RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Kualitas Uji Klinis melalui Kunjungan INA-CRC

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran sebagai rumah sakit rujukan sekaligus pusat pengembangan riset klinis di Indonesia. Pada Kamis (30/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menerima kunjungan tim INA Clinical Research Unit di Ruang Rapat Direksi. Kunjungan tersebut sebagai bagian dari upaya strategis dalam memperkuat pelaksanaan uji klinis serta pengembangan Clinical Research Unit (CRU).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melakukan koordinasi lintas sektor, pemetaan kesiapan, serta penguatan sistem dalam pelaksanaan uji klinis yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi komprehensif untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang dibutuhkan dalam pengembangan CRU, mulai dari kesiapan fasilitas penelitian hingga mekanisme tata kelola yang terintegrasi.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes menyampaikan kunjungan ini memiliki nilai strategis dalam mendorong kesiapan rumah sakit dalam mengembangkan riset klinis yang berkualitas. “Momentum ini sangat penting bagi kita untuk melakukan koordinasi, pemetaan kesiapan, serta penguatan sistem pelaksanaan uji klinis dan pengembangan CRU. Kami berharap melalui kegiatan ini, kita dapat memperoleh masukan yang konstruktif terkait berbagai aspek penting, seperti kesiapan fasilitas penelitian, mekanisme koordinasi antarunit, tata kelola etik dan regulatori, aspek hukum dan keuangan, perencanaan sumber daya manusia, infrastruktur, akses pasien, serta kebutuhan pendampingan teknis dalam penerapan standar pelaksanaan uji klinis,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Manajer CRC BB Binomika dr. Dona Arlinda, M.Sc, Tim CRC BB Binomika Hanifah Chaerunnisa, Ssi, mewakili Direktorat Registrasi Obat BPOM Dewi Isnabarika A, S.Farm, Apt, mewakili Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan (PPKR) dr. Nadia Adeline, Ketua CRU dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, Subsp. H.L.E (K), FIAC, IFCAP dan tim, tim peneliti serta manajemen RSUP Dr. M. Djamil. 

Selain diskusi yang membahas aspek hukum dan keuangan, perencanaan sumber daya manusia, infrastruktur, serta akses pasien dan proses persetujuan etik penelitian kesehatan, rombongan juga melakukan peninjauan langsung ke sejumlah unit pendukung. Seperti Laboratorium Sentral, Instalasi Farmasi, dan kantor CRU. Peninjauan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kesiapan sarana dan prasarana dalam mendukung pelaksanaan uji klinis yang terstandar.

Pengembangan CRU dan pelaksanaan uji klinis tidak dapat dilakukan secara parsial, tegasnya, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas unit dan lintas profesi. “Sinergi antara manajemen rumah sakit, peneliti, Komite Etik Penelitian Kesehatan, instalasi pelayanan, laboratorium, farmasi, rekam medis, sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS), hingga unit hukum dan keuangan menjadi faktor kunci dalam mewujudkan kesiapan rumah sakit sebagai site penelitian klinis yang kredibel dan berdaya saing,” tuturnya.

dr. Maliana, M.Kes berharap kehadiran tim INA-CRC, BPOM, serta PPKR dapat memberikan arahan, pendampingan, dan rekomendasi yang aplikatif dalam memperkuat pengembangan CRU ke depan. “Setiap masukan yang diberikan akan menjadi bahan evaluasi penting dalam menyusun langkah tindak lanjut, memperbaiki sistem yang ada, serta meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam mendukung pelaksanaan uji klinis yang aman, bermutu, dan berintegritas,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai rumah sakit rujukan yang tidak hanya unggul dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga aktif dalam pengembangan riset klinis dan inovasi kesehatan. “Dengan komitmen dan kolaborasi yang solid, Clinical Research Unit diharapkan mampu berkembang menjadi unit yang semakin matang, profesional, serta menjadi motor penggerak dalam peningkatan kualitas penelitian klinis di lingkungan rumah sakit,” ucap dr. Maliana.

