Instalasi Promkes RSUP Dr. M. Djamil Rutin Edukasi Pasien, TBC Bukan Penyakit Keturunan

Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil kembali menegaskan komitmennya dalam mengedukasi masyarakat tentang isu-isu kesehatan. Dalam rangkaian kegiatan penyuluhan kelompok yang diadakan secara rutin, perhatian kali ini difokuskan pada penyakit Tuberkulosis (TBC).

Kegiatan penyuluhan kelompok yang dilaksanakan pada Jumat (3/10) ini bertempat di Poliklinik Paru. Penyuluhan ini menghadirkan dr. Irvan Medison, Sp.P (K) FISR FAPSR, seorang dokter spesialis paru konsultan, yang memberikan materi tentang bahaya TBC, khususnya di kalangan remaja.

Dalam pemaparannya, dr. Irvan Medison, Sp.P (K) FISR FAPSR, dengan tegas meluruskan mitos yang masih melekat di masyarakat. Ia menjelaskan TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis.

“Penting untuk dipahami, TBC bukan penyakit keturunan atau akibat guna-guna. Ini adalah infeksi yang menyerang paru-paru, namun bakteri TBC juga dapat menyerang organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, tulang, selaput otak, hingga kulit,” tegasnya seraya mengatakan bakteri TBC bersifat sangat menular. Satu pasien TBC aktif diperkirakan dapat menularkan penyakit kepada 10 hingga 15 orang di sekelilingnya setiap tahun jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Dokter spesialis paru tersebut memaparkan serangkaian gejala yang harus diwaspadai, di mana gejala utama TBC adalah batuk yang terus-menerus. Gejala lainnya meliputi demam atau meriang berkepanjangan, sesak napas dan nyeri dada, berat badan menurun drastis tanpa sebab jelas, kadang dahak bercampur darah, nnafsu makan menurun, berkeringat di malam hari tanpa melakukan kegiatan atau olahraga.

“Beberapa kelompok masyarakat memiliki risiko lebih tinggi untuk sakit TBC, di antaranya adalah anak-anak, orang dengan HIV/AIDS, orang usia lanjut, penderita Diabetes Melitus (DM), perokok, serta orang yang kontak erat atau kontak serumah dengan pasien TBC,” ungkap dr. Irvan.

dr. Irvan menekankan TBC dapat disembuhkan dan penularannya dapat dicegah melalui langkah-langkah berikut. Bagi pasien TBC aktif, kunci utama pencegahan adalah minum Obat Anti TBC (OAT) secara teratur sesuai anjuran dokter selama 6 hingga 8 bulan.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Menutup mulut saat batuk dan bersin menggunakan tisu atau sapu tangan, tidak membuang dahak sembarangan, melainkan membuangnya ke kloset (WC).

Memastikan ventilasi udara yang baik di rumah, menjemur alas tidur agar tidak lembap. Kemudian membuka jendela agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar dan melakukan olahraga teratur. “Makan makanan bergizi seimbang, mendapatkan imunisasi BCG pada anak serta tidak merokok,” paparnya.

Penyuluhan ini ditutup dengan seruan untuk bertindak nyata dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia. RSUP Dr. M. Djamil  mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mewujudkan visi kesehatan ini. “Saatnya Indonesia Bebas TBC, mulai dari saya,” tutup dr. Irvan Medison, mengakhiri penyuluhan.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Perkuat Posisi RS Pendidikan Utama,151 Calon Nakes Ikuti LOI

RSUP Dr. M. Djamil kembali menegaskan komitmennya sebagai rumah sakit pendidikan utama di Sumatera Barat dengan menyelenggarakan Layanan Orientasi Informasi (LOI) bagi ratusan calon tenaga kesehatan. Orientasi yang bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang lingkungan, kebijakan, dan standar pelayanan rumah sakit ini, dilaksanakan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, pada Jumat (3/10).

