Webinar RSUP Dr. M. Djamil, Dorong Penggunaan Diagnostik Molekuler untuk Cegah Resistensi Antibiotik

Diagnostik molekuler memainkan peran vital dalam memberikan panduan yang lebih cepat dan akurat kepada klinisi dalam menentukan terapi antibiotik. Penggunaan metode ini akan memperpendek periode yang dibutuhkan untuk memberikan terapi antibiotik yang adekuat. Ini sangat berbeda dengan metode konvensional yang sering kali memakan waktu lebih lama, sehingga pasien mungkin tidak mendapatkan pengobatan yang optimal di awal.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Laboratorium PDRPI Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc saat Webinar bertajuk “Implementasi Diagnostik Molekuler untuk Peningkatan Pemberian Antibiotik Empiris yang Adekuat” digelar RSUP Dr. M. Djamil di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Kamis (28/8).Webinar yang dimoderatori Manajer Penelitian dan Pengembangan dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, FIAC, IFCAP itu juga menghadirkan narasumber yakni Ketua KSM Mikrobiologi Klinik Dr. dr. Linosefa, Sp.MK, dan Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba RSUP Dr. M. Djamil dr. Fedrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM.

Ia menyoroti antibiotik empirik yang adekuat adalah pengobatan yang memenuhi beberapa kriteria penting. Kriteria tersebut mencakup kesesuaian dengan hasil kultur, menjamin perbaikan klinis pasien, dan kesesuaian dengan pedoman yang berbasis data atau antibiogram. Diketahui, antibiogram adalah pola kepekaan bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik di suatu wilayah atau rumah sakit, yang menjadi panduan penting bagi dokter dalam memilih antibiotik yang paling efektif. “Dengan diagnostik molekuler, informasi ini dapat diperoleh lebih cepat, memungkinkan penyesuaian terapi secara dini,” ungkapnya.

Turut hadir Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen, direksi rumah sakit se-Sumbar, dinas kesehatan se-Sumbar serta peserta webinar.

Andani menekankan dengan integrasi diagnostik molekuler, dokter dapat mengidentifikasi patogen penyebab infeksi dan pola resistensinya dengan lebih efisien. “Hal ini tidak hanya mempercepat proses penyembuhan pasien, tetapi juga berkontribusi pada upaya global untuk mengendalikan resistensi antimikroba yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Penerapan diagnostik molekuler secara luas, tuturnya, diharapkan dapat menjadi langkah maju bagi dunia kedokteran, khususnya di Indonesia, untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan pengobatan yang paling sesuai dan efektif. “Inovasi ini membuka jalan bagi pengobatan presisi di mana terapi disesuaikan dengan profil genetik patogen, bukan lagi berdasarkan dugaan semata,” harap Andani.

Ketua KSM Mikrobiologi Klinik Dr. dr. Linosefa, Sp.MK menjelaskan data nasional menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan antibiotik di Indonesia, baik di masyarakat maupun di rumah sakit, sangat tinggi. Praktik penjualan antibiotik secara bebas di pasaran marak terjadi, dan kepatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik—misalnya, tidak menyelesaikan dosis yang diresepkan—masih rendah.

Situasi ini diperburuk oleh data surveilans yang menunjukkan peningkatan isolat resisten. Sebagai contoh, ada peningkatan signifikan pada bakteri Escherichia coli yang resisten terhadap ceftriaxone dan fluoroquinolone. Selain itu, ditemukan juga kasus Klebsiella pneumoniae yang sudah resisten terhadap karbapenem, jenis antibiotik yang sering “dianggap sebagai pilihan terakhir untuk infeksi parah. Peningkatan resistensi ini sangat mengkhawatirkan karena mengurangi opsi pengobatan yang tersedia,” sebutnya.

Dr. Linosefa menekankan pentingnya peran data pola patogen dan antibiogram dalam dunia medis. Antibiogram adalah hasil uji laboratorium yang menunjukkan sensitivitas atau resistensi suatu bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik. “Pola patogen dan data antibiogram membantu para klinisi dalam memilih antibiotik yang tepat. Dengan mengetahui jenis bakteri yang umum dan obat yang paling efektif melawannya, dokter dapat memberikan pengobatan yang lebih akurat dan mengurangi risiko AMR,” harapnya.