Sementara itu, Manajer CRC BB Binomika dr. Dona Arlinda, M.Sc menegaskan pentingnya kesiapan sistem yang terintegrasi dalam mendukung pelaksanaan uji klinis di rumah sakit. Pengembangan CRU bukan hanya tentang ketersediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut kesiapan tata kelola dan kolaborasi lintas unit. “Kami melihat RSUP Dr. M. Djamil memiliki potensi yang sangat baik untuk berkembang sebagai site uji klinis. Yang perlu terus diperkuat adalah integrasi sistem, konsistensi dalam penerapan standar, serta koordinasi antarunit agar pelaksanaan penelitian dapat berjalan efektif, efisien, dan memenuhi prinsip Good Clinical Practice,” ungkapnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Kukuhkan Peran Endalaparoskopi Nasional

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan perannya sebagai rumah sakit rujukan nasional yang aktif dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi dan peningkatan kompetensi tenaga medis. Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui keterlibatan langsung pimpinan rumah sakit dalam agenda strategis di tingkat nasional.

Pada Selasa (28/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Ketua Pengampuan Dr. dr. Muhammad Iqbal Rivai, Sp.B(K)BD, M.Kes menghadiri audiensi instruktur nasional endolaparoskopi yang berlangsung di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Audiensi tersebut dipimpin oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dan dihadiri oleh para instruktur nasional serta perwakilan rumah sakit pendidikan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pertemuan ini menjadi forum penting dalam memperkuat arah kebijakan dan strategi pengembangan layanan endolaparoskopi di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan bedah minimal invasif yang semakin dibutuhkan masyarakat. Dalam audiensi tersebut, dibahas berbagai aspek mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, standarisasi pelatihan, hingga penguatan jejaring layanan antar rumah sakit pengampu dan jejaringnya.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan keikutsertaan dalam audiensi ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung program prioritas nasional di bidang kesehatan, khususnya dalam pengembangan layanan unggulan berbasis teknologi. Hal ini sejalan dengan penunjukan RSUP Dr. M. Djamil sebagai pusat pengampuan nasional endolaparoskopi, yang mengemban tanggung jawab dalam membina, mendampingi, serta meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan lain di berbagai daerah.

“Penunjukan ini adalah amanah besar yang kami sambut dengan kesiapan penuh. Kami tidak hanya berfokus pada pelayanan, tetapi juga memastikan transfer knowledge berjalan optimal kepada rumah sakit jejaring,” ujar Dovy Djanas.

Menurutnya, peran sebagai pusat pengampuan tidak hanya sebatas penyedia layanan, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang aman, efektif, dan sesuai standar. Dengan adanya penguatan ini, diharapkan layanan endolaparoskopi dapat semakin merata dan mudah diakses oleh masyarakat, sekaligus menekan angka rujukan ke luar daerah.

“Endolaparoskopi adalah salah satu bentuk kemajuan layanan bedah yang memberikan banyak manfaat bagi pasien, mulai dari luka operasi yang lebih kecil hingga waktu pemulihan yang lebih cepat. Ini yang ingin kita dorong agar bisa dinikmati masyarakat secara luas,” tambahnya.

Dovy Djanas menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam memastikan keberhasilan program pengampuan nasional tersebut. Sinergi antara pemerintah pusat, rumah sakit pengampu, serta fasilitas kesehatan di daerah menjadi kunci dalam menciptakan layanan yang merata dan berkualitas.

“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. Dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan jejaring yang kuat, RSUP Dr. M. Djamil siap menjadi bagian dari solusi dalam pemerataan layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia,” tegasnya.

Ia juga menambahkan RSUP Dr. M. Djamil akan terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan serta memperkuat fasilitas penunjang yang mendukung layanan bedah minimal invasif. Hal ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan modern yang menuntut efisiensi, akurasi, serta pemulihan pasien yang lebih cepat.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat kapasitas tenaga medis dan infrastruktur layanan, sehingga standar pelayanan yang kami berikan tidak hanya unggul, tetapi juga konsisten dan berkelanjutan,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Pengembangan Biosimilar Nasional

RSUP Dr. M. Djamil kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong penguatan kemandirian bangsa di bidang kesehatan, khususnya dalam pengembangan produk biosimilar dan obat-obatan. Upaya tersebut diwujudkan melalui langkah strategis yang melibatkan kolaborasi lintas institusi antara rumah sakit, akademisi, dan regulator nasional.

