evaluasi pelaksanaan surveilans sentinel PIE di RSUP Dr. M. Djamil periode Maret-Mei 2025 dan analisis data ICD-10. Dan pemaparan oleh tim PIE RSUP Dr. M. Djamil dr. Fadrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM, VCT tentang pelaksanaan surveilans PIE berbasis sindrom dan laboratorium di RSUP Dr. M. Djamil. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Adakan Sosialisasi Produktivitas Dokter Spesialis dan Tata Kelola RSPPU

RSUP Dr. M. Djamil mengadakan Sosialisasi Standar Kunjungan serta Revenue Produktivitas Dokter Spesialis dan Tata Kelola Rumah Sakit Pendidikan Menuju Program Hospital Based di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Rabu (21/5). Sosialisasi ini menghadirkan narasumber Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan dr. Sunarto, M.Kes secara virtual.

Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan dr. Sunarto, M.Kes mengharapkan RSUP Dr. M. Djamil suatu saat bisa mengembangkan diri menjadi rumah sakit pendidikan penyelenggara utama (RSPPU). “Sekarang universitas based sudah jalan bekerja sama dengan beberapa rumah sakit menjadi rumah sakit pendidikan utama untuk Universitas Andalas,” ucapnya.

Sosialisasi tersebut dihadiri Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Plt. Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), dan manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Selain Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan, juga menghadirkan narasumber Ketua Tim Kerja Tata Kelola Pelayanan Rumah Sakit dr. Astri Hernasari, M.M, dan anggota Timker dr. Rini Haryanti, MARS dan Dewi Setiawati, S.T.

RSPPU ini, sebutnya, sebenarnya tercantum dalam UU No 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan, PP No 28 Tahun 2024 dan Permenkes No 14 Tahun 2024. RSPPU itu berkembang dari rumah sakit pendidikan. Selain sebagai wahana pendidikan, rumah sakit pendidikan juga bisa menjadi penyelenggara pendidikan.

“Bisa dibayangkan RSUP Dr. M. Djamil itu tempat pendidikan dokter. Dimana yang menyelenggarakan pendidikan, membuat orientasi dan merekrut mahasiswa adalah Fakultas Kedokteran. Sementara di RSPPU, rumah sakit memiliki mahasiswa, menyusun kurikulum pendidikan spesialis/subspesialis bersama kolegium, menyelenggarakan uji kompetensi bersama kolegium, melakukan kerja sama dengan jejaring rumah sakit. Namun memang RSPPU ini dalam perjalanannya harus tetap bekerja sama dengan perguruan tinggi. Kita memilih perguruan tinggi yang ada Fakultas Kedokterannya,” tuturnya.

Saat ini, sebutnya, sudah ada enam rumah sakit khusus yang menjadi RSPPU. Dan kini pihaknya tengah menyiapkan beberapa rumah sakit lagi menjadi RSPPU. “Saya harap RSUP Dr. M. Djamil juga bisa kita masukkan sebagai rumah sakit yang kita siapkan,” harap dr. Sunarto.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dalam sambutannya mengatakan sebagai rumah sakit pendidikan utama dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, RSUP Dr. M. Djamil memegang peran strategis dalam penyelenggaraan layanan kesehatan sekaligus pendidikan kedokteran. Oleh karena itu, penyesuaian dengan regulasi terbaru, khususnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 14 Tahun 2024 tentang RSPPU, merupakan langkah penting yang harus segera ditindaklanjuti bersama.

“Selain itu, dalam upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja tenaga medis, standar kunjungan dan revenue produktivitas dokter spesialis menjadi instrumen penting dalam pengelolaan sumber daya manusia rumah sakit yang profesional dan berorientasi pada mutu layanan. Terlebih lagi, pemahaman tentang kuadran dan revenue produktivitas kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses uji kompetensi, khususnya untuk jenjang fungsional Ahli Utama,” ucapnya.

Melalui kegiatan ini, Ia berharap seluruh peserta mendapatkan pemahaman yang komprehensif, tidak hanya dalam aspek administratif dan teknis. “Tetapi juga dalam membangun mindset baru yang adaptif, kolaboratif, dan progresif, sesuai dengan tuntutan rumah sakit pendidikan berbasis hospital based,” harap Dovy. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Kunjungan Tim Kemenko PM, Ini Maksud dan Tujuannya

RSUP Dr. M. Djamil menerima tim Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) bersama BPJS Kesehatan Padang di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instslasi Rawat Jalan, Selasa (20/5). Kehadiran tim Kemenko Bidang Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka pengumpulan data kajian cepat pendalaman persiapan implementasi kebijakan KRIS-JKN.