Ia juga mengungkapkan pola bakteri di Indonesia masih didominasi oleh bakteri gram negatif. Memahami pola ini sangat krusial untuk membuat kebijakan kesehatan dan panduan pengobatan yang lebih efektif.

“Peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya AMR dan penggunaan antibiotik yang bijak adalah langkah awal yang vital untuk mengatasi krisis kesehatan ini. Edukasi kepada pasien dan penegakan regulasi yang lebih ketat terhadap penjualan antibiotik tanpa resep menjadi kunci untuk melindungi efektivitas obat-obatan yang ada,” tegas Linosefa.

Sementara itu, Ketua Komite PRA RSUP Dr. M. Djamil dr. Fedrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM menyebutkan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) mengambil peran dalam upaya rumah sakit memerangi ancaman global resistensi antimikroba (AMR). Komite ini bertugas membantu Direktur Utama dalam mengendalikan resistensi mikroba di lingkungan rumah sakit.

“KPRA memiliki ruang lingkup tugas yang komprehensif, mencakup surveilans dan penelitian, meningkatkan kesadaran tentang penggunaan antibiotik yang rasional melalui program pelatihan dan edukasi, dan penatagunaan Antimikroba (Antimicrobial Stewardship),” sebutnya.

Dalam menjalankan tugasnya, RSUP Dr. M. Djamil menargetkan pemantauan penggunaan antimikroba melalui metode point prevalence survey. “Kami melakukan pengumpulan data di lapangan dengan observasi langsung dan meninjau rekam medis,” jelas Fedrian.

Proses pengumpulan data ini mencakup analisis terhadap berbagai aspek penggunaan antimikroba. Seperti indikasi, jenis antibiotik, rute pemberian, durasi dan penggunaan antibiotik sudah sesuai dengan pedoman nasional dan internasional.

“Proses pengumpulan data ini masih berlangsung. Setelah selesai, data yang terkumpul akan dianalisis untuk menghasilkan gambaran yang jelas mengenai pola penggunaan antibiotik di RSUP Dr. M. Djamil, yang pada akhirnya akan menjadi dasar untuk perbaikan kebijakan dan strategi pengendalian AMR. Dengan langkah-langkah ini, RSUP Dr. M. Djamil menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangan AMR, melindungi pasien, dan berkontribusi pada upaya kesehatan masyarakat,” tukasnya.(*)

RSUP Dr. M. Djamil Luncurkan Kit Pneumoplex 3.0 dan Implementasi Layanan Diagnostik Molekuler

RSUP Dr. M. Djamil secara resmi meluncurkan Kit Pneumoplex 3.0 serta Implementasi Layanan Diagnostik Molekuler. Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam upaya mengatasi ancaman serius Resistensi Antimikroba (AMR) yang kian mengkhawatirkan. Produk tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan mitra strategis PT Crown Teknologi Indonesia (CTI).

“Penggunaan antibiotik yang tidak rasional telah menjadi salah satu pemicu utama munculnya resistensi. Pemanfaatan diagnostik molekuler memungkinkan deteksi cepat dan akurat terhadap patogen. Ini menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa pemberian antibiotik bersifat empiris, tepat sasaran, dan rasional,” kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM MARS, FISQua saat Webinar Implementasi Diagnostik Molekuler untuk Peningkatan Pemberian Antibiotik Empiris yang Adekuat dan Peluncuran Kit Pneumoplex 3.0 di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Kamis (28/8).

Acara peluncuran tersebut dibalut dalam format webinar bertajuk “Implementasi Diagnostik Molekuler untuk Peningkatan Pemberian Antibiotik Empiris yang Adekuat dan Peluncuran Kit Pneumoplex 3.0.” Hadir dalam acara tersebut secara virtual antara lain mewakili Wakil Menteri Kesehatan RI, Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan drg. Yuli Astuti Saripawan, M.Kes, serta Kepala Laboratorium PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen, serta peserta webinar.