Pada Rabu (29/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D, di Kantor BPOM RI, Jakarta.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membahas langkah konkret dalam pengembangan bahan biosimilar dan produk obat-obatan di dalam negeri. Hal ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan sektor kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Biosimilar merupakan produk biologi yang dikembangkan agar memiliki kemiripan tinggi dengan obat biologis inovator yang telah tersedia sebelumnya, baik dari aspek kualitas, keamanan, maupun efektivitas. Berbeda dengan obat generik berbasis kimia, biosimilar diproduksi melalui proses bioteknologi yang kompleks dan memerlukan uji komparabilitas yang ketat. Kehadiran biosimilar menjadi solusi strategis untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi modern, khususnya untuk penyakit kronis dan katastropik, karena lebih terjangkau tanpa mengurangi manfaat klinis yang diberikan.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas mendapat dukungan dari BPOM, terutama dalam membuka akses ke industri farmasi. Akses ini dinilai penting untuk mempercepat proses penelitian, pengembangan, hingga produksi bahan-bahan biosimilar maupun produk obat-obatan yang sesuai dengan tugas dan fungsi BPOM sebagai regulator.

Ia menegaskan RSUP Dr. M. Djamil siap mengambil peran lebih aktif dalam mendorong hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti di tahap laboratorium semata. “Kami ingin memastikan hasil penelitian yang dilakukan bersama mitra akademik dapat benar-benar diterjemahkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam bentuk biosimilar yang aman, efektif, dan terjangkau,” ujar Dr. dr. Dovy Djanas.

Penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk regulator dan industri, sebutnya, menjadi kunci dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan yang berkelanjutan. “Sinergi ini tidak hanya penting untuk percepatan pengembangan produk, tetapi juga untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar mutu dan regulasi yang berlaku,” tambahnya.

Menurutnya, langkah ini juga merupakan bagian dari kontribusi nyata RSUP Dr. M. Djamil dalam mendukung program prioritas nasional di bidang kesehatan. “Kami melihat ini sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian bangsa, sekaligus meningkatkan daya saing produk farmasi dalam negeri agar mampu bersaing di tingkat global,” tutupnya.

Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc menegaskan percepatan kemandirian bangsa dalam menghasilkan produk biosimilar dan vaksin merupakan langkah strategis yang harus terus didorong. Kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, dan regulator menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan.

“Penguatan riset berbasis kebutuhan nasional akan memberikan dampak signifikan tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga pada kemandirian industri farmasi dalam negeri. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, pengembangan biosimilar diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang lebih terjangkau dan berkualitas,” kata Ketua Komite PPI PRA RSUP Dr. M. Djamil ini.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, dalam pertemuan tersebut menyambut baik inisiatif kolaborasi ini dan menekankan pentingnya langkah cepat yang terukur. Ia mengharapkan agar dalam waktu dekat, tepatnya pada pekan berikutnya, sudah tersedia roadmap yang jelas untuk didiskusikan lebih lanjut sebagai dasar implementasi program pengembangan biosimilar dan produk obat-obatan di Indonesia.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Edukasi Imunisasi Anak

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif bagi masyarakat. Salah satu langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan yang rutin digelar untuk pasien dan keluarga pasien di lingkungan rumah sakit.

Pada Rabu (29/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar edukasi kesehatan tentang imunisasi di Poliklinik Anak Lantai II Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Sedunia, sekaligus sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya imunisasi sejak dini.

Edukasi kesehatan tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis anak, dr. Imil Irsal Imran, Sp.A, yang memaparkan materi secara komprehensif namun mudah dipahami oleh para orang tua yang hadir. Dalam pemaparannya, dr. Imil menjelaskan imunisasi merupakan salah satu cara paling efektif untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit melalui pemberian vaksin.

“Imunisasi adalah cara melindungi tubuh dari penyakit dengan pemberian vaksin. Vaksin ini membantu tubuh membentuk kekebalan sehingga ketika terpapar penyakit, tubuh sudah siap melawannya,” ujar dr. Imil.