Kedatangan tim Kemenko PM dipimpin Ketua Tim Kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat M. Vinka Lutfian ini diterima oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Turut mendampingi Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, dan manajemen.

Sementara Tim Kemenko PM yang hadir Tim Asisten Deputi Jaminan Sosial Viorieke Brilian P. Kemudian Tim BPJS Kesehatan yakni Peneliti KRIS JKN Rahim Irham, Staf Riset JKN Sarah Dewi Mustika, Kepala Bagian Yanfaskes BPJS Kesehatan KC Padang Ehrlich Von Dantes dan Koordinator EP3RS BPJS Kesehatan KC Padang Irvantonius.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dalam sambutannya mengatakan kehadiran tim Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat menandai langkah penting untuk memastikan penerapan sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di RSUP Dr. M. Djamil.

“Diketahui sistem KRIS ini merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan di Indonesia. Oleh karena itu, RSUP Dr. M. Djamil harus siap dalam implementasi dari sistem KRIS. Tentunya banyak aspek diperhatikan,” tuturnya.

Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan terakhir atau tersier dengan 800 tempat tidur, minimal 60 persen rumah sakit ini untuk memenuhi sistem KRIS. Kemudian memiliki 12 standar yang harus dipenuhi.

Di antaranya ventilasi udara, pencahayaan ruangan, kelengkapan tempat tidur, nakas tempat tidur, kamar mandi dalam ruangan, kamar mandi memenuhi standar aksesibilitas, outlet oksigen. “Tirai atau partisi antar tempat tidur, kepadatan ruang rawat dan kualitas tempat tidur. Outlet oksigen, temperatur ruangan,” sebutnya.

Ia berharap dengan penerapan sistem KRIS ini, tidak hanya mampu memberi layanan kesehatan sesuai standar. Tetapi juga menjaga kualitas layanan dengan tidak memberatkan masyarakat. “Serta memastikan bahwa masyarakat bisa mendapatkan layanan tanpa diskriminasi,” tegas Dovy.

Ketua Tim Kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat M. Vinka Lutfian mengatakan kebijakan sistem KRIS ini sudah lama dan diamanatkan dalam UU No 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial. Dan memang selalu ada adjusment dan ada beberapa penyesuaian yang menyebabkan kebijakan ini tidak dapat segera dilaksanakan. “Memang terdapat perbedaan di ruang rawat kelas 1, 2 dan 3 antara rumah sakit milik pemerintah dan swasta. Maka KRIS menjawab permasalahan itu,” ucapnya.

Jadi, tuturnya, pada sistem KRIS tersebut terdapat 12 kriteria sarana prasarana yang harus dipenuhi dalam ruang rawat inap. “Baik ruang rawat inap 1, 2 dan 3. Itu nantinya akan meningkatkan mutu layanan kepada pasien,” ucapnya.

Ia menekankan kegiatan ini bukan dalam rangka menilai, bukan dalam rangka mengevaluasi. “Kita hanya ingin mengetahui, kalau rumah sakit itu belum siap, persiapannya sejauhmana. Ini yang kami ingin ketahui dari rumah sakit sebagai pelaksana yang telah melaksanakan berbagai renovasi dengan penerapan sistem KRIS ini,” tutur Vinka.

Pada kesempatan itu, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) memaparkan kesiapan RSUP Dr. M. Djamil dalam penerapan sistem KRIS. Kemudian tim Kemenko PM melakukan telusur di ruangan KRIS lantai III Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil, termasuk melakukan wawancara singkat dengan pasien dan keluarga pasien. (*)

Dirjen Keslan Lantik Pejabat Fungsional Dokdiknis Ahli Utama RSUP Dr. M. Djamil

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS melantik dan mengambil sumpah jabatan pejabat fungsional baik ahli pertama, ahli madya, ahli utama dan perpindahan ke dalam jabatan fungsional secara virtual, Selasa (20/5). Pejabat yang dilantik di antaranya pejabat dari RSUP Dr. M. Djamil yakni dr. Rose Dinda Martini, Sp.PD, K-Ger, M.Kes, FINASIM sebagai pejabat fungsional dokter pendidik klinis ahli utama.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS dalam sambutannya mengatakan jabatan yang diperoleh “sesuai” dengan keahlian yang terus berkembang selama pejabat ini mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN). Namun untuk pejabat ahli utama yang dilantik ini adalah sebagian orang “istimewa”. Tidak semuanya bisa menjadi ahli utama.