Menurut Dovy, diagnostik molekuler memungkinkan identifikasi penyebab infeksi sejak dini, sehingga tenaga medis dapat memberikan antibiotik empiris secara lebih adekuat. “Dampaknya adalah peningkatan mutu pelayanan, penurunan angka resistensi, percepatan kesembuhan pasien, serta optimalisasi efisiensi biaya kesehatan. Langkah ini tidak hanya menguntungkan pasien, tetapi juga rumah sakit dan sistem pembiayaan kesehatan nasional secara keseluruhan,” ungkapnya.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk wilayah Sumatera Tengah, RSUP Dr. M. Djamil memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan tata kelola penggunaan antibiotik yang rasional dan berbasis bukti ilmiah. Dr. Dovy menegaskan komitmen rumah sakit untuk terus bergerak maju menjadi pusat rujukan yang unggul, didukung oleh teknologi terkini dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Ia menekankan dengan mengimplementasikan teknologi ini di RSUP Dr. M. Djamil, berharap akan terjadi peningkatan ketepatan terapi antibiotik, khususnya pada kasus-kasus infeksi berat dan kompleks. Pemangkasan waktu diagnosis, sehingga pengobatan dapat diberikan lebih dini. “Penurunan angka resistensi antibiotik, melalui tata kelola penggunaan antibiotik yang lebih terarah. Dan peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien secara keseluruhan,” harapnya.

Wakil Menteri Kesehatan RI diwakili Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan drg. Yuli Astuti Saripawan, M.Kes menyampaikan apresiasi kepada RSUP Dr. M. Djamil yang terlibat dalam pengembangan inovasi ini. “Diharapkan dengan produk ini bisa membantu pemilihan antibiotik yang lebih tepat. Kalau pemilihan antibiotik tepat, maka biaya rawatan pasien dan tingkat kesembuhan pasien makin kecil, dan menekan laju penyebaran resistensi antimikroba,” kata drg. Yuli.

Ia juga berharap inovasi ini akan menjadi titik tolak dan akan diikuti oleh rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan lainnya. “Ini menandakan bahwa RSUP Dr. M. Djamil telah mengambil langkah penting yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi fasilitas kesehatan lain di Indonesia,” tukasnya. Pada kesempatan itu, webinar menghadirkan narasumber Kepala Laboratorium PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, Ketua KSM Mikrobiologi Klinik Dr. dr. Linosefa, Sp.MK, dan Ketua Komite PPRA RSUP Dr. M. Djamil dr. Fedrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM.(*)

RSUP Dr. M. Djamil dan Prodia Jajaki Penguatan Keamanan Siber Data Pasien hingga Riset Sel Punca

RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan penting dari manajemen PT Prodia Widyahusada Tbk pada Kamis (28/8). Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Direktur Utama ini bertujuan untuk menjajaki berbagai potensi kerja sama strategis dalam hal penguatan keamanan siber (cyber security) data pasien, penguatan integrasi data antara Prodia dan RSUP Dr. M. Djamil atau pun sebaliknya dan riset sel punca (stem cell).

Kedatangan manajemen PT Prodia Widyahusada Tbk yang dipimpin Digital Service Transformation and IT Director, Andri Hidayat ini disambut oleh Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua. Turut mendampingi Dirut yakni Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, dan Kepala Instalasi Laboratorium Sentral dr. Yoshie Anto Chicamy, Sp.PK.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menyambut baik inisiatif kerja sama ini. “Kami sangat terbuka dan menyambut baik rencana kerja sama dengan Prodia. Sinergi antara rumah sakit rujukan dengan laboratorium terkemuka seperti Prodia akan membawa dampak positif yang signifikan, baik bagi peningkatan kualitas pelayanan maupun kemajuan riset di bidang kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Digital Service Transformation and IT Director, Andri Hidayat menyatakan komitmen Prodia untuk mendukung transformasi digital di sektor kesehatan. “Sebagai salah satu penyedia layanan laboratorium klinis terkemuka di Indonesia, kami melihat pentingnya kolaborasi untuk menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih terintegrasi dan aman. Kami berharap kerja sama ini dapat segera terealisasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tukasnya. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Siap Jadi Garda Depan Penanganan Narkoba di Sumbar

Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil, Luhur Joko Prasetyo menghadiri rapat koordinasi penanganan kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba di ruang rapat Wakil Gubernur Sumatera Barat, Rabu (27/8). Kehadiran perwakilan dari rumah sakit rujukan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Provinsi Sumbar Arry Yuswandi ini menunjukkan keseriusan pemerintah provinsi dalam mengintegrasikan berbagai pihak untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif.