Ia menegaskan imunisasi memiliki peran penting dalam mencegah penyakit berbahaya, mengurangi angka kematian anak, serta melindungi masyarakat secara luas melalui terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunity. “Manfaat vaksin tidak hanya dirasakan oleh individu yang menerima, tetapi juga oleh lingkungan sekitar,” tuturnya.

dr. Imil menjelaskan tujuan pemberian vaksin adalah memberikan perlindungan yang menyerupai infeksi alamiah tanpa menimbulkan sakit berat maupun komplikasi. Selain itu, vaksin juga dirancang untuk membentuk imunitas jangka panjang serta membantu menghentikan penyebaran infeksi di masyarakat. “Antigen dalam vaksin saat ini semakin mirip dengan penyebab infeksi aslinya, sehingga respon imun yang dihasilkan menjadi lebih baik dan protektif,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan imunisasi diberikan sejak bayi baru lahir hingga usia anak, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. “Kepatuhan terhadap jadwal imunisasi menjadi kunci penting agar perlindungan yang diberikan dapat optimal,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Imil turut menjelaskan berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, serta menegaskan vaksin yang digunakan aman karena telah melalui serangkaian uji keamanan yang ketat. Efek samping yang mungkin timbul umumnya bersifat ringan, seperti demam atau nyeri di lokasi suntikan, dan akan hilang dalam waktu singkat. “Orang tua tidak perlu khawatir, karena vaksin sudah melalui uji keamanan. Efek samping biasanya ringan dan sementara,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam keberhasilan program imunisasi. Orang tua diharapkan membawa anak untuk imunisasi tepat waktu, menyimpan dan memantau buku KIA. “Termasuk aktif bertanya kepada tenaga kesehatan apabila terdapat hal yang belum dipahami,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Peringati Hari Hemofilia Sedunia

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif. Pada Jumat (17/4) lalu, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan memperingati Hari Hemofilia Sedunia dengan menggelar kegiatan edukasi kesehatan yang berlangsung di Poliklinik Penyakit Dalam Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan ini dihadiri oleh pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit yang antusias mengikuti pemaparan materi. Edukasi kesehatan tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis penyakit dalam, dr. Ali Ardany, Sp.PD, yang menyampaikan informasi komprehensif tentang hemofilia, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, hingga penanganannya.

Dalam pemaparannya, dr. Ali Ardany menjelaskan hemofilia merupakan kelainan genetik bawaan yang ditandai dengan gangguan proses pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan tertentu. Kondisi ini menyebabkan darah sulit membeku sehingga penderita berisiko mengalami perdarahan yang lebih lama disbanding orang normal.

“Hemofilia adalah penyakit yang perlu dipahami sejak dini karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Ali Ardany, Sp.PD dalam sesi edukasi tersebut.

Ia juga menambahkan hemofilia terbagi menjadi dua jenis utama. Yaitu hemofilia A yang disebabkan oleh kekurangan faktor VIII dan hemofilia B yang disebabkan oleh kekurangan faktor IX. “Penyebab utama hemofilia adalah faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga. Namun demikian, pada beberapa kasus, hemofilia juga dapat terjadi akibat mutasi spontan yang tidak memiliki riwayat keluarga sebelumnya. Mutasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan, meskipun hal tersebut relatif jarang terjadi,” tuturnya.

Gejala hemofilia umumnya ditandai dengan perdarahan yang sulit berhenti. Selain itu, terdapat gejala lain yang perlu diwaspadai seperti mudah memar, mimisan yang sering terjadi, perdarahan pada persendian yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan, perdarahan tanpa sebab yang jelas, perdarahan pada gusi, hingga ditemukannya darah pada urine atau feses.

“Jika mengalami perdarahan yang tidak wajar atau sering berulang, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri. Deteksi dini sangat penting untuk menentukan penanganan yang tepat,” tambahnya.

Untuk menegakkan diagnosis hemofilia, dr. Ali menyampaikan diperlukan pemeriksaan laboratorium darah guna mengukur kadar faktor pembekuan. “Pemeriksaan ini menjadi langkah penting dalam memastikan jenis dan tingkat keparahan hemofilia yang dialami pasien,” ucapnya.

Terkait pencegahan, karena hemofilia merupakan penyakit genetik, maka tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, upaya pencegahan komplikasi dapat dilakukan dengan menghindari aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera atau perdarahan, serta melakukan kontrol rutin ke fasilitas kesehatan.