“Ahli utama bukan merupakan hak seluruh pegawai atau ASN. Tetapi merupakan suatu jenjang yang bisa didapat setelah menunjukkan dedikasi, prestasi serta loyalitas yang tinggi terhadap institusi. Jika tidak memenuhi tiga kriteria ini maka tidak bisa jadi ahli utama,” ucapnya.

Pelantikan ini turut dihadiri Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt. Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K) dan Manajer OSDM dr. Keesa Nabila Afida, M.Kes.

Ia mengungkapkan ahli utama masa pensiunnya bertambah jadi 65 tahun. Kondisi ini tentunya “menunda” kesempatan yang muda-muda untuk menggantikan posisi yang belum pensiun. “Oleh karena itu, jika kinerja ahli utama ini tidak menjadi panutan maka termasuk orang yang merugikan negara,” tegasnya.

Maka, sebutnya, dengan menjadi ahli utama seharusnya bekerja lebih giat lagi karena harus menjadi contoh bagi ahli fungsional di bawahnya. “Dan ini akan dinilai semuanya. Kemudian saya dengar katanya mulai adanya peraturan. Ahli utama ini nanti akan dievaluasi sehingga belum tentu pensiun pada usia 65 tahun juga. Dan nanti kami setiap tahun akan mengevaluasi,” tuturnya.

Kalau misalnya prestasi ahli utama ini tetap masuk dalam kuadran istimewa maka negara masih membutuhkan. Dan “bisa” sampai 65 tahun. “Tetapi misalnya ternyata kinerjanya tidak sesuai diharapkan maka akan keluar SK pensiunnya dari KemenPAN-RB,” ungkap dr. Azhar Jaya.

Ia meminta ahli utama yang dilantik agar tidak kendor semangatnya dan tetap memberikan yang terbaik untuk nusa dan bangsa. “Dan menjadi panutan dari pada ahli-ahli fuungsional di bawahnya,” harapnya. (*)

Perkuat Layanan Peritoneal Dialisis, RSUP Dr. M. Djamil Jalin Kerja Sama dengan Hospital Tuanku Ja’afar Seremban

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya bagi pasien dengan penyakit ginjal kronis. Langkah strategis terbaru diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Hospital Tuanku Ja’afar Seremban, Malaysia, yang berfokus pada pengembangan layanan peritoneal dialisis (PD).

Penandatanganan kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Head and Senior Consultant Nephrologist of the Department of Nephrology Head, Hospital Tuanku Ja’afar Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia Dato Dr. Lily Mushahar, M.D, M.Med dan Ketua Subbagian Ginjal dan Hipertensi Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD, KGH, FINASIM di Ruang Rapat Direksi, Selasa (20/5). Turut disaksikan Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), tim Ginjal dan Hipertensi RSUP Dr. M. Djamil, Manajer dan Asisten Manajer, Ketua Komite dan Kepala Instalasi.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan antusiasmenya atas terjalinnya kolaborasi internasional ini. Kerja sama dengan Hospital Tuanku Ja’afar Seremban ini merupakan langkah signifikan bagi RSUP Dr. M. Djamil untuk memperkuat layanan peritoneal dialisis.

“Kita ketahui, peritoneal dialisis merupakan salah satu modalitas penting dalam penanganan pasien gagal ginjal, yang memberikan lebih banyak fleksibilitas dan kemandirian bagi pasien dibandingkan dengan hemodialisis,” tutur Dovy Djanas.

Ia menyebutkan Hospital Tuanku Ja’afar memiliki pengalaman dan keahlian yang baik dalam bidang ini. “Dan kami yakin kolaborasi ini akan membawa manfaat besar bagi pasien-pasien kami di Sumatera Barat dan sekitarnya,” harap Dirut.

Diharapkan, sinergi antara kedua institusi ini akan menjadi contoh positif bagi pengembangan layanan kesehatan di tingkat regional dan internasional, serta memberikan harapan baru bagi para pasien penyakit ginjal kronis.

Sementara itu, Head and Senior Consultant Nephrologist of the Department of Nephrology Head, Hospital Tuanku Ja’afar Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia Dato Dr. Lily Mushahar, M.D, M.Med menyambut baik inisiatif kerja sama ini. Pertukaran ilmu dan keahlian antarinstitusi kesehatan di negara serumpun akan memperkaya praktik klinis dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien.