“RSUP Dr. M. Djamil siap menjadi garda terdepan dalam penanganan medis dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba,” kata Luhur Joko Prasetyo usai rapat koordinasi.

Luhur Joko Prasetyo dalam rapat tersebut menekankan peran strategis RSUP Dr. M. Djamil dalam upaya rehabilitasi dan penanganan medis bagi para korban. “Rumah sakit telah memiliki fasilitas dan tim medis yang terlatih untuk memberikan layanan terbaik, mulai dari detoksifikasi hingga rehabilitasi psikososial,” tuturnya.

Ia berharap, melalui rapat koordinasi ini, tercipta kesepahaman dan langkah nyata yang dapat diimplementasikan segera. “Kami berharap ada dukungan  dari pemerintah provinsi, tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga alokasi anggaran yang memadai untuk program rehabilitasi. Kami pun yakin, dengan sinergi yang baik, Sumatera Barat dapat mengurangi angka penyalahgunaan narkoba dan memberikan harapan baru bagi para korban untuk kembali hidup normal dan produktif,” harapnya.

Sekretaris Provinsi Arry Yuswandi menyampaikan data menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan, sehingga diperlukan langkah-langkah dan terkoordinasi. “Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kepolisian menangani dari sisi hukum, BNN dari pencegahan dan pemberantasan, dan sektor kesehatan, seperti RSUP Dr. M. Djamil, dari sisi rehabilitasi dan pemulihan,” tukasnya.(*)

Dirmedkep RSUP M. Djamil Tekankan Pengembangan SDM di Rapat Kerja Patologi Klinik

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menghadiri rapat kerja Departemen Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas (Unand)/RSUP Dr. M. Djamil di Ruang Konferen Patologi Klinik RSUP Dr. M. Djamil, Rabu (27/8). Dalam pertemuan itu, Direktur Medik dan Keperawatan menekankan pentingnya pengembangan kapasitas sumber daya manusia, terutama para dokter subspesialis patologi klinik dan kedokteran laboratorium. Hal ini seiring akan diterapkannya rumah sakit berbasis kompetensi.

“Bulan November mendatang akan diberlakukan sistem rumah sakit berbasis kompetensi. Kondisi ini rumah sakit harus harus memastikan pemenuhan standar fasilitas dan layanan serta sumber daya manusia,” kata Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) saat memberikan sambutan.

Turut hadir Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Unand dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, Direktur Utama RS Unand Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp. BTKV, Subsp. VE (K), FIATCVS, Ketua Departemen Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium, Dr. dr. Zelly Dia Rofinda, Sp.PK, Subsp B. D. K. T (K), Subsp H. K (K), Ketua Program Studi Patologi Klinis Spesialis Dr. dr. Rikarni, Sp.PK, Subsp. H.K (K), Subsp.Onk (K), guru besar dan staf Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium.

Melihat sistem demikian, sebutnya, pentingnya pengembangan kapasitas SDM, terutama para dokter subspesialis patologi klinik dan kedokteran laboratorium. Rumah sakit tidak akan bisa berjalan optimal tanpa keberadaan dokter subspesialis di bidang ini. “Tidak paripurna rumah sakit jika tidak ada dokter subspesialis patologi klinik,” ujarnya.

Rapat kerja ini secara khusus membahas bagaimana departemen dapat bekerja sama untuk mengembangkan program pelatihan dan pendidikan berkelanjutan bagi para dokter. “Kami mendorong agar pembahasan tentang  pengembangan kapasitas ini dimasukkan sebagai agenda utama dalam rapat kerja. Kita perlu menyusun program yang jelas dan terstruktur untuk mengembangkan para dokter subspesialis ini,” tegasnya.

Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Unand dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D mengatakan rapat kerja ini merupakan sebuah momentum untuk mengevaluasi dan capaian-capaian yang telah diraih baik dalam pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Evaluasi itu bisa ditentukan berdasar audit mutu internal dan audit mutu eksternal. “Diharapkan dalam raker ini menghasilkan program kerja yang dapat memberikan dampak bagi Departemen Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium,” tukasnya.(*)

Dirmedkep RSUP Dr. M. Djamil Minta Departemen Ilmu Penyakit Dalam Buka Program Fellowship

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menghadiri rapat kerja Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand)/RSUP Dr. M. Djamil yang berlangsung di Ruang Konferensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Rabu (27/8). Dalam kesempatan tersebut, Direktur Medik dan Keperawatan mendorong departemen untuk terus meningkatkan kompetensi dan peran sebagai rumah sakit pengampu di wilayah Sumatera Barat.

Dalam sambutannya, Bestari Jaka Budiman menyoroti pentingnya program fellowship sebagai upaya untuk menghasilkan dokter-dokter yang ahli di bidangnya. Ia mendorong divisi-divisi di Departemen Ilmu Penyakit Dalam yang belum memiliki program ini untuk segera membukanya.

“Program fellowship bertujuan untuk menciptakan tenaga medis dengan keahlian spesialisasi yang lebih mendalam. Nantinya, para dokter yang telah menyelesaikan program ini diharapkan kembali mengabdi di rumah sakit sebelumnya, sehingga terjadi peningkatan kompetensi dan kualitas pelayanan medis secara signifikan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi RSUP Dr. M. Djamil untuk terus berinovasi dan memenuhi kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks,” ungkapnya.

Turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd, Ketua Departemen Ilmu Penyakit Dalam dr. Fauzar, Sp.PD-KP, FINASIM, Ketua Program Studi Penyakit Dalam Program Spesialis Dr. dr. Arina Widya Murni, Sp.PD-KPPM, M.Kes, FINASIM, guru besar dan staf Penyakit Dalam.

Selain itu, Bestari juga menekankan peran strategis RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit pengampu. Ia mengajak seluruh jajaran Departemen Ilmu Penyakit Dalam untuk melakukan pengampuan di seluruh wilayah Sumatera Barat. Selama ini, program pengampuan untuk kasus-kasus spesialis seperti jantung, ginjal, stroke, dan urologi (KJSU) sudah berjalan dengan baik. “Namun, kini saatnya untuk memikirkan potensi-potensi lain yang bisa diampu,” sarannya.

Bestari menegaskan perluasan program pengampuan ini diharapkan dapat membantu pemerataan layanan kesehatan berkualitas di seluruh daerah, sehingga masyarakat tidak perlu lagi bepergian jauh untuk mendapatkan penanganan medis yang memadai. “Inisiatif ini menunjukkan komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk tidak hanya melayani di tingkat regional, tetapi juga menjadi pusat keunggulan yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat di seluruh provinsi,” tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd mengatakan rapat kerja ini merupakan sebuah momentum untuk mengevaluasi dan capaian-capaian yang telah diraih baik dalam pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Evaluasi itu bisa ditentukan berdasar audit mutu internal dan audit mutu eksternal. “Diharapkan dalam raker ini menghasilkan program kerja yang dapat memberikan dampak bagi Departemen Ilmu Penyakit Dalam,” tukasnya.(*)

Optimalkan Klaim JKN, RSUP M. Djamil Gelar Workshop Casemix

RSUP Dr. M. Djamil menunjukkan komitmennya dalam mengoptimalkan sistem pembiayaan layanan kesehatan dengan menggelar Workshop Casemix di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan pada Selasa (26/8). Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi dalam menghadapi tantangan sistem pembayaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang terus berkembang.