LOI kali ini diikuti oleh total 151 mahasiswa yang akan menjalani praktik profesi di RSUP Dr. M. Djamil. Rinciannya adalah 99 mahasiswa profesi Ners dan 42 mahasiswa profesi Kebidanan dari Universitas Alifah Padang, serta 10 mahasiswa Prodi D-III Sanitasi dari Poltekkes Kemenkes Padang.

“Kami menyambut baik adik-adik mahasiswa sekalian. Layanan Orientasi Informasi ini bukan sekadar formalitas, tetapi fondasi penting. Di sini, Anda akan belajar tidak hanya dari buku, tetapi langsung dari praktik nyata dan berinteraksi dengan pasien,” kata Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes.

Turut hadir Manajer Diklat Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep, Asisten Manajer Diklat Yulfendri, Amd. PK, SKM, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Informasi  Universitas Alifah Padang Ns. Syalvia Oresti, M. Kep, PhD, Ketua Prodi Profesi Bidan Monarisa, M.Keb, Seksi PKl Profesi Bidan Bdn. Ika Putri Ramadhani, M. Biomed. Kemudian Ketua Prodi Pendidikan Profesi Ners Universitas Alifah Padang Ns. Rebbi Permata Sari, M. Kep, Ns. Rika Syafitri.M Kep (PBL), Ns. Rifahatul Mahmuda, M. Kep (PBL). Dosen Mata Kuliah Praktek Kerja Rumah Sakit Poltekkes Kemenkes Padang Rahmi Hidayanti, SKM, M.Kes dan Penanggungjawab Administrasi Pendidikan Akhirul Desman, ST.

Ia mengatakan kegiatan orientasi menjadi langkah awal bagi para mahasiswa untuk beradaptasi dengan dinamika lingkungan kerja rumah sakit rujukan tipe A. Mereka dibekali berbagai informasi penting, mulai dari struktur organisasi, alur pelayanan pasien, tata tertib, hingga standar keselamatan pasien dan kesehatan kerja. “Tujuannya adalah memastikan setiap calon tenaga kesehatan dapat menjalankan praktik dengan lancar, aman, dan sesuai dengan standar mutu yang berlaku,” sebutnya.

Praktik di RSUP Dr. M. Djamil, sebutnya, adalah kesempatan emas untuk mengaplikasikan ilmu, namun juga menuntut integritas dan profesionalisme tinggi. “Setiap civitas hospitalia, termasuk Anda sebagai calon profesional, harus memiliki keramahan dan kepedulian terhadap pasien. Kualitas SDM yang kompeten, beretika, dan berempati adalah aset terbesar yang dimiliki rumah sakit ini,” tegasnya.

dr. Maliana juga mengingatkan para peserta untuk segera beradaptasi dengan lingkungan kerja, memanfaatkan setiap bimbingan dari mentor di rumah sakit, dan selalu menjunjung tinggi keselamatan pasien dalam setiap tindakan. “Dengan dukungan penuh dari jajaran direksi dan staf, RSUP Dr. M. Djamil berharap kehadiran para mahasiswa praktik ini mampu menciptakan aura positif dan berkontribusi nyata dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Sumatera Barat,” harap dr. Maliana. (*)

K3RS RSUP Dr. M. Djamil Monev Data Angka Kesakitan di Instalasi Laboratorium Sentral

Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) RSUP Dr. M. Djamil menggelar rapat pemaparan monitoring dan evaluasi tindak lanjut data angka kesakitan di Instalasi Laboratorium Sentral. Pertemuan ini dilaksanakan di Ruang Konferensi Patologi Klinik, pada Rabu (1/10), sebagai respons atas temuan peningkatan kasus sakit di kalangan petugas laboratorium dalam periode tiga bulan terakhir.

Ketua Komite K3RS, Katherina Welong, SKM, MARS, mengungkapkan data monitoring menunjukkan tren angka kesakitan yang cukup tinggi di Instalasi Laboratorium Sentral selama kuartal terakhir. Kondisi ini memicu Komite K3RS untuk melakukan analisis, tidak hanya mencatat kasus, tetapi juga mencari akar permasalahannya.