“Peritoneal dialisis memiliki sejumlah keunggulan, terutama bagi pasien yang tinggal jauh dari pusat hemodialisis atau menginginkan fleksibilitas dalam menjalani terapi. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan semakin banyak pasien di Sumatera Barat khususnya Sumatera Bagian Tengah umumnya yang memiliki akses terhadap layanan peritoneal dialisis berkualitas,” harap Chair of International Society of Peritoneal Dialysis (ISPD) membership committee.

Ia menyebutkan Hospital Tuanku Ja’afar telah mengembangkan layanan peritoneal dialisis dengan baik. “Kami senang dapat berbagi praktik terbaik kami dengan RSUP Dr. M. Djamil. Kami percaya bahwa melalui kolaborasi ini, kedua institusi dapat saling belajar dan tumbuh bersama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pasien gagal ginjal,” tukasnya. (*)

Dirut RSUP Dr.M. Djamil: Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif Berikan Daya Ungkit Pelayanan Anestesi

RSUP Dr. M. Djamil Padang menerima kunjungan tim visitasi asesmen lapangan akreditasi LAM-PTKes untuk Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Andalas di Ruang Rapat Direksi, Senin (19/5). Sebagai salah satu rumah sakit pendidikan utama senantiasa berkomitmen mendukung pengembangan pendidikan kedokteran, khususnya dalam bidang anestesiologi dan terapi intensif.

Kedatangan tim visitasi Dr. dr. Widya Istanto Nurcahyo, Sp.An-TI, Subsp. An.Kv.(K), An.R.(K) dan Dr. dr. Sudadi, Sp.An-TI, Subsp. N.An(K), Subsp. An.R(K) serta civitas Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Andalas diterima oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Turut mendampingi Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), Manajer dan Asisten Manajer.

“RSUP Dr. M. Djamil berkomitmen memberikan dukungan terhadap program studi spesialis yang ada di rumah sakit ini, khususnya program studi Anestesiologi dan Terapi Intensif. Apalagi program studi ini tengah semangatnya dalam hal akreditasi. Kami berharap tentunya sesuai dengan harapan yang dinginkan,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat memberikan sambutan.

Jika berbicara pada Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, sebutnya, civitas program studi ini sudah menjalankan aktivitas-aktivitas layanan kepada pasien. “Kami juga mendorong program studi Anestesiologi dan Terapi Intensif yang sudah berjalan selama empat semester tentu perlu penguatan agar bisa berkembang ke depan,” ucap Dirut.

Ia mengatakan di dalam visitasi akreditasi, tentu program studi ini telah menyiapkan borang-borang. “Supporting dari kami, dengan adanya koordinasi antara program studi ini dengan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan dalam memberikan daya ungkit dalam pelayanan anestesi,” ucapnya.Dengan adanya pengalaman dari tim LAM-PTKes, sebutnya, terjadi sharing informasi dalam penguatan-penguatan program studi ini.

“Mudah-mudahan dengan visitasi ini memberikan keyakinan kepada tim LAM-PTKes. Dan kami siap memberikan dukungan demi kemajuan program studi Anestesiologi dan Terapi Intensif ini,” harap Dovy. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Dukung Akreditasi Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Unand

RSUP Dr. M. Djamil sebagai salah satu rumah sakit pendidikan utama di Sumatera Barat senantiasa berkomitmen mendukung pengembangan pendidikan kedokteran, khususnya dalam bidang anestesiologi dan terapi intensif. Sebab, mutu pendidikan kedokteran sangat erat kaitannya dengan mutu layanan di rumah sakit pendidikan.

“Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan RSUP Dr. M. Djamil telah berjalan dengan baik, terutama dalam penyelenggaraan pendidikan klinik bagi peserta program studi. Sinergisitas itu menjadi fondasi utama dalam mencetak tenaga dokter spesialis yang kompeten, profesional, dan beretika,” kata Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) saat memberikan sambutan pada Visitasi Asesmen Lapangan Akreditasi LAM-PTKes untuk Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Andalas di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf FK Unand Jati, Senin (19/5).

Turut dihadiri tim LAM-PTKes Dr. dr. Widya Istanto Nurcahyo, Sp.An-TI, Subsp. An.Kv.(K), An.R.(K) dan Dr. dr. Sudadi, Sp.An-TI, Subsp. N.An(K), Subsp. An.R(K), Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTEd, dan civitas akademika Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Ia meyakini akreditasi ini bukan hanya sebagai evaluasi. Tetapi juga sebagai momentum untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan, dan penelitian di bidang anestesiologi dan perawatan intensif.