Dalam hal pengobatan, hemofilia dapat ditangani melalui terapi penggantian faktor pembekuan yang diberikan secara berkala sesuai kebutuhan pasien. Penanganan yang tepat dan teratur dapat membantu penderita menjalani kehidupan yang lebih baik dan meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang. “Dengan pengobatan yang rutin dan kepatuhan pasien, penderita hemofilia tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang baik,” tutup dr. Ali.

Melalui kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hemofilia, sekaligus mendorong deteksi dini dan penanganan yang optimal bagi pasien. Edukasi kesehatan seperti ini menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif rumah sakit dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Ikuti Seleksi Uji Klinis Elevate-CKD

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan layanan kesehatan dan penelitian berstandar internasional. Pada Selasa (27/4), rumah sakit rujukan nasional di bawah Kementerian Kesehatan ini menjalani kegiatan site selection visit yang dilakukan oleh IQVIA selaku Contract Research Organization (CRO) atas nama sponsor AstraZeneca. Kunjungan ini merupakan bagian dari proses penilaian kelayakan RSUP Dr. M. Djamil untuk terlibat dalam sebuah uji klinis berskala global.

Adapun uji klinis yang dimaksud berjudul “A Phase III, Randomized, Double-blind, Parallel-group, Placebo-controlled Multicenter Study to Evaluate the Effect of Elecoglipron in Reducing Renal Outcomes and Mortality in Participants with Chronic Kidney Disease (Elevate-CKD)”. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas obat Elecoglipron dalam menurunkan risiko luaran ginjal yang memburuk serta angka kematian pada pasien dengan penyakit ginjal kronis. Penelitian ini dirancang dengan metodologi ilmiah berstandar tinggi, melibatkan banyak pusat penelitian di berbagai negara.

Kegiatan site selection visit tersebut mencakup peninjauan menyeluruh terhadap fasilitas rumah sakit, kesiapan sumber daya manusia, sistem pendukung penelitian klinis, serta kepatuhan terhadap standar Good Clinical Practice (GCP). Tim dari IQVIA melakukan evaluasi untuk memastikan RSUP Dr. M. Djamil memiliki kapasitas dan kapabilitas yang memadai dalam mendukung pelaksanaan uji klinis internasional.

Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada rumah sakit yang dipimpinnya. “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada RSUP Dr. M. Djamil untuk mengikuti proses seleksi ini. Ini merupakan kesempatan besar bagi kami untuk berkontribusi dalam penelitian klinis berskala internasional,” ujar dr. Maliana.

Turut hadir Wina Susana selaku Clinical Monitor dari IQVIA, Tim Ginjal RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD, KGH, FINASIM serta jajaran, Ketua CRU dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, Subsp. H.L.E (K), FIAC, IFCAP dan jajaran, Kepala Instalasi Laboratorium Sentral dr. Yoshie Anto Chicamy, Sp.PK dan manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Ia menegaskan kunjungan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi RSUP Dr. M. Djamil sebagai institusi pelayanan kesehatan sekaligus pusat penelitian yang kompetitif di tingkat global. “Kami terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, fasilitas, serta tata kelola penelitian agar mampu memenuhi standar internasional,” tambahnya.

dr. Maliana menyampaikan RSUP Dr. M. Djamil telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit rujukan nasional yang memiliki layanan unggulan, termasuk sebagai rumah sakit penyelenggara transplantasi ginjal. “Status kami sebagai rumah sakit transplantasi ginjal secara nasional menjadi salah satu kekuatan dalam mendukung penelitian terkait penyakit ginjal kronis,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan penelitian klinis di Indonesia. “Kami membuka ruang kerja sama seluas-luasnya dengan berbagai pihak, baik institusi nasional maupun internasional, untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan yang berkelanjutan,” ungkap Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian ini.

Selain itu, dr. Maliana menyebut keterlibatan dalam studi global seperti Elevate-CKD akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi tenaga kesehatan di RSUP Dr. M. Djamil. “Melalui keterlibatan ini, tenaga medis kami akan mendapatkan pengalaman langsung dalam menjalankan penelitian dengan standar global, yang tentunya akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien,” katanya.

Ia menambahkan kesiapan infrastruktur dan dukungan manajemen menjadi faktor penting dalam menghadapi seleksi ini. “Kami telah mempersiapkan berbagai aspek, mulai dari fasilitas, sistem pendukung, hingga tim peneliti yang kompeten, agar dapat memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan,” tuturnya.