“Dalam tiga bulan terakhir, angka kesakitan di Instalasi Laboratorium Sentral memang cukup tinggi. Melihat data ini, kami segera melakukan analisis untuk mencari tahu penyebabnya. Kami menyoroti beberapa faktor potensial, seperti beban kerja dan stres kerja,” kata Katherina.

Menurutnya, laboratorium sentral merupakan salah satu unit kerja dengan tingkat kerentanan risiko kerja yang tinggi, baik dari paparan bahan kimia, biologis, maupun risiko ergonomi dan psikososial. Untuk memverifikasi dugaan ini, Komite K3RS telah menindaklanjuti dengan melakukan survei komprehensif kepada para petugas laboratorium.

“Kami telah melakukan survei untuk melihat secara langsung bagaimana situasi di lapangan, termasuk apakah tingginya angka kesakitan ini memang disebabkan oleh beban kerja yang berlebihan atau tingkat stres kerja. Itu yang kita lakukan survei,” jelas Katherina.
Data hasil monitoring, evaluasi, dan survei yang telah dikumpulkan oleh Komite K3RS kini telah dirampungkan dan disampaikan kepada pihak Instalasi Laboratorium Sentral. Tujuannya adalah agar manajemen unit terkait dapat segera mengambil tindakan korektif dan preventif yang diperlukan.

“Hasil ini sudah kami sampaikan kepada instalasi laboratorium untuk ditindaklanjuti oleh manajemen. Diharapkan, temuan terkait dugaan beban kerja dan stres ini dapat menjadi dasar bagi manajemen untuk menyusun program Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang lebih terfokus dan efektif,” tegas Katherina Welong.

Ia menegaskan langkah ini sejalan dengan fungsi utama Komite K3RS, yaitu untuk merumuskan kebijakan, program, serta memberikan rekomendasi dan pertimbangan kepada Direktur rumah sakit tentang masalah keselamatan dan kesehatan kerja. “Fokus utama adalah mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh sumber daya manusia (SDM) rumah sakit, guna menjamin kelancaran dan mutu pelayanan,” tukasnya. (*)

Dirut RSUP M. Djamil Hadiri Hari Jadi ke-80 Sumbar, Tegaskan Komitmen Jadi Pilar Kesehatan Utama

Direktur Utama RSUP Dr. M Djamil Padang, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, turut menghadiri Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-80 Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) di Gedung DPRD Sumatera Barat, pada hari Rabu (1/10).

Paripurna Istimewa ini dipimpin oleh Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, dan mengusung tema sentral “Bersama Membangun Sumatera Barat Sejahtera dan Maju”. Acara ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan capaian dan merumuskan langkah strategis ke depan dalam upaya memajukan ranah Minang.

“Kami menyambut gembira peringatan Hari Jadi ke-80 Sumatera Barat dengan tema penuh makna ini. RSUP Dr. M. Djamil berkomitmen penuh untuk menjadi pilar utama dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, yang secara langsung berkontribusi pada tercapainya Sumatera Barat yang sejahtera dan maju,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua usai Rapat Paripurna Istimewa.

Turut dihadiri Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah beserta istri, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy beserta istri, Wakil Ketua dan anggota DPRD Sumbar, anggota DPR RI, Forkopimda Sumbar, Kepala OPD Pemprov Sumbar, kepala daerah se-Sumbar, dan undangan.

Pada rapat paripurna istimewa itu menghadirkan dua narasumber yang menyampaikan pandangan strategis mereka untuk kemajuan Sumbar. Yakni Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tro Suryanta dan Anggota KPI Pusat Amin Shabana.

Dovy Djanas menjelaskan peran RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya terbatas pada pelayanan kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Dalam rangka mendukung visi Sumbar, RSUP M. Djamil saat ini sedang fokus pada beberapa program utama. Di antaranya peningkatan layanan rujukan regional dan kualitas pelayanan ibu dan anak.