“Kami berharap asesmen lapangan ini dapat berjalan lancar dan memberikan kontribusi positif dalam peningkatan mutu dan capaian akreditasi program studi. Kami juga terbuka untuk menerima masukan dan saran dari Tim Asesor sebagai bagian dari proses perbaikan berkelanjutan,” harap Dr. dr. Bestari.

Ia berharap seluruh proses visitasi berjalan lancar dari awal hingga akhir hendaknya dan memberikan masukan serta rekomendasi untuk kebaikan. Ini dalam rangka pengembangan program studi ini ke depannya.

“Kepada seluruh civitas akademika Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, mari kita tunjukkan komitmen, profesionalisme, dan capaian terbaik selama ini. Semoga hasil akreditasi ini akan menjadi langkah strategis menuju keunggulan dan pengakuan nasional,” tukas Dr. dr. Bestari. (*)

Optimalisasi Layanan Non-JKN, RSUP Dr. M. Djamil Gelar Coffee Morning Bersama DPJP

RSUP Dr. M. Djamil menggelar coffee morning bersama dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Senin (19/5). Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan optimalisasi layanan kesehatan bagi pasien non-Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Pasien non-JKN memiliki peran penting dalam keberlangsungan rumah sakit dan berhak mendapatkan pelayanan yang paripurna dan sesuai dengan standar medis. Kami juga menyadari bahwa setiap pasien, terlepas dari jenis pembiayaannya, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat memberikan sambutan.

Selain diskusi interaktif, pada coffee morning itu digelar sharing session bersama Founder AssitCare Indonesia Ade Nusyirwan secara virtual. Dalam sharing session ini, Ia pun memberikan masukan dalam peningkatan layanan Non-JKN di RSUP Dr. M. Djamil.

Turut dihadiri Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Kino, Sp.JP (K), Kepala Instalasi Non-JKN dr. Alexander Kam, Sp.PD, M.Sc, FINASIM dan jajaran, DPJP, Manajer dan Asisten Manajer.

Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil memiliki sumber daya manusia yang komplet dengan kompetensi dan kapasitas yang ada. Selama ini, rumah sakit ini hanya fokus pada layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Baru 1,5 tahun belakangan menggarap layanan Non-JKN. Tentunya peran DPJP  yang telah berkontribusi di dalam layanan Non-JKN ini diperlukan komitmen bersama.

“Untuk itu coffee morning ini diadakan. Kami dari manajemen khususnya manajemen layanan Non JKN membutuhkan masukan, asupan, atau feedback dari DPJP. Dengan masukan yang diberikan, kami mengharapkan dalam kurun waktu 4-5 bulan layanan Non-JKN RSUP Dr. M. Djamil dapat memenuhi ekspektasi masyarakat,” harapnya.

Ia menekankan RSUP Dr. M. Djamil terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas pelayanannya bagi seluruh masyarakat, termasuk pasien non-JKN. “Dengan kolaborasi yang baik antara manajemen rumah sakit dan para DPJP, diharapkan layanan kesehatan di RSUP Dr. M. Djamil akan semakin prima dan dapat memenuhi kebutuhan seluruh pasien,” tukas Dovy.(*)

Upacara Hari Kesadaran Nasional, Dirut: Mari Kita Implementasikan Panca Setya Korpri

RSUP Dr. M. Djamil kembali menggelar upacara peringatan Hari Kesadaran Nasional di halaman utama rumah sakit pada Senin (19/5). Direktur Utama (Dirut) RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bertindak sebagai pemimpin upacara.

Upacara berlangsung khidmat diikuti oleh jajaran direksi, manajer, asisten manajer, kepala instalasi, ketua komite, ketua KSM, serta segenap civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil.

Dalam amanatnya, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menekankan pentingnya penghayatan dan implementasi Panca Setya Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) sebagai landasan moral dan etika dalam menjalankan tugas. “Oleh karena itu, mari kita implementasikan Panca Setya Korpri dalam aktivitas sehari-hari terutama di RSUP Dr. M. Djamil. Selagi diimplementasikan, InshaAllah kita semakin baik dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat,” tuturnya.