Ia juga berharap agar RSUP Dr. M. Djamil dapat terpilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan uji klinis Elevate-CKD tersebut. “Kami berharap RSUP Dr. M. Djamil dapat dipercaya menjadi bagian dari studi ini, sehingga kami dapat memberikan kontribusi nyata sekaligus membuka akses terapi inovatif bagi pasien,” tukas dr. Maliana. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Bekali 66 Dokter Muda Lewat LOI

RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit pendidikan utama di wilayah Sumatera Barat. Pada Senin (27/4), rumah sakit milik Kementerian Kesehatan RI tersebut bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menyelenggarakan kegiatan Layanan Orientasi Informasi (LOI) bagi peserta Program Studi Pendidikan Profesi Dokter. Kegiatan ini diikuti oleh 66 dokter muda yang akan menjalani masa kepaniteraan klinik sebagai bagian dari proses pendidikan profesi.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, dalam sambutannya menegaskan orientasi ini tidak sekadar menjadi ajang pengenalan lingkungan belajar. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi titik awal dalam proses internalisasi nilai, budaya kerja, tata kelola pendidikan klinik, serta penguatan pemahaman terhadap sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.

“Setiap dokter muda yang memasuki lingkungan rumah sakit pendidikan harus mampu memahami peran strategisnya sebagai bagian dari sistem layanan kesehatan yang terintegrasi,” kata Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian ini.

Turut hadir Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Unand dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Dokter dr. Irvan Medison, SpP(K).FISR, Manajer Diklat, Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep; serta Asisten Manajer Pendidikan, dr. Ilvilia Saptahani.

Sebagai rumah sakit pendidikan utama sekaligus rumah sakit rujukan nasional, sebutny, RSUP Dr. M. Djamil memikul mandat besar dalam menghadirkan integrasi pelayanan, pendidikan, dan penelitian secara berkualitas. “Dalam konteks tersebut, kehadiran dokter muda tidak hanya dipandang sebagai peserta didik, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem pembelajaran yang berkontribusi dalam pelayanan kesehatan. Mereka dipersiapkan menjadi sumber daya manusia kesehatan yang unggul dan adaptif untuk menjawab tantangan transformasi sistem kesehatan nasional yang terus berkembang,” ucapnya.

Transformasi kesehatan, menurut dr. Maliana, membutuhkan dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis yang kuat, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, mampu bekerja dalam tim, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki orientasi pada pelayanan yang berpusat pada pasien atau patient-centered care. “Oleh karena itu, masa kepaniteraan klinik menjadi fase krusial dalam membentuk karakter dan kompetensi tersebut,” tegas dr. Maliana.

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian para dokter muda selama menjalani pendidikan klinik. Pertama, membangun budaya keselamatan pasien sebagai nilai dasar dalam praktik klinik. Setiap proses pembelajaran harus berlandaskan prinsip patient safety, kepatuhan terhadap standar operasional, serta komitmen terhadap mutu layanan. Kedua, memperkuat profesionalisme dan integritas dengan menjunjung tinggi etika profesi, disiplin, tanggung jawab, serta sikap hormat terhadap sistem pendidikan dan pelayanan yang ada.

“Ketiga, memanfaatkan kepaniteraan sebagai ruang pembelajaran kolaboratif, di mana para dokter muda didorong untuk aktif belajar melalui kerja tim, komunikasi interprofesional, refleksi kasus, dan pengalaman klinik yang komprehensif,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Sukri Rahman, menambahkan selain kompetensi akademik dan keterampilan klinis, aspek empati menjadi hal yang tidak kalah penting dalam pembentukan seorang dokter. “Empati merupakan fondasi dalam membangun hubungan yang baik antara dokter dan pasien, sekaligus menjadi kunci dalam memberikan pelayanan kesehatan yang humanis dan bermartabat,” ucapnya.

Ia menegaskan dokter tidak hanya dituntut untuk mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit, tetapi juga harus mampu memahami kondisi psikologis, sosial, dan emosional pasien. “Dengan demikian, pelayanan kesehatan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek medis semata, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan secara menyeluruh,” tukasnya.(*)

Hadiri Pelantikan IDI Sumbar, RSUP Dr. M. Djamil Tegaskan Komitmen Kolaborasi

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi dan kontribusi terhadap dunia kesehatan, khususnya di Sumatera Barat. Hal ini tercermin dari kehadiran perwakilan manajemen rumah sakit tersebut dalam pelantikan pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumatera Barat periode 2025–2028 yang berlangsung pada Sabtu (25/4).