“Kesehatan adalah investasi. Masyarakat yang sehat adalah modal utama untuk membangun daerah yang maju. Kami akan terus bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi, DPRD, dan seluruh stakeholder untuk memastikan akses kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat Minang,” ungkap Dirut. (*)

Dirut RSUP Dr. M. Djamil Minta PPPK Tunjukkan Kinerja Terbaik

RSUP Dr. M. Djamil mengambil langkah signifikan dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Pada hari Rabu, (1/10), rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat ini secara resmi menyambut Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

“Bergabungnya PPPK hari ini adalah babak baru. Ini bukan sekadar penambahan jumlah pegawai, tetapi juga investasi strategis dalam kualitas pelayanan kita. Saya berharap seluruh PPPK yang baru bergabung dapat segera beradaptasi dan menunjukkan kinerja terbaik, karena status sebagai pegawai pemerintah harus diiringi dengan komitmen penuh, disiplin, dan integritas yang tinggi dalam melayani masyarakat,” kata Direktur Utama RSUP Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua.

Ia menegaskan RSUP Dr. M. Djamil memiliki tanggung jawab besar sebagai rumah sakit rujukan nasional di wilayah barat Sumatera. Oleh karena itu, setiap individu, termasuk para PPPK, memiliki peran vital dalam mempertahankan dan meningkatkan standar akreditasi serta capaian layanan unggulan, khususnya dalam program unggulan Kementerian Kesehatan.

Ia juga mendorong para PPPK untuk tidak hanya menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaan. Tetapi juga aktif memberikan kontribusi pemikiran dan ide-ide kreatif demi kemajuan rumah sakit.

“RSUP Dr. M. Djamil adalah rumah kita bersama. Kami menuntut Anda semua untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sebaliknya. Jadikan etos kerja ‘Melayani dengan Hati’ sebagai landasan dalam setiap interaksi dengan pasien dan kolega. Ingatlah, keberhasilan rumah sakit adalah keberhasilan kita bersama,” pinta Dirut.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana M.Kes memaparkan RSUP Dr. M. Djamil tahun ini menerima pegawai PPPK sebanyak 234 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat hanya satu orang yang berasal dari luar RSUP Dr. M. Djamil. Di sisi lain, satu orang PPPK yang sebelumnya diterima dari UPT di luar RSUP Dr. M. Djamil dilaporkan mengundurkan diri.

Selain formasi PPPK penuh waktu, rumah sakit juga menerima sebanyak 97 orang PPPK Paruh Waktu. Dua dari 97 orang tersebut juga telah mengundurkan diri.

dr. Maliana menjelaskan PPPK Paruh Waktu yang diterima ini adalah mereka yang telah lulus dalam seleksi PPPK optimalisasi namun menolak untuk ditempatkan di luar RSUP Dr. M. Djamil. “Di antara PPPK ini, terdiri juga PPPK jabatan fungsional tertentu (JFT) yang dalam waktu dekat akan dilantik,” tambah dr. Maliana. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terima Peserta PPDS BTKV dari FK Universitas Indonesia

RSUP Dr. M. Djamil kembali menegaskan perannya sebagai rumah sakit pendidikan utama dengan menyambut kedatangan salah satu peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Toraks, Kardiak, Vaskular (BTKV) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Peserta didik yang berkesempatan mengikuti stase pendidikan kali ini adalah dr. Grace Rahmawati Widyasih. Kedatangan dr. Grace diterima langsung oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, didampingi Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) dan Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes di Ruang Direksi, Rabu (1/10).

dr. Grace Rahmawati Widyasih akan menjalani pendidikan dan pelatihan klinis di Bagian Bedah Toraks, Kardiak, Vaskular RSUP Dr. M. Djamil selama periode 1 hingga 31 Oktober 2025. Stase ini merupakan bagian dari kurikulum pendidikan BTKV FKUI, memberikan kesempatan berharga bagi peserta didik untuk mendalami kasus dan mendapatkan pengalaman praktis di salah satu rumah sakit rujukan terkemuka di Sumatera.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menekankan kehadiran peserta PPDS dari FKUI merupakan indikator kuat atas pengakuan mutu dan kualitas pelayanan serta pendidikan yang diselenggarakan di RSUP Dr. M. Djamil.”Kolaborasi antar institusi pendidikan dan rumah sakit layanan rujukan merupakan kunci untuk mencetak dokter spesialis yang kompeten dan berdaya saing global,” ucapnya.