“Sejak berlakunya JKN, mekanisme pembiayaan di rumah sakit telah mengalami perubahan fundamental. Sistem INA-CBG (Indonesia Case Base Groups) hadir sebagai standar tarif berbasis diagnosis dan prosedur. Saat ini, rumah sakit bersiap menghadapi pengembangan iDRG (Indonesia-Diagnosis Related Groups) yang lebih canggih, sebagai bentuk adaptasi terhadap teknologi dan tuntutan akurasi sistem pembiayaan,” kata Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUP Dr. M. Djamil, Luhur Joko Prasetyo saat memberikan sambutan.

Turut hadir Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, manajemen dan civitas hospitalia, serta narasumber Gandi Agusniadi, BBA., SE dan Kayun Kasmidi, A.Md.PK., CHIA.

Luhur menjelaskan keberhasilan rumah sakit dalam mengelola klaim sangat krusial. “Aliran kas rumah sakit kini sebagian besar bergantung pada pembayaran klaim BPJS Kesehatan. Kesalahan koding, ketidaksesuaian berkas, atau klaim yang tertunda (pending) dapat berdampak besar pada kelancaran operasional, ketersediaan obat, alat kesehatan, bahkan kesejahteraan tenaga medis dan non-medis,” ungkap Koko–panggilan akrabnya.

Workshop ini, sebutnya, dirancang bukan sekadar memberikan teori, melainkan sebagai upaya nyata untuk memecahkan masalah yang sering terjadi. Materi yang dibahas mencakup berbagai aspek penting. Antara lain Overview Casemix, INA-CBG, dan iDRG, Koding ICD-10 & ICD-9-CM sesuai regulasi terbaru, Strategi penyelesaian pending & dispute klaim. Peran verifikator internal dalam optimalisasi klaim, Utilisasi review dan analisis data klaim untuk monitoring dan evaluasi. Pencegahan fraud melalui Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya (TKMKB) dan integrasi sistem.

“Seluruh upaya ini tidak hanya untuk mengurangi risiko finansial, tetapi juga untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, seperti Permenkes No. 16 Tahun 2019 tentang Pencegahan Fraud JKN,” tegas Koko.

Untuk mencapai visi tersebut, Ia mengatakan RSUP Dr. M. Djamil mengajak seluruh peserta workshop untuk berkomitmen pada tiga target strategis. Yakni meminimalkan pending klaim hingga kurang dari 1 persen dari total klaim dalam enam bulan ke depan, mengoptimalkan fungsi TKMKB dan verifikator internal sebagai garda terdepan pencegahan fraud. Dan mengintegrasikan analisis klaim dengan evaluasi mutu pelayanan demi perbaikan sistem yang berkesinambungan.

“Mari kita jadikan forum ini bukan hanya untuk mendengar, tetapi untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mencari solusi bersama. Kami ingin RSUP Dr. M. Djamil menjadi contoh best practice dalam pengelolaan klaim berbasis digital, transparan, dan bebas fraud di Indonesia,” tukasnya. (*)

Dirmedkep RSUP M. Djamil Minta Pemetaan Dokter Neurologi untuk Layanan Stroke Paripurna

Komitmen RSUP Dr. M. Djamil untuk memberikan pelayanan prima ditegaskan kembali dalam Rapat Kerja (Raker) Neurologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas (Unand)/RSUP Dr. M. Djamil. Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menghadiri rapat kerja di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf Fakultas Kedokteran Kampus Jati, Selasa (26/8).

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), hadir dalam rapat tersebut menyoroti perlunya pemetaan (mapping) dokter spesialis neurologi dan calon dokter spesialis neurologi di Sumatera Barat. Tujuannya adalah agar penanganan penyakit stroke di wilayah ini dapat dikelola secara menyeluruh, dari awal hingga tuntas.

“Stroke merupakan salah satu penyakit dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penanganan yang cepat dan tepat sangat krusial untuk meminimalkan dampak buruknya. Oleh karena itu, ketersediaan dokter spesialis neurologi yang merata menjadi kunci,” ucapnya.

Turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd, Ketua Komkordik Dr. dr. Daan Khambri, Sp.B (K) Onk, M.Kes, Ketua TKP PPDS FK Unand Dr. dr. Roni Eka Sahputra, Sp.OT (K) Spine, Ketua Komite Medis RSUD Rasidin dr. Rahmat Taufik, Sp.B  Subsp. Onk (K), MH, Ketua Departemen Neurologi FK Unand/RSUP Dr. M. Djamil Prof. Dr. dr. Yuliarni Syafrita, Sp.S (K) dan staf Neurologi.

Bestari menekankan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan utama di Sumatera Barat memikul tanggung jawab besar. Rumah sakit ini tidak hanya harus menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas, tetapi juga berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia di bidang kesehatan. “Dengan pemetaan yang akurat akan dapat merencanakan distribusi dokter secara lebih efektif. Ini termasuk penempatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit di daerah-daerah lain di Sumatera Barat, tidak hanya di Padang,” tuturnya.

Apalagi, sebutnya, direncanakan bulan November mendatang akan diterapkan sistem rumah sakit berbasis kompetensi. Dan rumah sakit akan dibagi berdasar tingkat kemampuannya dalam memberikan pelayanan yakni dasar, madya, utama, dan paripurna.

“Kondisi ini salah satunya akan terjadi transisi dan penyesuaian sumber daya manusia. Oleh karena itu melalui raker ini perlunya pemetaan (mapping) dokter spesialis neurologi dan calon dokter spesialis neurologi di Sumatera Barat. Juga menjadi wadah diskusi strategis tentang kurikulum pendidikan calon dokter spesialis neurologi. Hal ini bertujuan agar lulusan yang dihasilkan benar-benar siap menghadapi tantangan di lapangan,” tuturnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd mengatakan rapat kerja ini merupakan sebuah momentum untuk mengevaluasi dan capaian-capaian yang telah diraih baik dalam pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Evaluasi itu bisa ditentukan berdasar audit mutu internal dan audit mutu eksternal. “Diharapkan dalam raker ini menghasilkan program kerja yang dapat memberikan dampak bagi departemen neurologi,” tukasnya.(*)

Hadiri Raker DVE, Dirmedkep Tekankan Kolaborasi Tangani Masalah Venereologi

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), menghadiri rapat kerja Departemen Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (DVE)  Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas (Unand)/RSUP Dr. M. Djamil di Ruang Rapat Lantai 1 FK Unand Kampus Jati, Selasa (26/8). Dalam pertemuan tersebut, Direktur Medik dan Keperawatan menyoroti isu terkait penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang memerlukan penanganan kolaboratif dari berbagai pihak.

“Saya berharap banyak pada Venereologi. Ternyata penyakit infeksi menular seksual itu telah menduduki peringkat kelima dalam daftar pembiayaan kesehatan. Selain itu, progres penyebarannya sangat tinggi dan menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Ini bukan lagi isu kecil. Penyakit ini berkembang dengan cepat dan memberikan dampak yang sangat besar pada kesehatan penduduk,” kata Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K) saat memberikan sambutan.

Turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd,  Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, Direktur Utama RS Unand Dr. dr. Muhammad Riendra, Sp. BTKV, Subsp. VE (K), FIATCVS, Ketua KSM Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Prof. Dr. dr. Satya Wydya Yenny, Sp.D.V.E, M.Ag, dan staf serta Ketua Perdoski Cabang Padang dr. Irdawaty Izrul, Sp.DVE, FINSDV, FAADV.

Ia menambahkan, penanganan IMS saat ini masih terfragmentasi. Ada yang ditangani oleh spesialis penyakit dalam, ada pula yang dikelola oleh spesialis alergi, dan lain-lain. Kondisi ini berpotensi menjadi “bom waktu” di masa depan jika tidak ada koordinasi yang kuat. “Oleh karena itu, kami meminta agar seluruh pihak terkait, baik dari rumah sakit maupun fakultas kedokteran, dapat berkolaborasi secara intensif,” harapnya.