Ia mengimbau seluruh manajemen, ketua komite, kepala unit dan kepala instalasi harus mengoptimalkan peran sebagai pimpinan. “Misalnya ketua komite. Bagaimana semua profesi bisa melakukan tugas profesi sebaik mungkin dan sesuai dengan Panca Setya Korpri. Kemudian kepala instalasi juga harus bisa melakukan koordinasi pada jajarannya untuk bisa melaksanakan tugas, pokok dan fungsinya,” pintanya.

Kepada manajemen, Ia mengimbau agar lebih banyak turun ke lapangan dan menampung aspirasi di setiap unit. Sehingga bisa cepat dieksekusi dan dicarikan solusinya. “Tentunya ini akan menambah semangat kita dalam bekerja sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi ini,” ucap Dovy.

Oleh karena itu, Ia terus mengajak civitas hospitalia untuk mengimplementasi Panca Setya Korpri secara konsisten akan membentuk budaya kerja yang profesional, humanis, dan berorientasi pada mutu pelayanan. “Mari kita buktikan bahwa kita, sebagai bagian dari Korpri, adalah garda terdepan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi masyarakat Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya. (*)

Inovasi dan Masa Depan Penggunaan Terapi Regeneratif di Dunia Kesehatan

Sel punca merupakan sel yang mempunyai replikasi , yaitu kemampuan untuk membelah diri dan menghasilkan sel anak yang identik dengan dirinya sendiri. Selain itu, sel punca juga memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel uang lebih spesifik dalam tubuh.

“Kemampuan replikasi dan diferensiasi sel punca membuatnya menjadi sel yang sangat beepotensi dalam berbagai bidang. Bahkan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan memperbaiki kerusakan tubuh,” kata dr. Hirowati Ali, MD. PhD saat Webinar bertajuk Inovasi dan Masa Depan Penggunaan Terapi Regeneratif di Dunia Kedokteran, Sabtu (17/5).

Dalam webinar yang diadakan Diklat dan Instalasi Bank Jaringan dan Sel RSUP Dr. M. Djamil itu, ia membahas tentang Basic Stem Cell: Mengenal Sel Punca dan Regulasi Penggunaannya di Indonesia. Turut juga menghadirkan narasumber dr. Dinda Aprilia, Sp.PD-KMED, FINASIM membahas tentang Aplikasi Stem Cell dalam Pengobatan Diabetes Melitus Tipe II: Potensi dan Bukti Ilmiahnya.

Kemudian Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp P.L (K), M.Kes membahas tentang Terapi Stem Cell untuk Osteoartritis. dr. Dedi Sutia, Sp.N (K), FINA, MARS membahas tentang Peran Terapi Stem Cell dalam Pemulihan Terapi Stroke Iskemik: Prospek dan Tantangan.

Narasumber berikutnya dr. Benni Raymond, Sp.BRE, Subsp. KM (K) membahas tentang Peran Regenerative Medicine dalam Penanganan Luka Kronis. Webinar ini dimoderatori oleh Kepala Instalasi Non-JKN dr. Alexander Kam, Sp.PD, M.Sc, FINASIM.

Ia mengatakan sel punca memiliki karakteristik utama. Yaitu kemampuam untuk memperbarui diri (self-renewal), clonality merujuk pada kondisi di mana sekelompok sel punca memiliki genetik yang sama, berasal dari satu sel punca induk. Kemudian potensi sel punca merujuk pada kemampuan sel tersebut untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang lebih spesifik. “Sel punca diklasifikasikan berdasar potensinya menjadi totipoten, pluripoten, multipoten dan unipoten,” ungkapnya.

Ia mengatakan dari potensi sel punca itu, yang sering digunakan adalah mesenchymal stem cell (MSC). “MSC ini bisa kita isolasi dari adipose, wharton jelly dan sinovial. Di RSUP Dr. M. Djamil sudah mengisolasi dari adipose, wharton jelly dan sinovial,” ungkapnya.

Narasumber lainnya dr. Dinda Aprilia, Sp.PD-KMED, FINASIM yang membahas tentang Aplikasi Stem Cell dalam Pengobatan Diabetes Melitus Tipe II: Potensi dan Bukti Ilmiahnya menekankan prinsip terapi stem cell yang digunakan saat ini pada diabetes melitus tipe II adalah menggantikan atau memperbaiki sel-sel yang rusak atau hilang dalam pankreas terutama sel beta yang bertanggung jawab untuk memproduksi hormon insulin.

“Prinsip lainnya dia memperbaiki lingkungan di sekitar sel pankreas untuk memfasilitasi proliferasi dan diferensiasi stem cell endogen pankreas menjadi sel-sel pankreas yang fungsional,” ucapnya.

