RSUP Dr. M. Djamil Dorong Peran Orang Tua dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui kegiatan edukasi yang berkelanjutan. Sebagai rumah sakit rujukan nasional sekaligus pusat layanan kesehatan unggulan di Sumatera Barat, rumah sakit ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kuratif, tetapi juga aktif menjalankan fungsi promotif dan preventif melalui berbagai program edukasi kesehatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Pada Kamis (30/4), rumah sakit Kementerian Kesehatan tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Rehabilitasi Medik kembali menggelar edukasi kesehatan bagi pasien, keluarga pasien, serta masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di area Instalasi Rehabilitasi Medik ini menghadirkan materi bertajuk “Fondasi Masa Depan: Merancang Tumbuh Kembang dan Rehabilitasi Anak” yang disampaikan oleh dr. Riri Prima Yolanda, Sp.KFR, Ped (K) selaku Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik.

Dalam pemaparannya, dr. Riri menjelaskan masa tumbuh kembang anak merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas kesehatan, kemampuan belajar, hingga pembentukan karakter di masa depan. Stimulasi yang tepat sejak dini menjadi fondasi penting agar anak dapat berkembang secara optimal, baik dari aspek motorik, sensorik, kognitif, bahasa, maupun sosial emosional.

Salah satu topik yang mendapat perhatian besar dalam edukasi tersebut adalah dampak penggunaan layar atau screen time terhadap perkembangan otak anak. dr. Riri menjelaskan paparan layar berlebihan pada usia dini dapat memengaruhi struktur dan fungsi perkembangan otak, terutama pada area yang berkaitan dengan perhatian, kemampuan bahasa, regulasi emosi, serta interaksi sosial.

“Banyak orang tua belum menyadari bahwa layar bukan sekadar hiburan. Jika diberikan terlalu dini dan tanpa kontrol, paparan berlebih dapat memengaruhi proses pematangan jaringan otak anak. Otak anak berkembang melalui pengalaman nyata, sentuhan, interaksi, gerak, dan eksplorasi lingkungan, bukan hanya stimulasi visual pasif dari layar,” jelas dr. Riri.

Ia juga mengangkat konsep anatomi bermain sebagai sebuah mekanisme bertahan hidup yang secara biologis telah dirancang dalam perkembangan manusia. Bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, melainkan kebutuhan dasar anak untuk belajar, membangun koneksi saraf, melatih koordinasi tubuh, memecahkan masalah, serta membentuk kemampuan sosial.

“Ketika anak bermain, sebenarnya otak sedang membangun jutaan koneksi baru. Bermain adalah laboratorium alami bagi anak untuk belajar tentang dunia. Karena itu, bermain bukan hadiah setelah belajar, tetapi justru proses belajar itu sendiri,” ungkapnya.

dr. Riri mengajak para orang tua untuk menjadikan rumah sebagai ruang stimulasi yang kaya pengalaman melalui konsep laboratorium rumah: semua benda adalah mainanku. Stimulasi tumbuh kembang tidak selalu membutuhkan alat terapi khusus ataupun mainan mahal. Benda-benda sederhana di rumah dapat menjadi media belajar yang efektif apabila digunakan dengan kreatif dan aman.

“Sendok, gelas plastik, bantal, kardus, kain, atau botol kosong dapat menjadi sarana stimulasi motorik, sensorik, bahkan komunikasi. Yang paling penting bukan mahalnya alat, tetapi kualitas interaksi antara anak dan orang tua saat bermain bersama,” tutur dr. Riri.

Ia juga membahas pentingnya aktivitas bina diri sebagai bagian dari terapi sehari-hari. Kegiatan sederhana seperti makan sendiri, memakai pakaian, menyikat gigi, merapikan mainan, hingga belajar ke kamar mandi secara mandiri bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan bagian dari proses rehabilitasi yang sangat bermakna.

“Terapi tidak selalu dilakukan di ruang terapi. Aktivitas bina diri sehari-hari justru merupakan terapi paling konsisten yang dapat dilakukan di rumah. Ketika anak diberi kesempatan mencoba, gagal, lalu mencoba kembali, di situlah perkembangan terjadi,” katanya.

Selain itu, dr. Riri juga menekankan pentingnya aktivasi alam melalui pemanfaatan ruang terbuka sebagai sarana optimalisasi multisensori anak. Paparan terhadap rumput, tanah, pasir, air, sinar matahari, suara alam, hingga aktivitas fisik di luar ruangan dinilai mampu membantu integrasi sensorik sekaligus memperkuat daya tahan tubuh dan kesehatan mental anak.

“Alam menyediakan stimulasi multisensori terbaik yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi. Anak perlu berlari, melompat, menyentuh tekstur berbeda, merasakan angin, mendengar suara burung, dan berinteraksi dengan lingkungan nyata. Itu semua adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang,” pungkasnya.(*)

Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45