Dovy Djanas berharap, selama satu bulan penuh, dr. Grace dapat memanfaatkan fasilitas dan bimbingan dari para dokter spesialis senior di Bagian BTKV RSUP Dr. M. Djamil semaksimal mungkin. “Kami berkomitmen untuk menyediakan lingkungan belajar yang kondusif, aman, dan kaya akan pengalaman klinis. Stase ini tidak hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang pengembangan karakter profesionalisme. Melalui stase ini, dr. Grace Rahmawati Widyasih diharapkan dapat memperluas wawasan dan keterampilan teknisnya, terutama dalam menghadapi variasi kasus yang mungkin berbeda dengan yang ditemui di Jakarta,” tukasnya. (*)

Dirut Pimpin Upacara, RSUP Dr. M. Djamil Teguhkan Ikrar Kesaktian Pancasila

Seluruh jajaran RSUP Dr. M. Djamil melaksanakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila dengan penuh khidmat di halaman Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Rabu (1/10). Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dan kesetiaan terhadap ideologi negara.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) adalah Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Upacara diikuti oleh jajaran direksi, manajer, kepala instalasi, serta seluruh civitas hospitalia RSUP Dr. M. Djamil, menunjukkan keseriusan institusi dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini mengusung tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”, sebuah seruan untuk menjadikan Pancasila sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan dan mencapai cita-cita kemajuan bangsa.

Puncak kekhidmatan upacara terjadi saat Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dengan suara tegas membacakan Naskah Ikrar Hari Kesaktian Pancasila. Pembacaan ikrar ini merupakan bentuk sumpah kesetiaan seluruh peserta upacara untuk senantiasa mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara, serta menolak segala bentuk ancaman terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam naskah ikrar tersebut, ditegaskan kembali bahwa sejak proklamasi kemerdekaan, telah banyak terjadi rongrongan, baik dari dalam maupun luar negeri, terhadap NKRI. Rongrongan ini dimungkinkan karena kelengahan dan ketidakwaspadaan bangsa terhadap upaya penumbangan Pancasila sebagai ideologi negara.

Oleh karena itu, di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, seluruh jajaran RSUP Dr. M. Djamil membulatkan tekad: “Untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Direktur Utama Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua usai upacara menegaskan pelaksanaan upacara ini tidak hanya sekadar rutinitas seremonial. Bagi institusi pelayanan publik seperti rumah sakit, nilai-nilai Pancasila harus diimplementasikan secara nyata dalam setiap aspek pekerjaan. “Semangat gotong royong dan keadilan sosial menjadi prinsip yang harus dipegang teguh oleh seluruh insan RSUP Dr. M. Djamil dalam memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat,” tukas Dirut.(*)

Jamin Pelayanan Optimal, Dirmedkep Telusur ke Unit Perawatan Intensif Anak

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), melakukan kegiatan telusur ke unit pelayanan anak, Selasa (30/9). Kegiatan telusur ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan manajemen untuk memastikan standar mutu pelayanan, khususnya di ruang perawatan kritis untuk pasien anak dan bayi.

Fokus dari kunjungan lapangan ini adalah meninjau kesiapan dan operasional Ruang Family Care Center yang diperuntukkan bagi pasien non-JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Ruangan ini terletak berdekatan dengan Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit).