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil diwakili Kepala Instalasi Gawat Darurat, dr. Haviz Yuad, Sp.OG, Subsp. FER (K) turut menghadiri acara pelantikan tersebut. Kegiatan ini mengusung tema besar “Koordinasi, Kolaborasi, dan Kontribusi” sebagai landasan dalam memperkuat peran organisasi profesi dokter di tingkat wilayah.

Kepengurusan IDI Wilayah Sumatera Barat periode 2025–2028 dipimpin oleh Dr. dr. Roni Eka Sahputra, Sp.OT, Subsp. O.T.B (K) secara resmi dilantik oleh Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Dr. Slamet Budiarto, SH., MH.Kes. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Gubernur Sumbar diwakili Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH, Dekan Fakultas Kedokteran se-Sumbar, Ketua TP PKK Kota Padang dr. Dian Puspita, Sp.JP, berbagai unsur tenaga kesehatan serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan di Sumatera Barat.

Usai pelantikan, dr. Haviz Yuad menyampaikan ucapan selamat atas nama Direksi dan Manajemen RSUP Dr. M. Djamil kepada seluruh pengurus yang baru dilantik. “RSUP Dr. M. Djamil siap mendukung program-program strategis IDI Wilayah Sumatera Barat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan dengan organisasi profesi seperti IDI. Koordinasi yang kuat dan kolaborasi yang berkelanjutan akan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kesehatan, termasuk peningkatan kompetensi tenaga medis dan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien.

“Melalui momentum ini, kami berharap terjalin kolaborasi yang semakin erat antara RSUP Dr. M. Djamil dengan IDI Wilayah Sumatera Barat. Kami percaya bahwa dengan koordinasi yang baik, kita dapat menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujar dr. Haviz Yuad.

Sementara itu, Ketua Umum PB IDI, Dr. Slamet Budiarto, dalam sambutannya mengharapkan agar kepengurusan yang baru mampu menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab dan integritas. “Tema koordinasi, kolaborasi, dan kontribusi harus benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata. IDI tidak hanya menjadi organisasi profesi, tetapi juga mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa,” ungkap Dr. Slamet Budiarto.

Ia juga mendorong agar IDI Wilayah Sumatera Barat dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan inovasi pelayanan kesehatan, memperkuat jejaring antar tenaga medis. “Kemudian meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dokter,” harapnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Gencarkan Edukasi Manajemen Diabetes

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus edukasi kesehatan bagi masyarakat. Pada Jumat (24/4), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan menggelar kegiatan edukasi kesehatan tentang manajemen diabetes melitus. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Poliklinik Khusus Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, dan diikuti oleh pasien serta keluarga pasien yang tengah menjalani pengobatan.

Edukasi ini menghadirkan narasumber dr. Athari Fadhila, Sp.PD yang memaparkan secara komprehensif tentang manajemen diabetes melitus, mulai dari pemahaman dasar penyakit hingga langkah-langkah pengendalian yang efektif. Dalam pemaparannya, dr. Athari menekankan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan keterlibatan aktif dari pasien.

“Pengendalian kadar gula darah tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari. Pasien diimbau untuk menjaga pola makan seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, serta mematuhi anjuran terapi yang diberikan oleh tenaga medis. Selain itu, pemantauan gula darah secara berkala juga menjadi kunci penting dalam mencegah komplikasi,” kata dr. Athari Fadhila, Sp.PD.

dr. Athari Fadhila, Sp.PD menjelaskan komplikasi diabetes dapat berdampak serius apabila tidak dikelola dengan baik, seperti gangguan pada jantung, ginjal, saraf, hingga penglihatan. “Oleh karena itu, edukasi seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pasien sehingga mampu mengelola penyakitnya secara mandiri dan optimal,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Athari Fadhila, Sp.PD juga mengingatkan banyak kasus diabetes yang tidak terkontrol disebabkan oleh kurangnya disiplin dalam menjalani pengobatan dan pola hidup sehat. “Kunci utama dalam pengelolaan diabetes adalah konsistensi. Pasien harus patuh minum obat, menjaga pola makan, dan rutin kontrol agar gula darah tetap stabil,” jelasnya.