Bestari menekankan pentingnya skrining atau deteksi dini. Ia berharap program ini dapat diimplementasikan secara luas untuk menekan angka penyebaran dan kematian akibat IMS. “Bapak Menteri Kesehatan berharap skrining dan skrining. Kita harus coba. Bagaimana supaya ini diskrining lebih awal,” tuturnya

Rapat kerja ini, sebutnya, tidak hanya membahas masalah venerologi, tetapi juga mencakup evaluasi program kerja Departemen Dermatologi dan Estetika. “Kami berharap, sinergi antara RSUP Dr. M. Djamil dan FK Unand dapat menghasilkan langkah-langkah strategis yang tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi juga berkontribusi  secara signifikan pada kesehatan masyarakat.,” ucapnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp. Onk (K), FACS, FFSTEd mengatakan rapat kerja ini merupakan sebuah momentum untuk mengevaluasi dan capaian-capaian yang telah diraih baik dalam pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat. “Berbicara riset, departemen ini yang cukup banyak mengajukan proposal ke fakultas. Ini menunjukkan semangat yang luar bisa dan kami memohon untuk terus menjaga semangat tersebut. Dan diharapkan semangat itu terus menular ke lain,” harap Dekan FK Unand. (*)

RSUP Dr. M. Djamil Terus Pantau Perkembangan Dua Pasien Korban Laka KA

RSUP Dr. M. Djamil terus memantau perkembangan dua pasien korban kecelakaan kereta api yang terjadi beberapa waktu lalu. Kedua pasien yaitu Vivie Dwi Zeltrian (16) dan Adisti Faras (17), saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), secara langsung melihat kondisi Vivie Dwi Zeltrian di Ruang Rawat Tulip 1 Lantai 2 IGD dan Adisti Faras di Ruang Rawat Tulip 2 di lantai 2 Gedung IPJT. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan penanganan medis yang optimal bagi kedua remaja tersebut.

Sebelumnya, Dr. Bestari memimpin rapat dengan para perawat dan dokter penanggung jawab pasien di Ruang Rawat Tulip 1 Lantai 2 IGD. Rapat ini bertujuan untuk mengevaluasi dan merencanakan langkah-langkah medis selanjutnya.

Usai rapat, Bestari menjelaskan pasien Vivie Dwi Zeltrian akan segera dipindahkan ke ruang rawat HCU. Namun, sebelum dipindahkan, Vivie akan menjalani CT Scan Thorax terlebih dahulu. “Tindakan tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada fraktur thorax yang mengganggu dan perlu diperbaiki,” ujar Bestari.

Jika tidak ada masalah serius pada hasil CT Scan, sebutnya, operasi fraktur pubis akan direncanakan. “InshaAllah pada hari Rabu (27/8) akan dilakukan operasi fraktur pubis. Ini yang akan kita rencanakan. Pihak rumah sakit pun juga akan mempersiapkan seluruh alat-alat operasi dan bahan medis habis pakai yang diperlukan untuk tindakan tersebut,” ungkap Bestari.

Sementara itu, Bestari juga mengungkapkan kondisi pasien Adisti Faras menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Secara fisik, ia tidak lagi membutuhkan alat bantu pernapasan dan wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri. “Namun, pergerakannya masih terbatas karena mengalami fraktur iga yang cukup banyak,” ucapnya.

Untuk memperkuat mental pasien, sebutnya, Adisti akan dikonsultasikan ke dokter penyakit dalam subspesialis psikosomatik pada hari ini (25/8). “Gunanya untuk memperkuat mental dari pasien,” jelasnya seraya mengatakan setelah itu, Adisti juga akan dipindahkan ke ruangan HCU dan diharapkan besok (26/8) sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa.

Ia menyebutkan pihak RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen untuk memberikan perawatan terbaik bagi kedua korban kecelakaan ini hingga mereka pulih sepenuhnya. “Kami berharap Vivie dan Adisti bisa lekas sembuh dan kembali beraktivitas,” tukasnya.(*)

WeCreativez WhatsApp Support
Jam Layanan Informasi : Senin s/d Kamis jam 07.45 wib s/d 16.15 Istirahat jam 12.00 wib s/d 13.00 wib Jumat 07.45 wib s/d 16.45