Bestari mengungkapkan inisiatif Family Care Center ini penting untuk memberikan opsi dan kenyamanan lebih bagi keluarga pasien yang memilih jalur non-JKN, tanpa mengurangi kualitas penanganan medis.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh pasien, baik JKN maupun non-JKN, mendapatkan pelayanan terbaik. Dengan adanya Family Care Center, kami berharap orang tua pasien non-JKN dapat merasa lebih tenang dan lebih dekat memantau perkembangan buah hati mereka yang sedang dalam perawatan intensif,” ujar Bestari didampingi manajemen RSUP Dr. M. Djamil.

Setelah meninjau Family Care Center, telusur dilanjutkan ke ruangan PICU (Pediatric Intensive Care Unit), ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan ruangan SCN (Special Care Nursery). Dalam setiap ruangan, Bestari berinteraksi langsung dengan perawat, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan lainnya.

Menanggapi kegiatan telusurnya, Bestari mengatakan telusur ini bertujuan untuk memastikan mutu pelayanan tetap prima, mengevaluasi alur kerja di lapangan, dan mengidentifikasi potensi hambatan atau kekurangan yang mungkin terjadi sebelum dilaporkan oleh pasien atau keluarga.

“Telusur ini adalah mekanisme kontrol internal kami. Kami ingin memastikan setiap prosedur dilakukan sesuai standar, baik dari sisi medis maupun keperawatan. Kehadiran saya dan tim di sini juga sebagai bentuk dukungan moril kepada para staf yang bekerja 24 jam di garis depan penanganan kasus-kasus kritis,” tegasnya.

Ia menambahkan, umpan balik dari tim medis di lapangan menjadi kunci untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan. Hasil dari telusur ini akan ditindaklanjuti dengan rencana perbaikan ke depannya.

“Kegiatan telusur rutin oleh jajaran direksi merupakan salah satu bentuk akuntabilitas manajemen rumah sakit dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan predikat mutu pelayanan yang optimal bagi masyarakat,” tukas Bestari. (*)

Tingkatkan Mutu dan SIMRS, RSUP Dr. M. Djamil Studi Tiru ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo

RSUP Dr. M. Djamil melakukan langkah strategis dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan pengembangan sistem informasi rumah sakit (SIMRS) dengan menggelar Studi Tiru ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Kunjungan ini berlangsung selama tiga hari, mulai dari 29 September hingga 1 Oktober 2025.

Kedatangan rombongan RSUP Dr. M. Djamil dipimpin Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS disambut oleh Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dr. Marsella Wahyuni Olii, M.Kes bersama dengan Direktur Perencanaan dan Keuangan Diah Vitaloka Adam, S.E, M.Ak. Turut mendampingi Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil yakni Kepala Satuan Pemeriksaan Internal Isdal Veri, Kepala Instalasi SIMRS Ibnu Putra, Staf Instalasi SIMRS Ade Darma, dan Penata Laksana Barang Terampil Walby.

Direktur Layanan Operasional RSUP Dr. M. Djamil, drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, menjelaskan studi tiru ini memiliki beberapa sasaran utama untuk modernisasi layanan rumah sakit. “Tujuan utama kami adalah mempelajari secara komprehensif implementasi dan tata kelola SIMRS di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Kami ingin menggali pengalaman terbaik mereka terkait strategi, kendala, serta solusi dalam pemanfaatan SIMRS yang efektif,” kata drg. Ade Palupi Muchtar.

Kunjungan ini, sebutnya, juga berfokus pada langkah-langkah konkret untuk menyusun strategi pengembangan SIMRS yang lebih adaptif di RSUP Dr. M. Djamil. Hal ini penting untuk memastikan sistem informasi dapat menunjang pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas dan efisien.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian khusus adalah mempelajari interkoneksi antara aplikasi gudang SIMRS dengan aplikasi SAKTI (Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi) Kementerian Keuangan. “Integrasi ini sangat vital untuk akuntabilitas, transparansi, dan efisiensi pengelolaan aset serta keuangan rumah sakit sebagai Satuan Kerja (Satker) di bawah Kementerian Kesehatan,” ucapnya.

drg. Ade menekankan studi tiru ini diharapkan dapat membawa dampak signifikan bagi RSUP Dr. M. Djamil, tidak hanya dalam hal peningkatan infrastruktur digital, tetapi juga dalam peningkatan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan mengadopsi praktik terbaik dari RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, RSUP Dr. M. Djamil berkomitmen untuk mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi, cepat, dan modern.