Ia juga menegaskan dukungan dari lingkungan terdekat sangat membantu pasien dalam menjalani perubahan gaya hidup yang tidak mudah. “Keluarga memiliki peran besar dalam mengingatkan, mendampingi, dan memberikan motivasi kepada pasien. Dengan dukungan yang baik, pasien akan lebih semangat untuk menjaga kesehatannya,” ungkap dr. Athari.

Selain itu, dr. Athari Fadhila, Sp.PD mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap deteksi dini diabetes melitus. Banyak penderita yang tidak menyadari kondisi mereka hingga muncul komplikasi. “Jangan menunggu gejala berat. Lakukan pemeriksaan secara berkala, terutama bagi yang memiliki faktor risiko. Semakin dini terdeteksi, semakin baik peluang untuk mengendalikan penyakit ini,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Jalani Visitasi Kolegium BTKV Indonesia

RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan layanan dan pendidikan kesehatan. Pada Jumat (24/4), rumah sakit yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan tersebut menerima kunjungan tim visitasi dari Kolegium Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Indonesia di Ruang Rapat Direksi.

Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam rangka persiapan penyelenggaraan Program Studi Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV) yang akan dikembangkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas bekerja sama dengan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan utama. Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang bedah spesialis yang memiliki peran krusial dalam penanganan penyakit jantung, paru, dan pembuluh darah.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil diwakili oleh Direktur Perencanaan dan Keuangan, Luhur Joko Prasetyo, dalam sambutannya menyampaikan pihak rumah sakit menyambut baik dan mendukung penuh proses visitasi tersebut. Kehadiran program studi BTKV merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu pelayanan sekaligus memperkuat fungsi RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan dan pusat pendidikan.

“Visitasi ini bukan hanya menjadi bagian dari proses administratif, tetapi juga momentum bagi kami untuk memastikan seluruh aspek kesiapan telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh kolegium,” ujar Luhur Joko Prasetyo.

Turut hadir Ketua Kolegium BTKV Indonesia Dr. dr. Ketut Putu Yasa, Sp.B., Sp.BTKV., Subsp.VE(K), FICS, FIATCVS dan dr. Wahyu Wiryawan, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp. JPK (K), MKM, tim BTKV FK Unand/RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp.BTKV, Subsp. V.E(K), FIATCVS, dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, FICS, FIATCVS, MARS, dr. Aulia Rahman Sp.BTKV, Subsp. JD (K), dan manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Ia menambahkan rumah sakit terus berupaya menghadirkan layanan unggulan yang sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran modern. Pengembangan program studi BTKV membutuhkan sinergi yang kuat antara rumah sakit dan institusi pendidikan. “Kami percaya kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas akan menghasilkan sistem pendidikan yang komprehensif, sehingga mampu melahirkan dokter spesialis yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di lapangan,” katanya.

Ia juga menekankan kesiapan sumber daya menjadi perhatian utama dalam proses ini. “Tidak hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga tenaga medis, tenaga pendidik, serta sistem pendukung lainnya harus dipersiapkan secara matang agar program ini dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” tutupnya.

Tim visitasi dari Kolegium Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Indonesia melakukan penilaian terhadap berbagai aspek, termasuk kesiapan sarana dan prasarana, kurikulum pendidikan, ketersediaan tenaga pengajar, serta sistem pendukung lainnya. Proses ini menjadi tahapan krusial sebelum program studi tersebut dapat resmi dibuka dan menerima peserta didik.

Kegiatan visitasi berlangsung dengan diskusi yang intensif dan konstruktif antara tim kolegium, manajemen rumah sakit, serta pihak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Semua pihak berharap hasil visitasi ini dapat memberikan rekomendasi positif sehingga program studi BTKV dapat segera direalisasikan.

Dengan adanya program ini, RSUP Dr. M. Djamil diharapkan tidak hanya menjadi pusat layanan kesehatan unggulan di wilayah Sumatera Barat, tetapi juga berperan sebagai pusat pendidikan spesialis yang mampu mencetak tenaga ahli di bidang bedah toraks, kardiak, dan vaskular untuk memenuhi kebutuhan nasional.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45