Jenis stem cell yang sering digunakan pada diabetes melitus II, sebutnya, adalah mesenchymal stem cell (MSC) dan stem cell pluripotent terinduksi (iPSCs). “MSC ini sering diberikan pada pasien DM tipe II melalui infus intravena atau intra-arteri (ginjal dan pankreas) dengan dosis berkisar antara 1 x 105 hingga 15 x 107 sel. Sebelum pemberian pada pasien, sel dibudidayakan in vitro di bawah pengawasan ketat laboratorium,” sebutnya.

Efek samping potensial yang berhubungan dengan infus MSC, tuturnya, meliputi efek samping pernapasan atau alergi. “Gejala ringan lainnya seperti demam, mual, muntah, sakit kepala, nyeri perut, dan infeksi saluran pernapasan atas serta hipoglikemia ringan pernah dilaporkan,” ungkap dr. Dinda.

Ia mengungkapkan ada tantangan dan kontroversi terapi stem cell pada DM Tipe II. Yakni studi klinis acak tersamar ganda dengan jumlah subjek lebih besar dan desain lebih baik serta observasi yang lebih lama tetap diperlukan untuk menentukan jenis sel, metode pemberian, dosis sel punca yang diberikan, serta interval pemberian yang lebih baik untuk memperoleh hasil yang optimal.

Kemudian, ungkapnya, saat ini belum ada organisasi internasional diabetes yang memasukkan terapi sel punca dalam rekomendasi tatalaksana diabetes. Karena masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. “Dan sebagai seorang klinisi yang melandaskan tatalaksana pasien selalu berbasis bukti ilmiah yang adekuat. Tentu kita harus bijak dan memberikan informasi yang sebenarnya kepada pasien terkait manfaatnya pada diabetes,” ungkap dr. Dinda.

Dr. dr. Rizki Rahmadian, Sp.OT, Subsp P.L (K), M.Kes yang membahas tentang Terapi Stem Cell untuk Osteoartritis mengatakan dalam proses mengkultur sel punca akan mendapatkan turunannya sel punca. Seperti secretome dan aksosom yang kaya akan faktor pertumbuhan dan bisa meningkatkan kemampuan regenerasi dari pada sel punca tersebut. “Ini akan menjadi harapan baru bagi kita bahwa terapj regeneratif ini bisa menjadi opsi kita ke depan dalam mencegah peningkatan derajat osteoartritis. Dan diharapkan bisa memperbaiki kondisi osteoartritis meskipun sudah lanjut serta meningkatkan kualitas hidup pasien,” harapnya.

Ia menyebutkan keuntungan terapi regenaratif adalah salah satunya bisa autologus. Diketahui terapi sel punca ini bisa autologus, bisa alogeneik atau pun mungkin ke depan xenogenik. Tetapi pada saat ini terapi sel punca yang bisa digunakan adalah autogenik yakni dari tubuh sendiri atau pun alogenik yakni dari pada donor.

“Namun sangat besar keuntungannya apabila kita lakukan secara autogenik. Karena itu berasal dari tubuh kita sendiri walaupun secara teknik dan cost akan lebih besar. Pasalnya membutuhkan tindakan pengambilan spesimen untuk donor sel punca dari tubuh kita sendiri baik itu dari bone marrow atau pun dari adipose. Lalu dibutuhkan pemrosesan di laboratorium stem cell untuk bisa diaplikasikan ke tubuh kita,” sebut dr. Rizki.

Ia mengatakan risiko lebih sederhana dan rendah apabila kita lakukan secara autogenik. Walaupun secara cost dan teknik akan lebih sulit. “Kita harapkan dengan penggunaan terapi regeneratif ini berpotensi dalam merepair kerusakan akibat osteoartritis dari sendi lutut. Dan juga merupakan suatu diseases modifying treatment dari pada osteoartritis yamg dapat memperbaiki enviroment dari pada sendi lutut kita yang mengalami kerusakan,” paparnya.

Sementara itu, dr. Dedi Sutia, Sp.N (K), FINA, MARS membahas tentang Peran Terapi Stem Cell dalam Pemulihan Terapi Stroke Iskemik: Prospek dan Tantangan menjelaskan pada bidang neurologi, terapi sel punca sudah dimulai sejak 1998 dan berlanjut hingga saat ini. “Sel punca ini banyak menghasilkan material yakni faktor pertumbuhan, chemokins, cytokines, microvesicle, protein dan nucleic acid. Semua material yang dihasilkan oleh oleh sel pumca ini disebut sekretom. Di dalam sekretom tersebut terdapat vesicle atau bulatan-bulatan kecil, yang paling kecil dinamakan eksosom,” ungkapnya.