“Pengembangan SIMRS yang adaptif dan terintegrasi penuh dengan sistem keuangan negara dipandang sebagai fondasi penting untuk mencapai status rumah sakit vertikal yang unggul dan berstandar internasional,” tegasnya.(*)

Fokus Percepatan Dokter Spesialis, Kolaborasi RSUP Dr. M. Djamil dan RS Unand Diperkuat

Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, memaparkan kolaborasi strategis antara RSUP Dr. M. Djamil dengan Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand) dalam Rapat Kerja Program Penyusunan Kerja 2026 RS Unand pada Senin (29/9). Pemaparan ini menyoroti peran sentral kedua rumah sakit dalam upaya pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dalam paparannya, dr. Maliana menegaskan RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan medis tingkat lanjut, tetapi juga memegang peran krusial sebagai rumah sakit pendidikan. Kolaborasi erat telah terjalin dengan berbagai sentra pendidikan, khususnya Fakultas Kedokteran Unand, untuk mencetak tenaga medis berkualitas.

“Selain memberikan pelayanan medis, RSUP Dr. M. Djamil juga berperan sebagai rumah sakit pendidikan, berkolaborasi dengan berbagai sentral pendidikan, salah satunya Fakultas Kedokteran Unand,” ujar dr. Maliana.

Turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran Unand, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd, Ketua Dewan Pengawas RS Unand Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA, Direktur Utama RS Unand Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp. BTKV, Subsp. VE (K), FIATCVS dan jajaran direksi, manajemen serta civitas hospitalia RS Unand.

Sebagai rumah sakit pendidikan utama, sebutnya, RSUP Dr. M. Djamil memfasilitasi pendidikan klinis untuk beragam program studi meliputi Program Studi Dokter Umum, 16 Program Studi Dokter Spesialis, 4 Program Dokter Subspesialis dan 11 Program Fellowship. “Kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan RS Unand diperkuat dengan penetapan RS Unand sebagai rumah sakit satelit. Sinergi ini dirancang untuk mencapai tujuan utama, yaitu mempercepat dan meningkatkan kualitas pendidikan tenaga kesehatan, terutama dalam program spesialis,” sebutnya.

Kolaborasi strategis ini mencakup beberapa aspek kunci, yaitu Program Percepatan PPDS dan PPDSS. Program ini menjadi jawaban langsung terhadap kebijakan Kemenkes dan Kemendiktisaintek untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis di seluruh tanah air. “Dengan memanfaatkan kapasitas kedua rumah sakit, proses pendidikan klinis diharapkan dapat berjalan lebih efisien dan efektif,” ungkapnya.

Selain pendidikan, sebutnya, kolaborasi ini juga memprioritaskan riset kolaboratif. Salah satu contoh inovasi yang dikembangkan adalah kit diagnostik Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA). Penelitian bersama ini menunjukkan komitmen kedua institusi dalam menghasilkan temuan yang relevan dan aplikatif untuk peningkatan layanan kesehatan

“Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi pilar penting lainnya. Kolaborasi ini mencakup program capacity building atau peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan dari kedua rumah sakit, memastikan mereka selalu up-to-date dengan perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi terbaru,” ucap dr. Maliana.

Terakhir, kolaborasi ini juga bertujuan untuk penguatan tata kelola (governance) rumah sakit pendidikan. Governance yang baik sangat penting untuk menjamin mutu pendidikan klinis, transparansi, dan akuntabilitas, sehingga menghasilkan lulusan dokter spesialis yang kompeten dan berintegritas.

“Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi sinergi antara rumah sakit pendidikan utama dan rumah sakit satelit di Indonesia, demi mewujudkan pemerataan dan peningkatan kualitas layanan kesehatan nasional,” harapnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45