Fungsi stem cell pada bidang neurologi, paparnya, ada angiogenesis, self-renewal, anti-apoptotic, paracrine effects, anti-inflamasi, dan cytokine release. “Terutama sitokin anti-inflamasi,” sebutnya.

Ia menyebutkan dilematika pemberian sel punca pada stroke adalah bagaimana cara memasukkan atau meletakkan sel punca itu supaya sampai lekat di jaringan otak yang mengalami kerusakan. Diketahui, jaringan otak dilingkupi oleh blood brain barrier dan meningen sangat tebal sehingga sulit untuk ditembus oleh jariangan kimiawi biasa.

“Namun menariknya stem cell memiliki paracrine effect. Paracrine effect adalah sel pumca menghasilkan sebanyak material yang dapat sampai ke area yang mengalami stroke. Dan mempengaruhi sel-sel di sekitar area yang mengalami stroke untuk memaksimalkan fungsinya dalam perbaikan stroke tersebut,” ungkapnya.

Tantangan pada clinical translation pada stroke melalui sel punca, sekretom dan eksosom. “Dilematikanya adalah pemilihan sel, dosis, rute dan pasien,” ucapnya.

Ia menyimpulkan saat ini terapi stem cell merupakan terapi post-hyperacute treatment yang sangat potensial untuk stroke iskemik. Namun tantangan ke depan terkait dengan rute pemberian, timingnya kapan, dosis yang diberikan berapa, jenis sel yang diberikan dan bagaimana patient selection kita.

“Status stem cell pada bidang neurologi saat ini adalah layanan berbasis penelitian. Belum menjadi standar terapi. Oleh karena itu dalam pemberian terapi stem cell pada stroke, clinical wisdom dan expert opinion merupakan sebuah kebutuhan dan pertimbangan khusus untuk mengapllykan stem cell pada pasien stroke. Jadi tidak semua pasien stroke kota lakukan stem cell,” ungkapnya.

Sehubungan dengan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) bidang Neurologi khususnya stroke, sebutnya, masih dalam proses. “National regulation dibutuhkan untuk menyupport perkembangan terapi sel punca di Indonesia ke depannya,” harap dr. Dedi.

dr. Benni Raymond, Sp.BRE, Subsp. KM (K) membahas tentang Peran Regenerative Medicine dalam Penanganan Luka Kronis mengatakan produk pelayanan yang kini dihasilkan di Instalasi Bank Jaringan dan Sel berupa produk biomaterial. Yaitu pertama bone allograft adalah operasi untuk memperbaiki dan membentuk ulang tulang yang rusak atau mengalami  penyakit tertentu. Manfaatnya memberikan suatu cacat yang disebabkan oleh penyakit, kecelakaan atau anomali, memperbaiki kerusakan tulang periodental pada kelainan rahang serta untuk operasi rekonstruksi sendi.

“Kedua amnion membrane adalah membran janin paling dalam dan berdampingan cairan amnio. Manfaatnya dapat menutup luka bakar dengan derajat 1 dan 2, dapat mengurangi rasa infeksi, mencegah infeksi dan evaporasi, dan dapat merangsang pertumbuhan jaringan epitelisasi dan granulasi,” paparnya.

Ketiga, platet rich plasma yakni plasma darah yang telah diperkaya dengan trombosit. Manfaatnya yakni merangsang pertumbuhan sel dan mempercepat proses penyembuhan. “Ke empat cangkok lemak (fat graft). Manfaatnya menambah massa dan membuat kontur,” ucap dr Benni.

Saat pembukaan webinar, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua dalam sambutannya menyampaikan webinar ini merupakan salah satu upaya rumah sakit untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran, khususnya terapi stem cell yang memiliki potensi besar dalam mengatasi berbagai penyakit degeneratif dan cedera.

“Kami berharap melalui webinar ini, para peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang terapi stem cell, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien,” ujarnya.

Beliau menekankan pentingnya pemahaman yang benar tentang terapi stem cell di kalangan masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman atau harapan yang tidak realistis. “Edukasi kepada masyarakat juga menjadi fokus kami, agar mereka dapat memahami potensi dan batasan terapi stem cell secara komprehensif,” tukasnya. (*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45